SEBUAH PENGANTAR POPULER
KARANGAN : JUJUN S. SURIASUMANTRI
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I KE ARAH
PEMIKIRAN FILSAFAT
1.1. Ilmu dan Filsafat
1.2. Karakteristik Filsafat
1.3. Filsafat : Peneras Pengetahuan
1.4. Bidang Telaah Filsafat
1.5. Cabang-cabang filsafat
1.6. Filsafat Ilmu
1.7. Kerangka Pengkajian Buku
BAB II DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2.1. Penalaran
2.2. Hakikat Penalaran
2.3. Logika
2.4. Sumber Pengetahuan
2.5. Kriteria Kebenaran
BAB III ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI
3.1. Metafisika
3.2. Beberapa Tafsiran Metafisika
3.3. Asumsi
3.4. Peluang
3.5. Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
3.6. Batas-batas Penjelajahan Ilmu
3.7. Cabang-Cabang Ilmu
1.1. Ilmu dan Filsafat
1.2. Karakteristik Filsafat
1.3. Filsafat : Peneras Pengetahuan
1.4. Bidang Telaah Filsafat
1.5. Cabang-cabang filsafat
1.6. Filsafat Ilmu
1.7. Kerangka Pengkajian Buku
BAB II DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2.1. Penalaran
2.2. Hakikat Penalaran
2.3. Logika
2.4. Sumber Pengetahuan
2.5. Kriteria Kebenaran
BAB III ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI
3.1. Metafisika
3.2. Beberapa Tafsiran Metafisika
3.3. Asumsi
3.4. Peluang
3.5. Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
3.6. Batas-batas Penjelajahan Ilmu
3.7. Cabang-Cabang Ilmu
BAB IV EPISTIMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
4.1. Jarum Sejarah Pengetahuan 4.2. Pengetahuan
4.3. Metode Ilmiah
4.4. Struktur Pengetahuan Ilmiah
BAB V SARANA BERPIKIR ILMIAH
5.1. Sarana Berpikir Ilmiah
5.2. Bahasa
5.3. Matematika
5.4. Statistika
BAB VI AKSIOLOGII: NILAI KEGUNAAN ILMU
6.1. Ilmu Dan Moral
6.2. Tanggung Jawab Sosial Ilmuan
6.3. Nuklir Dan Pilihan Moral
6.4. Revolusi Genetika
BAB VII ILMU DAN KEBUDAYAN
7.1. Manusia Dan Kebudayaan
7.2. Kebudayaan Dan Pendidikan
7.3. Ilmu Dan Perkembangan Kebudayaan Nasional
7.4. Ilmu Sebagai Suatu Cara berpikir
7.5. Ilmu Sebagai Asas Moral
7.6. Nilai-Nilai Ilmiah Dan Pengembangan Kebudayaan Nasional
7.7. Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan
7.8. Dua Pola Kebudayaan
BAB VIII ILMU DAN BAHASA
8.1. Tentang Terminologi : Ilmu, Ilmu Pengetahuan Dan Sains ?
Dua Jenis Ketahuan
8.2. Politik Bahasa Nasional
BAB IX PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
9.1. Struktur Penelitian Dan Penulisan Ilmiah
9.2. Teknik Penulisan Ilmiah
9.3. Teknik Notasi Ilmiah
BAB X PENUTUP
10.1. Hakikat dan Kegunaan Ilmu
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
1.
ILMU DAN
FILSAFAT
Alkisah bertanyalah seorang awam kepada abli
filsafat yang arif bijaksana, “Cobasebutkan kepada saya berapa jenis manusia
yang terdapat dalam kehidupan iniberdasarkan pengetahuannya!”
Filsuf itu menarik napas panjang dan berpantun:
Ada
orang yang tahu di tahunya
Ada
orang yang tahu di tidaktahunya
Ada
orang yang tidak tahu di tahunya
Ada
orang yang tidak tahu di tidak tahunya
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu,
kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan
kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu
dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya
akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian
juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus
terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli
sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi.
Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri:
Apakah Sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang
hakiki yang membedakan ilmu dan pengetahuan pengetahuan lainnya yang bukan
ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar?
Kritenia apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa
kita mesti mempelajari ilmu?
Apakah Filsafat
Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan
seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin
mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang, yang
berdiri di puncak tinggi, memandang kengarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin
menyimak khadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir
filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi
mengenal ilmu hanya dan segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat
hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan
ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu
membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Sering kita melihat seorang ilmuwan yang picik.
Ahli fisika nuklir memandang rendah kepada ahli ilmu sosial. Lulusan IPA merasa
Iebih tinggi dari lulusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang ilmuwan memandang
rendah kepada pengetahuan lain. Mereka meremehkan moral, agama dan nilai
estetika.
Seorang yang berpikir filsafati selain tengadah
ke bintang-bintang, juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. lnilah
karakter istik berpikir filsafati yang kedua yakni sifat mendasar. Dia tidak
lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar.
Mengapa ilmu dapat disebut benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan
kriteria tersebut dilakukan? Apakab kriteria itu sendiri benar? Lalu benar
sendiri itu apa? Seperti sebuah Iingkaran maka pertanyaan itu melingkar. Dan
menyusur sebuah lingkaran, kita harus mulai dari satu titik, yang awal dan pun
sekaligus akhir
Memang demikian, secara terus terang tidak
mungkin kita menangguk pengetahuan secara keseluruhan, dan bahkan kita tidak
yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar. Dalam hal
ini kita hanya berspekulasi dan inilah yang merupakan ciri filsafat yang ketiga
yakni sifat spekulatif. Kita mulai mengernyitkan kening dan timbul kecurigaan
terhadap filsafat: bukankah spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diadakan?
Dan seorang filosufi akan menjawab: memang namun hal ini tidak bisa
dihindarkan. Menyusur sebuah lingkaran kita harus mulai dan sebuah titik
bagaimanapun juga spekulatifnya yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik
dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang
dapat diandalkan dan mana yang tidak. Dan tugas utama filsafat adalah
menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah
yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau
kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd?
Sekarang kita sadar bahwa semua pengetahuan
yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi. Dan serangkaian spekulasi ini kita
dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dan
penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut
benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran,
Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin
berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yang disebut indah
atau jelek tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.
Filsafat: Peneratas Pengetahuan
Filsafat, meminjam pemikiran Will Durant, dapat
diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri.
Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang di antaranya adalah ilmu.
Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah
itu ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan menyempurnakan kemenangan
ini menjada pengetahuan yang dapat diandalkan. Setelah penyerahan dilakukan
maka filsafat pun pergi. Dia kembali
menjelalah laut lepas; berspekulasi dan meneratas. Seorang yang skeptis akan
berkata: sudah lebih dan dua ribu tahun orang berfilsafat namun selangkah pun
dia tidak maju. Sepintas lalu kelihatannya memang demikian, dan kesalah pahaman
ini dapat segera dihilangkan sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marinir
yang merupakan pionir, bukan pengetahuan yang bersifat memerinci. Filsafat
menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu pengetahuan dan
pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial,
bertolak dan pengembangannya bermula sebagai
filsafat.
Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural
phisolophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Dalam
perkembangan filsafat menjadi ilmu maka terdapat taraf peralihan. Dalam taraf peralihan ini maka bidang
penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi rnenyeluruh melainkan
sekitoral. Disini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan
melainkan dikaitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Walaupun demikian dalam taraf
ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma norma filsafat.
Umpamanya ekonomi masih merupakan penerapan etika (applied ethics) dalam
kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah
normatif dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang filsafati. Pada tahap setanjutnya
ilmu menyatakan dirinya otonom dan konsep-konsep filsafat dan mendasarkan
sepenuhnya kepada hakikat alam sebagaimana adanya.
Bidang Telaah Filsafat
Selaras dengan dengan dasarnya yang spekulatjf,
maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia.
Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang
pokok: terjawab masalah yang satu, dia pun mulai merambah pertanyaan lain.
Tentu saja tiap kurun zaman mempunyai masalah yang merupakan mode pada waktu
itu. Hal ini selaras dengan usaha peningkatan kernampuan penalaran maka
filsafat ilmu menjadi “ngetop”, sedangkan dalam masa-masa mendatang maka yang
akan menjadi perhatian kemungkinan besar bukan lagi filsafat ilmu, melainkan
filsafat moral yang berkaitan dengan ilmu.
Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama
ilmu-ilmu sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon
utama dalam kajian keilmuannya. Mungkin ada baiknya kita mengambil contoh yang
agak berdekatari yakni ilmu ekonorni dan manajemen. Kedua ilmu ini mempunyai asumsi tentang
manusia yang berbeda. Ilmu ekonomi mempunyai asumsi bahwa manusia adalah
makhluk ekonomi yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan menjauhi
ketidak nyanianan semungkin bisa. Dia adalah makhluk hedonis yang serakab; atau
dalam proposisi ilmiah; mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan
pengorbanan sekecil-kecilnya. Sedang ilmu manajemen mempunyai asumsi lain
tentang manusia sebab bidang telaah ilmu manajemen lain dengan lain ekonomi.
Ilmu ekonomi bertujuan menelaah hubungan
manusia deñgan benda/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya; dan manajemen
bertujuan menelaah kerja sama antar sesama manusia dalam mencapai suatu tujuan
yang disetujui bersama. Cocoklah asumsi bahwa manusia adalah Homo oeconomicus
bagi manajemen yang tujuannya menelaah kerja sama antar manusia? Apakah motif
ekonomis yang mendorong seseorang untuk ikut menjadi suka relawan memberantas
kemiskinan dan kebodohan? Tentu saja tidak bukan, dan untuk itu manajemen
rnempunyai beberapa asumsi tentang manusia tergantung dan perkembangan dan
lingkungan masing-masing seperti makhluk ekonomi, makhluk sosial dan makhluk
aktualisasi din. Mengkaji permasalahan manajemen dengan asumsi manusia dalam
kegiatan ekonomis akan menyebabkan kekacauan dalam analisis yang bersifat
akademik. Demikian pula mengkaji permasalahan ekonomi dengan asumsi manusia
yang lain di luar makhluk ekonomi (katakanlah makhluk sosial) seperti asumsi
dalam manajemen akan menjadikan ilmu ekonomi menjadi moral terapan, mundur,
sekian ratus tahun ke abad pertengahan.
Cabang-Cabang Filsafat
Pokok permasalahan
yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni ;
1. Apa yang
disebut benar dan apa yang disebut salah (logika)
2. Mana
yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (elika)
3. Serta apa
yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika)
Ketiga cabang utama filsafat mi kemudian
bertambah lagi yakni:
4. Teori tentang
ada: tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara
zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika
5. Politik:
yakni kajian mengenal organisasi sosial/pemerintahan yang ideal.
Kelima cabang utama ini kemudian berkembang
lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang Iebih
spesifik di antaranya filsafat ilmu.
Cabang cabang filsafat tersebut antara lain mencakup
:
1. Epistemologi
(Filsafat Pengetahuan)
2. Etika
(Filsafat Moral)
3. Estetika
(Filsafat Seni)
4. Metafisika
5. Politik
6. Filsafat
Agama
7. Filsafat
Ilmu
8. Filsafat
Pendidikan
9. Filsafat
Hukum
10. Filsafat
Sejarah
11. Filsafat
Matematika
Filsafat
Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari
epistemology (filsafat pengetahuan) yang
secara spesifik mengkaji
hakikat ilmu (pengetahuan
ilmiah). Ilmu merupakan cabang
pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu
tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena
permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering
dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial.
Filsafat ilmu
merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan
mengenai hakikat ilmu seperti:
1.
Ontologi
Obyek
apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti
berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
2.
Epistemologi
Bagaimana
proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana
prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan
pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah
kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan
pengetahuan yang berupa ilmu?
3.
Aksiologi
Untuk
apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang
ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik
prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma
moral/professional?
BAB II
DASAR DASAR PENGETAHUAN
1. PENALARAN
Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu
mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaanNya. Secara
simbolik manusIa memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu
manusia harus hidup berbekal pengetahuan ini. Dia mengetahui mana yang benar
dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah
dan mana yang jelek. Secara terus menerus dia dipaksa harus mengambil pilihan:
mana jalan yang benar mana jalan yang salah, mana tindakan yang baik mana
tindakan yang buruk, dan apa yang indah dan apa yang jelek. Dalam melakukan pilihan
ini manusia berpaling kepada pengetahuan.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang
mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai
pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.
Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi
kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk
baru, karena dia hidup bukan sekadar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari
itu. Manusia rnengembangkan kebudayaan; manusia memberi makna kepada kehidupan;
manusia “memanusiakan” diri dalam hidupnya; dan masih banyak lagi pernyataan
semacam ini: semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam
hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dan sekadar kelangsungan
hidup. lnilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuan dan
pengetahuan ini jugalah yang rnendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat
khas di muka bumi ini.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan
dua hal utama yakni;
1. Manusia mempunyai
bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar
belakangi informasi tersebut.
2. Yang menyebabkan
manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap, adalah
kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Secara garis besar cara berpikir seperti ini
disebut penalaran. Binatang mampu berpikir namun tidak mampu berpikir nalar.
Hakikat
Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam
menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang
berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada
pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran
menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan
dengan perasaan, meskipun seperti dikatakan Pascal hati pun mempunyai logika
tersendiri. Meskipun demikian patut kita
sadari bahwa tidak semua kegiatan
berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan
berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk
menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah
tidak sama maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan
pengetahuan yang benar itu pun juga berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa tiap
jalan pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan
kriteria kebenaran ini merupakanlandasan bagi proses penemuan kebenaran
tersebut. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap
jenis penalaran mempunyai criteria kebenarannya masing-masing.
Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyal
ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang
secara luas dapat disebut logika. Dalam hal ini maka dapat kita katakan bahwa
tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tersendiri. Atau dapat juga
disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berfikir logis di
mana berpikir logis di sini harus diartikan sebagal kegiatan berpikir menurut
suatu pola tertentu, atau dengan perkataan lain, menurut logika tertentu. Hal
ini patut kita sadari bahwa berpikir logis itu mempunyai konotasi yang bersifat
jamak (plural) dan bukan tunggal (singular). Suatu kegiatan berpikir bisa
disebut logis ditinjau dan suatu logika tertentu, dan mungkin tidak logis bila
ditinjau dan sudut logika yang lain. Hal ini sering menimbulkan gejala apa yang
dapat kita sebut sebagai kekacauan penalaran yang disebabkan oleh tidak
konsistennya kita dalam mempergunakan pola berpikir tertentu.
Ciri yang kedua dati penalaran adalah sifat
analitik dan proses berpikirnya. Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir
yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang
dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan.
Artinya penalarani ilrniah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan
logika ilmiah, dan demikian juga penalaran lainnya yang mempergunakan logikanya
tersendiri pula. Sifat analitikmi, kalau
kita kaji lebih jauh, merupakan konsekuensi dan adanya suatu pola berpikir tertentu.
Tanpa adanya pola berpikir tersebut maka tidak akan ada kegiatan analisis,
sebab analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan
langkah-langkah tertentu.
Seperti kita sebutkan terdahulu tidak semua
kegiatan berpikir mendasarkan diri pada penalaran. Berdasarkan kniteria
penalaran tersebut di atas maka dapat kita katakan bahwa tidak semua kegiatan
berpikir bersifat logis dan analitis. Atau
lebih jauh dapat kita simpulkan: cara berpikir yang tidak termasuk ke dalam
penalaran bersifat tidak logis dan tidak analitik. Dengan demikian maka kita dapat membedakan
secara garis besar ciri-ciri berpikir menurut penalaran dan berpikir yang bukan
berdasarkan penalaran.
3. LOGIKA
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang
membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu
mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara
tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikan
kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan
kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan
sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Terdapat bermacam-macam cara
penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan
diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang saksama hanya
terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika
deduktif. Logika induktif erat
hubungannya dengan penarikan kesimpulan dan kasus-kasus individual nyata
menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di pihak lain, kita mempunyai
logika deduktif yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dan hal yang
bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus).
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik
suatu kesimpulan yang bersifat umum dan berbagai kasus yang bersifat
individual. Penalaran secara induktif dinilai dengan mengemukakan
pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam
menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya sebab mempunyai dua
keuntungan. Keuntungan yang pertamà ialah bahwa pernyataan yang bersifat umum
ini bersifat ekonomis. Kehidupan yang beraneka ragam dengan berbagai corak dan
segi dapat direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang
dikumpulkan manusia bukanlah merupakan koleksi dan berbagai fakta melainkan
esensi dan fakta-fakta tersebut. Demikian juga dalam pernyataan mengenai fakta
yang dipaparkan, pengetahuan tidak bermaksud membuat reproduksi dan obyek
tertentu, melainkan menekankan kepada struktur dasar yang menyangga wujud fakta
tersebut. Pernyataan seperti ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat
fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoretis.
Keuntungan yang kedua dan pernyataan yang
bersifat umum adalah dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara
induktif maupun secara deduktif. Secara induktif maka dari berbagai pernyataan
yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang bersifat lebih umum lagi.
Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis
yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang makin lama makin bersifat
fundamental.
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir
yang sebaliknya dan penalaran induktif. Deduksi adalah cara berpikir dimana dan
pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan
kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogismus. Silogismus disusun dan dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.
Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat
dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan
pengetahuan yang didapat dan pênalaran deduktif berdasarkan kedua premis
tersebut.
4. SUMBER PENGETAHUAN
Baik logika deduktif maupun logika induktif,
dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan
yang dianggap benar. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia
untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri
kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis
mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka
yang mendasarkan diri kepada pengalanian rnengembangkan paham yang disebut
dengan empirisime.
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif
dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya
didapatkan dan ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini
menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendiri sudah ada
jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya. Hal ini disebut idealisme. Fungsi
pikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang lalu menjadi
pengetahuannya. Prinsip itu sendiri
sudab ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan
berpikir rasionalnya. Pengalaman tidaklah membuahkan prinsip dan justru sebaliknya,
hanya dengan mengetahui prinsip yang didapat lewat penalaran rasional itulah
maka kita dapat mengerti kejadian-kejadian yang berlaku dalam alam sekitar
kita. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis adalah
bersifat apriori dan pra-pengalaman yang didapatkan manusia lewat penalaran
rasional.
Masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis
adalah evaluasi dan kebenaran premis-premis yang dipakainya dalam penalaran
deduktif. Karena premis-premis dari semuanya bersumber pada penalaran rasional
yang bersifat abstrak dan terbebas dan pengalaman maka evaluasi semacam ini tak
dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan
bermacam-macam pengetahuan mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu
konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran
rasional cenderung untuk bersifat solipsistik dan subyektif.
Berlainan dengan kaum rasionalis maka kaum
empinis berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat
penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang kongkret.
Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat kongkret
dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera manusia. Gejala itu kalau kita
telaah lebih lanjut mempunyai beberapa karakteristik tertentu umpamanya saja
terdapat pola yang teratur mengenai suatu kejadian tertentu.
5. KRITERIA KEBENARAN
1.
Teori Koherensi yaitu suatu
pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten
dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya bila kita
menganggap bahwa, "semua manusia pasti akan mati" adalah suatu
pernyataan benar maka pernyataan bahwa, "si polan adalah seorang manusia
dan si polan pasti akan mati" adalah benar pula karena kedua pernyataan
kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Teori kebenaran yang di dasarkan kepada
criteria terebut di atas disebut teori koherensi. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan
teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat
koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap
benar.
Matematika adalah bentuk pengetahuan yang
penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. System matimatika
disusun di atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar yakni aksioma.
Dengan mempergunakan beberapa aksioma maka disusun suatu teorema. Diatas
teorema maka dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan
merupakan suatu system yang konsisten. Plato (427-347 S.M) dan Aristoteles
(384-322 S.M ) mengembangkan teori koherensi berdasarkan pola pemikiran yang
dipergunakan Euclid dalam menyusun ilmu ukurnya.
2.
Teori
Korespondensi yang ditemukan oleh Bertrand Russell
(1872-1970). Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang
dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang
dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika seseorang mengatakan bahwa
ibukota republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar
sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang
memang menjadi ibukota republik Indonesia.
3.
Teori
Pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914).
Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari
pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.Misalnya jika
orang menyatakan sebuah teori X dalam pendidikan, dan dengan teori X tersebut
dikembangkan teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar, maka teori X itu
dianggap benar sebab teori X ini fungsional dan mempunyai kegunaan.
BAB III
ONTOLOGI : HAKIKAT APA YANG DIKAJI
Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian
kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas
keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan
yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan
Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara
penampakan dengan kenyataan.
Pengertian
Ontologi
a.
Menurut Bahasa :
Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on /
ontos = beingatau ada, dan logos = logic atau ilmu. Jadi, ontologi
bisa diartikan : The theory of being qua being (teori tentang keberadaan
sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada.
b.
Pengertian menurut istilah :
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat
yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani/ kongkret
maupun rohani / abstrak.
Termiontologi
Termontologi pertama kali diperkenalkan oleh
Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada
yang bersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya Christian Wolf (1679 –
1754M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu :
a. Metafisika
Umum : Ontologi
Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah
lain dari ontologi. Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat
yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala
sesuatu yang ada.
b. Metafisika
Khusus : Kosmologi, Psikologi, Teologi.
Paham–Paham Dalam Ontologi
Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan
pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme,
Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
a. Monoisme
Paham
ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu
saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa materi atau pun rohani. Paham
ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran :
· 1. Materialisme
Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber
yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh
Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal
adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga disebut
naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya
fakta. Yang ada hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa/ruh tidak berdiri sendiri.
Tokoh aliran ini adalah Anaximander (585-525 SM). Dia berpendapat bahwa
unsur asal itu adalah udara dengan
alasan bahwa udaramerupakan sumber dari segala kehidupan. Dari segi dimensinya
paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Menurutnya semua materi
tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap
tak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan
atom-atom. Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Ia berpendapat
bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di
hitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupakan asal kejadian alam.
· 2.
Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu
yang hadir dalam jiwa. Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan juga
spiritualisme. Idealisme berarti serba cita, spiritualisme berarti serba ruh.
Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu
semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak
berbentuk dan menempati ruang.
Tokoh aliran
ini diantaranya :
Plato
(428 -348 SM) dengan teori ide-nya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada dialam mesti
ada idenya, yaitu konsep universal dari setiap sesuatu.
Aristoteles
(384-322 SM), memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan
alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-benda itu sendiri
dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu.
Pada
Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley
(1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah ide-ide.
Kemudian
Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte(1762-1814 M), Hegel (1770-1831 M), dan
Schelling (1775-1854 M).
b. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari
2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani,
benda dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M)
yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu
dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Tokoh yang
lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von
Leibniz(1646-1716 M).
c.
Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam
bentuk merupakan kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan
alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno
adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu
terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh
modern aliran ini adalah William James(1842-1910 M) yang terkenal sebagai
seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth,
James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang
bersifattetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Apa yang
kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi/diubah oleh pengalaman berikutnya.
d. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang
berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilism sudah ada semenjak
zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3
proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis,
Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun
realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada
orang lain. Tokoh modern aliran ini diantaranya: Ivan Turgeniev (1862 M)
dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), ia dilahirkan di Rocken di
Prusia dari keluarga pendeta.
e. Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk
mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme
berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown. Artinya not Gno
artinya know. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan
tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yang terkenal dengan
julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme dan Martin Heidegger (1889-1976
M) seorang filosof Jerman, serta Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang
filosof dan sastrawan Prancis yang atheis.
6. METAFISIKA
Apakah hakikat kenyataan ini yang
sebenar-benarnya? Metafisika dapat diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki apa
hakikat dibalik alam nyata ini. Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika
ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran
ilmiah.
Beberapa Tafsiran Metafisika
1.
Supernaturalisasi adalah paham yang menyatakan
bahwa terdapat ujud-ujud bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini
bersifat lebih tinggi atau lebikuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.
2.
Naturalisme adalah paham yang menyatakan bahwa
gjala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib,
melainkan oleh kekuatan yang tedapat dalam alam itu sendiri, yang dapat
dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui.
7. ASUMSI
Asumsi merupakan dugaan-dugaan sementara yang
belum jelas kebenarannya, karena belum ada fakta pendukung yang valid.
Ilmu sebagai pengetahuan yang berfungsi membantu dalam memecahkan masalah
praktis sehari-hari, tidaklah perlu memiliki kemutlakan seperti halnya agam.
Walaupun demikian sampai tahap tertentu ilmu memiliki keabsahan dalam melakukan
generalisasi.
Determinisme, probabilistik dan pilihan bebas
merupakan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal
ketiga aspek ini akan sulit bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan
baik. Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari
doktrin Thomas Hobbes ( 1588-1679 ) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah
bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal.
Aliran ini merupakan lawan dari fatalisme yang menyatakn bahwa segala kejadian
ditentukan oleh nasib yang ditetapkan lebih dahulu.
8. PELUANG
Berdasarkan teori keilmuan tidak akan pernah
mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian. Yang ada adalah kesimpulan
yang probabilistik. Intinya peluang adalah kemungkinan kejadian.
9. BEBERAPA ASUMSI DALAM ILMU
Suatu permasalahan kehidupan tidak bisa
dianalisis secara cermat dan saksama hanya oleh satu disiplin keilmuan saja.
Dalam mengembangkan asumsi kita harus perhatikan beberapa hal. Pertama, asumsi
ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi
harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis. Kedua, asumsi
ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya bukan bagaimana keadaan
yang seharusnya. Asumsi yang pertama adalah mendasari telaah ilmiah sedangkan
asumsi yang kedua adalah asumsi yang mendasari telaah moral.
10. BATAS-BATAS PENJELAJAHAN ILMU
Ilmu memulai penjelajahan pada pengalaman
manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup
penjelajahanya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang
dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenaranya secara empiris.
Cabang-Cabang Ilmu
Dua cabang utamanya yaitu:
1.
Filsafat alam yang kemudian
menjadi ilmu-ilmu alam (the natural science)
2.
Filsafat moral yang kmudian
menjadi ilmu-ilmu sosial (the social science)
BAB IV
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUANYA
11. JARUM SEJARAH PENGETAHUAN
Pada waktu dulu kriteria kesamaan yang menjadi
konsep dasar. Semua meyatu dalam kesatuan yang batas-batasnya kabur dan
mengambang. Tidak terdapat jarak antara objek yang satu dengan objek yang lain,
antara ujud yang satu dengan ujud yang lain. Konsep dasar ini baru mengalami
perubahan fundamental dengan berkembangnya abad. Penalaran pada pertengahan
abad ke 17. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa
yang diketahui, bagaimana cara mengetahuinya dan untuk apa pengetahuan itu
dipergunakan.
Dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan abad penalaran maka konsep dasar berubah
dari kesamaan kepada perbedaan. Mulai terdapat pembedaan yang jelas antara
berbagai pengetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan
konsekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan. diferensiasi dalam
bidang ilmu dengan cepat terjadi. Secara metafisik ilmu mulai dipisahkan dengan
moral. Berdasarkan objek yang telah
ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu alam dan ilmu social. Perbedaan makin
terperinci ini menimbulkan keahlian yang makin spesifik pula.
Makin ciutnya kapling masing-masing disiplin
keilmuan itu bukan tidak menimbulkan masalah sebab dalam kehidupan nyata
seperti pembangunan pemukiman manusia, maka masalah yang dihadapi demikian
banyak dan kompleks. Menghadapi kenyataan ini terdapat lagi orang-orang yang
ingin memutar jarum sejarah kembali dengan mengaburkan batas-batas otonomi masing-masing
disiplin keilmuan dengan dalih pendekatan interdisipliner maka berbagai
disiplin keilmuan dikaburkan batas-batasnya, perlahan menyatu dalam kesatuan
yang berdifusi.
Pendekatan inter-disipliner memang merupakan
keharusan, namun tidak dengan mengaburkan otonomi masing-masing disiplin keilmuan
yang telah berkembang berdasarkan jalannya masing-masing, melainkan dengan
menciptakan paradigma baru.
12. PENGETAHUAN
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap
apa yang kita ketahui tentang sesuatu objek tertentu. Termasuk kedalamnya
adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh
manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama.
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak
langsung turut memperkaya kehidupan kita.
Ilmu membatasi diri pada pengkajian objek yang
berada dalam lingkup pengalaman manusia. Sedangkan agama memasuki pula daerah
penjelajahan yang bersifat transedental yang berada diluar pengalaman manusia.
Ilmu tidak mejawab pertanyaan tentang agama sebab ilmu dalam tubuh pengetahuan
yang disusunnya tidak mencakup permasalahan tersebut.
Dari
perbedaan perspektif dan keterbatasan diatas lalu timbulah bagaimana cara kita
melakukan penyusunan pengetahuan yang benar. Masalah inilah yang dalam kajian
filsafat disebut epistemologi dan landasan epistemology ilmu disebut metode
ilmiah.
Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri
yang spesifik mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa
(aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan;
jadi ontology ilmu berkaitan dengan epistemology ilmu dan epistemology ilmu
berkaitan dengan aksiologi ilmu.
Berdasarkan landasan ontology dan aksiologi
seperti itu maka bagaimana sebaiknya kita mengembangkan landasan epistemology
yang cocok? Persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemology pengetahuan
pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar dengan
memperhitungkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing. Demikian juga
halnya dengan masalah yang dihadapi epistemology keilmuan yakni bagaimana
menyusun pengetahuan yang benar untu menjawab permasalahan mengenai dunia
empiris yang akan digunakan sebagai alat untuk meramal dan mengontrol gejala
alam.
Agar kita mampu meramalkan dan mengontrol
sesuatu maka pertama-tama kita harus mengetahui mengapa sesuatu itu terjadi.
Untuk dapat meramalkan dan mengontrol sesuatu, maka kita harus mengetahui
pengetahuan yang mejelaskan pristiwa itu. Dengan demikian maka penelaahan
ilmiah diarahkan kepada usaha mendapatkan penjelasan mengenai berbagai gejala
alam.
Seni menurut Moctar Lubis, merupakan produk
dari daya inspirasi dan daya cipta manusia yang bebas dari cengkraman dan
belenggu berbagai ikatan. Karya seni bersifat penuh dan rumit namun tidak
bersifat sistematik. Sebuah karaya seni yang baik biasanya mempunyai pesan yang
ingin disampaikan kepada manusia yang bias mempengaruhi sikap dan prilaku
mereka. Itulah sebabnya seni memegang peran penting dalam pendidikan moral dan
budi pekerti suatu bangsa.
Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai
alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan interpersonal. Sebaliknya, seni
tetap bersifat individual dan personal, dengan memusatkan perhatian pada
“pengalaman hidup manusia perorangan”.
Tahapan selanjutnya ditandai oleh usaha manusia
mencoba menafsirkan dunia ini terlepas dari belenggu mitos. Berkembanglah lalu
pengetahuan yang berakar pada pengalaman berdasarkan akal sehat (common sense)
yang didukung oleh metode mencoba-coba (trial-and-error). Perkembangan ini menyebabkan
tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied art) yang mempunyai
kegunaan langsung dalam kehidupan sehari-hari. seni terpakai ini pada
hakikatnya mempunyai dua ciri yakni pertama bersifat deskriptif dan
fenomenologis dan kedua, ruang lingkup terbatas. Sifat deskriptif ini
mencerminkan proses pengkajian yang menitik beratkan pada penyelidikan
gejala-gejala yang bersifat empiris tanpa kecenderungan untuk pengembangan
postulat yangbersifat teoritisatomistis.
Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya
rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang
bersifat mitos. Ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari
penjelasan tentang berbagai kejadian. Dalam usaha menemukan penjelasan ini terutama
penjelasan yang bersifat mendasar dan postulasional, maka ilmu tidak bisa
melepaskan diri dari penafsiran yang bersifat rasional dan metafisis.
Ilmu mempunyai dua peranan, bersifat metafisika
dan akal sehat yang terdidik (educated common sense). Bagaimana cara agar kita
dapat mengembangkan ilmu yang mempunyai kerangka penjelasan yang masuk akal dan
sekaligus mencerminkan kenyataan yang sebenarnya? berkembanglah dalam kaitan pemikiran
ini metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup
di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Pengetahuan
metode eksperimen yang berasal dari timur ini mempunyai pengaruh penting
terhadap cara berfikir manusia sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai
penjelasan teoritis apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan
demikian berkembanglah metoe ilmiah yang menggabungkan cara berfikir deduktif
dan induktif. Dalam pohon silsilah logika dapat dilihat perkembangan logika
ilmiah yang merupakan pertemuan antara rasionalisme dan empirisme.
Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk diterima
sebab pada dasarnya adalah akal sehat meskipun ilmu bukanlah sembarangan akal
sehat melainkan akal sehat yang terdidik. Pengetahuan ilmiah tidak sukar
untuk dipercaya sebab dapat diandalkan meskipun tentu saja tidak semua masalah
dapat dipecahkan secara keilmuan, itulah sebabnya maka kita masih memerlukan
berbagai pengetahuan lain untuk memenuhi kehidupan kita sebab bagaimanapun
majunya ilmu secara hakiki dia adalah terbatas dan tidak lengkap.
13. METODE ILMIAH
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan ilmu pengetahuan
yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu
sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan
dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.
Metodologi ilmiah secara filsafat termasuk dalam apa yang dinamakan epistemology.
Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan
pengetahuan: apakah sumber pengetahuan? apa hakikak , jangkauan dan ruang
lingkup pengetahuan? apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan?
sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia.
Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara
bekerjanya pikiran, sehingga pengetahuan yang dihasilkan mempunyai
karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat
rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusun merupakan
pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah mencoba
menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam membangun tubuh
pengetahuannya.
Berfikir deduktif memberikan sifat yang
rasional kepada pengetahuan ilmiah dan sifat konsisten dengan pengetahuan yang
telah dikumpulkan sebelumnya. Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilmu
disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai suatu yang
baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada.
Penjelasan yang bersifat rasionalini dengan
criteria kebenaran koherensi tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final,
sebab sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistic, maka
dimungkinkan disusunnya berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran
tertentu.
Tahapan selanjutnya yaitu manusia mulai memberi
batas-batas yang jelas kepada objek kehidupan tertentu yang terpisah dengan
eksistensi manusia sebagai subjek yang mengamati dan menelaah objek tersebut. Dalam
menghadapi masalah tertentu, maka dalam tahapan ontology ini, manusia
mulai menentukan batas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan
manusia dapat mengenal wujud masalah itu, untuk kemudian ditelaah dan dicarikan
pemecahan jawabannya.
Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut
maka ilmu tidak berpaling kepada perasaan melainkan kepada pikiran yang
berdasarkan penalaran. Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai permasalahan
yang dihadapinya agar dia mengerti mengenai hakikat permasalahan itu dan dengan
demikian maka ia dapat memecahkannya. secara ontology maka ilmu membatasi
masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup
jangkauan pengalaman manusia.
Dalam menghadapi tiap masalah ilmiah, karena
masalah yang dihadapi adalah nyata maka ilmu mencari jawaban pada dunia yang
nyata pula. Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, Einstein
berkata, apapun juga teori yang menjembatani antara keduanya. Teori yang
dimaksudkan disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia
fisik tersebut. teori merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan
secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori
ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang
dijelaskannya.
Semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat
utama yakni:
a. Harus
konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya
kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan.
b. Harus cocok
dengan fakta-fakta empiris sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya
tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara
ilmiah.
Jadi logika ilmiah merupakan gabungan antara
logika deduktif dan logika induktif dimana rasionalisme dan empirisme hidup
berdampingan dalam sebuah system dengan mekanisme korektif. Oleh sebab itu maka
sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang
diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara. Penjelasan sementara ini biasa
disebut hipotesis.
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban
sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian
untuk medapatkan jawaban yang benar maka seorang ilmuan seakan-akan melakukan
sesuatu “interogasi terhadap alam”. Hipotesis dalam hubungan ini berfungsi sebagai
penunjuk jalan yang memungkinkan kita mendapatkan jawaban, karena alam itu
sendiri membisu dan tidak responsive terhadap pertanyaan-pertanyaan. Harus kita
sadari bahwa hipotesis itu sendiri merupakan penjelasan yang bersifat sementara
yang membantu kita dalam melakukan penyelidikan. sering kita temui kesalah pahaman
dimana analisis ilmiah berhenti pada hipotesis ini tanpa upaya selanjutnya
untuk melakukan verifikasi apakah hipotesis ini benar atau tidak. kecenderungan
ini terdapat pada ilmuwan yang sangat dipengaruhi oleh paham rasionalisme dan
melupakan bahwa metode ilmiah merupakan gabungan dari rasionalisme dan
empirisme.
Dengan adanya jembatan berupa penyusunan
hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal sebagai proses
logico-hypothetico-verifikasi; atau menurut Tyndall sebagai “perkawinan yang
berkesinambungan antara deduksi dan induksi”
Langkah selanjutnya sesudah penyusunan
hipotesis adalah pengujian hipotesisi tersebut dengan mengkonfrontasikannya
dengan dunia fisik yang nyata. Proses pengujian ini merupakan pengumpulan fakta
yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Fakta-fakta ini kadang-kadang
bersifat sederhana yang dapat kita tangkap secara langsung dengan panca indra
kita.
Dasar pola fikir ilmuan skeptis:
a. Jelaskan
kepada saya lalu berikan buktinya!
b. Dimulai
dengan ragu-ragu dan diakhiri dengan percaya atau tidak percaya.
c. Mulai dengan
percaya dan dikahiri dengan makin percaya atau mungkin jadi ragu?
Pola berfikir yang tercakup dalam metode ilmiah
dapat dijabarkan dalam beberapa langkah berikut:
1. Perumusan
masalah.
2. Penyusunan
kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis.
3. Perumusan
hipotesis.
4. Pengujian
hipotesis.
5. Penarikan
kesimpulan.
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu
penelaahan dapat disebut ilmiah. Namun dalam prakteknya sering terjadi lompatan-lompatan.
Hubungan antara langkah satu dengan yang lainnya tidak terikat secara statis
melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata
mengandalkan penalaran melainkan juga imajinasi dan kreatifitas. Sering terjadi
bahwa langkah yang satu bukan saja merupakan landasan bagi langkah yang
berikutnya namun sekaligus juga merupakan landasan koreksi bagi langkah lain. Dengan
jalan ini diharapkan diprosesnya pengetahuan yang bersifat konsisten dengan
pengetahuan-pengetahuan sebelumnya serta teruji kebenarannya secara empiris.
Dapat disimpulankan
bahwa :
1. Ilmu merupakan
kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah
teruji secara empiris
2. Ilmu tidak
bertujuan mencari kebenaran absolute melainkan kebenaran yang bermanfaat
bagimanusia dalam tahap perkembangan tertentu
3. Ilmu juga
bersifat konsisten karena penemuan yang stu didasarkan kepada penemuan-penemuan
sebelumnya
4. Ilmu bukan
sesuatu tanpa cela, disebabkan penalaran dan panca indra manusia yang jauh dari
sempurna.
5. Metode ilmiah
pada dasarnya adalah sama bagi semua disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam
ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social
6. Metode imiah
tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk kedalam kelompok
ilmu.
7. Penelitian
merupakan cerminan secara konkret kegiatan ilmu dalam proses pengetahuan.
Metodologi penelitian ilmiah dan hakikatnya merupakan operasionalisasi dari metode
keilmuan.
14. STRUKTUR PENGETAHUAN ILMIAH
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah
merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian
dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Pengetahuan ilmiah ini diproses
lewat serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh
kedisiplinan dan dari karakteristik inilah maka ilmu sering dikonotasikan sebagai
disiplin. Ilmu dapat diibaratkan sebagai piramida terbalik dengan perkembangan
pengetahuannya yang bersifat kumulatif dimana penemuan pengetahuan ilmiah yang
satu memungkinkan penemuan pengetahuan-pengetahuan
ilmiah lainnya. Sekiranya pengetahuan ilmiah yang baru ini kemudian ternyata
salah, disebabkan kelengahan dalam salah satu langkah dari proses penemuannya,
maka cepat atau lambat kesalahan ini akan diketahui dan pengetahuan ini akan
dibuang dalam khasanah keilmuan. Sebaliknya bila ternyata bahwa sebuah
pengetahuan ilmiah yang baru ini adalah benar, maka pernyataan yang terkandung
dalam pengetahuan ini dapat digunakan sebagai premis baru dalam kerangka
pemikiran yang menghasilkan hipotesis-hipotesis baru, yang bila kemudian
ternyata dibenarkan dalam proses pengujian akan menghasilkan
pengetahuan-pengetahuan ilmiah baru pula.
Secara garis
besar terdapat empat jenis pola penjelasan yakni:
1. Deduktif
Penjelasan deduktif menggunakan cara berfikir
deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis
dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Probabilistic
Penjelasan probabilistic merupakan penjelasan
yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan
kepastian seperti penjelasan deduktif melainkan penjelasan yang bersifat
peluang seperti “kemungkinan”, “kemungkinan besar” atau “hamper dapat dipastikan”.
3. Fungsional/teleologis
Penjelasan fungsional atau teleologis merupakan
penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan system secara keseluruhan
yang mempunyai karekteristik atau arah perkembangan tertentu.
4. Genetic
Penjelasan genetic mempergunakan factor-faktor
yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian.
Teori merupakan pengetahuan ilmiah
yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin
keilmuan. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Hukum pada hakikatnya
merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih
dalam suatu kaitan sebab akibat. pernyataan yang mencakup hubungan sebab akibat
ini, atau dengan perkataan lain hubungan kausalitas, memungkinkan kita untuk
meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab.
Secara mudah
kita dapat mengatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan
penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala-gejala terjadi, sedangkan hukum
memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang “apa” yang mungkin
terjadi. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat”
yang dapat kita gunakan untuk mengontrol gejala alam.
Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum
ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau secara ideal, harus bersifat universal. Penting
untuk diingat adalah demi kepraktisan ilmu tidak merupakan kumpulan pengetahuan
yang bersifat kasus, melainkan
pengetahuan yang bersifat umum yang disimpulkan dari berbagai kasus.
Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang
lebih tinggi ini maka sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh
dimana teori-teori yang mempunyai tingkat keumuman yang rendah disatukan dalam
suatu teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori-teori tersebut.
Ilmu teoritis, meminjam definisi Moritz
Schlick, terdiri dari sebuah system pernyataan. system yang terdiri dari pernyataan-pernyataan
agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang
mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut dalam teori.
makin
tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin “teoritis” konsep
tersebut. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang
dijelaskan oleh konsep yang dimaksud; artinya makin teoritis sebuah konsep maka
makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang
tampak nyata.
Konsep-konsep yang bersifat teoritis karena
sifatnya yang mendasar sering tidak langsung ketara kegunaan praktisnya. Secara
logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti, sebab makin teoritis suatu
konsep maka makin jauh pula kaitan langsung konsep tersebut dengan gejala fisik
yang nyata; padahal kehidupan kita sehari-hari adalah berhubungan dengan gejala
yang bersifat kongkret tersebut. Kegunaan praktis dari konsep tersebut yang
bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang bersifat
mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dan dari pengertian inilah kita
sering mendengar konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam
bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian
terapan.
Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang
berlaku secara umum bagi kelompok gejala-gejala tertentu, yang mampu
menjelaskan kejadian yang terjadi, umpanya saja hukum sebab akibat sebuah
gejala. Dengan prinsip inilah maka kita menjelaskan pengertian efisiensi dan
mengembangkan berbagai teknik seperti analisi system dan riset operasional
untuk meningkatkan efisiensi. Dengan mengetahui prinsip yang mendasarinya, Maka
tidak sukar bagi mereka yang mempelajari teknik-teknik tersebut yang bernaung
dalam payung konsep system, untuk memahami bukan saja penjelasan teknis namun
sekaligus pengkajian filsafati.
Postulat merupakan asumsi dasar yang
kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. kebenaran ilmiah
pada hakikatnya harus disahkan dalam sebuah proses yang disebut metode
keilmuan. postulat ilmiah ditetapkan tanpa melalui prosedur ini melainkan ditetapkan
secara begitu saja.
Asumsi harus merupakan pernyataan yang
kebenarannya usecara empiris dapat diuji. Kita harus memilih teori yang terbaik
dari sejumlah teori yang ada berdasarkan kecocokan asumsi yang dipergunakannya.
Itulah sebabnya maka dalam pengkajian
ilmiah seperti penelitian dituntut untuk menyetakan secara tersurat, postulat,
asumsi, prinsip serta dasar-dasar pemikran lainnya yang digunakan dalam
mengembangkan argumentasi.
Penelitian yang bertujuan untuk menemukan
pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui dinamakan penelitian
murni atau penelitian dasar. Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk
mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah
kehidupan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan. Diperlukan waktu
yang cukup lama untuk dapat menerapkan penemuan-penemuan ilmiah yang baru
kepada pemanfaatan yang berguna. Terdapat selang waktu yang makin lama makin
pendek antara penemuan suatu teori ilmiah dengan penerapannye kepada masalah-masalah
yang bersifat praktis.
BAB V
SARANA BERFIKIR ILMIAH
15. SARANA BERFIKIR ILMIAH
Perbedaan utama antara manusia dan binatang
terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai
tujuan. Seluruh pemikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan
yang menyebabkan mereka secara langsung mencari objek yang diinginkan atau
membuang objek yang menghalanginya. Manusia sering disebut sebagai “Homofaber” yaitu
mahluk yang membuat alat, dan kemampuan
membuat alat itu dimungkinkan oleh pengetahuan.
Untuk melakukan
kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana
tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat.
Penguasaan sarana berfikir ini merupakan suatu hal yang bersifat imperative bagi
seorang ilmuan.
Sarana merupakan alat yang membantu kita dalam
mencapai suatu tujuan tertentu atau dengan perkataan lain, sarana ilmiah
mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana berfikir dapat dikatakan bahwa sarana berfikir ilmiah mempunyai metode
tersendiri dalam mendapatkan pengetahuan yang berbeda dengan metode ilmiah.
Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk
memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari
ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk
bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berfikir
ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi
pengetahuan berdasarkan metode ilmiah.
16. BAHASA
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang
dipakai dalam seluruh proses berfikir alamiah dimana bahasa merupakan alat
berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada
orang lain.
Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara
abstrak di mana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol
bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat
berfikir mengenai suatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual
tidak berada di tempat dimana kegiatan berfikir itu dilakukan.
Transformasi objek faktual menjadi symbol
abstrak yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata dirangkaian oleh tata
bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan. Bahasa
mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan dan sikap. Atau
seperti dinyatakan oleh Kneller bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi
symbolic, emotik dan efektif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi
ilmiah sedangkan fungsi emotik menonjol dalam komunikasi estetik.
Apakah
sebenarnya bahasa?
Pertama-tama bahasa dapat kita cirikan sebagai
serangkaian bunyi. Kedua, bahasa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi ini
membentuk suatu arti tertentu.
Perbedaan pendidikan antara manusia dengan
binatang terutama terletak dalam tujuannya: manusia belajar agar berbudaya
sedangkan binatang belajar untuk mempertahankan jenisnya. Dengan bahasa manusia
dapat berfikir secara teratur juga dapat mengomunikasikan apa yang sedang dia
pikirkan kepada orang lain. Dengan bahasa kita pun dapat mengekspresikan sikap
dan perasaan kita. Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dunia yakni
dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa. Pengalaman
mengajarkan kepada manusia bahwa hidup seperti ini kurang bisa diandalkan
dimana eksistensi hidupnya tergantung kepada faktor yang sukar dikontrol dan
diramalkan. Hidup dalam dunia fisik yang kejam dan sukar diramalkan maka
manusia bangkit dan melawannya. Manusia lalu mengembangkan pengetahuan untuk
menguasainnya. Mereka berusaha mengerti setiap gejala yang dihadapi dan
membuahkan pengetahuan yang memberikan penjelasan kepadanya.
Dengan ini manusia memberarti kepada hidupnya,
arti yang terpatri dalam dunia simbolik yang diwujudkan lewat kata-kata. Kata-kata
lalu mempunyai arti bahkan kekuatan. Demikian juga manusia member arti bagi
yang indah dalam hidup yang indah dalam hidup ini dengan bahasa.
Seni merupakan kegiatan estetik yang banyak mempergunakan
aspek emotif dari bahasa baik itu seni suara maupun seni sastra. Dalam hal ini
bahasa bukan saja dipergunakan untuk mengemukakan perasaan itu sendiri
melainkan juga merupakan ramuan untuk mejelmakan pengalaman yang ekspresif
tadi.
Komunikasi ilmiah mensyaratkan bentuk
komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah
bertujuan untuk menyampaikan informasi berupa pengetahuan dan bahasa yang
dipergunakan harus terbebas dari unsur emotif. Komunikasi ilmiah harus bersifat
reproduktif artinya jika si pengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi
yang katakanlah berupa (x), maka penerima komunikasi harus menerima informasi
yang berupa (x) pula.
Berbahasa dengan jelas artinya ialah bahwa
makna yang terkandung dalam kata-kata yang dipergunakan diungkapkan secara
tersurat (eskplisit) untuk mencegah pemberian makna lain. Berbahasa dengan
jelas artinya juga mengemukakan pendapat atau jalan pemikiran secara jelas.
Karya ilmiah pada dasarnya merupakan kumpulan
pernyataan yang mengemukakan informasi tentang pengetahuan maupun jalan
pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan tersebut. Untuk dapat mengkomunikasikan
suatu pernyataan dengan jelas maka seseorang seseorang harus menguasai tata
bahasa yang baik. Sedangkan tata bahasa menurut Charlton Laird merupakan alat
dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari pikiran untuk mengungkapkan
arti dan emosi dengan mempergunakan aturan-aturan tertentu. Karyai ilmiah
mempunnyai format penulisan tertentu seperti cara meletakkan catatan kaki atau
menyertakan daftar bacaan.
Beberapa
Kekurangan Bahasa
Sebagai sarana komunikasi ilmiah bahasa
mempunyai beberapa kekurangan. Kekurangan ini pada hakikatnya terletak pada
peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multi fungsi yakni sebagai sarana komunikasi
emotif, afektif, dan simbolik. Bahasa ilmiah pada hakikatnya haruslah bersifat
objektif tanpa mengandung emosi dan sikap atau dengan kata lain bahasa ilmiah
haruslah bersifat antiseptic dan reproduktif.
Kekurangan kedua terletak pada arti yang tidak
jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Kelemahan lain
terletak pada sifat majemuk (pluralistic) dari bahasa. Kelemahan yang lainnya
dari bahasa adalah konotasi yang bersifat emosional.
17. MATEMATIKA
Matematika adalah bahasa yang melambangkan
serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang
matematika bersifat “artificial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna
diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan
rumus-rumus yang mati.
Bahasa verbal seperti telah kita lihat
sebelumnya mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi
kekurangan yang terdapat pada bahasa maka kita berpaling kepada matematika.
Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha
untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emosional dari bahasa verbal.
Lambing-lambang dari matematika dibuat secara artificial dan individu yang
merupakan perjanjian yang berlaku khusus untuk masalah yang sedang kita kaji.
Pernyataan matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informative
dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.
Sifat
Kuantitatif Dari Matematika
Matematika mempunyai kelebihan lain
dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numeric yang
memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif.
Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan
pernyataan yang bersifat kualitatif. Demikian juga maka penjelasan dan ramalan
yang diberikan oleh ilmu dalam bahasa verbal semuanya bersifat kualitatif. Sifat
kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan control dari
ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan
pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu
mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. Perkembangan ini
merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan
control yang lebih tepat dan cermat dari ilmu. beberapa disiplin keilmuan,
terutama ilmu-ilmu social, agak mengalami kesukaran dalam perkembangan yang
bersumber pada problema teknis dan dalam pengukuran. Kesukaran ini secara
bertahap telah mulai dapat diatasi. Dimana ilmu social telah mulai memasuki
tahap yang bersifat kuantitatif. Pada dasarnya matematika diperlukan oleh semua
disiplin keilmuan untuk meningkatkan daya prediksi dan control dari ilmu
tersebut.
Matematika
: Sarana Berfikir Deduktif
Kita semua telah mengenal bahwa jumlah sudut
dalam sebuah segitiga adalah 180o. Pengetahuan ini mungkin saja kita dapat
dengan jalan mengukur sudut-sudut dalam sebuah segitiga dan kemudian
menjumlahkannya. Di pihak lain, pengetahuan ini bisa didapatkan secara deduktif
dengan mempergunakan matematika. Berfikir deduktif adalah proses pengambilan
kesimpulan didasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat dua garis sejajar maka
sudut-sudut yang dibentuk kedua garis sejajar tersebut dengan garis ketiga
adalah sama. Premis yang kedua adalah bahwa jumlah sudutyang dibentuk oleh
sebuah garis lurus adalah 180o.
Dengan contoh seperti diatas secara deduktif
matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis yang
tertentu. Pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya hanyalah merupakan
konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang telah kita temukan sebelumnya.
Beberapa
Aliran Dalam Filsafat Matematika
Terdapat
dua pendapat tentang matematika yakni:
1. Immanuel
Kant (1724-1804) berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang
bersifat sintetik apriori dimana eksistensi matematika tergantung dari panca indra
2. Pendapat
dari aliran yang disebut logistic yang berpendapat bahwa matematika merupakan cara
berfikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia
empiris.
Disamping
dua aliran ini terdapat pila aliran ke tiga yang dipelopori:
3. David Hilbert
(1862-1943) yang dikenal dengan kaum formalis
Kaum logistik mengemukakan bahwa matematika
murni merupakan cabang dari logika. pendapat ini mula-mula dikembangkan oleh
Gottlob Frege (1848-1925) yang menyatakan bahwa hukum bilangan (the law of
number) dapat direduksikan kedalam proporsi-proporsi logika.
Kaum formalis menolak anggapan kaum logistic
ini yang menyatakan bahwa konsep matematika dapat direduksi menjadi konsep
logika. Mereka berpendapat bahwa banyak masalah-masalah dalambidang logika yang
sama sekali tidak ada hubungannya tentang struktur formaldari lambing.
Pengetahuan kita tentang bilangan, merupakan
pengertian rasional yang bersifat apriori, yang kita pahami lewat “mata
penalaran” (the eye of reason) yang memandang jauh ke dalam struktur hakikat
bilangan.
Perbedaan pandangan ini tidak melemahkan
perkembangan matematika malah justru sebaliknya dimana satu aliran member
inspirasi kepada aliran-aliran lainnya dalam titik-titik pertemuan yang disebut
Black sebagai kompromi yang bersifat eklektik (ecletic compromise).
Matematika
dan Peradaban
Matematika merupakan bahasa artificial yang
dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa verbal yang bersifat alamiah. Maka
diperlukan usaha tertentu untuk menguasai matematika dalam bentuk kegiatan
belajar. Matematika makin lama makin bersifat abstrak dan esoteric yang makin
jauh dari tangkapan orang awam; magis dan misterius.
18. STATISTIKA
Konsep statistika sering dikaitkan dengan
distribusi variable yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. pada tahun
1757 Thomas simson menyimpulkan bahwa terdapat suatu distribusi yang berlanjut
(continuous distribution) dari suatu variable dalam suatu frekuensi yang cukup
banyak. Piere Simon de Laplace (1749-1827) mengembangkan konsep Demoivre dan
Simson ini lebih lanjut dan menemukan distribusi normal.
BAB VI
AKSIOLOGI : KEGUNAAN ILMU.
AKSIOLOGI : KEGUNAAN ILMU.
Mengalami zaman edan
Kita sulit menentukan sikap
Turut edan tidak tahan
Kalau tidak turut edan
Kita tidak kebagian
Menderita kelaparan
Tapi dengan bimbingan Tuhan
Betapa bahagia merekapun yang lupa
Lebih bahag ia yang ingat serta waspada
(Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora Tuhan
Yen tang melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dialah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada)
Ranggawarsita (1802-1873)
Turut edan tidak tahan
Kalau tidak turut edan
Kita tidak kebagian
Menderita kelaparan
Tapi dengan bimbingan Tuhan
Betapa bahagia merekapun yang lupa
Lebih bahag ia yang ingat serta waspada
(Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora Tuhan
Yen tang melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dialah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada)
Ranggawarsita (1802-1873)
19. ILMU DAN MORAL
Sejak
pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam
perpektif yang berbeda. Sejak Copernikus (1473-1543) mengajukan teori tentang
kesemestaan alam dan menemukan bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari
dan bukan sebaliknya seperti apa yang diajarkan oleh ajaran agama maka di
sinilah timbul interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber dari ajaran
agama). Para ilmuan berusaha untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran
alam sebagaimana semboyan : ilmu yang bebas nilai.
20. TANGGUNG JAWAB SOSIAL ILMUWAN
Secara
historis fungsi sosial dari kaum ilmuwan telah lama dikenal dan diakui. Raja
Charles II dari Inggris mendirikan The Royal Society yang bertindak
selaku penawar bagi fanatisme di masyarakat waktu itu. Para ilmuwan pada waktu
itu bersuara mengenai toleransi beragama dan pembakaran tukang-tukan sihir.
Sikap sosial seorang ilmuwan adalah konsisten dengan proses penelaahan
keilmuwan yang dilakukan. Ilmu terbebas dari nilai. Ilmu itu sendiri netral dan
para ilmuwanlah yang memberikan nilai. Dalam menghadapi masalah sosial, seorang
ilmuwan yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang cukup harus menempatkan
masalah tersebut pada proporsi yang sebenarnya dan menjelaskanya kepada
masyarakat dalam bahasa yang dapat dicerna. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh
seorang ilmuwan maka harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah
yang seyogyanya mereka safari. Di bidang etika, tanggungjawab seorang ilmuwan
bukan lagi memberikan informasi tetapi memberikan contoh.
21. NUKLIR DAN PILIHAN MORAL
Seorang
ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuanya untuk menindas
bangsa lain meskipun yang menggunakan itu adalah bangsanya sendiri. Einstein
waktu itu memihak sekutu karena anggapanya bahwa sekutu mewakili aspirasi
kemanusiaan. Jika sekutu kalah maka yang akan muncul adalah rezim Nazi yang
tidak berperikemanusiaan. Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpangku
tangan. Dia harus memilih sikap: berpihak kepada kemanusiaan atau tetap
bungkam?. Seorang ilmuwan tak boleh memutarbalikan penemuwannya bila
hipotesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun di atas kerangka pemikiran yang
terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena bertentangan
dengan fakta-fakta pengujian.
22. REVOLUSI GENETIKA
Revolusi genetica
merupakan babak baru dalam sejarah keilmuan manusia sebab sebelum ini ilmu
tidak pernah menyentuh manusia sebagai obyek penelaahan itu sendiri.
Memperlakukan manusia sebagai kelinci pencobaan adalah sikap yang tidak
bermoral dan bertentangan dengan hakikat ilmu.
ILMU
DAN KEBUDAYAAN
23. MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan
didefenisikan pertama kali oleh EB. Taylor pada tahun 1871 di mana dalam
bukunya Primitive Culture, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang
mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan
kebiasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Yang
menjadi dasar dari kebudayaan adalah nilai. Di samping nilai ini kebudayaan
diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang
mencerminkan nilai budaya yang di kandungnya. Pada dasarnya tata hidup
merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak:
kegiatan manusia ini dapat ditangkap oleh panca indera sedangkan nilai budaya
hanya tertangguk oleh budi manusia. Di samping itu nilai budaya dan tata hidup
manusia ditopang oleh sarana kebudayaan.
24. ILMU DAN PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN
NASIONAL
Ilmu
merupakan pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Dalam
rangka pengembangan kebudayaan ilmu mempunyai peranan ganda, yaitu:
1.
Ilmu
merupakan sumber nilai yang mendukung terlenggaranya pengembangan kebudayaan
nasional.
2.
Ilmu
merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Dua
dasar moral bagi kaum ilmuwan adalah meninggikan kebenaran dan pengabdian
secara universal. Tujuh nilai ilmiah yang terpancar dari hakikat keilmuwan
yakni:
1.
Kritis,
2.
Rasional,
3.
Logis
5.
Terbuka,
6.
Menjunjung
kebenaran dan
7.
Pengabdian
universal.
Peranan
ketujuh nilai ini adalah dalam hal bangsa menghadapi permasalahan dalam bidang
politik, ekonomi, dan kemasyarakatan membutuhkan pemecahan permasalahan secara
kritis, rasional, logis dan terbuka. Sedangkan sifat menjunjung kebenaran dan
pengabdian universal akan merupakan aktor yang penting dalam pembinaan bangsa
di mana seseorang lebih menitikberatkan kebenaran untuk kepentingan golongan
dibandingkan kepetingan golongan. Bukan saja seni namun ilmu dalam hakikatnya
yang murni bersifat mempersatukan.
25. DUA POLA KEBUDAYAAN
Ada
dua pola kebudayaan yang terbagi ke dalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Raiso
de’etre yang menjadi argumentasi pembagian jurusan ini adalah asumsi yang
pertama mengemukakan bahwa manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam
pendidikan matematika yang mengharuskan kita mengembangakan pola pendidikan
yang berbeda pula. Asumsi yang kedua adalah yang menganggap bahwa ilmu sosial
kurang memerlukan pengetahuan matematika. Asumsi kedua ini sekarang tidak
relevan lagi karena pengembangan ilmu sosial membutuhkan bakat-bakat matematika
yang baik untuk menjadikannya pengetahuan yang bersifat kuantitatif.
ILMU
DAN BAHASA
26. TERMINOLOGI: ILMU, ILMU PENGETAHUAN,
DAN SAINS
Seluruh
bentuk dapat digolongkan dalam kategori pengetahuan (knowledge) di mana
masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh karakter obyek ontologis, landasan
epistemologis dan landasan aksiologi masing-masing. Salah satu bentuk knowledge
ditandai dengan:
1.
Obyek
Ontologis yaitu pengalaman manusia yakni segenap ujud yang dapat dijangkau
lewat panca indra atau alat yang membantu kemampuan pancaindra;
2.
Landasan
epistemologis yaitu metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan
logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico-hyphotetico-verifikasi;
3.
Landasan
aksiologi: kemaslahatan manusia artinya segenap ujud pengetahuan itu secara
moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.
27.
QUO VADIS
Terminologi
Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge, secara defacto
dalam kalangan dunia keilmuwan terminologi ilmu sudah sering dipergunakan
seperti dalam metode ilmiah dan ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu alam. Adapun
kelemahan dari pilihan ini ialah bahwa kita terpaksa meninggalkan kata ilmu
pengetahuan dan hanya menggunakan kata ilmu saja untuk sinonim science
dalam bahasa inggris. Alternatif pertama menggunakan ilmu pengetahuan untuk science
dan pengetahuan untuk knowledge.
28. POLITIK BAHASA NASIONAL
Bahasa mempunyai dua fungsi yaitu;
1.
Sebagai
sarana komunikasi dan
Sebagai
sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa
tersebut. Fungsi pertama dapat disebut sebagai fungsi komunikatif dan fungsi
kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif.
Pada
tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia memilih bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional dengan alasan utama yaitu fungsi kohesif bahasa Indonesia
sebagai sarana yang mengintegrasikaan berbagai suku ke dalam satu bangsa yakni
Indonesia.
BAB IX
PENELITIAN DAN
PENULISAN ILMIAH
29. STRUKTUR PENELITIAN DAN PENULISAN
ILMIAH
Langkah pertama dalam penelitian ilmiah adalah mengajukan masalah
yang berisi:
1.
Menentukan
latar belakang dari suatu masalah, kemudian melakukan identifikasi masalah,
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat
penelitian.
2.
Pengajuan
Hipotesis. Dalam hipotesis mengkaji mengenai teori-teori ilmiah yang dipergunakan
dalam analisis, pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan,
penyusunan kerangka berpikir dengan mempergunakan premis-premis dan menyatakan
secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan, lalu merumuskan
hipotesis.
3.
Menguji
hipotesis secara empiris melalui penelitian dan kemudian hasil penelitian dapat
dilaporkan dalam kegiatan sebagai berikut:
a.
menyatakan
variabel-variabel yang diteliti.
b.
menyatakan
teknik analisa data.
c.
mendeskripsikan
hasil analisis data.
d.
memberikan
penafsiran terhadap kesimpulan analisis data.
e.
menyimpulkan
pengujian hipotesis apakah ditolak atau diterima.
4.
Ringkasan
dan Kesimpulan. Kesimpulan pengujian hipotesis dikembangkan menjadi kesimpulan
penelitian yang ditulis dalam bab tersendiri.
Kesimpulan
penelitian ini merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian yang
terdiri dari masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi penelitian dan
penemuan penelitian. Seluruh laporan penelitian disarikan dalam sebuah
ringkasan yang disebut abstrak. Dalam laporan penelitian dilampirkan daftar
pustaka dan riwayat hidup peneliti.
30.
TEKNIK PENULISAN ILMIAH
Teknik
penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan serta teknik notasi.
Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Komunikasi ilmiah
harus bersifat reproduktif artinya bahwa sipenerima pesan mendapatkan kopi yang
benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan sipemberi pesan.
Komunikasi ilmiah harus bersifat impersonal di mana berbeda dengan tokoh dalam
sebuah novel yang bisa berupa aku dan dia atau doktor faust. Kata ganti
perorangan hilang dan diganti universal yakni ilmuwan. Pembahasan secara ilmiah
mengharuskan kita berpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebagai
premis dalam argumentasi kita. Pernyataan ilmiah yang kita gunakan harus
mencatat beberapa hal yakni kita identifikasi orang membuat pernyataan
tersebut, media komunikasi ilmiah dimana pernyataan tersebut di sampaikan,
lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat domisili dan
waktu penerbitan dilakukan.
31. Teknik Notasi Ilmiah
Kalimat
yang kita kutip harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki.
Catatan kaki mulai langsung dari pinggir atau dapat dimulai setelah beberapa
ketukan tik dari pinggir asalkan dilakukan secara konsisten. Nama pengarang
yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang
yang lebih dari tiga orang hanya ditulis nama pertama ditambah kata et al.
Kutipan yang diambil dari halaman tertentu disebutkan halamanya dengan
singkatan p (pagina) atau hlm. (halaman). Jika kutipan itu disarikan dari
beberapa halaman maka dapat ditulis pp.1-5 atau hlm 1-5. Jika nama
pengaranganya tidak ada langsung dituliskan nama bukunya atau Anom (anoniymous)
di depan nama buku tersebut. Sebuah buku yang ada diterjemahkan harus ditulis
baik pengarang maupun penterjemah buku tersebut sedangkan kumpulan karangan
cukup disebutkan nama editornya. Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama
dilakukan dengan memakai notasi op.cit (opere citato: dalam karya yang telah
dikutip), loc. cit (loco citato: dalam tempat yang telah dikutip dan ibid
(ibidem : dalam tempat yang sama).
BAB X
PENUTUP
32. HAKIKAT ILMU
Arti
Hakikat: Secara etimologis berarti terang, yakin, dan sebenarnya. Dalam
filsafat, hakikat diartikan inti dari sesuatu, yang meskipun sifat-sifat yang
melekat padanya dapat berubah-ubah, namun inti tersebut tetap lestari. Contoh,
dalam Filsafat Yunani terdapat nama Thales, yang memiliki pokok pikiran
bahwa hakikat segala sesuatu adalah air. Air yang cair itu adalah pangkal,
pokok, dan inti segalanya. Semua hal meskipun mempunyai sifat dan bentuk yang
beraneka ragam, namun intinya adalah satu yaitu air. Segala sesuatu berasal
dari air dan akan kembali pada air.
Hakikat
dapat dipahami sebagai inti-sari, bisa pula berupa sifat-sifat umum dari pada
hal sesuatu. Dipahami pula sebagai diri pribadi atau jati diri hal sesuatu.
Istilah-istilah dalam bahasa inggris seperti "substance"
dan/atau "essence" yang keduanya menunjuk suatu “essential
nature" atau ultimate nature of a thing. Jadi bisa pula
dipahami sebagai inti dasar atau inti terdalam pada sesuatu.
Jadi,
hakikat adalah keseluruhan unsur yang secara mutlak berada di dalam saling
berhubungan sehingga membentuk suatu kesatuan utuh-menyeluruh. Selanjutnya,
pada taraf tertentu, keseluruhan unsur itu secara bersama-sama menentukan
adanya barang atau sesuatu hal sebagaimana diri-pribadinya sendiri, bukan
sesuatu hal yang lain.
“Hakikat” dapat dikategorikan menjadi 3 hal:
1.
Hakikat
Jenis (bersifat abstrak)
2.
Hakikat
Pribadi (bersifat Potensial)
3.
Hakikat
individual (bersifat kongkret)
Aspek
epistemologi ilmu pengetahuan adalah persoalan bagaimana menemukan kebenaran
tentang suatu objek materi, melalui berbagai macam sudut pandang (objek forma),
metoda dan sistem. Maka berkembanglah pula. berbagai macam teori kebenaran.
Sejauh mana perpedaan itu? Tetap terhubungkan dalam satu kesatuan objek
(format, metoda dan sistem).
Masalah
Hakikat Individual Ilmu Pengetahuan. Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethikos”
atau “ethos” berarti adat atau kebiasaan. (berkembang menjadi ekuivalen
dengan moralitas).
Etika
sering diartikan dengan filsafat moral atau filsafat tingkah laku. Tradisi
filsafat membagi etika kedalam etika normatif dan kreatif (meta-etika?). Etika
normatif, mempersoalkan pengukuran perbuatan baik dan benar berdasar
norma-norma konvensional sebagai petunjuk atau penuntun prilaku. Sedangkan
kreatif, cenderung bersifat filosofis, pengukuran perbuatan baik dan benar
berdasar pada analisis kritis logis. Kedua kriteria ini dapat dijadikan
pedoman, bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku. Hanya menurut dasar hak
dan kewajiban yang seharusnya, suatu perilaku baik dan benar.
Aspek
ilmu pengetahuan adalah mengenai hakikat konkret individual ilmu pengetahuan.
Seperti halnya manusia, barulah berfungsi ketika menjadi konkret individual,
maka begitu juga halnya ilmu pengetahuan baru dapat difungsikan ketika
teori-teori ilmiah dibangun menjadi sebuah sistem teknologi.
Atas dasar
Potensi ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia seharusnya mampu dan mau untuk:
1.
Mengutamakan
prilaku adil dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan sumber daya
alam.
2.
Mampu
dan mau berprilaku adil terhadap sesama manusia.
3.
Mampu
dan mau bersikap adil terhadap diri sendiri.
33.
Kegunaan Ilmu
Apa
guna ilmu pengetahuan? Pertanyaan sama dengan apa guna pengetahuan
ilmiah karena ilmu pengetahuan isinya teori (ilmiah). Secara umum,
teori artinya pendapat yang beralasan. Alasan itu dapat berupa argument logis,
ini teori filsafat; berupa argument perasaan atau keyakinan dan kadang-kadang
empiris, ini teori dalam pengetahuan mistik; berupa argument logis-empiris, ini
teori sain.
Berbagai ilmu
pengetahuan yang ada sampai sekarang ini seecara umum berfungsi sebagai alat
untuk membuat eksplanasi kenyataan. Ilmu pengetahuan merupakan suatu system
eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan system lainya dalam
memahami masa lampau, sekarang , serta mengubah masa depan. Bagaimana
contohnya?
Akhir tahun
1997 di Indonesia terjadi gejolak moneter, yaitu nilai rupiah semakin murah
dibandingkan dengan dolar (kurs rupiah terhadap dolar turun). Gejala ini telah
memberikan dampak yang cukup luas terhadap kehidupan di Indonesia. Gejalanya
ialah harga semakin tinggi. Bagaimana menerangkan gejala ini?
Teori-teori
ekonomi (mungkin juga politik) dapat menerangkan (mengeksplanasikan) gejala
itu. Untuk mudahnya, teori ekonomi menyatakan karena banyaknya utang luar
negeri jatuh tempo (harus dibayar), hutang itu harus dibayar dengan dolar, maka
banyak orang yang memerluakan dolar, karena banyak orang membeli dolar, maka
harga dolar naik dalam rupiah. Nah, ini baru sebagian gejala itu yang
dipeksplanasikan. Sekalipun baru sebagian, namun gejala itu telah dapat
dipahami ala kadarnya, sesuai dengan apa yang dieksplanasikan itu.
Ada
oranag tiga bersudara, dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka nakal, sering
mabuk, membuat keonaran, sering bolos sekolah, tidak naik kelas, dan
pindah-pindah sekolah. Mereka ditinggal oleh kedua orang tuanya, ayah dan
ibunya masing-masing kawin lagi dan pindah ke tempat barunya masing-masing.
Biaya hidup tiga bersaudara itu bersama pembantu mereka, tidak kurang. Dapatkah
anda membuat eksolanasi mengapa anak-anak itu nakal?
Anda akan dapat
menjelaskan (mengeksplanasikan) jika anda menguasai teori yang mampu
menjelaskan gejala (nakal) itu. Menurut teori sain pendidikan, anak-anak yang
yang orang tuanya cerai (biasanya disebut broken home), pada
umumnya berkembang menjadi anak nakal. Penyebabnya adalah karena
anak-anak itu tidak dapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Padahal
pendidikan dari kedua orang tuanya amat penting dalam pertumbuhan anak menuju
dewasa. Itulah sebagian dari kegunaan dan manfaat dari adanya suatu ilmu
pengetahuan, dan banyak lagi contoh-contoh yang lain yang banyak.
Aksiologi
adalah studi tentang nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan
oleh setiap insan.
Etika
keilmuwan merupakan etika normative yang merunuskan pronsip-prinsip etis yang
dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu
pengetahuan. Tujuan etika keilmuwan adalah agar seorang ilmuwan dapat
menerapkan prinsip-prinsio moral, yaitu yang baik dan dapat menghindarkan dari
yang buruk ke dalam perilaku keilmuwanya, sehingga ia dapat menjadi ilmuwan
yang dapat mempertanggungjawabkan perilaku ilmiahnya. Etika normative
menetapkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian penilaian terhadap
perbuatan-perbuatan apa yang yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya
terjadi serta menetapkan apa yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi.
Ilmu
dengan segala tujuan dan artinya, sampai batas-batas tertentu telah banyak
membantu manusia dalam mencapi tujuan hidup dan kehidupannya, yaitu kehidupan
yang lebih baik. Sekalipun ilmu tidak pernah mencapai kebenaran mutlak, tetapi
dalam keterbatasanya ia membantu kepentingan di dunia yang fana ini, sesuai
dengan bidang masing-masing. Ilmu menghasilkan teknologi, yang memungkinkan
manusia dapat bergerak atau bertindak dengan cermat, dan tepat, Karena ilmu
merupakan hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen, dan verifikasi.
Dengan
ilmu dan teknologi, manusia dapat mengubah wajah dunia di mana manusia itu
sendiri tinggal, mengubah cara manusia bekerja, cara manusia berpikir. Dengan
ilmu dan teknologi dituntut manusia untuk mengadakan perubahan secara terus
menerus, perbaikan dan penemuan-penemuan baru.perkembangan industri,
perkembanagn sosial budaya, juga pengembangan industri persenjataan merupakan
suatu pertanda bahwa ilmu dan teknologi akan berkembang terus.
Dengan
ilmu dan teknologi, memungkinkan manusia untuk mengurangi rintangan-rintangan
ruang dan waktu, misalnya dengan sistem komuni kas modern, di mana suatu
peristiwa yang terjadi di suatu titik dunia ini, dalam waktu yang relative
singkat, dengan segera dapat diketahui ke seluruh pelosok dunia.
Beberapa
contoh di bawah ini, adalah kegunaan dari ilmu dan teknologi bagi kehidupan
manusia. Biologi, fisika, matematika, kimia, sebagai ilmu murni telah
menyumbangkan berbagai teori dan hukum-hukumnnya kepada ilmu kedokteran sebagai
ilmu terapan (ilmu guna pakai) dalam usaha manusia. Ilmu sosial-sosial dasar
seperti sosiologi, antropologi, psikologi, dan psikologi sosial, telah
menyumbangkan keserasian dalam pergaulan antar insani (inter-personal behavior
evant), di samping menyodorkan berbagai teori dan hukum-hukumnya kepada
ilmu pendidikan sebagai ilmu terapan misalnya, bagimana seharusnya hidup
bersama-sama dengan manusia lain, dan sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar