https://soundcloud.com/alfian-chryz/vroom-vroom

Sabtu, 15 Oktober 2016

DINASTI FATIMIAH DI MESIR ( 909-1171 M )



DOSEN PENGAMPU
Prof. Dr. H. A. Hafiz Anshari, MA
Dr. H. Faisal Mubarak, MA
MATA KULIAH
Sejarah Pemikiran dan Peradapan Islam
                      

DINASTI FATIMIYAH DI MESIR (909-1172 M)


OLEH
NORA SUNARYO PUTRI
1502521458





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2015


KATA PENGANTAR


Dengan rahmat dan hidayah Allah Alhamdulillah pemakalah dapat menyelesaikan tugas yang berjudul “Dinasti Fatimiyah di Mesir (909-1172 M)dengan harapan ini dapat bermanfaat terutama bagi pemakalah sendiri dan bagi orang lain.
Pada dasarnya tugas ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan tentu saja saran dan koreksi sangat diharapkan dari semua pihak untuk perbaikan tugas ini.
Terima kasih kepada dosen pengasuh dalam membimbing mahasiswanya selama memberikan mata kuliahnya. Semoga apa yang disajikan dalam tugas ini bermanfaat bagi kita semua. Amin ya Rabbal ‘Alamin



 

Banjarmasin,    September 2015


Pemakalah


DAFAR ISI


KATA PENGANTAR.....................................................................................       i
DAFTAR ISI.....................................................................................................      ii

BAB I   PENDAHULUAN..................................................................................      1
 
BAB II  PEMBAHASAN
A.    Awal Pembentukan dan Perkembangan Dinasti Fatimiyah...............................................................................      2
B. Khalifah Daulah Fatimiyah .................................................      4
C.     Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap Peradaban Islam..............................................  10
D.    Masa Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Fatimiyah.........................................................................    15

BABII  PENUTUP...........................................................................................    20
 
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................    21

BAB I
PENDAHULUAN

Loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib adalah isu terpenting bagi komunitas Syi’ah untuk mengembangkan konsep Islamnya, melebihi isu hukum dan mistisme. Pada abad ke- VII dan ke- VIII M, isu tersebut mengarah kepada gerakan politis dalam bentuk perlawanan kepada Khalifah Umaiyah dan Khilafah Abbasiyah. Meski Khilafah Abbasiyah mampu berkuasa dalam tempo yang begitu lama, akan tetapi periode keemasannya hanya berlansung singkat. Puncak kemerosotan kekuasaan khalifah-khalifah Abbasiyah ditandai dengan berdirinya khilafah-khilafah kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan politik Khalifah Abbasiyah.
Khilafah-khilafah yang memisahkan diri itu salah satu diantaranya adalah Fatimiyah yang berasal dari golongan Syi’ah sekte Ismailiyah, yakni sebuah aliran sekte di Syi’ah yang lahir akibat perselisihan tentang pengganti imam Ja’far al-Shadiq yang hidup antara tahun 700-756 M. Fatimiyah hadir sebagai tandingan bagi penguasa Abbasiyah yang berpusat di Baghdad yang tidak mengakui kekhalifahan Fatimiyah sebagai keturunan Rasulullah dari Fatimah. Karena mereka menganggap bahwa merekalah ahlul bait sesungguhnya dari Bani Abbas.
Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pusat peradaban Islam di mesir dengan penglima perang dinasti Fatimiyah. Diantaranya:
1.      Awal Pembentukan dan Perkembangan Dinasti Fatimiyah
2.      Khalifah Daulah Fatimiyah
3.      Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap Peradaban Islam
4.      Masa Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Fatimiyah

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Awal Pembentukan dan Perkembangan Dinasti Fatimiyah
Dr. Aiman Fuad Rasyid dalam bukunya Daulah Fatimiyah fil Misr mengatakan, setelah meninggalnya Imam Ja’far As-Shadiq, anggota sekte Syiah Ismailiyah berselisih pendapat mengenai sosok pengganti sang imam. Ismail, putra Ja’far yang ditunjuk secara nash sebagai penggantinya, telah meninggal terlebih dahulu pada saat bapaknya masih hidup. Pada saat yang sama, mayoritas pengikut Ismailiyah menolak penunjukan Muhammad yang merupakan putra Ismail. Padahal, menurut mereka, terdapat sosok Musa Al-Kadzhim yang dinilai lebih pantas memegang tampuk kepemimpinan. Maka berdasarkan kesepakatan, diangkatlah Musa Al-Khazim sebagai imam mereka, manggantikan bapaknya sendiri.[1]
            Sekte Ismailiyah ini pada awalnya tetap tidak jelas keberadaannya, sehingga datanglah Abdullah ibn Maimun yang kemudian memberi bentuk terhadap sistem agama dan politik Ismailiyah ini. Menurut Van Grunibaum, pada tahun 860 M kelompok ini pindah ke daerah Salamiya di Syiria dan disinilah mereka membuat suatu kekuatan dengan membuat pergerakan propagandis dengan tokohnya Said ibn Husein. Mereka secara rahasia menyusup utusan-utusan  keberbagai daerah Muslim, terutama Afrika dan Mesir untuk menyebarkan Ismailiyat kepada rakyat. Dengan cara inilah mereka membuat landasan pertama bagi munculnya Dinasti Fatimiyah di Afrika dan Mesir.[2]
            Pada tahun 874 M muncullah seorang pendukung kuat dari Yaman bernama Abu Abdullah al-Husein yang kemudian menyatakan dirinya sebagai pelopor al mahdi. Abdullah al-Husein kemudian pergi ke Afrika Utara, dan karena pidatonya yang sangat baik  dan berapi-api ia berhasil mendapatkan dukungan dari suku Barbar Ketama. Selain itu, ia mendapat dukungan dari seorang Gubernur Ifrikiyah yang bernama Zirid. Philip K Haiti menyebutkan bahwa setelah mendapatkan kekuatan yang diandalkan ia menulis surat kepada Imam Ismailiyat (Said ibn Husein) untuk datang ke Afrika Utara, kemudian Said diangkat menjadi pemimpin pergerakan[3]. Pada tahun 909 M, Said berhasil mengusir Ziadatullah seorang penguasa  Aghlabid terakhir untuk keluar dari negrinya. Kemudian, Said diproklamasikan menjadi imam pertama dengan gelar Ubaidillah al-Mahdi. Dengan demikian berdirilah pemerintahan Fatimiyah pertama di Afrika dan al Mahdi menjadi khalifah pertama dari dinasti Fatimiyah yang bertempat di Raqpodah daerah al-Qayrawan.
            Pada tahun 914 M mereka bergerak kearah Timur dan berhasil menaklukkan Alexanderia, menguasai Syiria, Malta, Sardinia, Cosrica, pulau Betrix dan pulau lainnya. Selanjutnya pada tahun 920 M ia mendirikan kota baru di pantai Tusinia yang kemudian diberi nama al-Mahdi. Pada tahun 934 M, al-Mahdi wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Abu al-Qosim dengan gelar al-Qoim (934 M/ 323 H). Pada tahun 934 M al-Qoim mampu menaklukkan Genoa dan wilayah sepanjang Calabria. Pada waktu yang sama ia mengirim pasukan ke  Mesir tetapi tidak berhasil karena sering dijegal oleh Abu Yazid Makad, seorang khawarij di Mesir. Al-Qoim meninggal, kemudian digantikan oleh anaknya al-Mansur yang berhasil menumpas pemberontakan Abu Yazid Makad.[4]
            Pada tahun 945 M bani Fatimiyah sudah berhasil memantapkan diri di Tunisia dan menguasai beberapa daerah sekelilingnya dan Sisilia. Kemajuan-kemajuan yang paling penting terjadi selama pemerintahan al-Muiz adalah ia mempunyai seorang Jendral yang cemerlang yaitu Jauhar. Dalam bagian awal pemerintahan, Jauhar memimpin suatu pasukan penakluk ke atlentik, dan keunggulan Fatimiyah ditegakkan atas seluruh Afrika Utara. Kemudian al-Muiz mengalihkan perhatiannya ke Timur. Jelas tersirat dalam pendirian bani Fatimiyah bahwa mereka harus mencoba untuk menguasai pusat dunia Islam dan dua pendahulunya telah melakukan perjalanan penaklukan yang tidak berhasil terhadap Mesir. Sekarang, persiapan-persiapan cermat termasuk propaganda politis (yang dibantu oleh bencana kelaparan hebat di Mesir). Jauhar menerobos Kairo Lama (al-Fustat) tanpa  mengalami  kesulitan yang berarti dia bisa menguasai negara ini. Seorang pangeran Ikhshidiyah secara resmi masih berkuasa, tetapi rezim Ikhshidiyah sudah tidak berfungsi lagi dan tidak memberikan perlawanan pada Jauhar. Nama khalifah Abbasiyah serta merta dihilangkan dari do’a ibadah Jum’at, walaupun cara-cara ibadah Ismailiyah hanya dimasukkan secara bertahap. Jauhar segera mulai membangun sebuah kota baru bagi tentaranya yang diberi nama al-Qahirah yang berarti kota kemenangan atau disebut juga dengan Kairo. Pada tahun 973 M kota Kairo menjadi kediaman imam atau khalifah Fatimiyah dan pusat pemerintahan.[5]

B.     Khalifah Daulah Fatimiyah
Khalifah-khalifah daulah Fatimiyah secara keseluruhan ada empat belas orang yaitu:
1.      Abu Muhammad Abdullah (Ubaydillah) al-Mahdi billah (909 M - 934 M).
Penguasa sekaligus pendiri Dinasti Fatimiyah ini mempunyai nama asli Sa’id bin al-Husayn al-Salmiyah dengan gelar Ubayd Allah al-Mahdi yang menegakkan pemerintahannya di istana Aghlabiyah yaitu Raqqadah (terletak di pinggiran kota Qairawan) setelah dapat mengusir Ziyadatullah pada tahun 909 M/297 H., penguasa Aghlabi yang terakhir.[6] al-Mahdi adalah pemimpin yang sangat cakap dan berbakat, dua tahun setelah berkuasa ia membunuh pemimpin propagandanya, Abu Abd Allah al-Husayn al-Shi’i karena terbukti bersekongkol dengan saudaranya sendiri, Abu al-Abbas untuk melancarkam kudeta  terhadap dirinya.
2)    Abul-Qasim Muhammad al-Qa’im bi Amr Allah bin al-mahdi Ubaidillah
    ( 934-946 M. / 322-334 H. )
Al-Mahdi wafat pada tahun 934 M./322 H. dan digantikan oleh putra tertuanya Abu al-Qasim yang bergelar al-Qaim bi Amr Allah. Ia meneruskan gerakan ekspansi yang telah dimulai oleh ayahnya. Pada tahun 934 M, ia mengerahkan pasukan dalam jumlah besar ke daerah selatan pantai prancis.Ia adalah pemimpin pemberani, hampir setiap ekspsdisi militer ia pimpin sendiri, sehingga dalam tahun pertama kekhalifannya, ia berhasil menduduki Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria. Mereka melancarkan pembunuhan, penyiksaan, pembakaran kapal-kapal, dan merampas budak-budak. pada tahun yang sama ia mengerahkan pasukan ke Mesir namun dapat dikalahkan oleh dinasti Ikhsidiyah sehingga mereka terusir dari Iskandariyah. [7] Al-Qa’im meninggal dunia pada tahun 946 M.
3)   Abu Zahir Isma’il al-Mansur billah ( 946-952 M. / 334-341 H. )
Al-Mansur adalah pemuda yang lincah dan berani, ia menggantikan ayahnya dalam usia 27 tahun. Meskipun hanya memerintah selama 7 tahun 6 hari, ia masih bisa menjaga kedaulatan Dinasti Fatimiyah meskipun putra Abu Yazid Makad dan sejumlah pengikutnya senantiasa menimbulkan keributan. Ia juga membangun sebuah kota  di wilayah  perbatasan Susa’ pada tahun 337 H./949M. yang diberi nama al-Mansuriyyah,
4)   Abu Tamim Ma’ad al-Mu’izz li Dinillah ( 952-975 M. /341-365  H. )
Setelah al-Mansur meninggal dunia pada hari Jum’at akhir Shawal 341 H/952 M., ia digantikan putranya, Abu Tamim Ma’ad dengan gelar al-Mu’izz li Din Allah. Penobatan  al-Mu’izz sebagai khalifah keempat menandai era baru Dinasti Fatimiyah, karena di samping pusat pemerintahan sudah berpindah dari al-Mahdiyah ke al-Qahirah yang dibangun oleh panglima perangnya, Jawhar al-Siqilli (al-Saqali).
Selanjutnya Mu’iz mendirikan masjid Al-Azhar. Masjid ini oleh khalifah Al-Aziz dijadikan sebagai pendidikan tinggi Al-Azhar.  Universitas Al-Azhar yang berkembang di masa sekarang ini bermula dari pendidikan tinggi ini.[8]
Khalifah Mu’iz meninggal pada tahun 975 M, setelah memerintah selama 23 tahun.
5)   Abu Mansur Nizar al-‘Aziz billah ( 975-996 M. / 365-386 H. )
Abu Mansur Nizar (lahir pada tahun 344 H./954 M.) menggantikan ayahnya pada bulan Rabi’ al-Awwal 365 H. memasuki  tahun ke-22 dari umurnya dengan gelar al-‘Aziz bi Allah, ia terkenal sangat pemurah dan bijaksana bahkan terhadap musuh-musuhnya sekalipun. Puncak kekuasaan Dinasti Fatimiyah adalah pada saat pemerintahannya yang meliputi dari wilayah Euprat sampai Atlantik, melampaui kekuasaan dinasti Abbasiyah di Baghdad yang sedang memasuki masa kemunduran dibawah kekuasaan Buwaihiyah
6)   Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi-amrullah ( 996-1021 M. / 386-411 H. )
Al-‘Aziz digantikan oleh anaknya yang bernama Abu Ali  Mansur (lahir pada bulan Rabi’ al-Awwal 875 H./985 M.) dengan gelar al-Hakim bi Amr Allah yang masih berumur 11 tahun.
Prestasi besar dalam pemerintahannya adalah pembangunan sejumlah masjid, perguruan-perguruan dan pusat observatorium astrologi, tahun 395 H./1005 M. ia merampungkan pembangunan Dar al-Hikmah sebagai sarana penyebaran ajaran-ajaran Shi’ah dan pada tahun 403 H./1013 M.. ia mendirikan al-Jam’iyyah al-‘IlmiyyahAkademia” dari berbagai disiplin ilmu seperti Fiqh, mantiq, Filsafat, matematika, kedokteran dan lainnya, setelah itu seluruh kitab yang ada di Dar al-Hikmah ia pindahkan ke masjid al-Azhar. Tetapi pada tangaal 13 Pebruari 1021 M./411 H. Ia terbunuh di Mukatam, kemungkinan konspirasi yang dipinpin oleh adik perempuannya yang bernama Sitt al-Mulk yang telah diperlakukan tidak hormat oleh khalifah.

7)    Abu’l Hasan ‘Ali al-Zahir li-I’zaz Dinillah ( 1021-1035 M. / 411-427 H. )
Al-Hakim digantikan oleh putranya  yang bernama Abu Hashim dengan gelar al-Zahir li I’zaz din Allah (lahir 10 Ramad}an 395 H./1005 M.), ia naik tahta pada usia 16 tahun sehingga pemerintahannya dipegang oleh bibinya Sitt al-Mulk, sepeninggal bibinya (tahun 415 H./1025 M.), ia menjadi raja boneka dari menteri-menterinya.
Peristiwa yang paling terkenang pada masa ini adalah penyelesaian persengketaan kegamaan pada tahun 1025 di mana tokoh-tokoh madzhab Malikiyah diusir dari Mesir.
8)   Abu Tamin Ma’add al-Mustansir bi-llah ( 1035-1094 M. / 427-487 H. )
Al-Zahir diganti oleh anaknya yang bernama Abu Tamim Muhammad dengan gelar al-Mustansir bi Allah, ia menjabat sebagai khalifah selama enam puluh tahun empat bulan yang merupakan pemerintahan terpanjang dalam sejarah.
Pada masa al-Mustansir, kekuasaan Dinasti Fatimiyah mengalami kemunduran secara drastis, relatif tidak ada perkembangan  kecuali pembangunan teropong bintang, beberapa kali terjadi perebutan perdana menteri dan terjadi pemberontakan dan peperangan seperti Marokko menyatakan bebas dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah pada tahun 443 H., Mekkah dan Madinah memisahkan diri pada tahun 462 H. dan di Yaman nama Khalifah telah tidak disebut-sebut lagi pada waktu khatbah jum’at.
9)   Al-Musta’li bi-llah ( 1094-1101 M. / 487-495 H. )
Putra termuda dari al-Mustansir yaitu Abu al-Qasim Ahmad yang bergelar al-Musta’li bi Allah menduduki jabatan khalifah sepeninggal ayahnya, tetapi putra al-Mustansir yang tertua, Nizar menolak penobatan adiknya lalu ia bangkit di Ikandariyah setelah memecat  Gubernur wilayah tersebut, disana ia memproklamirkan diri sebagai khalifah dengan gelar al-Mustafa li Din Allah. Ketika  al-Musta’li tahu kejadian tersebut, maka al-Malik al-Afdal sebagai orang yang mengangkat al-Musta’li membawa bala tentara untuk menangkap Nizar dan memenjarakannya sampai meninggal.
Dengan kejadian ini, rakyat terpecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Musta’li dan Nizari. Kaum Nizari Isma’iliyah sebagian berada di Shiria dan sebagian di pegunungan Persia Barat dibawah pinpinan Hassan assabah, gerakan inilah yang kemudian dikenal dengan Asasin yang berasal dari kata Hasyasyin.
10)Al-Amir bi-Ahkamullah ( 1101-1130 M. / 495-524 H. )
Setelah al-Musta’li meninggal dunia, anaknya yang masih berumur lima tahun dinobatkan oleh al-Malik al-Afdal sebagai khalifah dengaan gelar kehormatan al-Amir li Ahkam Allah . al-Malik al-Afdal adalah perdana menteri yang berkuasa secara absolut selama 20 tahun, termasuk ketika al-Amir telah dewasa dan merupakan raja Mesir yang sesungguhnya selama 50 tahun
11) ’Abd Al-Majid Al-Hafiz ( 1130-1149 M. / 524-544 H. )
Setelah menjadi korban pembunuhan kelompok Nizariyyah/batiniyyah, sepupunya yang bernama Abu al-Maymun Abd al-Majid al-Hafiz memproklamirkan diri sebagai khalifah. Pemerintahanmya banyak diwarnai dengan perpecahan antara unsur-unsur kemiliteran.
12) Al-Zafir ( 1149-1154 M. / 544-549 H. )
Setelah kematian al-Hafiz, Putranya yang bernama Abu Mansur Isma’il  dengan gelar al-Zafir. Ia masih berumur tujuh belas tahun ketika dinobatkan menjadi khalifah. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan sembrono yang lebih memikirkan urusan perempuan dan musik dari pada urusan politik dan pertahanan, meskipun sebenarnya ia hanyalah seorang boneka dari seorang wazir dari Kurdistan, Abu al-Hasari bin al-Sallar  yang menyebut dirinya al-Malik al-‘Adil yang kemudian terbunuh dan posisi wazir digantikan oleh Abbas. Pada tahun 1153 M./548 H. al-Zafir dibunuh oleh Nasr ibn Abbas.
13. Al-Faiz ( 1154-1160 M. / 549-555 H. )
Dua hari setelah kematian al-Zafir, putranya yang masih berumur empat tahun, Abu al-Qasim Isa dinobatkan sebagai khalifah oleh Abbas dengan gelar al-Faiz, khalifah kecil ini meninggal dunia pada usia sebelas tahun, lalu digantikan oleh sepupunya al-‘Adid.

14. Abu Muhammad Abd Allah al-‘Adid ( 1160-1171 M. / 555-567 H. )
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abd Allah al-‘Adid, ia masih berumur sembilan tahun ketika dinobatkan sebagai khalifah yang ke empat belas (khalifah terakhir dari Dinasti Fatimiyah), karena segera disusul penyerangan Almaric, Raja Yerusalem ke Mesir pada tahun 1167 M./562 H. dan terus menerus terjadi perebutan kekuasaan sampai datang  Salah al-Din al-Ayyubi yang menggantikan pamannya, Syirkuh sebagai wazir  pada tahun 1169 M./564 H.

Pekerjaan Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan umat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah putri Rasul dan istri dari Ali ibn Abi Thalib. Tugas yang selanjutnya diperankan oleh Muiz yang mempunyai seorang Jendral bernama Jauhar Sicily yang dikirim untuk menguasai Mesir sebagai pusat dunia Islam zaman itu. Berkat perjuangan Jendral Jauhar, Mesir dapat direbut dalam masa yang pendek. Tugas utamanya adalah:
a.      Mendirikan Ibu Kota baru yaitu Kairo
b.      Membina suatu Universitas Islam yaitu al-Azhar
c.      Menyebarluaskan Ideologi Fatimiyah yaitu Syi’ah, ke Palestina, Syiria dan Hijaz.[9]

Setelah itu baru khalifah Muiz datang ke Mesir tahun 362 H/973 M memasuki kota Iskandariyah, kemudian menuju Kairo dan memasuki kota yang baru. Tiga tahun kemudian Muiz meninggal dunia dan digantikan oleh Aziz. Sesudah itu digantikan oleh al-Hakim yang melanjutkan pembangunan daulah Fatimiyah. Hakim memerintah selama 25 tahun, jasanya yang besar adalah mendirikan Darul Hikmah[10] yang berfungsi sebagai akademi yang sejajar dengan lembaga di Cordova dan Bagdad. Dilengkapi dengan perpustakaan yang bermana Dar al-Ulum yang diisi dengan bermacam-macam buku dengan berbagai ilmu.

C.    Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap Peradaban Islam
Sumbangan Dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam sangat besar sekali, baik dalam sistim pemerintahan maupun dalam bidang keilmuan. Kemajuan yang terlihat pada masa kekhalifahan al-Aziz yang bijaksana diantaranya sebagai berkut:
1.      Bidang Politik dan Pemerintahan
Pada masa pemerintahan Fatimiyah, kepada Negara dipimpin oleh seorang imam atau khalifah, para imam bagi fatimi memang sesuatu yang diwajibkan, ini merupakan penerapan kekuasaan yang turun temurun, mulai dari Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, kemudian selanjutnya di teruskan oleh para imam. Imamah ini diwariskan dari seorang bapak kepada anak laki-laki yang paling tua dari keturunan mereka. Dan menjadi syarat penting yang harus dipenuhi dalam pengangkatan seorang imam adalah adanya nash atau wasiat khusus dari imam sebelumnya.[11] Baik wasiat yang di kemukakan di hadapan umat islam secara umum, atau hanya diketahui oleh orang-orang tertentu sebagian dari mereka saja.
Para imam didinasti fatimiyah, mereka anggap sebagai penjelmaan Allah di bumi, meraka menjadikan Imam-imam sebagai tempat rujukan utama dalam syariat, dan orang paling dalam ilmunya.
Selanjutnya dari segi politik juga daulat fatimiyah membentuk wazir-wazir (wazir tanfiz dan wazir tafwid). Wazir ini dibentuk pada masa Aziz billah  pada bulan Ramadhan tahun 367H/979 M.[12]
Disamping itu daulat fatimiyah juga membentuk dewan-dewan dalam pemerintahannya diantaranya, dewan majlis , dewan nazar, dewan tahkik (sekretaris) dewan barid (pos), dewan tartib (keamanan), dewan kharraj (pajak) dan lain-lainnya.[13]
Bentuk pemerintahan pada masa Fatimiyah merupakan suatu bentuk pemerintahan yang dianggap sebagai pola baru dalam sejarah Mesir. Dalam pelaksanaannya Khalifah adalah kepala yang bersifat temporal dan spiritual. Pengakatan dan pemecatan penjabat tinggi berada di bawah kontrol kekuasaan Khalifah.
Mentri-mentri Wazir kekhalifahan dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok Militer dan Sipil. Yang dibidangi oleh kelompok Militer diantaranya: urusan tentara, perang, pengawal rumah tangga khalifah dan semua permasalahan yang menyangkut keamanan. Yang termasuk kelompok Sipil diantaranya:
a.      Qadi, yang berfungsi sebagai hakim dan direktur percetakan uang
b.      Ketua dakwah, yang memimpin Darul Hikmah
c.      Inspektur pasar, yang membidangi bazar, jalan dan pengawasan timbangan
d.     Bendaharawan Negara, yang membidangi Baitul Mal
e.      Wakil kepala urusan rumah tangga Khalifah
f.       Qori, yang membaca al-Qur’an bagi Khalifah kapan saja dibutuhkan.

Selain dari penjabat di istana ini ada beberapa pejabat lokal yang diangkat oleh Khalifah untuk mengelola bagian wilayah Mesir, Siria, dan Asia kecil. Ketentaraan dibagi ke dalam tiga kelompok:
1)      Amir-amir yang berdiri dari pejabat-pejabat tinggi dan pengawal Khalifah
2)      Para Obsir Jaga
3)      Resimen yang bertugas sebagai Hafizah Juyudsiah dan Sudaniyah.


2.      Pemikiran dan Filsafat
Dalam menyebarkan tentang kesyi’ahannya Dinasti Fatimiyah banyak menggunakan filsafat Yunani yang mereka kembangkan dari pendapat-pendapat Plato, Aristoteles dan ahli-ahli filsafat lainnya.[14] Kelompok ahli filsafat yang paling terkenal pada Dinasti Fatimiyah adalah ikhwanu shofa. Dalam filsafatnya kelompok ini lebih cendrung membela kelompok Syi’ah Islamiyah, dan kelompok inilah yang menyempurnakan pemikiran-pemikiran yang telah dikembangkan oleh golongan Mu’tazilah.
Beberapa tokoh filsuf yang muncul pada masa Dinasti Fatimiyah ini adalah:
1)      Abu Hatim Ar-Rozi, dia adalah seorang da’i Ismaliyat yang pemikirannya lebih banyak dalam masalah politik, Abu Hatim menulis beberapa buku dia ntaranya kitab Azzayinah yang terdiri dari 1200 halaman. Di dalamnya banyak membahas masalah Fiqh, filsafat dan aliran-aliran dalam agama.
2)      Abu Abdillah An-Nasafi, dia adalah seorang penulis kitab Almashul. Kitab ini lebih banyak membahas masalah al-Ushul al-Mazhab al-Ismaily. Selanjutnya ia menulis kitab Unwanuddin Ushulus syar’i, Adda’watu Manjiyyah. Kemudian ia menulis buku tentang falak dan sifat alam dengan judul Kaunul Alam dan al-Kaunul Mujrof .
3)      Abu Ya’qup as Sajazi, ia merupakan salah seorang penulis yang paling banyak tulisannya
4)      Abu Hanifah An-Nu’man Al-Magribi
5)      Ja’far Ibnu Mansyur Al-Yamani
6)      Hamiduddin Al-Qirmani.[15]


3.      Pendidikan dan Iptek
Seorang ilmuan yang paling terkenal pada masa Fatimiyah adalah Yakub Ibnu Killis. Ia berhasil membangun akademi-akademi keilmuan yang mengahabiskan ribuan Dinar perbulannya. Pada masanya, ia berhasil membesarkan seorang ahli fisika yang bernama Muhammad Attamimi. Disamping Attamimi ada juga seorang ahli sejarah yang bernama Muhammad Ibnu Yusuf Al Kindi dan Ibnu Salamah Al Quda’i. seorang ahli sastra yang muncul pada masa Fatimiyah adalah Al Aziz yang berhasil membangun masjid Al Azhar.[16]
Kemajuan keilmuan yang peling fundamental pada masa Fatamiyah adalah keberhasilannya membangun sebuah lembaga keilmuan yang disebut Darul Hikam atau Darul Ilmi yang dibangun oleh Al Hakim pada tahun 1005 Masehi.
Ilmu astronomi banyak dikembangkan oleh seorang astronomis yaitu Ali Ibnu Yunus kemudian Ali Al Hasan dan Ibnu Haitam. Dalam masa ini kurang lebih seratus karyanya tentang matematika, astronomi, filsafat dan kedokteran telah dihasilkan.
Pada masa pemerintahan Al Hakim didirikan Bait Al Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al Makmun di Bahgdad. Pada masa Al Muntasir terdapat perpustakaan yang di dalamnya berisi 200.000 buku dan 2.400 Illuminated Al-Qur’an  ini merupakan bukti kontribusi Dinasti Fatimiyah bagi perkembangan budaya Islam.
4.      Ekonomi dan Perdagangan
Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan fitalitas kultural yang mengungguli Irak dan daerah-daerah lainnya. Hubungan dagang dengan dunia non Islam dibina dengan baik termasuk dengan India dan negeri-negeri mediterania yang beragama Kristen.
Pada suatu festival, Khalifah kelihatan sangat cerah dan berpakaian indah. Istana Khalifah yang dihuni oleh 30.000 orang terdiri dari 1.200 pelayan dan pengawal juga terdapat masjid-masjid, perguruan tinggi, rumah sakit dan pemondokan Khalifah yang berukuran sangat besar menghiasi kota Kairo baru. Pemandian umum yang dibangun dengan baik terlibat sangat banyak disetiap tempat di kota itu. Pasar yang mempunyai 20.000 toko luar biasa besarnya dan dipenuhi berbagai produk dari seluruh dunia. Keadaan ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang begitu berlimpah dan kemajuan ekonomi yang begitu hebat pada masa Fatimiyah di Mesir.
 Disegi pertanian Dinasti Fatimiyah juga mengalami peningkatan, keberhasilan pertanian di mesir pada masa ini bisa di kelompokkan kepada dua sector. 
a.      Daerah pinggiran-pinggiran sungai Nil
b.      Tempat-tempat yang telah ditentukan pemerintah untuk dijadikan lahan pertanian.

Sungai Nil merupakan sebagian pendukung bagi kelansungan hidup orang-orang Mesir, kadang-kadang sungai nil ini menuai penyusutan air sehingga masyarakat merasa kesulitan untuk mengambil air untuk diminum, untuk binatang ternak, maupun untuk pengairan tanam-tanaman mereka, namun sebaliknya adakalanya sungai nil ini pasang naik, sehingga dataran-dataran Mesir kebanjiran, menyebabkan kerusakan lahan dan tanaman. Untuk mengatasi hal tersebut mereka membikin gundukan-gundukan dari tanah dan batu sebatas tinggi air takkala banjir.[17]
Mereka membagi waktu untuk bercocok tanam dalam dua musim :
1)      Musim dingin, (bulan Desember sampai bulan maret) dengan aliran-aliran dari selokan sungai nil, pada musim ini mereka biasa menanam gandum, kapas, pohon rami.
2)      Musim panas, (bulan april sampai bulan juli) karena air sungai nil mulai surut, maka mereka mengairi sawah ladang dengan mengangkat air dengan alat. Pada musim ini mereka menanam padi, tebu, semangka, anggur, jeruk, dan lain-lain.[18]

Dibidang perdagangan mereka melakukan perdagangan dengan mengunjungi beberapa daerah seperti Asia, Eropa, dan daerah-daerah sekitar laut tengah.
Pada masa dinasti Fatimiyah mereka menjadikan kota Fustat sebagai kota perdagangan, dari sini semua barang akan dikirim baik dari dalam maupun dari luar Mesir.
5.      Sosial Kemasyarakatan
Pada waktu orang-orang Fatimiyah memasuki Mesir, penduduk setempat ada yang beragama Kristen Qibty, dan ahlu sunnah. Mereka hidup dalam kedamaian, saling menghormati antara satu dengan yang lain. Boleh dikatakan tidak terjadi pertengkaran antara suku, maupun agama. Masyarakatnya mempunyai sosialitas yang tinggi sesama mereka.
6.      Pemahaman Agama
Sesuai dengan asal usul dinasti Fatimiyah ini adalah sebuah gerakan yang berasal dari sekte syi’ah Ismailiyah, maka secara tidak lansung dinasti ini sebenarnya ingin mengembangkan doktrin-doktrin syi’ah di tengah-tengah masyarakat, namun dengan berbagai pertimbangan mereka tidak terlalu memaksa pemahaman ini harus di ikuti oleh para penduduk, mereka bebas beragama  sesuai dengan apa yang mereka yakini. Hal ini dilakukan supaya mereka selalu mendapat dukungan dari rakyat demi berdirinya dinasti Fatimiyah di negeri para Nabi ini.

D.    Masa Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Fatimiyah
Kemunduran Dinasti Fatimiyah berawal pada pemerintahan Khalifah al-Hakim. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berumur 11 tahun. Al-Hakim memerintah dengan tangan besi, masanya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman. Ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja Kristen, termasuk sebuah gereja yang didalamnya terdapat kuburan suci umat Kristen. Maklumat penghancuran kuburan suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdun. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perang salib. Ia memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, dan mereka hanya diperbolehkan menunggangi keledai. Orang-orang Yahudi dan Nasrani dibunuh dan aturan-aturan tidak ditegakkan dengan konsisten. Ia juga dengan mudah membunuh orang yang tidak disukainya, bahkan pernah membakar sebuah desa tanpa alasan yang jelas. Kemudian pada tahun 381 H/991 M ia menyerang Aleppo dan berhasil merebut Homz dan Syaizar dari tangan penguasa Arab. Peristiwa ini menimbulkan sikap oposan dari penduduk dan menyeret Dinasti Fatimiyah dalam konflik dengan Bizantium. Walaupun pada akhirnya al-Hakim berhasil mengadakan perjanjian damai dengan Bizantium selama sepuluh tahun.
            Al-Hakim kemudian memilih mengikuti perkembangan ekstrem ajaran Ismailiyah, dan menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Tuhan. Ia meninggalkan istana dan berkelana hingga akhirnya terbunuh di Muqatam pada 13 Pebruari 1021. Kemungkinan ia dibunuh oleh persekongkolan yang dipimpin adik perempuannya, Siti al-Muluk, yang telah diperhentikan tidak hormat olehnya.
Al-Hakim kemudian digantikan oleh az-Zahir, anaknya sendiri. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berusia 16 tahun. Pada mulanya Dinasti Fatimiyah didirikan oleh bangsa Arab dan orang Barbar, tapi ketika masa Az-Zahir situasi berubah, khalifah lebih mendekati keturunan Turki dan suku Barbar di dalam pemerintahan Fatimiyah. Az-Zahir mendapat izin dari Konsantin ke VII agar namanya disebutkan dimesjid-mesjid yang berada di bawah kekuasaan sang kaisar. Ia juga mendapat izin untuk memperbaiki mesjid yang berada di konstantinopel. Ini semua sebagai balasan terhadap restu sang khalifah untuk membangun kembali gereja yang di dalamnya terdapat  kuburan suci, dimana dulu gereja ini dihancurkan oleh Al-Hakim.
             Setelah sepeninggal Az-Zahir kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang baru berusia 11 tahun, yaitu al-Mustanshir. Mulai masa ini system pemerintahan Dinasti Fatimiyah berobah menjadi parlementer, artinya khalifah hanya berfungsi sebagai symbol saja, sementara pemegang kekuasaan pemerintahan adalah para mentri. Oleh karena itulah masa ini disebut “ahdu nufuzil wazara” (masa pengaruh mentri-mentri). Al-Mustanshir sebagaimana juga az-Zahir lebih mendekati keturunan Turki, hingga muncul dua kekuatan besar yaitu Turki dan Barbar. Perang saudarapun tidak dapat dielakan. Setelah meminta bantuan Badrul Jamal dari Suriah, khalifah dan orang Turki dapat mengalahkan Barbar, dan berakhirlah kekuasaan orang Barbar di dalam Dinasti Fatimiyah.
Pada masa al-Mustanshir ini kekuasaan Dinasti Fatimiyah di wilayah Suriah mulai terkoyak dengan cepat. Sementara kekuatan besar yang datang dari timur, yaitu bani Saljuk dari Turki, juga membayang-bayangi. Pada waktu yang bersamaan propinsi-propinsi Fatimiyah di Afrika memutuskan hubungan dengan pusat kekuasaan, bermaksud memerdekakan diri dan kembali kepada sekutu lama mereka, Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1052, suku arab yang terdiri dari bani Hilal dan bani Sulaim yang mendiami dataran tinggi Mesir memberontak. Mereka bergerak kebagian barat dan berhasil menduduki Tropoli dan Tunisia selama beberapa tahun.
Sementara itu pada tahun 1071, sebagian besar wilayah Sisilia, yang mengakui kedaulatan Fatimiyah dikuasai oleh bangsa Normandia yang daerah kekuasaannya terus meluas hingga meliputi sebagian pedalaman Afrika. Hanya kewasan semenanjung arab yang mengakui kekuasaan Fatimiyah.
Az-Zahir kemudian digantikan oleh al-Mustansir. Di masa ini terjadi kekacauan dimana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi antara orang-orang Turki, suku Barbar dan pasukan Sudan. Kekuasaan negara lumpuh dan kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian Negara. Di tengah kekacauan itu, pada tahun 1073 khalifah memanggil Badr al-Jamali, orang Armenia bekas budak dari kegurbernuran Akka dan memberinya wewenang untuk bertindak sebagai wazir dan panglima tertinggi. Amir al Juyusi (komando perang) yang baru ini mengambil komando dengan seluruh kekuatan yang ia punya untuk memadamkan berbagai kekacauan dan memberikan nyawa baru pada pemerintahan Fatimiyah. Tapi usaha ini, yang juga diteruskan oleh anak dan penerus al-Mustansir yaitu Al-Afdhal, tidak dapat menahan kemunduran Dinasti ini.
Tahun-tahun terakhir dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah ditandai dengan munculnya perseteruan yang terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Setelah al-Mustansir wafat, terjadi perpecahan serius dalam tubuh Ismailiyah. Perpecahan itu terjadi antara dua kelompok yang berada dibelakang kedua anak al-Mustansir yaitu Nizar dan al-Musta’li. Pendukung Nizar lebih aktif, ekstrim dan menjadi gerakan pembunuh. Sedangkan pendukung al-Musta’li lebih moderat. Akhirnya yang terpilih menjadi khalifah adalah al-Musta’li dengan ia didukung oleh al-Afdhal. Al-Afdhal mendukung al-Musta’li dengan harapan ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Akan tetapi basis spiritual Ismailiyah menjadi runtuh. Setelah al-Musta’li wafat. Al-Amin anak al-musta’li yang baru berusia lima tahun diangkat menjadi khalifah.
Al-Amin kemudian digantikan oleh al-Hafidz. Karena ia meninggal kekuasaannya benar-benar hanya sebatas istana kekhalifahan saja. Anak dan penggantinya, az-Zafir diangkat menjadi khalifah dalam usia yang masih sangat muda, hingga merasa tidak mampu menghadapi tentara salib, khalifah az-Zafir melalui wazirnya Ibnu Salar, meminta bantuan kepada Nuruddin az-Zanki, penguasa Suriah di bawah kekuasaan Baghdad. Nuruddin mengirim pasukan ke Mesir di bawah panglima Syirkuh dan Salahuddin Yusuf bin al-Ayubi yang kemudian berhasil membendung invasi tertara salib ke Mesir. Kemudian kekuasaan az-Zafir direbut oleh wazirnya, Ibnu Sallar. Tapi Ibnu Salar kemudian dibunuh, dan az-Zafir juga terbunuh secara misterius, kemudian naiklah al-Faiz, anak az-Zafir yang baru berusia empat tahun sebagai khalifah. Khalifah kecil ini meninggal dalam usia 11 tahun dan digantikan oleh sepupunya al-Adhid yang baru berumur sembilan tahun. Maka pada tahun 1167 M pasukan Nuruddin az-Zanki untuk kedua kalinya kembali memasuki Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Kedatangan mereka kali ini tidak hanya membantu melawan kaum salib, tetapi juga untuk menguasai Mesir. Dari pada Mesir dikuasai tentara salib, lebih baik mereka sendiri yang menguasainya. Apalagi perdana mentri Mesir waktu itu, telah melakukan penghianatan. Akhirnya pasukan Nuruddin berhasil mengalahkan tentara salib dan menguasai Mesir.
Semenjak itulah kedudukan Salahuddin di Mesir semakin mantap. Apalagi ia mendapat dukungan dari masyarakat yang mayoritas sunni. Peristiwa ini menyebabkan menguatnya pengaruh Nuruddin az-Zanki dan panglimanya Salahuddin al-Ayubi. Puncaknya terjadi pada masa al-Adid, pada masa pemerintahannya Salahuddin telah menduduki jabatan wazir. Dengan kekuasaannya Salahuddin al-Ayubi mengadakan pertemuan dengan para pembesar untuk menyelenggarakan  khutbah dengan menyebut nama khalifah Abasiyyah, al-Mustadi. Ini adalah simbol dari runtuhnya dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah  untuk kemudian digantikan oleh Dinasti Ayubiyah.[19]


BAB III
PENUTUP

Dari uraian diatas kita bisa mengambil beberapa intisari yang sangat menakjubkan, betapa keberadaan dinasty Fatimiyah ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan peradaban Islam, mulai dari bidang politik pemerintahan, pemikiran dan filsafat, pendidikan dan iptek, ekonomi dan perdagangan, sosial kemasyarakatan, pemahaman agama dan lain-lain.
Akan tetapi penulis sangat memahami, dengan minimnya literatur yang penulis baca, maka makalah ini jauh dari sempurna. Maka demi kesempurnaan makalah ini, penulis sangat mengharapkan partisipasinya demi kesempurnaan makalah dimasa mendatang. Sekian saja terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zainal Abidin, Sejarah Islam dan Ummatnya, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Ahmad Amin, Dhuhal al-Islam, Kairo, Lajnah Ta’wa al  Nasyr.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoave, 1994 .

Haiti, Philip K., History of The Arab, London: The Macmilland Press Ltd, 1974.

Ibrahim, Hasan, Tarikh al-Daulah al-Fatimiah, Kairo: Jannatut Ta’lif, 1958.

K. Ali, Sejarah Islam:Tarikh Pramodern, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003

ASayyid, Aiman Fuad. Daulat Fatimiyah Fi Misr Tafsir Jadid. Dar El-Masriyah lil-Bananiyah. 1992.

Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004.

Watt, W.Montgomery, penterjemah Hartono Hadikusumo, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari tokoh Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.


[1]Dr. Aiman Fuad Sayyid. Daulat Fatimiyah Fi Misr Tafsir Jadid. Dar El-Masriyah lil-Bananiyah. 1992. h. 30.

[2]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, ( Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoave, 1994 ), h 245.
[3]Philip K. Haiti, History of The Arab, (London: The Macmilland Press Ltd, 1974). h. 618.

[4]Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004), h. 113
[5]W.Montgomery Watt, penterjemah Hartono Hadikusumo, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 216
6 Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Dunia Islam (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004),hal 113.
[7] K. Ali, Sejarah Islam:Tarikh Pramodern, terj., (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal 492-493.
[8] Ibid hal 257
[9]Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 109.

[10]Ibid, h. 109
[11]Dr. Aiman Fuad  Sayyid. op. cit  h 249

[12] Ibid

[13] Ibid
[14]Ahmad Amin, Dhuhal al-Islam, (Kairo: Lajnah Ta’wa al  Nasyr), h. 188
[15] Hasan Ibrahim, Tarikh al-Daulah al-Fatimiah, (Kairo: Jannatut Ta’lif, 1958), h. 469

[16] Ajid Thohir, op.cit.,h. 117
[17] Dr. Aiman Fuad Sayyid. op. cit. h 293

[18] Ibid
[19] Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar