KARYA : RIZAL MUSTANSYIR DAN MISNAL MUNIR
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Filsafat Ilmu
Penulis : Rizal Mustansyir dan Misnal Munir
Kota Terbit : Yogyakarta
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : X, 2010
Tebal : XII + 180 halaman
DAFTAR ISI
|
BAB I
|
PENGENALAN
ILMU FILSSAFAT
A. PENGANTAR
B. PENGERTIAN
FILSAFAT
C. CIRI-CIRI
BERFIKIR FILSAFAT
D. BEBERAPA
GAYA BERFILSAFAT
E. CABANG-CABANG
ILMU FILSAFAT
1. METAFISIKA
2. EPISTIMOLOGI
3. AKSIOLOGI
F. PRINSIP-PRINSIP
DALAM BERSILSAFAT
G. PENUTUP
|
|
BAB
II
|
SELINTAS
TENTANG FILSAFAT ILMU
A. PENGANTAR
B. OBJEK
MATERIAL DAN FORMAL FILSAFAT ILMU
C. PENGERTIAN
FILSAFAT ILMU
D. TUJUAN
DAN IMPLIKASI FILSAFAT ILMU
1. TUJUAN
FILSAFAT ILMU
2. IMPLIKASI
MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU
E. PENUTUP
|
|
BAB
III
|
SEJARAH
DAN PERANAN PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
A. PENGANTAR
B. PERKEMBANGAN
PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT
1.
ZAMAN YUNANI KUNO
2.
ZAMAN PERTENGAHAN
3.
ZAMAN RENAISSANS
4.
ZAMAN MODERN
5.
ZAMAN KONTEMPORER
C. PENUTUP
|
|
BAB
IV
|
PRINSIP-PRINSIP
METODOLOGI
A. PENGANTAR
B. BEBERAPA
PANDANGAN TENTANG PRINSIP METODOLOGI
1. RENE
DESCARTES
2. ALFRED
JULES AYER
3. KARL
RAIMUND POPPER
C. PENUTUP
|
|
BAB V
|
PERKEMBANGAN,
PENGERTIAN, DAN KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN
A. PENGANTAR
B. PERIODESASI
PERKEMBANGAN ILMU
1.
ZAMAN PRA YUNANI KUNO
2.
ZAMAN YUNANI KUNO
3.
ZAMAN PERTENGAHAN (MIDDLE AGE)
4.
ZAMAN RENAISSANS
5.
ZAMAN MODERN
6.
ZAMAN KONTEMPORER
C. PENGERTIAN
ILMU
D. BEBERAPA
PANDANGAN TENTANG KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN
E. PENUTUP
|
|
BAB
VI
|
A. PENGANTAR
B. ILMU ;
BEBAS ATAU TIDAK ?
C. STRATEGI
PENGEMBANGAN ILMU DI INDONESIA
D. PENUTUP
|
BAB
I
PENGENALAN
ILMU FILSAFAT
A. Pengertian Filsafat
Filsafat secara etimologis
berasal dari bahasa Yunani Philosophia, philo artinya suka, cinta atau
kecenderungan pada sesuatu, sedangkan sophia artinya kebijaksanaan. Jadi
secara sederhana filsafat adalah cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan.
Ada beberapa definisi filsafat yang telah
diklasifikasikan berdasarkan watak dan fungsinya sebagai berikut :
1. Filsafat
adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang
bisanya diterima secara tidak kritis (arti informal)
2. Filsafat
adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang
sangat kita junjung tinggi (Arti formal)
3. Filsafat
adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan (Arti Spekulatif)
4. Filsafat
adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang
demikian ini dinamakan juga logo sentrisme
5. Filsafat
adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia
dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
B. Ciri-ciri Berpikir Kefilsafatan
Beberapa
ciri berfikir kefilsafatan yaitu:
1. Radikal
2. Universal
3. Konseptual
4. Koheren dan konsisten
5. Sistematik
6. Komprehensif
7. Bebas, dan
8. Bertanggung
jawab
Ke
delapan ciri berpikir kefilsafatan ini menjadikan filsafat cenderung berbeda
dengan cirri berpikir ilmu-ilmu lainnya. Sekaligus menempatkan
kedudukan filsafat sebagai bidang keilmuan yang netral, terutama ciri ke tujuh.
C. Beberapa Gaya Berfilsafat
Pada
prinsip "variis modis bene fit" bahwa filsafat bisa dimengerti dan di
pelajari melalui banyak cara. Menurut Bertens ada beberapa gaya dalam berfilsafat :
1.
Berfilsafat terkait erat dengan sastra
2.
Berfilsafat yang dikaitkan dengan sosial politik
3.
Berfilsafat yang terkait erat dengan metodologis
4.
Berfilsafat yang berkaitan dengan kegiatan analisis bahasa
5.
Berfilsafat yang dikaitakan dengan menghidupkan kembali permikiran filsafat
dimasa lampa
6.
Masih ada gaya berfilsafat lain yang cukup mendominasi pemikiran banyak
orang, terutama di abad keduapuluh ini yakni berfilsafat dikaitkan dengan
filsafat tingkah laku atau etika.
D. Cabang-cabang Utama Filsafat
Asas-asas filsafat
merupakan suatu kajian yang mengetengahkan prinsip-prinsip pokok bidang filsafat.
Dalam hal ini dikaji beberapa bidang utama filsafat seperti: metafisika, epistemologi
dan etika.
1.
Metafisika
Adalah filsafat pertama
dan filsafat yang paling utama. Cabang filsafat ini membahas tentang keberadaan
(being) atau eksistensi (eksistensi).
Istilah metafisika itu
sendiri berasal dari kata Yunani meta ta physika yang dapat diartikan
sesuatu yang ada dibalik atau dibelakang benda-benda fisik. Aristoletes
menyebut beberapa istilah yang maknanya dapat dikatakan setara dengan
metafisika,yaitu: filsafat pertama (first philosophy), pengetahuan
tentang sebab, studi tentang ada sebagai ada, studi tentang Ousia, studi
tentang hal-hal abadi dan yang tidak dapat digerakkan, dan Theologi.
Christian
wolff mengklasifikasikan metafisika sebagai metafisika umum (Ontologi),
metafisika khusus (psikologi, kosmologi, theology).
Beberapa peran metafisika
dalam ilmu pengetahuan, yaitu:
a.
Metafisika mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah dalam
pengembangan ilmu pengetahuan.
b.
Metafisika menuntut orisinalitas berpikir yang sangat diperlukan bagi ilmu
pengetahuan.
c.
Metafisika memberikan bahan pertimbangan yang matang bagi pengembangan ilmu
pengetahuan, terutama pada wilayah praanggapan-praanggapan, sehingga persoalan
yang diajukan memiliki landasan berpijak yang kuat.
d. Metafisika
juga membuka peluang bagi terjadinya perbedaan visi di dalam melihat realita,
karena tidak ada kebenaran yang benar-benar absolut.
2.
Epistemologi
Epistemologi berasal dari
bahasa Yunani “episteme”artinya pengetahuan dan “ logos”
artinya teori. Istilah-istilah yang lain yang setara dengan epistemologi
adalah:
a.
Kriteriologi, yaitu cabang filsafat yang membicarakan ukuran benar atau
tidaknya pengetahuan
b.
Kritik pengetahuan, yaitu pembahasan mengenai pengetahuan secara kritis
c.
Gnosiology, yaitu perbincangan mengenai pengetahuan yang bersifat ilmiah
d.
Logika Material, yaitu pembahasan Logis dari segi isinya, sedangkan logika
formal lebih menekankan pada segi bentuknya
Objek
material epistemologi adalah pengetahuan sedangkan objek formalnya adalah
hakikat pengetahuan. Persoalan-persoalan
penting yang dikaji dalam epistemologi berkisar pada masalah asal-usul
pengetahuan, peran pengalaman dan akal dalam pengetahuan, hubungan antara
pengetahuan dengan keniscayaan, hubungan antara pengetahuan dengan kebenaran, kemungkinan
skeptisisme universal, dan bentuk-bentuk perubahan pengetahuan yang berasal
dari konseptualisasi baru mengenai dunia. Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada dalam
pikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tidak akan eksis.
Bahm menyebutkan delapan hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia, yaitu:
a.
Mengamati
(observasi) : pikiran berperandalam mengamati objek-objek,
b.
Menyelidiki (inquires): ketertarikan pada objek dikondisikan oleh jenis-jenis objek yang tampil
c.
Percaya
(believes) : manakala suatu objek
muncul dalam kesadaran, biasanya objek-objek itu diterima sebagai objek yang
nampak
d.
Hasrat
(desires) : kodrat hasrat ini
mencakup kondisi-kondisi biologis dan psikologis dan interaksi dialektik antara
tubuh dan jiwa
e.
Maksud
(intends) : kendatipun seseorang
memiliki maksud ketika akan mengobservasikan, menyelidiki, mempercayai dan
berhasrat, namun sekaligus perasaanya tidak berbeda bahkan terdorong ketika
melakukannya
f.
Mengatur
(organizer) : setiap pikiran adalah
organisme yang teratur dalam diri seseorang.
g.
Menyesuaikan (adapts) : menyesuaikan pikiran-pikiran sekaligus melakukan pembatasan-pembatasan
yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam
otak dan tubuh didalam fisik, biologis, lingkungan sosial, dan kultural dan
keuntungan yang terlihat pada tindakan hasrat dan kepuasan.
h.
Menikmati
(enjoys): pikiran mendatangkan
keasyikan.
Pengetahuan merupakan
suatu aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh kebenaran. Pengetahuan dipandang dari jenis pengetahuan yang dibangun dapat dibedakan
sebagai berikut:
a.
Pengetahuan biasa,
pengetahuan ini bersifat subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang
mengenal.
b.
Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas
atau spesifik dengan menerapkan pendekatan metodologis yang khas pula, arinya
metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan diantara para ahli yang sejenis.
c.
Pengetahuan filsafati, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui
metodologi pemikiran filsafat.
d.
Pengetahuan agama, yaitu jenis pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan
dan ajaran agama tertentu.
Pengetahuan dipandang atas
dasar kriteria karakteristiknya dapat dibedakan
sebagai berikut:
a.
Pengetahuan indrawi, yaitu jenis pengetahuan yang didasarkan atas sense
atau pengalaman manusia sehari-hari.
b.
Pengetahuan akal budi, yaitu jenis pengetahuan yang disadarkan atas
kekuatan rasio,
c.
Pengetahuan intuitif, jenis pengetahuan yang memuat pemahaman secara cepat.
d.
Pengetahuan kepercayaan, yaitu jenis
pengetahuan yang dibangun atas dasar kredibilitas seorang tokoh atau sekelompok
orang yang dianggap profesional dalam bidangnya.
3.
Aksiologi
Istilah aksiologi berasal
dari kata axios nilai atau sesuatu yang berharga dan logos artinya
teori. Artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria, dan status
metafisik dari nilai.
Aksiologi
ini membahas tentang masalah nilai. Problem utama aksiologi
ujar Runes berkaitan dengan empat faktor penting, sebagai berikut:
a.
Kodrat nilai berupa problem mengenai: apakah nilai itu berasal dari
keinginan, kesenangan, kepentingan, preferensi, keinginan rasio
murni.
b.
Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai instrinsik,
ukuran dan kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental yang
menjadi penyebab mengenai nilai-nilai instrinsik.
c.
Kriteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai yang dipengaruhi
sekaligus oleh psikologi dan logika.
d.
Status metafisika nilai persoalan tentang bagaimana hubungan antara nilai
terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui ilmu-ilmu kealaman.
Salah satu cabang
aksiologi yang banyak membahas masalah nilai baik atau nilai buruk adalah
bidang etika. Etika mengandung 3 pengertian:
a.
Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai atau norma-norma moral yang
menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya,
b.
Etika berarti sekumpulan asas atau nilai moral. Misalnya kode etik.
c.
Etika merupakan ilmu tentang yang baik dan buruk.
E. Prinsip-Prinsip dalam Berfilsafat
Berfilsafat selalu terkait dengan pengalaman
umum manusia. Oleh karena itu tidak tepat kalau dikatakan bahwa orang yang
berfilsafat itu melamun, tidak berpijak pada kenyataan, atau tidak menginjak
bumi. The Liang Gie menyatakan 5 prinsip penting dalam
berfilsafat agar calon filsuf itu mendapatkan hasil yang optimal, yaitu:
a.
Meniadakan kecongkakan maha tahu sendiri
b.
Perlunya sikap mental berupa kesetiaan pada kebenaran
c.
Memahami secara sungguh-sungguh persoalan-persoalan filsafat serta berusaha
memikirkan jawabannya
d.
Latihan intelektual itu dilakukan secara aktif dari waktu dan diungkapkan
baik secara lisan maupun tertulis
e.
Sikap keterbukaan diri, artinya orang yang mempelajari filsafat seyogyanya
tidak dihinggapi oleh prasangka tertentu atau pandangan sempit yang tertuju
dari satu arah.
BAB
II
SELINTAS
TENTANG FILSAFAT ILMU
A. Objek Material dan Formal Filsafat Ilmu
Filsafat imu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri.
Disini terlihat jelas perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
Pengetahuan itu lebih bersifat umum dan didasarkan atas pengalaman sehari-hari
sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat khusus yang
mempunyai ciri sistematik, metode ilmiah tertentu, serta dapat di uji
kebenarannya.
Semua
orang bisa berpengetahuan tapi tidak bisa terlibat di dalam aktivitas ilmiah
karena untuk menjadi ada prasyaratnya, yaitu Prosedur ilmiah yang harus
dipenuhi agar hasil kerja ilmiah itu diakui oleh para ilmuan lain, Metode
ilmiah yang berguna, Diakui secara akademis, Ilmuan harus memiliki kejujuran
ilmiah, Harus memiliki rasa ingin tahu.
Landasan
ontologism pengembangan ilmu artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan
didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki oleh seorang
ilmuan, landasan epistemologis pengembangan ilmu pengetahuan artinya titik
tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan prosedur dalam
memperoleh kebenaran, sedangkan landasan aksiologis pengembangan ilmu merupakan
sikap etis yang harus di kembangkan oleh seorang ilmuan, terutama dalam
kaitanya dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.
B. Pengertian
Filsafat Imu
Ada berbagai definisi filsafat ilmu yang
dihimpun oleh The Liang Gie.
1.
Robert Ackermann: filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat ilmiah
dewasa ini.
2.
Lewis White Beck : Filsafat ilmu itu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah dan menilai metode-metode
pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah
sebagai suatu keseluruhan.
3.
Cornelius Benjamin : filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafati
yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya,
konsep-konsepnya dan praanggapan-pranggapannya serta letaknya dalam kerangka.
4.
May Broadbeck: sebagai analisis yang netral secara
etis dan filsafati, pelukis dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
C. Tujuan dan Implikasi Filsafat Ilmu
1.
Tujuan Filsafat Ilmu
Tujuan-tujuan Filsafat
Ilmu adalah
;
a.
Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi
kritis terhadap kegiatan ilmiah.
b.
Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan
metode keilmuan
c.
Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan
2.
Implikasi Mempelajari Filsafat Ilmu
a.
Bagi yang mempelajari filsafat ilmu diperlukan pengetahuan dasar yang
memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial
b.
Menyadarkan seorang ilmuwan agar tidak terjebak dalak pola pikir “menara
gading” yakni hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengaitkan dengan
kenyataan yang ada di luar dirinya.
BAB
III
SEJARAH
DAN PERANAN PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
A.
PENGANTAR
Kebudayaan manusia ini
ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang teramat cepat.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari
peran dan pengaruh pemikiran
filsafat barat. Pada awal perkembangan pemikiran filsafat barat pada zaman
Yunani Kuno, filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, artinya antara pemikiran
filsafat dan ilmu pengetahuan pada waktu itu tidak dapat dipisahkan. Pada abad
pertengahan terjadi perubahan, filsafat pada zaman ini identik dengan agama,
artinya pemikiran filsafat pada waktu itu menjadi satu dengan dogma Gereja
(agama). Filsafat pada zaman modern tetap sekuler, namun sekarang filsafat
ditinggalkan oleh ilmu pengetahuan. Artinya ilmu pengetahuan sebagai
“anak-anak” filsafat berdiri sendiri dan terpecah menjadi berbagai cabang.
B.
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT BARAT
1.
Zaman Yunani Kuno ( abad 6 SM- 6 M )
Kelahiran pemikiran
filsafat barat diawali pada abad ke 6 sebelum masehi ditandai oleh runtuhnya
mite-mite dan dongeng-dongeng yang selama ini menjadi pembenaran terhadap
setiap gejala alam. Ada dua bentuk mite yang berkembang pada waktu itu, yaitu
mite kosmogonis, yang mencari tentang asal usul alam semesta, dan mite
kosmologis, berusaha mencari keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian
alam semesta.
Ciri yang menonjol dari
filsafat Yunani Kuno diawal kelahirannya adalah ditunjukkannya perhatian terutama
pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan sesuatu
asas mula yang merupakan unsur awal terjadinya segala gejala. Thales
menyimpulkan bahwa air merupakan asas mula dari segala sesuatu pandapatnya ini
didukung oleh kenyataan bahw air meresapi seluruh benda-benda dijagad raya.
Herakleitos (540-475 SM) dan Parmenides
(540-475 SM), kedua tokoh ini merupakan cikal bakal debat metafisika tentang
“pluralisme” dan “monisme”, dalam bidang epistemologi antara “empirisme” dan “rasionalisme”.
Filsafat Yunani telah berhasil mematahkan
berbagai mitos tentang kejadian dan asal usul alam semesta, dan itu berarti
dimulainya tahap rasionalisasi pemikiran manusia tentang alam semesta. Socrates
tidak memberikan suatu ajaran yang sistematis, ia langsung menerapkan metode
filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari. Metode berfilsafat yang
diuraikannya disebut “dialektika” yang berarti bercakap-cakap, disebut demikian
karena dialog atau wawancara mempunyai peranan hakiki dalam filsafat Socrates.
Plato adalah murid
Socrates yang meneruskan tradisi dialog dalam berfilsafat. Plato memilih dialog
karena ia berkeyakinan bahwa filsafat pada intinya tidak lain daripada suatu
dialog. Plato dikenal sebagai filosof yang dualisme, artinya mengakui adanya
dua kenyataan terpisah dan berdiri sendiri, yaitu dunia ide merupakan dunia
yang tetap abadi, didalamnya tidak ada perubahan, dunia bayangan merupakan
dunia yang berubah, mencakup benda-benda jasmani yang disajikan pada indera.
Pemikiran filsafat Yunani
mencapai puncaknya pada murid plato yang bernama Aristoletes, ia mengatakan
bahwa tugas utama ilmu pengetahuan ialah mencari penyebab-penyebab objek yang
diselidiki. Aristoletes berpendapat bahwa tiap-tiap kejadian mempunyai empat
sebab yang semuanya harus disebut, bila manusia hendak memahami proses kejadian
segala sesuatu. Keempat penyebab itu
menurut Aristoteles adalah:
1.
Penyebab material inilah bahan darimana benda dibikin
2.
Penyebab formal inilh bentuk yang menyusun bahan
3.
Penyebab efisien inilah sumber kejadian
4.
Penyebab final, inilah tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian.
Sumbangan Aristoteles
dalam perkembangan ilmu pengetahuan adalah pemikiran tentang sillogisme.
Sillogisme adalah suatu cara menarik kesimpulan dari premis-premis sebelumnya.
Pasca Aristoteles filsafat Yunani mengalami “kemunduran” dalam arti filsafat
cenderung untuk memasuki dunia praktis bahkan berlanjut mengarah kedunia mistik
sebagaimana dikembangkan oleh faham Stoisisme, Epucurisme, dan Neo Platonisme.
2.
Zaman Pertengahan ( 6-16 M )
Zaman Pertengahan di eropa
adalah zaman keemasan bagi keristenan. Abad pertengahan selalu sibahas sebagai
zaman yang khas, karena dalam abad-abad itu perkembangan alam pikiran eropa
sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama. Zaman
pertengahan biasanya dipandang terlampau seragam, dan lebih dari itu dipandang
seakan-akan tidak penting bagi sejarah pemikiran sebenarnya. Filsafat Agustinus
(354-430) merupakan filsafat mengenai keadaan ikut bagian, suatu bentuk
Platonisme yang sangat khas.
Ada
beberapa tokoh filsafat pada zaman ini, yaitu:
1.
Agustinus (354 - 430), suatu platonisme yang sangat
khas.
2. Thomas Aquinas (1125-1274), melahirkan suatu aliran
yang bercorak thomisme yang dikenal dengan predikat “ancilla theologiae”
3.
Zaman Renaisans
(14-16 M )
Renaisans adalah suatu zaman yang sangat
menaruh perhatian dalam bidang seni lukis, patung, arsitektur, musik, sastra,
filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pada zaman ini berbagai gerakan
bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga
melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk
suatu pola pemikiran baru dalam filsafat. Zaman renaisans terkenal dengan era
kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir, tokohnya antara lain :
Nicolaus Copernicus (1473-1543) dan Francis Bacon (1561-1626). Bacon adalah
pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari jamannya dengan menjadi perintis
filsafat ilmu pengetahuan.
4.
Zaman Modern
(17-19 M )
Filsafat Barat Modern yang kelahiranya
didahului oleh suatu periode yang disebut dengan “ renaissans “ dan dimatangkan
oleh “ gerakan” Aufklaerung di abad ke 18 itu, didalamnya mengandung dua hal
yang sangat penting. Filsafat Barat Modern dengan demikian memiliki corak yang
berbeda dengan periode filsafat abad pertengahan. Perbedaan itu terletak
terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Pada zaman ini
muncullah aliran filsafat, antara lain :
a.
Rasionalisme
Pada abad ke-17 adalah abad dimulainya
pemikiran – pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakin lama
manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal,
sehingga tampaklah adanya keyakinan bahwa dengan kemampuan akal itu pasti dapat
diterangkan segala macam persoalan, dapat dipahami segala macam persoalan,
dapat dipahami segala macam permasalahan, dan dapat dipecahkannya segala macam
masalah kemanusiaan.
Ada 2 hal pokok yang merupakan ciri dari
Rasionalisme :
1. Adanya pendirian
bahwa kebenaran-kebenaran yang hakiki
itu secara langsung dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarannya.
2. Adanya suatu
penjabaran suatu logik atau dengan diskusi yang dimaksudkan untuk memberikan
pembuktian seketat mungkin mengenai lain-lain segi dari seluruh sisa bidang
pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran
hakiki.
Tokoh- tokohnya antara lain : Descartes,
Spinoza, Leibniz. Tokoh yang terpenting adalah Rene Descartes (1598-1650) yang
juga pendiri filsafat modern.
b.
Empirisisme
Para penganut aliran empirisisme dalam berfilsafat bertolak belakang dengan
para penganut aliran rasionalisme. Mereka menentang pendapat-pendapat para
penganut rasionalisme yang berdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat a
priori. Aliran empirisisme pertama kali berkembang di Inggris pada abad
ke – 15 dengan Francis Bacon sebagai pelopornya. Bacon memperkenalkan metode
eksperimen dalam penyelidikan atau penelitian. Menurutnya, manusia melalui
pengelaman dapat mengetahui benda-benda dan hukum-hukum relasi antara
benda-benda. Secara ringkas dapatlah dikatakan
bahwa pengetahuan yang bersifat a
priori terdiri dari proposisi analitik, yakni proposisi yang predikatnya sudah tercakup dalam subyek. Contohnya : semua
angsa putih, es itu dingin, lingkaran itu bulat dan lain-lain.
c.
Kritisisme
Seorang filsuf besar jerman yang bernama
Immanuel Kant (1724-1804)
telah melakukan usaha untuk menjembatani pandangan-pandangan yang saling
bertentangan yaitu antara rasionalisme dan empirisisme.
Filsafat Immanuel Kant disebut dengan aliran
filsafat krititisme. Krititisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha
untuk mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat rasionalisme dan
empirisisme dalam suatu hubungan yang seimbang. Untuk menyelesaikan perbedaan
pandangan antara rasionalisme dan empirisisme Kant mengemukakan bahwa
pengetahuan itu seharusnya sisntesis a priori. Dengan filsafat kritisnya
Immanuel Kant telah menunjukan jasanya yang besar, karena berdasarkan atas
penglihatanya yang begitu jelas mengenai keadaan yang saling mempengaruhi di
antara subyek penyetahuan dan obyek pengetahuan.
d.
Idealisme
Bagi Hegel pikiran adalah essensi dari alam dan
alam adalah keseluruhan jiwa yang di onyektifkan. Setelah era Hegel muncullah
beberapa filsuf yang menyebut dirinya sebagai penganut aliran idealisme. Yang
sangat berpengarug terhadap munculnya filsafat analitik pada abad ke – 20.
e.
Positivisme
Pendiri dan tokoh terpenting dalam aliran ini
adalah Auguste (1798-1857). Filsafat ini penting sebagai pencipta ilmi
sosiologi. Kebanyakan konsep, prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam
sosiologi, berasal dari Comte. Comte memberikan tempat kepada fakta- fakta
individual sejarah dalam suatu teori umum, sehingga terjadi sintesis yang
menerangkan fakta-fakta itu.
f.
Marxisme
Pemikiran Marx
menghubungkan dengan sangat erat ekonomi dengan filsafat, bagi Marx filsafat
bukan hanya masalah pengetahuan dan masalah kehendak murni yang utama,
melainkan masalah tindakan.
E. Zaman Kontemporer (
abad ke – 20 dan seterusnya)
Tema yang menguasai dalam filosofis ini adalah
pemikiran tentang Bahasa. Russell dan Wittgenstein melangkah lebih jauh atau
keyakinan onotologis memilih alternatif terbaik bagi aktivitas berfilsafat.
Tokoh pertama adalah Edmund Husserl selaku pendiri aliran fenomenologi ia telah
mempengaruhi pemikiran filsafat abad ke -20 ini secara amat mendalam.
Perkembangan
filsafat pada zaman ini ditandai oleh munculnya berbagai aliran filsafat dan
kebanyakan dari aliran itu merupakan lanjutan dari aliran filsafat yang telah
berkembang pada abad modern, seperti: neo-thomisme, neo-kantianisme,
neo-hegelianisme, neo-marxisme, neo-positivisme. Namun demikian ada pula
filsafat baru dengan cirri dan corak yang berbeda, yaitu: fenomenologi (Edmund
Husserl, 1859-1938), eksistensialisme (Jean Paul Sartre, 1905-1980),
pragmatisme (William James, 1842-1910), strukturalisme (Michel Foucault,
1926-1984) dan postmodernisasi (Francois Lyotard, 1924).
BAB
IV
PRINSIP-PRINSIP
METODOLOGI
A.
Beberapa
Pandangan tentang Prinsip Metodologis
1.
Rene Descartes
Dalam
karyanya “Discourse On Menthod”, risalah tentang metode, diajukan enam bagian
penting, yaitu:
a.
Membicarakan masalah ilmu-ilmu yang diawali dengan
menyebutkan akal sehat yang pada umumnya dimiliki semua orang.
b.
Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang
akan dipergunakan dalam aktivitas ilmiah.
c.
Menyebutkan beberapa kaidah moral yang jadi
landasan bagi penerapan metode.
d.
Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acapkali
terkecoh oleh indera
e.
Menegaskan perihal dualism dalam diri manusia,
yaitu jiwa bernalar dan jasmani yang meluas.
f.
Dua jenis pengetahuan yaitu spekulatif dan praktis.
2.
Alfred Jules
Ayer
Pemikiran Ayer
yang termuat dalam bukunya yang berjudul Language, Truth and Logic tersebut. Ajaran yang terpenting terkait
dengan masalah metodologis adalah prinsip Verifikasi. yang merupakan
pengandaian untuk melengkapi suatu kriteria, sehingga melalui kriteria tersebut
dapat ditentukan apakah suatu kalimat mengandung makna atau tidak.
Ayer seorang penganut Positivisme Logik yang
muncul kemudian, atau dapat dikatakan sebagai generasi penerus tradisi
Positivisme Logik, cmenyadari pula kelemahan yang terkandung dalam prinsip
pentasdikan yang diajukan Schlick itu.
3.
Karl Raimund Popper
Popper seorang filsuf kontemporer yang melihat
kelemahan dalam prinsip verifikasi berupa sifat pembenaran terhadap teori yang
telah ada. Ia mempunyai prinsip :
a.
Pertama, menolak anggapan umum bahwa suatu
teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarnya melalui prinsip vertifikasi.
b.
Kedua, cara kerja metode induksi yang secara
sistematis dimulai dari pengamatan secara yeliti gejala yang sedang diselidiki.
c.
Ketiga, menawarkan pemecahan baru dengan
mengajukan prinsip falsifiabilitas, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat
dibuktikan kesalahannya.
BAB
V
PERKEMBANGAN,
PENGERTIAN, DAN KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan
perkembangan kebudayaan manusia yang berlangsung secara bertahap, evolutif.
Oleh karena itu untuk memahami strategi pengembangan ilmu, maka kita perlu
mengetahui secara global sejarah perkembangan ilmu.
Sejarah perkembangan ilmu itu sendiri merupakan
suatu tahapan yang terjadi secara periodik. Setiap periodik menampilkan ciri
khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Sejarah perkembangan ilmu dan kebudayaan umat
manusia ditenggarai tidaklah terpusat di satu tempat tertentu.
Penemuan-penemuan empirik yang kelak melahirkan temuan-temuan ilmiah justru
menyebar dari Babylonia.
Mohammad Hatta menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan itu lahir karena manusia dihadapkan pada dua masalah, yaitu alam
luaran dan soal sikap hidup. Strategi pengembangan ilmu yang perlu dilakukan
dewasa ini, teritama di indonesia, harus belajar banyak pada sejarah
perkembangan ilmu di satu pihak.
A.
Periode
Perkembangan Ilmu
Perkembangan ilmu dapat diidentifikasi ke dalam
beberapa periode berikut:
1.
Periode Pra –
Yunani Kuno
Memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
a.
Know How dalam kehidupan sehari – hari yang
didasarkan kepada pengalaman
b.
Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman itu
doterima sebagai fakta dengan sikap recep-live
mind, keterangan masih dihubungkan dengan kekuatan magis.
c.
Kemampuan menemukan abjad dan sistem bilangan
alam sudah menampakan perkembangan pemikiran manusia ke tingkat abstraksi.
d.
Kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender
yang didasarkan atas sintesa terhadap hasil abstraksi yang dilakukan.
e.
Kemampuan meramalkan suatu peristiwa atas dasar
peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi.
2.
Zaman Yunani
Kuno
Zaman yang dipandang sebagai zaman keemasan dan
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk
mengungkapkan ide-ide pendapatnya.
b.
Masyarakat pada masa ini tidak lagi mempercayai
mitologi-mitologi, yang dianggap sebagai suatu bentuk pseudo-rasional.
c.
Masyarakat tidak dapat menerima pengelaman yang
didasarkan pada sikap receptive allitude
melainkan menumbuhkan sikap an inguiring
attitude
3.
Zaman
Pertengahan (Middle Age)
Era pertengahan ini ditandai dengan tampilnya
para theolog di lapangan ilmu pengetahuan di belahan dunia Eropa. Pada
zaman pertengahn ketika manusia Eropa berada dalam masa tidur panjang akibat
pengaruh dogma-dogma agama, maka kebudayaan Islam di jaman
dinasti abbasiyah berada pada puncak keemasannya.
Semboyan
yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah Ancilla Theologia, abadi agama.
Namun di timur terutama Negara islam justru terjadi perkembangan ilmu
pengetahuan yang pesat.
Sumbangan
sarjana Islam dapat di klasifikasikan dalam tiga bidang, yaitu:
a.
Menerjemahkan peninggalan bahasa yunani dan
menyebarluaskannya sedemikian rupa.
b.
Memperluas lapangan dalam lapangan ilmu kedokteran,
obat-obatan, astronomi, kimia, ilmu bumi dan ilmu tumbuh-tumbuhan.
c.
Menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
Ali
Kettani menengarai kemajuan umat Islam pada masa itu lantaran didukung oleh
semangat universalism, tolerance, international character of the market,
respect for science and scientist dan the Islamic nature of both the ends and
means of science.
4.
Zaman
Renaissance (14-17 M)
Ditandai sebagai era kebangkitan kembali
pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance adalah zaman peralihan
ketika kebudayaan abad tengah mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern.
Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi
tokoh-tokohnya yang terkenal seperti : Copernicus, Kepler, Galileo dalam bidang
ini menanamkan pengaruh yang kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Langkah-langkah yang dilakukan
Galileo dalam bidang ini menanamkan pengaruh yang kuat bagi pengaruh
perkembangan ilmu pengetahuan modern, karena menunjukan beberapa hal seperti:
pengamatan, penyingkiran atas segala peristiwa yang tidak diamati.
5.
Zaman Modern
(17-19M)
Zaman
modern ini ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan
ilmu pengetahuan pada masa ini menurut Slamet Iman Santoso sebenarnya memiliki
sember dari hubungan antara kerajaan islam di semenanjung Iberia dengan
negara-negara perancis, perang salib (1100-1300) dan istambul jatuh ke tangan
bangsa Turki pada tahun 1453.
Rene
Descrates dikenal dengan bapak filsafat Modern mengemukakan langkah-langkah
berfikir kritis adalah sebagai berikut:
a.
Tidak menerima apapun sebagai hal yang benar,
kecuali diyakini sendiri bahwa itu memang benar.
b.
Memilah-milah masalah menjadi bagian-bagian
terkecil untuk memudahkan penyelesaian.
c.
Berfikir runtun dengan mulai dari hal yang
sederhana sedikit demi sedikit untuk sampai ke hal yang paling rumit.
d.
Perincian yang lengkap dan pemeriksaan menyeluruh
diperlukan supaya tidak ada yang terlupakan.
6.
Zaman
Kontemporer ( abad 20 dan seterusnya)
Menurut
Trout, fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materinya
mengandung unsure-unsur fundamental yang membentuk alam semesta. Fisakawan
terkenal pada masa ini adalah Albert Einsten yang menyatakan bahwa alam semesta
itu bersifat kekal atau dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam.
Pada tahun 1929 Hubble dengan penemuanya menggunakan teropong bintang yang
sangat besar mengatakan teorinya yang menentang teori einsten yaitu bahwa alam
semesta itu tidak statis, melainkan dinamis, maka runtuhlah teori einsten.
Disamping
teori fisika yang merajai pada jaman ini maka banyak teori-teori lain yang
berkembang. Hal ini di tandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih seperti
teknologi komunikasi dan informasi, pada bidang lain seperti ilmu kedokteran
terjadinya spesialis-spesialis, subspesialis dan super spesialis.
B. Pengertian Ilmu
Istilah Ilmu dalam pengertian klasik dipahami
sebagai pengetahuan tentang sebab akibat atau asal usul. Istilah pengetahuan
biasanya dilawankan dengan pengertian opini, sedang istilah sebab (causa)
diambil dari kata yunani “ aitia” yakni prinsip pertama. Gaston Bachelard menyatakan ilmu pengetahuan adalah
suatu produk pemikiran manusia yang sekaligus menyesuaikan antara hukum-hukum
pemikiran dengan dunia luar. Bachelard menengarai bahwa adanya dua aspek
subjektif dan objekti melahirkan dua pandangan yang berbeda dalam epistemologi
yaitu pandangan rasionalisme dan realisme universal.
Van
Melsen mengemukakan beberapa ciri yang menandai ilmu yaitu: mencapai suatu
keseluruhan yang secara logis koheren, tanpa pamrih karena hal itu berkaitan
dengan tanggung jawab, universal ilmu pengertahuan, objektifitas, dapat
diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah bersangkutan, progresivitas, kritis dan
dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.
Lyotard
mengajukan beberapa argumentasi yang disyaratkan bagi pernyataan ilmiah yaitu
diakui aturan-aturan yang telah ditentukan alat argumentasi dan karakternya
sebagai bentuk permainan pragmatis. Rickert sebagaimana dikutip oleh Hatta
menyebutkan bahwa aktifitas ilmiah sangat di tentukan oleh metode yang dipilih.
Daoded Joesoef menunjukan bahwa pengertian ilmu
mengacu pada tiga hal : produk-produk, proses, masyarakat. Ilmu pengetahuan
sebagai produk yaitu pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenaranya
oleh masyarakat ilmuan.
Ilmu pengetahuan sebagai proses artinya
kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman dunis alami
sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki.
Ilmu pengetahuan sebagai
masyarakat artinya dunia pergaulan yang tindak tanduknya, perilaku dan sikap
serta tutur katanya diatur oleh empat ketentuan yaitu universalisme, komunalisme,
tanpa pamrih dan skeptisisme yang teratur.
C. Beberapa Pandangan
tentang Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
Klasifikasi atau penggolongan ilmu pengetahuan
mengalami perkembangan atau perubahan sesuai dengan semangat zaman. Ada
beberapa pandangan yang terkait dengan klasifikasi ilmu pengetahuan sebagai
berikut :
1.
Christian Wolff
(1679 – 1754)
Yang lebih dikenal sebagai pembela setia ajaran
– ajaran Leibnitz, namun disamping itu ia juga cukup gigih mengembangkan logika
matematik sistem filsafat yang terkait dengan berbagai lapangan pengetahuan
dengan mempergunakan sarana metode deduktif seperti yang dipakai dalam
matematik. Wolff mengklasifikasikan ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok
besar yaitu ilmu pengetahuan empiris, matematika dan filsafat. Tentang pokok
pikirannya mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan sebagai berikut :
a.
Dengan mempelajari kodrat pemikiran rasionl.
b.
Pengetahuan kemanusiaan terdiri atas ilmu-ilmu
murni dan filsafat praktis
c.
Ilmu – ilmu murni dan filsafat praktis
sekaligus merupakan produk metode berpikir deduktif
d.
Seluruh kebenaran pengetahuan diturunkan dari
hukum-hukum berpikir.
e.
Jiwa manusia dalam pandangan Wolff dibagi
menjadi 3 yaitu mengetahui, mengendaki dan merasakan
2.
Auguste Comte
(1791-1857)
Pada dasarnya penggolongan
ilmu pengetahuan yang dikemukakan sejalan dengan sejarah ilmu pengetahun itu
sendiri, yang menunjukan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling
umum akan tampil terlebih dahulu. Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan
sebagai berikut :
a.
Ilmu Pasti (Matematika)
Ilmu pasti merupakan dasar bagi semua ilmu
pengetahuan karena sifatnya yang tetap, abstrak dan pasti.
b.
Ilmu
perbintangan (astronomi)
Didasari dengan rumus-rumus ilmu pasti, maka
ilmu pengetahuan dapat menyusun hukum-hukum yang bersangkutan dengan
gejala-gejala benda langit.
c.
Ilmu alam (fisika)
Merupakan ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu
perbintangan, maka pengetahuan mengenai benda-benda langit merupakan dasar bagi
pemahaman gejala-gejala dunia anorganik.
d.
Ilmu kimia (chemistry)
Gejala lebih komplek dari pada ilmu alam, dan
ilmu kimia mempunyai kaitan dengan ilmu hayat bahkan juga dengan sosiologi.
e.
Ilmu hayat
Merupakan ilmu komplek dan berhadapan dengan
gejala-gejala kehidupan.
f.
Fisika Sosial
Merupakan urutan tertinggi dalam penggolongan
ilmu pengetahuan, yang paling lonkret dan khusus yaitu gejala yang berkaitan
dengan kehidupan umat manusia dalam berkelompok.
3.
Karl Raimund
Popper
Mengemukakan bahwa sistem
ilmu pengetahuan manusia dapat dikelompokan dalam 3 dunia : bahwa dunia 1
merupakan kenyataan fisis dunia, sedang dunia 2, adalah kejadian dan kenyataan psikis dalam diri manusia, dunia 3, gejala
hipotesa, hukum dan teori ciptaan manusia dan hasil kerjasama antara dunia 1
dan dunia 2 serta seluruh bidang kebudayaan.
4.
Thomas S. Kuhn
Pandangan Kuhn merespon pendapat Popper yang
terlebih dahulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesa
untuk kemudian diberlakukan prinsip falsifikasi. Sejarah ilmu pengetahuan hanya
dipergunakan Popper sebagai “bukti” untuk mempertahankan pendapatnya. Ia jusru
lebih mementingkan sejarah ilmu sebagai titik tolak penyelidikan. Kuhn
berpendapat bahwa perkembangan atau kemajuan ilmiah bersifat revolusioner.
Menurut Kuhn cara kerja paradigm dan terjadinya revolusi ilmiah dapat di
gambarkan ke dalam tahap-tahap sebagai berikut:
a.
Tahap pertama; paradigma ini membimbing dan
mengarahkan aktifitas ilmiah dalam masa ilmu normal.
b.
Tahap kedua; menumpuknya anomaly menimbulkan
krisis kepercayaan dari para ilmuan \terhadap paradigm.
c.
Tahap ketiga; para ilmuan bisa kembali lagi
pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu
paradigm tandinagn yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing
aktifitas ilmiah berikutnya.
5.
Jurgen Habermas
Pandangan
Jurgen Habermas tentang klasifikasi ilmu pengetahuan sangat terkait dengan
sifat dan jenis ilmu, pengetahuan yang dihasilkan, akses kepada realitas dan
tujuan ilmu pengetahuan itu dsendiri. Dalam hal ini Ignas Kleden menunjukan tiga
jenis metode ilmiah berdasarkan sifat dan jenis ilmu seperti terlihat pada
table berikut:
IKHTISAR EPISTEMOLOGI BERDASAR ATAS SIFAT DAN
JENIS ILMU
|
Sifat ilmu
|
Jenis ilmu
|
Pengetahuan
yang dihasilkan
|
Akses kepada
realitas
|
Tujuan
|
|
Empiris - emiris
|
Ilmu alam dan
sosial empiris
|
Informasi
|
Observasi
|
Penguasaan
teknik
|
|
Historis -
hermeneutis
|
Humaniora
|
Interprestasi
|
Pemahaman
arti via bahasa
|
Pengembangan
inter subjektif
|
|
Social-kritis
|
Ekonomi,
sosiologi, politik
|
Analisis
|
Self-reflection
|
Pembebasan kesadaran
non refleksi
|
BAB VI
STRATEGI
PENGEMBANNGAN ILMU DI INDONESIA
A.
Ilmu ; Bebas
Nilai atau Tidak
Kehati-hatian Weber dalam memutuskan apakah
ilmu itu bebas nilai atau tidak, bisa dipahami mengingat di satu pihak
objektifitas merupakan cirri mutlak ilmu pengetahuan, sedang dipihak lain
subjek yang mengembangkan ilmu (ilmuwan) dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut
menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya. Oleh karena itu
perlu dirumuskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bebas nilai.(value
free) itu.
Paling tidak ada tiga faktor sebagai indikator
bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu ;
1.
Ilmu itu harus bebas dari
pengandaian-pengandaian yaknibebas dari pengaruh eksternal.
2.
Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi
ilmu pengetahuan.
3.
Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan
etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu
sendiri bersifat universal.
B.
STRATEGI PENGEMBANNGAN ILMU DI INDONESIA
Model
pembangunan ilmu sangat terkait dengan pembangunan, sebab ilmu merupakan
prasyarat bagi pembangunan. Beberapa syarat yang dibutuhkan bagi strategi
pengembangan ilmu di Indonesia adalah:
1.
Terbentuknya masyarakat ilmiah yang memiliki
kekuatan tawar-menawar, baik dengan pemerintah maupun dengan
perusahaan-perusahaan besar.
2.
Pengembangan ilmu di Indonesia tidak bebas nilai,
melainkan harus memperlihatkan landasan metafisis, epistemologi dan aksiologis
dari pandangan hidup bangsa Indonesia.
3.
Pengembangan ilmu di Indonesia haruslah
memperhatikan relasi antara ilmu tanpa mengorbankan otonomi antara
masing-masing disiplin ilmu.
4.
Pengembangan ilmu di Indonesia harus memperhatikan
dimensi religiulitas, karena masyarakat Indonesia masih sangat kental dengan
nuansa religius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar