https://soundcloud.com/alfian-chryz/vroom-vroom

Minggu, 09 Oktober 2016

RINGKASAN BUKU FILSAFAT ILMU
SEBUAH PENGANTAR POPULER
KARANGAN : JUJUN S. SURIASUMANTRI

 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
1.1. Ilmu dan Filsafat
1.2. Karakteristik Filsafat
1.3. Filsafat : Peneras Pengetahuan
1.4. Bidang Telaah Filsafat
1.5. Cabang-cabang filsafat
1.6. Filsafat Ilmu
1.7. Kerangka Pengkajian Buku

BAB II DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2.1. Penalaran
2.2. Hakikat Penalaran
2.3. Logika
2.4. Sumber Pengetahuan
2.5. Kriteria Kebenaran

BAB III ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI
3.1. Metafisika
3.2. Beberapa Tafsiran Metafisika
3.3. Asumsi
3.4. Peluang
3.5. Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
3.6. Batas-batas Penjelajahan Ilmu
3.7. Cabang-Cabang Ilmu


BAB IV EPISTIMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
4.1. Jarum Sejarah Pengetahuan 4.2. Pengetahuan
4.3. Metode Ilmiah
4.4. Struktur Pengetahuan Ilmiah

BAB V SARANA BERPIKIR ILMIAH
5.1. Sarana Berpikir Ilmiah
5.2. Bahasa
5.3. Matematika
5.4. Statistika

BAB VI AKSIOLOGII: NILAI KEGUNAAN ILMU
6.1. Ilmu Dan Moral
6.2. Tanggung Jawab Sosial Ilmuan
6.3. Nuklir Dan Pilihan Moral
6.4. Revolusi Genetika

BAB VII ILMU DAN KEBUDAYAN
7.1. Manusia Dan Kebudayaan
7.2. Kebudayaan Dan Pendidikan
7.3. Ilmu Dan Perkembangan Kebudayaan Nasional
7.4. Ilmu Sebagai Suatu Cara berpikir
7.5. Ilmu Sebagai Asas Moral
7.6. Nilai-Nilai Ilmiah Dan Pengembangan Kebudayaan Nasional
7.7. Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan
7.8. Dua Pola Kebudayaan

BAB VIII ILMU DAN BAHASA
8.1. Tentang Terminologi : Ilmu, Ilmu Pengetahuan Dan Sains ?
Dua Jenis Ketahuan
8.2. Politik Bahasa Nasional
BAB IX PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
9.1. Struktur Penelitian Dan Penulisan Ilmiah
9.2. Teknik Penulisan Ilmiah
9.3. Teknik Notasi Ilmiah

BAB X PENUTUP
10.1. Hakikat dan Kegunaan Ilmu

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

1.      ILMU DAN FILSAFAT
Alkisah bertanyalah seorang awam kepada abli filsafat yang arif bijaksana, “Cobasebutkan kepada saya berapa jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan iniberdasarkan pengetahuannya!”
Filsuf itu menarik napas panjang dan berpantun:
Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidaktahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: Apakah Sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dan pengetahuan pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kritenia apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu?

Apakah Filsafat
Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang, yang berdiri di puncak tinggi, memandang kengarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak khadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dan segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Sering kita melihat seorang ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir memandang rendah kepada ahli ilmu sosial. Lulusan IPA merasa Iebih tinggi dari lulusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang ilmuwan memandang rendah kepada pengetahuan lain. Mereka meremehkan moral, agama dan nilai estetika.
Seorang yang berpikir filsafati selain tengadah ke bintang-bintang, juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. lnilah karakter istik berpikir filsafati yang kedua yakni sifat mendasar. Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar.  Mengapa ilmu dapat disebut benar?  Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakab kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah Iingkaran maka pertanyaan itu melingkar. Dan menyusur sebuah lingkaran, kita harus mulai dari satu titik, yang awal dan pun sekaligus akhir
Memang demikian, secara terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara keseluruhan, dan bahkan kita tidak yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar. Dalam hal ini kita hanya berspekulasi dan inilah yang merupakan ciri filsafat yang ketiga yakni sifat spekulatif. Kita mulai mengernyitkan kening dan timbul kecurigaan terhadap filsafat: bukankah spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diadakan? Dan seorang filosufi akan menjawab: memang namun hal ini tidak bisa dihindarkan. Menyusur sebuah lingkaran kita harus mulai dan sebuah titik bagaimanapun juga spekulatifnya yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak. Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd?
Sekarang kita sadar bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi. Dan serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dan penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran, Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.

Filsafat: Peneratas Pengetahuan
Filsafat, meminjam pemikiran Will Durant, dapat diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang di antaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan menyempurnakan kemenangan ini menjada pengetahuan yang dapat diandalkan. Setelah penyerahan dilakukan maka filsafat pun pergi.  Dia kembali menjelalah laut lepas; berspekulasi dan meneratas. Seorang yang skeptis akan berkata: sudah lebih dan dua ribu tahun orang berfilsafat namun selangkah pun dia tidak maju. Sepintas lalu kelihatannya memang demikian, dan kesalah pahaman ini dapat segera dihilangkan sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marinir yang merupakan pionir, bukan pengetahuan yang bersifat memerinci. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu pengetahuan dan pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, bertolak dan pengembangannya bermula  sebagai filsafat.
Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural phisolophy) dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu maka terdapat taraf peralihan.  Dalam taraf peralihan ini maka bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi rnenyeluruh melainkan sekitoral. Disini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan melainkan dikaitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Walaupun demikian dalam taraf ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma norma filsafat. Umpamanya ekonomi masih merupakan penerapan etika (applied ethics) dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah normatif dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang filsafati. Pada tahap setanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dan konsep-konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya kepada hakikat alam sebagaimana adanya.


Bidang Telaah Filsafat
Selaras dengan dengan dasarnya yang spekulatjf, maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai  dengan fungsinya sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok: terjawab masalah yang satu, dia pun mulai merambah pertanyaan lain. Tentu saja tiap kurun zaman mempunyai masalah yang merupakan mode pada waktu itu. Hal ini selaras dengan usaha peningkatan kernampuan penalaran maka filsafat ilmu menjadi “ngetop”, sedangkan dalam masa-masa mendatang maka yang akan menjadi perhatian kemungkinan besar bukan lagi filsafat ilmu, melainkan filsafat moral yang berkaitan dengan ilmu.
Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya. Mungkin ada baiknya kita mengambil contoh yang agak berdekatari yakni ilmu ekonorni dan manajemen.  Kedua ilmu ini mempunyai asumsi tentang manusia yang berbeda. Ilmu ekonomi mempunyai asumsi bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan menjauhi ketidak nyanianan semungkin bisa. Dia adalah makhluk hedonis yang serakab; atau dalam proposisi ilmiah; mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sedang ilmu manajemen mempunyai asumsi lain tentang manusia sebab bidang telaah ilmu manajemen lain dengan lain ekonomi.
Ilmu ekonomi bertujuan menelaah hubungan manusia deñgan benda/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya; dan manajemen bertujuan menelaah kerja sama antar sesama manusia dalam mencapai suatu tujuan yang disetujui bersama. Cocoklah asumsi bahwa manusia adalah Homo oeconomicus bagi manajemen yang tujuannya menelaah kerja sama antar manusia? Apakah motif ekonomis yang mendorong seseorang untuk ikut menjadi suka relawan memberantas kemiskinan dan kebodohan? Tentu saja tidak bukan, dan untuk itu manajemen rnempunyai beberapa asumsi tentang manusia tergantung dan perkembangan dan lingkungan masing-masing seperti makhluk ekonomi, makhluk sosial dan makhluk aktualisasi din. Mengkaji permasalahan manajemen dengan asumsi manusia dalam kegiatan ekonomis akan menyebabkan kekacauan dalam analisis yang bersifat akademik. Demikian pula mengkaji permasalahan ekonomi dengan asumsi manusia yang lain di luar makhluk ekonomi (katakanlah makhluk sosial) seperti asumsi dalam manajemen akan menjadikan ilmu ekonomi menjadi moral terapan, mundur, sekian ratus tahun ke abad pertengahan.
Cabang-Cabang Filsafat
Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni ;
1.      Apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika)
2.      Mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (elika)
3.      Serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika)
Ketiga cabang utama filsafat mi kemudian bertambah lagi yakni:
4.      Teori tentang ada: tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika
5.      Politik: yakni kajian mengenal organisasi sosial/pemerintahan yang ideal.
Kelima cabang utama ini kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang Iebih spesifik di antaranya filsafat ilmu.
Cabang cabang filsafat tersebut antara lain mencakup :
1.      Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
2.      Etika (Filsafat Moral)
3.      Estetika (Filsafat Seni)
4.      Metafisika
5.      Politik
6.      Filsafat Agama
7.      Filsafat Ilmu
8.      Filsafat Pendidikan
9.      Filsafat  Hukum
10.  Filsafat Sejarah
11.  Filsafat Matematika

Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang  secara  spesifik  mengkaji  hakikat  ilmu  (pengetahuan  ilmiah).  Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial.
Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:    
1.        Ontologi
Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
2.        Epistemologi
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3.        Aksiologi
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?

BAB II
DASAR DASAR PENGETAHUAN

1.      PENALARAN
Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaanNya. Secara simbolik manusIa memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan ini. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Secara terus menerus dia dipaksa harus mengambil pilihan: mana jalan yang benar mana jalan yang salah, mana tindakan yang baik mana tindakan yang buruk, dan apa yang indah dan apa yang jelek. Dalam melakukan pilihan ini manusia berpaling kepada pengetahuan.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.
Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekadar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia rnengembangkan kebudayaan; manusia memberi makna kepada kehidupan; manusia “memanusiakan” diri dalam hidupnya; dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini: semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dan sekadar kelangsungan hidup. lnilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuan dan pengetahuan ini jugalah yang rnendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni;
1.      Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut.
2.      Yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap, adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Binatang mampu berpikir namun tidak mampu berpikir nalar.

Hakikat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.  Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.  Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan, meskipun seperti dikatakan Pascal hati pun mempunyai logika tersendiri. Meskipun  demikian patut kita sadari bahwa  tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu pun juga berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa tiap jalan pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria kebenaran ini merupakanlandasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai criteria kebenarannya masing-masing.
Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyal ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika. Dalam hal ini maka dapat kita katakan bahwa tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tersendiri. Atau dapat juga disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berfikir logis di mana berpikir logis di sini harus diartikan sebagal kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu, atau dengan perkataan lain, menurut logika tertentu. Hal ini patut kita sadari bahwa berpikir logis itu mempunyai konotasi yang bersifat jamak (plural) dan bukan tunggal (singular). Suatu kegiatan berpikir bisa disebut logis ditinjau dan suatu logika tertentu, dan mungkin tidak logis bila ditinjau dan sudut logika yang lain. Hal ini sering menimbulkan gejala apa yang dapat kita sebut sebagai kekacauan penalaran yang disebabkan oleh tidak konsistennya kita dalam mempergunakan pola berpikir tertentu.
Ciri yang kedua dati penalaran adalah sifat analitik dan proses berpikirnya. Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. Artinya penalarani ilrniah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah, dan demikian juga penalaran lainnya yang mempergunakan logikanya tersendiri pula. Sifat analitikmi,  kalau kita kaji lebih jauh, merupakan konsekuensi dan adanya suatu pola berpikir tertentu. Tanpa adanya pola berpikir tersebut maka tidak akan ada kegiatan analisis, sebab analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Seperti kita sebutkan terdahulu tidak semua kegiatan berpikir mendasarkan diri pada penalaran. Berdasarkan kniteria penalaran tersebut di atas maka dapat kita katakan bahwa tidak semua kegiatan berpikir bersifat logis dan analitis.  Atau lebih jauh dapat kita simpulkan: cara berpikir yang tidak termasuk ke dalam penalaran bersifat tidak logis dan tidak analitik.  Dengan demikian maka kita dapat membedakan secara garis besar ciri-ciri berpikir menurut penalaran dan berpikir yang bukan berdasarkan penalaran.

3.      LOGIKA
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang saksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif.  Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dan kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di pihak lain, kita mempunyai logika deduktif yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dan hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus).
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dan berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dinilai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya sebab mempunyai dua keuntungan. Keuntungan yang pertamà ialah bahwa pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis. Kehidupan yang beraneka ragam dengan berbagai corak dan segi dapat direduksikan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang dikumpulkan manusia bukanlah merupakan koleksi dan berbagai fakta melainkan esensi dan fakta-fakta tersebut. Demikian juga dalam pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan tidak bermaksud membuat reproduksi dan obyek tertentu, melainkan menekankan kepada struktur dasar yang menyangga wujud fakta tersebut. Pernyataan seperti ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoretis.
Keuntungan yang kedua dan pernyataan yang bersifat umum adalah dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun secara deduktif. Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang bersifat lebih umum lagi. Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang makin lama makin bersifat fundamental.
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dan penalaran induktif. Deduksi adalah cara berpikir dimana dan pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dan dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dan pênalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.

4.      SUMBER PENGETAHUAN
Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggap benar. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalanian rnengembangkan paham yang disebut dengan empirisime.
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dan ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya. Hal ini disebut idealisme. Fungsi pikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya.  Prinsip itu sendiri sudab ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya. Pengalaman tidaklah membuahkan prinsip dan justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui prinsip yang didapat lewat penalaran rasional itulah maka kita dapat mengerti kejadian-kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis adalah bersifat apriori dan pra-pengalaman yang didapatkan manusia lewat penalaran rasional.
Masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dan kebenaran premis-premis yang dipakainya dalam penalaran deduktif. Karena premis-premis dari semuanya bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dan pengalaman maka evaluasi semacam ini tak dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistik dan subyektif.
Berlainan dengan kaum rasionalis maka kaum empinis berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang kongkret. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera manusia. Gejala itu kalau kita telaah lebih lanjut mempunyai beberapa karakteristik tertentu umpamanya saja terdapat pola yang teratur mengenai suatu kejadian tertentu.

5.      KRITERIA KEBENARAN
1.                   Teori Koherensi yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya bila kita menganggap bahwa, "semua manusia pasti akan mati" adalah suatu pernyataan benar maka pernyataan bahwa, "si polan adalah seorang manusia dan si polan pasti akan mati" adalah benar pula karena kedua pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Teori kebenaran yang di dasarkan kepada criteria terebut di atas disebut teori koherensi. Secara  sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. System matimatika disusun di atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar yakni aksioma. Dengan mempergunakan beberapa aksioma maka disusun suatu teorema. Diatas teorema maka dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan merupakan suatu system yang konsisten. Plato (427-347 S.M) dan Aristoteles (384-322 S.M ) mengembangkan teori koherensi berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan Euclid dalam menyusun ilmu ukurnya.
2.                   Teori Korespondensi yang ditemukan oleh Bertrand Russell (1872-1970). Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika seseorang mengatakan bahwa ibukota republik Indonesia adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi ibukota republik Indonesia.
3.                   Teori Pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.Misalnya jika orang menyatakan sebuah teori X dalam pendidikan, dan dengan teori X tersebut dikembangkan teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar, maka teori X itu dianggap benar sebab teori X ini fungsional dan mempunyai kegunaan.
















BAB III
ONTOLOGI : HAKIKAT APA YANG DIKAJI

Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan.

Pengertian Ontologi
a.    Menurut Bahasa :
Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos = beingatau ada, dan logos = logic atau ilmu.  Jadi, ontologi  bisa diartikan : The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau  Ilmu tentang yang ada.
b.    Pengertian menurut istilah :
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani/ kongkret maupun rohani / abstrak.

Termiontologi
Termontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya Christian Wolf (1679 – 1754M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu :
a.      Metafisika Umum : Ontologi
Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
b.     Metafisika Khusus : Kosmologi, Psikologi, Teologi.

Paham–Paham Dalam Ontologi
Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
a.        Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa materi atau pun rohani. Paham ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran :
·         1. Materialisme
Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa/ruh tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah Anaximander  (585-525 SM).  Dia berpendapat bahwa unsur  asal itu adalah udara dengan alasan bahwa udaramerupakan sumber dari segala kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupakan asal kejadian alam.

·          2. Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan juga spiritualisme. Idealisme berarti serba cita, spiritualisme berarti serba ruh. Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.

Tokoh aliran ini diantaranya :
Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada dialam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari setiap sesuatu.
Aristoteles (384-322 SM), memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-benda itu sendiri dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu.
Pada Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley (1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah ide-ide.
Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte(1762-1814 M), Hegel (1770-1831 M), dan Schelling (1775-1854 M).
b.       Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz(1646-1716 M).
c.       Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James(1842-1910 M) yang terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of  Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifattetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi/diubah oleh pengalaman berikutnya.
d.       Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilism sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh  modern aliran ini diantaranya: Ivan Turgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga pendeta.
e.       Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown. Artinya not Gno artinya know. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme dan Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof Jerman, serta Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Prancis yang atheis.
 
6.      METAFISIKA
Apakah hakikat kenyataan ini yang sebenar-benarnya? Metafisika dapat diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki apa hakikat dibalik alam nyata ini. Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah.

Beberapa Tafsiran Metafisika
1.      Supernaturalisasi adalah paham yang menyatakan bahwa terdapat ujud-ujud bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebikuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.
2.      Naturalisme adalah paham yang menyatakan bahwa gjala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang tedapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui.


7.      ASUMSI
Asumsi merupakan dugaan-dugaan sementara yang belum jelas kebenarannya, karena belum ada fakta pendukung yang valid. Ilmu sebagai pengetahuan yang berfungsi membantu dalam memecahkan masalah praktis sehari-hari, tidaklah perlu memiliki kemutlakan seperti halnya agam. Walaupun demikian sampai tahap tertentu ilmu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi.
Determinisme, probabilistik dan pilihan bebas merupakan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal ketiga aspek ini akan sulit bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik. Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes ( 1588-1679 ) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran ini merupakan lawan dari fatalisme yang menyatakn bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang ditetapkan lebih dahulu.

8.      PELUANG
Berdasarkan teori keilmuan tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian. Yang ada adalah kesimpulan yang probabilistik. Intinya peluang adalah kemungkinan kejadian.

9.      BEBERAPA ASUMSI DALAM ILMU
Suatu permasalahan kehidupan tidak bisa dianalisis secara cermat dan saksama hanya oleh satu disiplin keilmuan saja. Dalam mengembangkan asumsi kita harus perhatikan beberapa hal. Pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya bukan bagaimana keadaan yang seharusnya. Asumsi yang pertama adalah mendasari telaah ilmiah sedangkan asumsi yang kedua adalah asumsi yang mendasari telaah moral.

10.  BATAS-BATAS PENJELAJAHAN ILMU
Ilmu memulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup penjelajahanya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenaranya secara empiris.

Cabang-Cabang Ilmu
Dua cabang utamanya yaitu:
1.      Filsafat alam yang kemudian menjadi ilmu-ilmu alam (the natural science)
2.      Filsafat moral yang kmudian menjadi ilmu-ilmu sosial (the social science)


BAB IV
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUANYA

11.  JARUM SEJARAH PENGETAHUAN
Pada waktu dulu kriteria kesamaan yang menjadi konsep dasar. Semua meyatu dalam kesatuan yang batas-batasnya kabur dan mengambang. Tidak terdapat jarak antara objek yang satu dengan objek yang lain, antara ujud yang satu dengan ujud yang lain. Konsep dasar ini baru mengalami perubahan fundamental dengan berkembangnya abad. Penalaran pada pertengahan abad ke 17. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahuinya dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan abad penalaran  maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada perbedaan. Mulai terdapat pembedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan.  diferensiasi dalam bidang ilmu dengan cepat terjadi. Secara metafisik ilmu mulai dipisahkan dengan moral. Berdasarkan objek  yang telah ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu alam dan ilmu social. Perbedaan makin terperinci ini menimbulkan keahlian yang makin spesifik pula.  
Makin ciutnya kapling masing-masing disiplin keilmuan itu bukan tidak menimbulkan masalah sebab dalam kehidupan nyata seperti pembangunan pemukiman manusia, maka masalah yang dihadapi demikian banyak dan kompleks. Menghadapi kenyataan ini terdapat lagi orang-orang yang ingin memutar jarum sejarah kembali dengan mengaburkan batas-batas otonomi masing-masing disiplin keilmuan dengan dalih pendekatan interdisipliner maka berbagai disiplin keilmuan dikaburkan batas-batasnya, perlahan menyatu dalam kesatuan yang berdifusi.
Pendekatan inter-disipliner memang merupakan keharusan, namun tidak dengan mengaburkan otonomi masing-masing disiplin keilmuan yang telah berkembang berdasarkan jalannya masing-masing, melainkan dengan menciptakan paradigma baru.

12.  PENGETAHUAN
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang sesuatu objek tertentu. Termasuk kedalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.
Ilmu membatasi diri pada pengkajian objek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia. Sedangkan agama memasuki pula daerah penjelajahan yang bersifat transedental yang berada diluar pengalaman manusia. Ilmu tidak mejawab pertanyaan tentang agama sebab ilmu dalam tubuh pengetahuan yang disusunnya tidak mencakup permasalahan tersebut.
Dari perbedaan perspektif dan keterbatasan diatas lalu timbulah bagaimana cara kita melakukan penyusunan pengetahuan yang benar. Masalah inilah yang dalam kajian filsafat disebut epistemologi dan landasan epistemology ilmu disebut metode ilmiah.
Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; jadi ontology ilmu berkaitan dengan epistemology ilmu dan epistemology ilmu berkaitan dengan aksiologi ilmu.
Berdasarkan landasan ontology dan aksiologi seperti itu maka bagaimana sebaiknya kita mengembangkan landasan epistemology yang cocok? Persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemology pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing. Demikian juga halnya dengan masalah yang dihadapi epistemology keilmuan yakni bagaimana menyusun pengetahuan yang benar untu menjawab permasalahan mengenai dunia empiris yang akan digunakan sebagai alat untuk meramal dan mengontrol gejala alam.
Agar kita mampu meramalkan dan mengontrol sesuatu maka pertama-tama kita harus mengetahui mengapa sesuatu itu terjadi. Untuk dapat meramalkan dan mengontrol sesuatu, maka kita harus mengetahui pengetahuan yang mejelaskan pristiwa itu. Dengan demikian maka penelaahan ilmiah diarahkan kepada usaha mendapatkan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.
Seni menurut Moctar Lubis, merupakan produk dari daya inspirasi dan daya cipta manusia yang bebas dari cengkraman dan belenggu berbagai ikatan. Karya seni bersifat penuh dan rumit namun tidak bersifat sistematik. Sebuah karaya seni yang baik biasanya mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada manusia yang bias mempengaruhi sikap dan prilaku mereka. Itulah sebabnya seni memegang peran penting dalam pendidikan moral dan budi pekerti suatu bangsa.
Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan interpersonal. Sebaliknya, seni tetap bersifat individual dan personal, dengan memusatkan perhatian pada  “pengalaman hidup manusia perorangan”.
Tahapan selanjutnya ditandai oleh usaha manusia mencoba menafsirkan dunia ini terlepas dari belenggu mitos. Berkembanglah lalu pengetahuan yang berakar pada pengalaman berdasarkan akal sehat (common sense) yang didukung oleh metode mencoba-coba (trial-and-error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied art) yang mempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan sehari-hari. seni terpakai ini pada hakikatnya mempunyai dua ciri yakni pertama bersifat deskriptif dan fenomenologis dan kedua, ruang lingkup terbatas. Sifat deskriptif ini mencerminkan proses pengkajian yang menitik beratkan pada penyelidikan gejala-gejala yang bersifat empiris tanpa kecenderungan untuk pengembangan postulat yangbersifat teoritisatomistis.
Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian. Dalam usaha menemukan penjelasan ini terutama penjelasan yang bersifat mendasar dan postulasional, maka ilmu tidak bisa melepaskan diri dari penafsiran yang bersifat rasional dan metafisis.
Ilmu mempunyai dua peranan, bersifat metafisika dan akal sehat yang terdidik (educated common sense). Bagaimana cara agar kita dapat mengembangkan ilmu yang mempunyai kerangka penjelasan yang masuk akal dan sekaligus mencerminkan kenyataan yang sebenarnya? berkembanglah dalam kaitan pemikiran ini metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Pengetahuan metode eksperimen yang berasal dari timur ini mempunyai pengaruh penting terhadap cara berfikir manusia sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoritis apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan demikian berkembanglah metoe ilmiah yang menggabungkan cara berfikir deduktif dan induktif. Dalam pohon silsilah logika dapat dilihat perkembangan logika ilmiah yang merupakan pertemuan antara rasionalisme dan empirisme.
Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk diterima sebab pada dasarnya adalah akal sehat meskipun ilmu bukanlah sembarangan akal sehat  melainkan akal sehat yang terdidik. Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk dipercaya sebab dapat diandalkan meskipun tentu saja tidak semua masalah dapat dipecahkan secara keilmuan, itulah sebabnya maka kita masih memerlukan berbagai pengetahuan lain untuk memenuhi kehidupan kita sebab bagaimanapun majunya ilmu secara hakiki dia adalah terbatas dan tidak lengkap.

13.  METODE ILMIAH
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Metodologi ilmiah secara filsafat termasuk dalam apa yang dinamakan epistemology. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber pengetahuan? apa hakikak , jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia.
Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerjanya pikiran, sehingga pengetahuan yang dihasilkan mempunyai karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.
Berfikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan sifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilmu disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai suatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada.
Penjelasan yang bersifat rasionalini dengan criteria kebenaran koherensi tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final, sebab sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistic, maka dimungkinkan disusunnya berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran tertentu.
Tahapan selanjutnya yaitu manusia mulai memberi batas-batas yang jelas kepada objek kehidupan tertentu yang terpisah dengan eksistensi manusia sebagai subjek yang mengamati dan menelaah objek tersebut. Dalam menghadapi masalah tertentu, maka dalam tahapan ontology ini, manusia mulai menentukan batas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan manusia dapat mengenal wujud masalah itu, untuk kemudian ditelaah dan dicarikan pemecahan jawabannya.
Dalam usaha untuk memecahkan masalah tersebut maka ilmu tidak berpaling kepada perasaan melainkan kepada pikiran yang berdasarkan penalaran. Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya agar dia mengerti mengenai hakikat permasalahan itu dan dengan demikian maka ia dapat memecahkannya. secara ontology maka ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia.
Dalam menghadapi tiap masalah ilmiah, karena masalah yang dihadapi adalah nyata maka ilmu mencari jawaban pada dunia yang nyata pula. Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, Einstein berkata, apapun juga teori yang menjembatani antara keduanya. Teori yang dimaksudkan disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut. teori merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris.  Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskannya.
Semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yakni:
a.       Harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan.
b.      Harus cocok dengan fakta-fakta empiris sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.
Jadi logika ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif dan logika induktif dimana rasionalisme dan empirisme hidup berdampingan dalam sebuah system dengan mekanisme korektif. Oleh sebab itu maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara. Penjelasan sementara ini biasa disebut hipotesis.
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian untuk medapatkan jawaban yang benar maka seorang ilmuan seakan-akan melakukan sesuatu  “interogasi terhadap alam”.  Hipotesis dalam hubungan ini berfungsi sebagai penunjuk jalan yang memungkinkan kita mendapatkan jawaban, karena alam itu sendiri membisu dan tidak responsive terhadap pertanyaan-pertanyaan. Harus kita sadari bahwa hipotesis itu sendiri merupakan penjelasan yang bersifat sementara yang membantu kita dalam melakukan penyelidikan. sering kita temui kesalah pahaman dimana analisis ilmiah berhenti pada hipotesis ini tanpa upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi apakah hipotesis ini benar atau tidak. kecenderungan ini terdapat pada ilmuwan yang sangat dipengaruhi oleh paham rasionalisme dan melupakan bahwa metode ilmiah merupakan gabungan dari rasionalisme dan empirisme.
Dengan adanya jembatan berupa penyusunan hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal sebagai proses logico-hypothetico-verifikasi; atau menurut Tyndall sebagai “perkawinan yang berkesinambungan antara deduksi dan induksi”
Langkah selanjutnya sesudah penyusunan hipotesis adalah pengujian hipotesisi tersebut dengan mengkonfrontasikannya dengan dunia fisik yang nyata. Proses pengujian ini merupakan pengumpulan fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Fakta-fakta ini kadang-kadang bersifat sederhana yang dapat kita tangkap secara langsung dengan panca indra kita.
Dasar pola fikir ilmuan skeptis:
a.       Jelaskan kepada saya lalu berikan buktinya!
b.      Dimulai dengan ragu-ragu dan diakhiri dengan percaya atau tidak percaya.
c.       Mulai dengan percaya dan dikahiri dengan makin percaya atau mungkin jadi ragu?
Pola berfikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah berikut:
1.      Perumusan masalah.
2.      Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis.
3.      Perumusan hipotesis.
4.      Pengujian hipotesis.
5.      Penarikan kesimpulan.
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Namun dalam prakteknya sering terjadi lompatan-lompatan. Hubungan antara langkah satu dengan yang lainnya tidak terikat secara statis melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata mengandalkan penalaran melainkan juga imajinasi dan kreatifitas. Sering terjadi bahwa langkah yang satu bukan saja merupakan landasan bagi langkah yang berikutnya namun sekaligus juga merupakan landasan koreksi bagi langkah lain. Dengan jalan ini diharapkan diprosesnya pengetahuan yang bersifat konsisten dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya serta teruji kebenarannya secara empiris.
Dapat disimpulankan bahwa :
1.      Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris
2.      Ilmu tidak bertujuan mencari kebenaran absolute melainkan kebenaran yang bermanfaat bagimanusia dalam tahap perkembangan tertentu
3.      Ilmu juga bersifat konsisten karena penemuan yang stu didasarkan kepada penemuan-penemuan sebelumnya
4.      Ilmu bukan sesuatu tanpa cela, disebabkan penalaran dan panca indra manusia yang jauh dari sempurna.
5.      Metode ilmiah pada dasarnya adalah sama bagi semua disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social
6.      Metode imiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk kedalam kelompok ilmu.
7.      Penelitian merupakan cerminan secara konkret kegiatan ilmu dalam proses pengetahuan. Metodologi penelitian ilmiah dan hakikatnya merupakan operasionalisasi dari metode keilmuan.

14.   STRUKTUR PENGETAHUAN ILMIAH
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Pengetahuan ilmiah ini diproses lewat serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan dan dari karakteristik inilah maka ilmu sering dikonotasikan sebagai disiplin. Ilmu dapat diibaratkan sebagai piramida terbalik dengan perkembangan pengetahuannya yang bersifat kumulatif dimana penemuan pengetahuan ilmiah yang satu memungkinkan penemuan  pengetahuan-pengetahuan ilmiah lainnya. Sekiranya pengetahuan ilmiah yang baru ini kemudian ternyata salah, disebabkan kelengahan dalam salah satu langkah dari proses penemuannya, maka cepat atau lambat kesalahan ini akan diketahui dan pengetahuan ini akan dibuang dalam khasanah keilmuan. Sebaliknya bila ternyata bahwa sebuah pengetahuan ilmiah yang baru ini adalah benar, maka pernyataan yang terkandung dalam pengetahuan ini dapat digunakan sebagai premis baru dalam kerangka pemikiran yang menghasilkan hipotesis-hipotesis baru, yang bila kemudian ternyata dibenarkan dalam proses pengujian akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah baru pula.


Secara garis besar terdapat empat jenis pola penjelasan yakni:
1.      Deduktif
Penjelasan deduktif menggunakan cara berfikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.      Probabilistic
Penjelasan probabilistic merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif melainkan penjelasan yang bersifat peluang seperti “kemungkinan”, “kemungkinan besar” atau “hamper dapat dipastikan”.
3.      Fungsional/teleologis
Penjelasan fungsional atau teleologis merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan system secara keseluruhan yang mempunyai karekteristik atau arah perkembangan tertentu.
4.      Genetic
Penjelasan genetic mempergunakan factor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian.
            Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat. pernyataan yang mencakup hubungan sebab akibat ini, atau dengan perkataan lain hubungan kausalitas, memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab.
 Secara mudah kita dapat mengatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala-gejala terjadi, sedangkan hukum memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang “apa” yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita gunakan untuk mengontrol gejala alam.
Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi,  atau secara ideal, harus bersifat universal. Penting untuk diingat adalah demi kepraktisan ilmu tidak merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat kasus,  melainkan pengetahuan yang bersifat umum yang disimpulkan dari berbagai kasus.
Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori-teori yang mempunyai tingkat keumuman yang rendah disatukan dalam suatu teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori-teori tersebut.
Ilmu teoritis, meminjam definisi Moritz Schlick, terdiri dari sebuah system pernyataan. system yang terdiri dari pernyataan-pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut dalam teori.
makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin “teoritis” konsep tersebut. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud; artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata.
Konsep-konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung ketara kegunaan praktisnya. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti, sebab makin teoritis suatu konsep maka makin jauh pula kaitan langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata; padahal kehidupan kita sehari-hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat kongkret tersebut. Kegunaan praktis dari konsep tersebut yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat  praktis. Dan dari pengertian inilah kita sering mendengar konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian terapan.
Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi kelompok gejala-gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi, umpanya saja hukum sebab akibat sebuah gejala. Dengan prinsip inilah maka kita menjelaskan pengertian efisiensi dan mengembangkan berbagai teknik seperti analisi system dan riset operasional  untuk meningkatkan efisiensi. Dengan mengetahui prinsip yang mendasarinya, Maka tidak sukar bagi mereka yang mempelajari teknik-teknik tersebut yang bernaung dalam payung konsep system, untuk memahami bukan saja penjelasan teknis namun sekaligus pengkajian filsafati.
Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disahkan dalam sebuah proses yang disebut metode keilmuan. postulat ilmiah ditetapkan tanpa melalui prosedur ini melainkan ditetapkan secara begitu saja.
Asumsi harus merupakan pernyataan yang kebenarannya usecara empiris dapat diuji. Kita harus memilih teori yang terbaik dari sejumlah teori yang ada berdasarkan kecocokan asumsi yang dipergunakannya.  Itulah sebabnya maka dalam pengkajian ilmiah seperti penelitian dituntut untuk menyetakan secara tersurat, postulat, asumsi, prinsip serta dasar-dasar pemikran lainnya yang digunakan dalam mengembangkan argumentasi.
Penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui dinamakan penelitian murni atau penelitian dasar. Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menerapkan penemuan-penemuan ilmiah yang baru kepada pemanfaatan yang berguna. Terdapat selang waktu yang makin lama makin pendek antara penemuan suatu teori ilmiah dengan penerapannye kepada masalah-masalah yang bersifat praktis.










BAB V
SARANA BERFIKIR ILMIAH

15.  SARANA BERFIKIR ILMIAH
Perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuan.    Seluruh pemikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari objek yang diinginkan atau membuang objek yang menghalanginya. Manusia sering disebut sebagai “Homofaber” yaitu mahluk yang membuat alat,  dan kemampuan membuat alat itu dimungkinkan oleh pengetahuan.
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berfikir ini merupakan suatu hal yang bersifat imperative bagi seorang ilmuan.
Sarana merupakan alat yang membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu atau dengan perkataan lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh. Sarana berfikir dapat dikatakan bahwa sarana berfikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuan yang berbeda dengan metode ilmiah.
Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah.

16.  BAHASA
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir alamiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.
Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak di mana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berfikir mengenai suatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat dimana kegiatan berfikir itu dilakukan.
Transformasi objek faktual menjadi symbol abstrak yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata dirangkaian oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan. Bahasa  mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan dan sikap. Atau seperti dinyatakan oleh Kneller bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi symbolic, emotik dan efektif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotik menonjol dalam komunikasi estetik.

Apakah sebenarnya bahasa?
Pertama-tama bahasa dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi. Kedua, bahasa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu.
Perbedaan pendidikan antara manusia dengan binatang terutama terletak dalam tujuannya: manusia belajar agar berbudaya sedangkan binatang belajar untuk mempertahankan jenisnya. Dengan bahasa manusia dapat berfikir secara teratur juga dapat mengomunikasikan apa yang sedang dia pikirkan kepada orang lain. Dengan bahasa kita pun dapat mengekspresikan sikap dan perasaan kita. Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dunia yakni dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa. Pengalaman mengajarkan kepada manusia bahwa hidup seperti ini kurang bisa diandalkan dimana eksistensi hidupnya tergantung kepada faktor yang sukar dikontrol dan diramalkan. Hidup dalam dunia fisik yang kejam dan sukar diramalkan maka manusia bangkit dan melawannya. Manusia lalu mengembangkan pengetahuan untuk menguasainnya. Mereka berusaha mengerti setiap gejala yang dihadapi dan membuahkan pengetahuan yang memberikan penjelasan kepadanya.
Dengan ini manusia memberarti kepada hidupnya, arti yang terpatri dalam dunia simbolik yang diwujudkan lewat kata-kata. Kata-kata lalu mempunyai arti bahkan kekuatan. Demikian juga manusia member arti bagi yang indah dalam hidup  yang indah dalam hidup ini dengan bahasa.
Seni merupakan kegiatan estetik yang banyak mempergunakan aspek emotif dari bahasa baik itu seni suara maupun seni sastra. Dalam hal ini bahasa bukan saja dipergunakan untuk mengemukakan perasaan itu sendiri melainkan juga merupakan ramuan untuk mejelmakan pengalaman yang ekspresif tadi.
Komunikasi ilmiah mensyaratkan bentuk komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi berupa pengetahuan dan bahasa yang dipergunakan harus terbebas dari unsur emotif. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif artinya jika si pengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi yang katakanlah berupa (x), maka penerima komunikasi harus menerima informasi yang berupa (x) pula.
Berbahasa dengan jelas artinya ialah bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata yang dipergunakan diungkapkan secara tersurat (eskplisit) untuk mencegah pemberian makna lain. Berbahasa dengan jelas artinya juga mengemukakan pendapat atau jalan pemikiran secara jelas.
Karya ilmiah pada dasarnya merupakan kumpulan pernyataan yang mengemukakan informasi tentang pengetahuan maupun jalan pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan tersebut. Untuk dapat mengkomunikasikan suatu pernyataan dengan jelas maka seseorang seseorang harus menguasai tata bahasa yang baik. Sedangkan tata bahasa menurut Charlton Laird merupakan alat dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari pikiran untuk mengungkapkan arti dan emosi dengan mempergunakan aturan-aturan tertentu. Karyai ilmiah mempunnyai format penulisan tertentu seperti cara meletakkan catatan kaki atau menyertakan daftar bacaan.

Beberapa Kekurangan Bahasa
Sebagai sarana komunikasi ilmiah bahasa mempunyai beberapa kekurangan. Kekurangan ini pada hakikatnya terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multi fungsi yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif, dan simbolik. Bahasa ilmiah pada hakikatnya haruslah bersifat objektif tanpa mengandung emosi dan sikap atau dengan kata lain bahasa ilmiah haruslah bersifat antiseptic dan reproduktif.
Kekurangan kedua terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Kelemahan lain terletak pada sifat majemuk (pluralistic) dari bahasa. Kelemahan yang lainnya dari bahasa adalah konotasi yang bersifat emosional.

17.  MATEMATIKA
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artificial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.
Bahasa verbal seperti telah kita lihat sebelumnya mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa maka kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emosional dari bahasa verbal. Lambing-lambang dari matematika dibuat secara artificial dan individu yang merupakan perjanjian yang berlaku khusus untuk masalah yang sedang kita kaji. Pernyataan matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informative dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.

Sifat Kuantitatif Dari Matematika
Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numeric yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif.
Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Demikian juga maka penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh ilmu dalam bahasa verbal semuanya bersifat kualitatif. Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan control dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan control yang lebih tepat dan cermat dari ilmu. beberapa disiplin keilmuan, terutama ilmu-ilmu social, agak mengalami kesukaran dalam perkembangan yang bersumber pada problema teknis dan dalam pengukuran. Kesukaran ini secara bertahap telah mulai dapat diatasi. Dimana ilmu social telah mulai memasuki tahap yang bersifat kuantitatif. Pada dasarnya matematika diperlukan oleh semua disiplin keilmuan untuk meningkatkan daya prediksi dan control dari ilmu tersebut.

Matematika : Sarana Berfikir Deduktif
Kita semua telah mengenal bahwa jumlah sudut dalam sebuah segitiga adalah 180o. Pengetahuan ini mungkin saja kita dapat dengan jalan mengukur sudut-sudut dalam sebuah segitiga dan kemudian menjumlahkannya. Di pihak lain, pengetahuan ini bisa didapatkan secara deduktif dengan mempergunakan matematika. Berfikir deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan didasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat dua garis sejajar maka sudut-sudut yang dibentuk kedua garis sejajar tersebut dengan garis ketiga adalah sama. Premis yang kedua adalah bahwa jumlah sudutyang dibentuk oleh sebuah garis lurus adalah 180o.
Dengan contoh seperti diatas secara deduktif matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis yang tertentu. Pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya hanyalah merupakan konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang telah kita temukan sebelumnya.

Beberapa Aliran Dalam Filsafat Matematika
Terdapat  dua pendapat tentang matematika yakni:
1.      Immanuel Kant (1724-1804) berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik apriori dimana eksistensi matematika tergantung dari panca indra
2.      Pendapat dari aliran yang disebut logistic yang berpendapat bahwa matematika merupakan cara berfikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris.
Disamping dua aliran ini terdapat pila aliran ke tiga yang dipelopori:
3.      David Hilbert (1862-1943) yang dikenal dengan kaum formalis
Kaum logistik mengemukakan bahwa matematika murni merupakan cabang dari logika. pendapat ini mula-mula dikembangkan oleh Gottlob Frege (1848-1925) yang menyatakan bahwa hukum bilangan (the law of number) dapat direduksikan kedalam proporsi-proporsi logika.
Kaum formalis menolak anggapan kaum logistic ini yang menyatakan bahwa konsep matematika dapat direduksi menjadi konsep logika. Mereka berpendapat bahwa banyak masalah-masalah dalambidang logika yang sama sekali tidak ada hubungannya tentang struktur formaldari lambing.
Pengetahuan kita tentang bilangan, merupakan pengertian rasional yang bersifat apriori, yang kita pahami lewat “mata penalaran” (the eye of reason) yang memandang jauh ke dalam struktur hakikat bilangan.
Perbedaan pandangan ini tidak melemahkan perkembangan matematika malah justru sebaliknya dimana satu aliran member inspirasi kepada aliran-aliran lainnya dalam titik-titik pertemuan yang disebut Black sebagai kompromi yang bersifat eklektik (ecletic compromise).
Matematika dan Peradaban
Matematika merupakan bahasa artificial yang dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa verbal yang bersifat alamiah. Maka diperlukan usaha tertentu untuk menguasai matematika dalam bentuk kegiatan belajar. Matematika makin lama makin bersifat abstrak dan esoteric yang makin jauh dari tangkapan orang awam; magis dan misterius.


18.  STATISTIKA
Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variable yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. pada tahun 1757 Thomas simson menyimpulkan bahwa terdapat suatu distribusi yang berlanjut (continuous distribution) dari suatu variable dalam suatu frekuensi yang cukup banyak. Piere Simon de Laplace (1749-1827) mengembangkan konsep Demoivre dan Simson ini lebih lanjut dan menemukan distribusi normal.
























BAB VI
AKSIOLOGI : KEGUNAAN ILMU.

Mengalami zaman edan
Kita sulit menentukan sikap
Turut edan tidak tahan
Kalau tidak turut edan
Kita tidak kebagian
Menderita kelaparan
Tapi dengan bimbingan Tuhan
Betapa bahagia merekapun yang lupa
Lebih bahag ia yang ingat serta waspada

(Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora Tuhan
Yen tang melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dialah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada)

Ranggawarsita (1802-1873)







19.  ILMU DAN MORAL
Sejak pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perpektif yang berbeda. Sejak Copernikus (1473-1543) mengajukan teori tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya seperti apa yang diajarkan oleh ajaran agama maka di sinilah timbul interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber dari ajaran agama). Para ilmuan berusaha untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana semboyan : ilmu yang bebas nilai.

20.  TANGGUNG JAWAB SOSIAL ILMUWAN
Secara historis fungsi sosial dari kaum ilmuwan telah lama dikenal dan diakui. Raja Charles II dari Inggris mendirikan The Royal Society yang bertindak selaku penawar bagi fanatisme di masyarakat waktu itu. Para ilmuwan pada waktu itu bersuara mengenai toleransi beragama dan pembakaran tukang-tukan sihir. Sikap sosial seorang ilmuwan adalah konsisten dengan proses penelaahan keilmuwan yang dilakukan. Ilmu terbebas dari nilai. Ilmu itu sendiri netral dan para ilmuwanlah yang memberikan nilai. Dalam menghadapi masalah sosial, seorang ilmuwan yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang cukup harus menempatkan masalah tersebut pada proporsi yang sebenarnya dan menjelaskanya kepada masyarakat dalam bahasa yang dapat dicerna. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang ilmuwan maka harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka safari. Di bidang etika, tanggungjawab seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi tetapi memberikan contoh.

21.  NUKLIR DAN PILIHAN MORAL
Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuanya untuk menindas bangsa lain meskipun yang menggunakan itu adalah bangsanya sendiri. Einstein waktu itu memihak sekutu karena anggapanya bahwa sekutu mewakili aspirasi kemanusiaan. Jika sekutu kalah maka yang akan muncul adalah rezim Nazi yang tidak berperikemanusiaan. Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpangku tangan. Dia harus memilih sikap: berpihak kepada kemanusiaan atau tetap bungkam?. Seorang ilmuwan tak boleh memutarbalikan penemuwannya bila hipotesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun di atas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena bertentangan dengan fakta-fakta pengujian.

22.  REVOLUSI GENETIKA
Revolusi genetica merupakan babak baru dalam sejarah keilmuan manusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai obyek penelaahan itu sendiri. Memperlakukan manusia sebagai kelinci pencobaan adalah sikap yang tidak bermoral dan bertentangan dengan hakikat ilmu.


BAB VII
ILMU DAN KEBUDAYAAN

23.  MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan didefenisikan pertama kali oleh EB. Taylor pada tahun 1871 di mana dalam bukunya Primitive Culture, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Yang menjadi dasar dari kebudayaan adalah nilai. Di samping nilai ini kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang di kandungnya. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia ini dapat ditangkap oleh panca indera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia. Di samping itu nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh sarana kebudayaan.

24.  ILMU DAN PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN NASIONAL
Ilmu merupakan pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Dalam rangka pengembangan kebudayaan ilmu mempunyai peranan ganda, yaitu:
1.      Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terlenggaranya pengembangan kebudayaan nasional.
2.      Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Dua dasar moral bagi kaum ilmuwan adalah meninggikan kebenaran dan pengabdian secara universal. Tujuh nilai ilmiah yang terpancar dari hakikat keilmuwan yakni:
1.      Kritis,
2.      Rasional,
3.      Logis


4.      Obyektif,
5.      Terbuka,
6.      Menjunjung kebenaran dan
7.      Pengabdian universal.
Peranan ketujuh nilai ini adalah dalam hal bangsa menghadapi permasalahan dalam bidang politik, ekonomi, dan kemasyarakatan membutuhkan pemecahan permasalahan secara kritis, rasional, logis dan terbuka. Sedangkan sifat menjunjung kebenaran dan pengabdian universal akan merupakan aktor yang penting dalam pembinaan bangsa di mana seseorang lebih menitikberatkan kebenaran untuk kepentingan golongan dibandingkan kepetingan golongan. Bukan saja seni namun ilmu dalam hakikatnya yang murni bersifat mempersatukan.

25.  DUA POLA KEBUDAYAAN
Ada dua pola kebudayaan yang terbagi ke dalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Raiso de’etre yang menjadi argumentasi pembagian jurusan ini adalah asumsi yang pertama mengemukakan bahwa manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam pendidikan matematika yang mengharuskan kita mengembangakan pola pendidikan yang berbeda pula. Asumsi yang kedua adalah yang menganggap bahwa ilmu sosial kurang memerlukan pengetahuan matematika. Asumsi kedua ini sekarang tidak relevan lagi karena pengembangan ilmu sosial membutuhkan bakat-bakat matematika yang baik untuk menjadikannya pengetahuan yang bersifat kuantitatif.


BAB VIII
ILMU DAN BAHASA

26.  TERMINOLOGI: ILMU, ILMU PENGETAHUAN, DAN SAINS
Seluruh bentuk dapat digolongkan dalam kategori pengetahuan (knowledge) di mana masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh karakter obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologi masing-masing. Salah satu bentuk knowledge ditandai dengan:
1.      Obyek Ontologis yaitu pengalaman manusia yakni segenap ujud yang dapat dijangkau lewat panca indra atau alat yang membantu kemampuan pancaindra;
2.      Landasan epistemologis yaitu metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico-hyphotetico-verifikasi;
3.      Landasan aksiologi: kemaslahatan manusia artinya segenap ujud pengetahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.

27.  QUO VADIS
Terminologi Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge, secara defacto dalam kalangan dunia keilmuwan terminologi ilmu sudah sering dipergunakan seperti dalam metode ilmiah dan ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu alam. Adapun kelemahan dari pilihan ini ialah bahwa kita terpaksa meninggalkan kata ilmu pengetahuan dan hanya menggunakan kata ilmu saja untuk sinonim science dalam bahasa inggris. Alternatif pertama menggunakan ilmu pengetahuan untuk science dan pengetahuan untuk knowledge.

28.  POLITIK BAHASA NASIONAL
Bahasa mempunyai dua fungsi yaitu;
1.      Sebagai sarana komunikasi dan
Sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi pertama dapat disebut sebagai fungsi komunikatif dan fungsi kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif.
Pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dengan alasan utama yaitu fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana yang mengintegrasikaan berbagai suku ke dalam satu bangsa yakni Indonesia.


























BAB IX
PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH

29.  STRUKTUR PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
Langkah pertama dalam penelitian ilmiah adalah mengajukan masalah yang berisi:
1.      Menentukan latar belakang dari suatu masalah, kemudian melakukan identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
2.      Pengajuan Hipotesis. Dalam hipotesis mengkaji mengenai teori-teori ilmiah yang dipergunakan dalam analisis, pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan, penyusunan kerangka berpikir dengan mempergunakan premis-premis dan menyatakan secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan, lalu merumuskan hipotesis.
3.      Menguji hipotesis secara empiris melalui penelitian dan kemudian hasil penelitian dapat dilaporkan dalam kegiatan sebagai berikut:
a.       menyatakan variabel-variabel yang diteliti.
b.      menyatakan teknik analisa data.
c.       mendeskripsikan hasil analisis data.
d.      memberikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data.
e.       menyimpulkan pengujian hipotesis apakah ditolak atau diterima.
4.      Ringkasan dan Kesimpulan. Kesimpulan pengujian hipotesis dikembangkan menjadi kesimpulan penelitian yang ditulis dalam bab tersendiri.
Kesimpulan penelitian ini merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian yang terdiri dari masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi penelitian dan penemuan penelitian. Seluruh laporan penelitian disarikan dalam sebuah ringkasan yang disebut abstrak. Dalam laporan penelitian dilampirkan daftar pustaka dan riwayat hidup peneliti.



30.  TEKNIK PENULISAN ILMIAH
Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan serta teknik notasi. Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif artinya bahwa sipenerima pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan sipemberi pesan. Komunikasi ilmiah harus bersifat impersonal di mana berbeda dengan tokoh dalam sebuah novel yang bisa berupa aku dan dia atau doktor faust. Kata ganti perorangan hilang dan diganti universal yakni ilmuwan. Pembahasan secara ilmiah mengharuskan kita berpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebagai premis dalam argumentasi kita. Pernyataan ilmiah yang kita gunakan harus mencatat beberapa hal yakni kita identifikasi orang membuat pernyataan tersebut, media komunikasi ilmiah dimana pernyataan tersebut di sampaikan, lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat domisili dan waktu penerbitan dilakukan.

31.  Teknik Notasi Ilmiah
Kalimat yang kita kutip harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki. Catatan kaki mulai langsung dari pinggir atau dapat dimulai setelah beberapa ketukan tik dari pinggir asalkan dilakukan secara konsisten. Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang yang lebih dari tiga orang hanya ditulis nama pertama ditambah kata et al. Kutipan yang diambil dari halaman tertentu disebutkan halamanya dengan singkatan p (pagina) atau hlm. (halaman). Jika kutipan itu disarikan dari beberapa halaman maka dapat ditulis pp.1-5 atau hlm 1-5. Jika nama pengaranganya tidak ada langsung dituliskan nama bukunya atau Anom (anoniymous) di depan nama buku tersebut. Sebuah buku yang ada diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun penterjemah buku tersebut sedangkan kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya. Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op.cit (opere citato: dalam karya yang telah dikutip), loc. cit (loco citato: dalam tempat yang telah dikutip dan ibid (ibidem : dalam tempat yang sama).
BAB X
PENUTUP
32.  HAKIKAT ILMU

Arti Hakikat: Secara etimologis berarti terang, yakin, dan sebenarnya. Dalam filsafat, hakikat diartikan inti dari sesuatu, yang meskipun sifat-sifat yang melekat padanya dapat berubah-ubah, namun inti tersebut tetap lestari. Contoh, dalam Filsafat Yunani terdapat nama Thales, yang memiliki pokok pikiran bahwa hakikat segala sesuatu adalah air. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok, dan inti segalanya. Semua hal meskipun mempunyai sifat dan bentuk yang beraneka ragam, namun intinya adalah satu yaitu air. Segala sesuatu berasal dari air dan akan kembali pada air.
Hakikat dapat dipahami sebagai inti-sari, bisa pula berupa sifat-sifat umum dari pada hal sesuatu. Dipahami pula sebagai diri pribadi atau jati diri hal sesuatu. Istilah-istilah dalam bahasa inggris seperti "substance" dan/atau "essence" yang keduanya menunjuk suatu “essential nature" atau ultimate nature of a thing. Jadi bisa pula dipahami sebagai inti dasar atau inti terdalam pada sesuatu.
Jadi, hakikat adalah keseluruhan unsur yang secara mutlak berada di dalam saling berhubungan sehingga membentuk suatu kesatuan utuh-menyeluruh. Selanjutnya, pada taraf tertentu, keseluruhan unsur itu secara bersama-sama menentukan adanya barang atau sesuatu hal sebagaimana diri-pribadinya sendiri, bukan sesuatu hal yang lain.
“Hakikat” dapat dikategorikan menjadi 3 hal:
1.                  Hakikat Jenis (bersifat abstrak)
2.                  Hakikat Pribadi (bersifat Potensial)
3.                  Hakikat individual (bersifat kongkret)
Aspek epistemologi ilmu pengetahuan adalah persoalan bagaimana menemukan kebenaran tentang suatu objek materi, melalui berbagai macam sudut pandang (objek forma), metoda dan sistem. Maka berkembanglah pula. berbagai macam teori kebenaran. Sejauh mana perpedaan itu? Tetap terhubungkan dalam satu kesatuan objek (format, metoda dan sistem).
Masalah Hakikat Individual Ilmu Pengetahuan. Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethikos” atau “ethos” berarti adat atau kebiasaan. (berkembang menjadi ekuivalen dengan moralitas).
Etika sering diartikan dengan filsafat moral atau filsafat tingkah laku. Tradisi filsafat membagi etika kedalam etika normatif dan kreatif (meta-etika?). Etika normatif, mempersoalkan pengukuran perbuatan baik dan benar berdasar norma-norma konvensional sebagai petunjuk atau penuntun prilaku. Sedangkan kreatif, cenderung bersifat filosofis, pengukuran perbuatan baik dan benar berdasar pada analisis kritis logis. Kedua kriteria ini dapat dijadikan pedoman, bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku. Hanya menurut dasar hak dan kewajiban yang seharusnya, suatu perilaku baik dan benar.
Aspek ilmu pengetahuan adalah mengenai hakikat konkret individual ilmu pengetahuan. Seperti halnya manusia, barulah berfungsi ketika menjadi konkret individual, maka begitu juga halnya ilmu pengetahuan baru dapat difungsikan ketika teori-teori ilmiah dibangun menjadi sebuah sistem teknologi.
Atas dasar Potensi ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia seharusnya mampu dan mau untuk:
1.                      Mengutamakan prilaku adil dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam.
2.                      Mampu dan mau berprilaku adil terhadap sesama manusia.
3.                      Mampu dan mau bersikap adil terhadap diri sendiri.

33.  Kegunaan Ilmu
Apa guna ilmu pengetahuan? Pertanyaan sama dengan apa guna pengetahuan ilmiah karena ilmu pengetahuan isinya teori (ilmiah). Secara umum, teori artinya pendapat yang beralasan. Alasan itu dapat berupa argument logis, ini teori filsafat; berupa argument perasaan atau keyakinan dan kadang-kadang empiris, ini teori dalam pengetahuan mistik; berupa argument logis-empiris, ini teori sain.
Berbagai ilmu pengetahuan yang ada sampai sekarang ini seecara umum berfungsi sebagai alat untuk membuat eksplanasi kenyataan. Ilmu pengetahuan merupakan suatu system eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan system lainya dalam memahami masa lampau, sekarang , serta mengubah masa depan. Bagaimana contohnya?
Akhir tahun 1997 di Indonesia terjadi gejolak moneter, yaitu nilai rupiah semakin murah dibandingkan dengan dolar (kurs rupiah terhadap dolar turun). Gejala ini telah memberikan dampak yang cukup luas terhadap kehidupan di Indonesia. Gejalanya ialah harga semakin tinggi. Bagaimana menerangkan gejala ini?
Teori-teori ekonomi (mungkin juga politik) dapat menerangkan (mengeksplanasikan) gejala itu. Untuk mudahnya, teori ekonomi menyatakan karena banyaknya utang luar negeri jatuh tempo (harus dibayar), hutang itu harus dibayar dengan dolar, maka banyak orang yang memerluakan dolar, karena banyak orang membeli dolar, maka harga dolar naik dalam rupiah. Nah, ini baru sebagian gejala itu yang dipeksplanasikan. Sekalipun baru sebagian, namun gejala itu telah dapat dipahami ala kadarnya, sesuai dengan apa yang dieksplanasikan itu.
Ada oranag tiga bersudara, dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka nakal, sering mabuk, membuat keonaran, sering bolos sekolah, tidak naik kelas, dan pindah-pindah sekolah. Mereka ditinggal oleh kedua orang tuanya, ayah dan ibunya masing-masing kawin lagi dan pindah ke tempat barunya masing-masing. Biaya hidup tiga bersaudara itu bersama pembantu mereka, tidak kurang. Dapatkah anda membuat eksolanasi mengapa anak-anak itu nakal?
Anda akan dapat menjelaskan (mengeksplanasikan) jika anda menguasai teori yang mampu menjelaskan gejala (nakal) itu. Menurut teori sain pendidikan, anak-anak yang yang orang tuanya cerai (biasanya disebut broken home), pada umumnya berkembang menjadi anak nakal. Penyebabnya adalah karena anak-anak itu tidak dapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Padahal pendidikan dari kedua orang tuanya amat penting dalam pertumbuhan anak menuju dewasa. Itulah sebagian dari kegunaan dan manfaat dari adanya suatu ilmu pengetahuan, dan banyak lagi contoh-contoh yang lain yang banyak.
Aksiologi adalah studi tentang nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan.
Etika keilmuwan merupakan etika normative yang merunuskan pronsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan. Tujuan etika keilmuwan adalah agar seorang ilmuwan dapat menerapkan prinsip-prinsio moral, yaitu yang baik dan dapat menghindarkan dari yang buruk ke dalam perilaku keilmuwanya, sehingga ia dapat menjadi ilmuwan yang dapat mempertanggungjawabkan perilaku ilmiahnya. Etika normative menetapkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian penilaian terhadap perbuatan-perbuatan apa yang yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi serta menetapkan apa yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi.
Ilmu dengan segala tujuan dan artinya, sampai batas-batas tertentu telah banyak membantu manusia dalam mencapi tujuan hidup dan kehidupannya, yaitu kehidupan yang lebih baik. Sekalipun ilmu tidak pernah mencapai kebenaran mutlak, tetapi dalam keterbatasanya ia membantu kepentingan di dunia yang fana ini, sesuai dengan bidang masing-masing. Ilmu menghasilkan teknologi, yang memungkinkan manusia dapat bergerak atau bertindak dengan cermat, dan tepat, Karena ilmu merupakan hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen, dan verifikasi.
Dengan ilmu dan teknologi, manusia dapat mengubah wajah dunia di mana manusia itu sendiri tinggal, mengubah cara manusia bekerja, cara manusia berpikir. Dengan ilmu dan teknologi dituntut manusia untuk mengadakan perubahan secara terus menerus, perbaikan dan penemuan-penemuan baru.perkembangan industri, perkembanagn sosial budaya, juga pengembangan industri persenjataan merupakan suatu pertanda bahwa ilmu dan teknologi akan berkembang terus.
Dengan ilmu dan teknologi, memungkinkan manusia untuk mengurangi rintangan-rintangan ruang dan waktu, misalnya dengan sistem komuni kas modern, di mana suatu peristiwa yang terjadi di suatu titik dunia ini, dalam waktu yang relative singkat, dengan segera dapat diketahui ke seluruh pelosok dunia.
Beberapa contoh di bawah ini, adalah kegunaan dari ilmu dan teknologi bagi kehidupan manusia. Biologi, fisika, matematika, kimia, sebagai ilmu murni telah menyumbangkan berbagai teori dan hukum-hukumnnya kepada ilmu kedokteran sebagai ilmu terapan (ilmu guna pakai) dalam usaha manusia. Ilmu sosial-sosial dasar seperti sosiologi, antropologi, psikologi, dan psikologi sosial, telah menyumbangkan keserasian dalam pergaulan antar insani (inter-personal behavior evant), di samping menyodorkan berbagai teori dan hukum-hukumnya kepada ilmu pendidikan sebagai ilmu terapan misalnya, bagimana seharusnya hidup bersama-sama dengan manusia lain, dan sebagainya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar