https://soundcloud.com/alfian-chryz/vroom-vroom

Jumat, 31 Maret 2017

PENYUSUNAN DAN PENGOLAHAN HASIL TES


         DOSEN PENGAMPU
Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd
Dr. Ani Cahyadi, M.Pd
MATA KULIAH
Evaluasi Pendidikan
  
PENYUSUNAN DAN PENGOLAHAN HASIL TES

OLEH
NORA SUNARYO PUTRI
1502521458




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2016


Kata pengantar

Assalamualaikum Wr.Wb.
           
            Segala puji bagi ALLAH SWT sedalam-dalamnya yang telah melimpahkan rahmatnya,bagi semua mahluk didunia. Sehingga kita masih bisa diberi kesempatan untuk menuntut ilmu. Tanpa karunia yang diberikan, mungkin kita semua tidak bisa melaksanakan kewajiban kita yaitu mencari ilmu. Maka sayogjanya kita harus mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita. Karena nikmat-nikmat allah itu andaikan kita hitung dengan alat-alat yang serba bertehnologi tidak mungkin bisa menghitungnya.
            Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada rosul kita,yang telah membawa ajaran-ajaran wahyu dari sang pencipta alam semesta, yang wajib kita ta’ati perintahnya dan jauhi semua larangannya sehingga kita nanti mendapatkan syafa’atnya dihari dimana manusia tidak bisa berbuat apa-apa. kecuali meminta pertolongan kepada nya.Yaitu hari qiyamah. Semoga kita semua bisa ditolong rosul kita amin.
            Dalam kesempatan ini penulis makalah mengucapkan beribu – ribu terimah kasih, kepada pengampu mata kuliah Evaluasi Pendidikan beliau adalah Ibu Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd dan bapak Dr. Ani Cahyadi, M.Pd karena merekalah kita tahu dan paham bagaimana menjadi guru yang profesional. Sebelum saya mengakhiri saya menyadari bahwa saya masih awam dan banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini saya mengharap  kritik dan sarannya dari bapak dosen pengampu untuk penyempurnaan penulisan makalah ini.Atas kritik dan sarannya saya ucapkan banyak terimah kasih.

Wassalamualaikum Wr.Wb.
                                                                                                             Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

Evaluasi sangat dibutuhkan dalam berbagai kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau pun tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan sosial lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya sudah wajar atau belum.
Evaluasi adalah suatu proses menentukan sesuatu yang dilakukan melalui tahapan pengukuran dan penilaian. Dalam melakukan evaluasi diperlukan sebuah alat evaluasi. Alat sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tes dan non tes.
Di dalam melakukan evaluasi, khususnya dengan cara tes, membutuhkan suatu penyusunan alat tes guna mendapatkan hasil yang ingin dicapai, yang mana dalam penyusunan alat tersebut memiliki beberapa aturan tertentu. Faktor keberhasilan dalam suatu kegiatan evaluasi utamanya sangat dipengaruhi oleh sang evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang harus di tempuh dalam kegiatan evaluasi.
Sebelum guru melaksanakan evaluasi, guru terlebih dahulu harus memahami bagaimana cara membuat soal evaluasi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan evaluasi dalam pembelajaran dan secara luas evaluasi dalam pendidikan.
Dari permasalahan tersebut kiranya perlu untuk dibahas tentang bagaimana langkah-langkah penyusunan tes, komponen-komponen tes, table spesifikasi tes, fungsi table spesifikasi dan bagaimana mengolah hasil tes dalam evaluasi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENYUSUNAN TES
Dalam  merencanakan sebuah kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Seorang evaluator yang baik tentunya harus dapat membuat perencanaan yang baik pula. Perencanaan ini penting karena akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan akan mempengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh (Zainal Arifin, 2011, h.89). W. James Popham (1974) mengemukakan “to facilitate  gathering data, thereby making possible valid statements about the effect or out comes of program, practice, or policy under study”.
Sehubungan dengan hal tersebut, Robert H. Davis, dkk. (1974) mengemukakan tiga kegunaan dari penyusunan evaluasi, yaitu:
1.         Evaluation plan helps you to determine whether or not you have stated your objective in behavioral terms. If the conditions, behavior or standards or objective have been stated ambiguously, you will have difficulty designing a test to measure student achievement.
2.         Evaluation plan early in the design process is that you will be prepared to collect the information you need when it is available.
3.         Evaluation plan is that it provides sufficient time for test design. To design a good test requires carefull preparation, and the quality of a test usually improves if it can be designed in a leisurely fashion.
Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan  secara jelas dan spesifik, terurai dan komperhensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya.
1.        Fungsi Tes
Sehubungan dengan hal-hal yang harus di ingat pada waktu penyusunan tes, maka fungsi tes dapat di tinjau dari 3 (tiga) hal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.165):
a.         Fungsi untuk kelas
b.        Fungsi untuk bimbingan
c.         Fungsi untuk administrasi
Perbandingan Fungsi Tes
No
Fungsi Untuk Kelas
Fungsi Untuk Bimbingan
Fungsi Untuk Administrasi
1.
Mengadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa
Menentukan arah pembicaraan dengan orang tua dengan anak-anak mereka
Memberi petunjuk dalam pengelompokkan siswa
2.
Mengevaluasi celah antara bakat dan pencapaian
Membantu siswa dalam menentukan pilihan.
Penempatan siswa baru
3.
Menaikkan tingkat prestasi
Membantu siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan
Membantu siswa memilih kelompok
4.
Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode kelompok
Memberi kesempatan kepada pembimbing, guru, dan orang tua dalam memahami kesulitan anak
Menilai kurikulum
5.
Merencanakan kegiatan proses belajar mengajar untuk siswa secara perseorangan

Memperluas hubungan masyarakat
6.
Menentukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khusus

Menyediakan informasi untuk badan-badan lain di luar sekolah.
7.
Menentukan tingkat pencapaian untuk setiap anak


Selain fungsi-fungsi tes ini, hal lain yang harus di ingat adalah (Suharsimi Arikunto, 1997, h.151):
a.         Hubungan dengan penggunaan
Waktu menyusun  tes, dalam  hati harus di ingat, fungsi mana yang saat itu di pentingkan, karena fungsi yang berbeda aka menentukan bentuk/isi tes yang berbeda pula.
b.        Komprehensif
Sebuah tes sebaiknya mencakup suatu kebulatan, artinya meliputi berbagai aspek yang dapat menggambarkan keadaan siswa secara keseluruhan (kecerdasan, sikap, pribadi, perasaan sosial, dan sebagainya). Hal ini dapat dicapai apabila tes itu merupakan rangkain tes, misalnya dari kelas I sampai dengan kelas VI
c.         Kontinuitas
Berhubungan dengan prinsip komperhensif, maka prinsip kontinuitas mempunyai persamaan tujuan. Sebaiknya tes di susun sedemikian rupa sehingga menggambarkan kelanjutan dari awal anak memasuki suatu sekolah sampai dengan kelas terakhir. Dengan demikian akan diketahui perkembangan anak itu tidak dengan terputus.
B.       Langkah – Langkah dalam Penyusunan Tes
Tes hasil belajar akan berarti bila terdiri dari butir-butir soal yang menguji tujuan penting dan mewakili   ranah,  kognitif,  efektif,  dan  psikomotor  secara  representatif.  Untuk  itu  maka  peranan perencanaan tes menjadi sangat penting.
Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.167)
1.    Menentukan tujuan mengadakan tes. Menentukan alasan diselenggarakan tes, perlu dipastikan alasan manakah yang  melatar belakangi. Misalnya: formatif, sumatif, selektif, placement, diagnostik, motivatif, komprehensif.
2.    Menentukan tujuan mengadakan tes. Tujuan harus detail dan rinci. Tujuan yang bersifat khusus diharapkan dapat diamati, diukur, dan dinilai.
3.    Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
4.    Merumuskan tujuan instruksional khusus ( TIK ) dari tiap bagian bahan.
5.    Menderetkan semua TIK dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku yang terkandung dalam TIK itu.Tabel ini digunakan untuk mengadakan identifikasi terhadap tingkah laku yang dikehendaki, agar tidak terlewati.
Contoh :
TABEL TIK DAN ASPEK TINGKAH LAKU YANG DICARI
TIK
Aspek Tingkah Laku
Ingatan
( I )
Pemahaman
( P )
Aplikasi
( A )
Ket
1.                   Siswa dapat menjumlahkan bilangan bersusun




2.                   Siswa dapat menerangkan hokum komulatif dan seterusnya




6.    Membuat dan menyusun tabel spesifikasi atau disebut blue-print. Blue-print atau kisi-kisi adalah sebuah tabel yang memuat tentang perincian materi dan tingkah laku beserta proporsi yang dikehendaki oleh penilai.  Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris yang nampak hubungan antara materi, indikator, kegiatan  belajar,   dan  evaluasi.  Adapun  langkah-langkah  dalam  membuat  blue-print  yaitu  a) mencantumkan  pokok  materi,  b)  menentukan  presentasenya,  c)  menentukan  jumlah  soal,  d) merinci  banyaknya  butir  soal  untuk  tiap  pokok  materi,  e)  menentukan  aspek  yang  diukur  dan presentasenya, f) menentukan banyaknya butir soal tiap sel.
7.    Menuliskan butir-butir soal yang didasarkan atas TIK-TIK yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan aspek tingkah laku yang dicakup.

a.                  Soal Ingatan
Soal ingatan adalah pertanyaan yang jawabannya dapat dicari dengan mudah pada catatan atau buku. Pertanyaan ini biasa digunakan untuk mengukur penguasaan materi yang berupa fakta, istilah, definisi, klasifikasi atau kategori, dan urutan maupun kriteria.
contoh
Uraian
1)     Apa sebab Indonesia dapat mencapai kemerdekaan?
2)     Jelaskan bagaimana terlaksananya proklamasi kemerdekaan!
3)    Sebutkan satuan yang dipakan dalam system MKS untuk besaran : panjang, massa, waktu, kecepatan dan percepatan!
Pilihan ganda
1) Ketahanan Nasional Indonesia mencakup kebulatan aspek sosial dan aspek alamiah. Kedua aspek tadi disebut?
a. Dwi gatra.
b. Panca gatra.
c. Catur gatra.
d. Tri gatra.
2) Pernyataan Hukum III Newton ialah :
a. Besar gaya berbanding lurus terhadap massa dan percepatan benda.
b. Setiap aksi terdapat reaksi yang sama besar dan arah berlawanan.
c. Setiap aksi terdapat reaksi yang arah dan besarnya sama.
d. Besar gaya yang menyebabkan sama dengan besar gaya yang
diakibatkan.
b.                  Soal Pemahaman
Berbeda dengan soal ingatan, dalam menjawab soal pemahaman peserta didik arus selalu mengingat juga berpikir.
Contoh:
Adanya taifun di kepulauan Filipina diikuti oleh curah hujan cukup besar di Pulau Jawa.
SEBAB
Angin pasat Tenggara tertarik ke Utara katulistiwa melalui Pulau Jawa, yang menambah banyaknya hujan.
c.                   Soal Aplikasi
Soal aplikasi adalah soal yang mebgukur kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah sehari-hari atau persoalan yang dikemukakan oleh pembuat soal.
Contoh:
Sebuah benda terletak di muka sebuah lensa yang mempunyai jarak folus 10 cm. Bayangan yang terjadi ternyata tegak, dan tingginya duakali tinggi benda itu. Jarak antara benda dengan lensa adalah :
(a)    3,3 cm
(b)   5 cm
(c)    10 cm
(d)   15 cm
(e)    30 cm

d.                  Soal Analisis
Soal analisis adalah soal yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menganalisis atau menguraikan sesuatu persoalan untuk diketahui bagian bagiannya.
Contoh:
KISAH BENDUNGAN ASWAN
Bendungan Aswan selesai dibangun tahun1970, setelah memakan waktu 11 tahun dan menelan biaya satu miliar dolar AS. Maksud dibuat bendunganini adalah untuk menyimpan 163 juta m3 air. Cukup untuk mengairi tanah-tanha pertanian selama 12 tahundan dapat menghasilkan tenaga listrik sebesar 10.000 juta kilowatt/tahun……. dan seterusnya.
Soal:
Karena adanya Bendungan Aswan maka daerah pertanian di hilir menjadi tidak subur.
SEBAB
Air irigasi daerah dibagian hilir Bendungan Aswan tidak banyak membawa lumpur yang mengandung bahan organik.
e.                   Soal Sintesis
Kemampuan untuk mengadakan sinsesis adalah kebalikan dari kemampuan untuk menganalisis. Contohnya bisa menggunakan soal analisis, tergantung bagaimana permintaan pembuat soal.

f.                   Soal Evaluasi
Soal evaluasi adalah soal yang berhubungan dengan menilai, mengambil kesimpulan, membandingkan, mempertentangkan, mengkritik, mendeskripsikan, membedakan, memnerangkan, memutuskan, menafsirkan.
Contoh
Kasus diambil dari “Kisah Bendungan Aswan”
Soal:
Bagaimana kesuburan tanah disekitar Bendungan Aswan? Bedakan keadaan daerah dibagian hulu dan hilir dengan kemungkinan lumpur yang terbawa arus air dan sebagainya.
C.      Komponen-komponen Tes
Apabila guru sudah bekerja keras sebelum melaksanakan tes, maka pekerjaan sesudahnya akan menjadi lancer, mudah, dan hasilnya pun lebih baik. Komponen atau kelengkapan sebuah tes terdiri atas: (Suharsimi Arikunto, 2013, h.173)
a.    Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus dikerjakan siswa.     
b.    Lembar jawaban tes, yakni lembaran yang disediakan oleh penilaian bagi testee untuk mengerjakan tes. Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya di buatkan lembaran nomor dan huruf a, b, c, d, menurut banyaknya alternatif yang disediakan
c.    Kunci jawaban tes, berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki. Kunci jawaban ini dapat berupa huruf-huruf yang dikehendaki atau kata/kalimat. Untuk tes bentuk uraian yang dituliskan adalah kata-kata kunci ataupun kalimat singkat untuk memberikan ancar-ancar jawaban.
Ide daripada adanya kunci jawaban ini adalah agar:
(1) Pemeriksaan tes dapat dilakukan orang lain.
(2) Pemeriksaannya betul.
(3) Dilakukan dengan mudah
(4) Sesedikit mungkin masuknya unsur subjektif.
d. Pedoman Penilaian
Pedoman penilaian atau skoring berisi keterangan perincian tentang skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.
Contoh pedoman penilaian
• Tiap soal diberi skor 1.
Jumlah skor: 1 x 10 = 10
• Tiap soal diberi skor 2.
Jumlah skor: 2 x 5 = 10
• Jumlah skor 20.
Skor maksimum 40
Contoh lembar jawaban
Nama : _______________ Bidang Studi : _______________
Kelas : _______________ Jam/Waktu : _______________
No. : _______________
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D

C.        Tabel Spesifikasi (Kisi-kisi Soal)
1.    Pengertian Kisi-kisi Soal
Dalam pembicaraan mengenai validitas tes disebutkan bahwa sebuah tes harus memiliki validitas isi dan tingkah laku. Dan memang validitas inilah yang terpenting dalam menyusun tes prestasi. Untuk menjaga agar tes yang disusun tidak menyimpang dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan dicakup dalam tes, dibuatlah sebuah tabel spesifikasi.(Suharsimi Arikunto:2005, h. 200). Tabel spesifikasi yang juga dikenal dengan istilah kisi-kisi soal atau blue print adalah sebuah tabel analisis yang di dalamnya dimuat rincian materi tes dan tingkah laku beserta proporsi yang dikehendaki oleh tester, di mana pada tiap petak (sel) dari tabel tersebut diisi dengan angka-angka yang menunjukkan banyaknya butir soal yang akan dikeluarkan dalam tes hasil belajar bentuk objektif. (Anas Sudijono:2011, h.139)
Selain itu menurut Ngalim Purwanto, table spesifikasi (blue print) diperlukan sebagai dasar atau pedoman dalam membuat soal-soal dalam penyusunan tes. Dengan menggunakan table tersebut, guru atau pengajar dapat menentukan jumlah dan jenis soal yang diperlukan, sesuai dengan tujuan intruksional dari tiap pokok bahasan (Ngalim Purwanto, 2009, h.31).
Dalam tabel spesifikasi, salah satu sisinya memuat uraian isi yang tercakup dalam perencanaan tes dan sisi yang lain memuat komponen perilaku yang ditunjukkan oleh tingkat kompetensi. Bila tingkat kompetensi atau komponen perilaku yang telah diungkap telah ditetapkan, kedua aspek perencanaan tersebut kemudian dimuat ke dalam tabel spesifikas.
Wujud dari tebel spesifikasi adalah sebuah tabel yang memuat tentang perperincian materi dan tingkah laku beserta imbangan atau proporsi yang di kehendaki oleh penilai. Tiap kotak di isi dengan bilangan yang menunjukkan jumlah soal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.200).
2.      Fungsi Tabel Spesifikasi
Fungsi dari tabel spesifikasi ialah untuk menjaga agar tes yang kita susun tidak menyimpang dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan dicakup dalam tes.
Hal-hal yang sering dicantumkan dalam table spesifikasi hanya 3 buah aspek yaitu ingatan, pemahaman, dan aplikasi.
Aspek yang
Diungkap
Pokok
materi   
Ingatan
(1)

Pemahaman
(P)

Aplikasi
(A)

Jumlah

Bagian I




Bagian II




Bagian (terakhir)




Jumlah





Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris, sehingga tampak hubungan antara materi dengan aspek yang tergambar dalam TIK. Sebenarnya penyusunan tes bukan hanya mengingat pada dua hal tersebut, melainkan empat hal, yakni TIK, kegiatan belajar, materi dan evaluasi. (Suharsimi Arikunto, 1997, h.189).
Keempat hal, yaitu materi, indikator, kegiatan belajar, dan evaluasi merupakan kaitan yang erat sekali. Dengan mengenal materi yang akan di ajarkan (yang dipilih untuk mencapai tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum), kita segera tahu bagaimana sifat materi tersebut misalnya fakta, konsep atau hubungan antar konsep. Apabila materinya berupa fakta, tentu indikatornya menyangkut ingatan. Kegiatan belajarnya informasi dan evaluasi dapat uraian, isian singkat, benar-salah atau pilihan ganda (Suharsimi Arikunto, 2013, h.201).
Urutannya adalah indikator, materi, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Ini merupakan urutan yang benar. Memang dalam mengajar harus diketahui terlebih dahulu apa yang akan di capai. Kemudian di tentukan materi penunjangnya. Apa yang disajikan di atas mengikuti kebiasaan yang ada dalam praktek. Karena yang tersedia di hadapan guru adalah materi yang tercakup dalam buku, maka barulah dari materi tersebut di rumuskan indikatornya. Tentu ini kurang benar, tetapi mudah dilakukan, khususnya bagi mereka yang belum terbiasa menyusun soal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.202).
Kebiasaan yang salah dan tidak boleh lagi di teruskan adalah dari materi disusun soalnya, baru kemudian dirumuskan indikatornya.
Contohnya :
TIK                 :   Peserta didik dapat menghitung kecepatan benda
Materi              :   Percepatan Benda
KBM               :   Informasi dan Tanya jawab percepatan
Evaluasi           : Sebuah benda yang mula-mula diam, massanya 5kg dan menerima dua buah gaya yang berlawanan dan sama besar masing-masing 10 Newton.
Maka percepatannya ialah . . .
a. 0 m/dt2
b. 0,5 m/dt2
c. 2 m/dt2
d. 4m/dt2
1.                  Langkah-langkah pembuatan tabel spesifikasi
Adapun langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tabel spesifikasi, antara lain:
Mendaftarkan, pokok-pokok materi yang akan diteskan kemudian memberikan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi. Dalam hal ini imbangan bobot ditentukan oleh tester menurut tingkat kesukaran dan luasnya materi.
Contoh:
Akan membuat tes untuk evaluasi. Pokok-pokok materinya adalah
1.        Materi I                (2)
2.        Materi II               (3)
3.        Materi III             (5)
4.        Materi IV             (4)
Materi I contohnya pengertian evaluasi
Materi II contohnya fungsi evaluasi
Materi III contohnya macam-macam cara  evaluasi
Materi IV contohnya persyaratan evaluasi
Angka-angka yang tertera di dalam kurung yang dituliskan di belakang pokok materi, menunjukkan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi. Penentuan imbangan bobot dilakukan oleh penyusun soal berdasarkan atas luasnya materi atau kepentingannya untuk dites. Penentuan imbangan dilakukan atas perkiraan (judgment) saja. Pada waktu menuliskan angka tidak perlu dihitung-hitung bahwa jumlahnya harus 10 karena semuanya akan diubah menjadi angka dalam bentuk presentase. (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
Dari contoh di atas, langkah kedua pokok-pokok materi dapat dipindahkan ke dalam tabel kemudian mengubah indeks menjadi presentase.
TABEL SPESIFIKASI UNTUK MENYUSUN SOAL EVALUASI
POKOK MATERI
Aspek yang diungkap
Ingatan
Pemahaman
Aplikasi
Jumlah
Materi I (14%)



7
Materi II (21%)



10
Materi III (36%)



18
Materi IV (29%)



15
Jumlah



50 butir soal
Sumber: Evaluasi pembelajaran, 2012
Langkah ketiga adalah merinci banyaknya butir soal untuk tiap-tiap pokok materi dan angka ini dituliskan pada kolom paling kanan. Caranya adalah membagi jumlah butir soal (di sini 50 buah) menjadi 4 bagian berdasarkan imbangan bobot yang tertera sebagai presentase. (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
Angka 50 ditentukan oleh guru berdasarkan alokasi waktu yang disediakan dan bentuk soal yang akan diberikan. Dalam contoh ini, misalnya akan disusun tes berbentuk objektif dengan jumlah 50 butir soal berbentuk pilihan ganda, karena waktu yang disediakan adalah 75 menit. Di sini diperlukan kebijaksanaan guru untuk memperkirakan banyaknya butir soal agar tidak terlalu sedikit ataupun terlalu banyak. (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
Sebagai patokan waktu adalah bahwa sebuah soal tes objektif membutuhkan waktu 1 menit untuk membaca dan menjawab sehingga disediakan waktu 75 menit untuk tes, dapat disusun butir soal sejumlah : (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
1)        50 buah bentuk objektif (50 menit)
2)        5 buah bentuk uraian (25 menit)
Jadi banyaknya butir soal sangat ditentukan oleh :
1)        Waktu yang tersedia
2)        Bentuk soal
Sampai dengan langkah ketiga, cara yang dilalui sama bagi seluruh bidang studi. Dan untuk langkah selanjutnya terdapat langkah-langkah khusus, tergantung dari homogenitas (materi seragam) atau heterogenitas (materi tidak seragam) yang akan diteskan.
a.         Untuk materi yang seragam
Yang dikatakan "seragam" ialah antara pokok materi yang satu dengan pokok materi yang lain mempunyai kesamaan dalam imbangan aspek tingkah laku. Misalnya dicontoh ini ditetapkan bahwa 50% untuk ingatan, 30% untuk pemahaman dan 20% untuk aplikasi.
Apabila demikian halnya, maka angka presentasi dapat dituliskan pada kolom, di bawah kata-kata “ingatan”, “pemahaman”, “aplikasi”. Selanjutnya banyak butir soal untuk setiap sel (kotak kecil) diperoleh dengan cara menghitung persentasi dari banyaknya soal bagi tiap pokok materi yang sudah tertulis di kolom paling kanan. Perlu di perhatikan bahwa angka yang diperoleh untuk setiap sel merupakan pembulatan dari perhitungan dengan mereka-reka atau menggeser-gesernya sehingga jumlah kesamping dan kebawah diperoleh angka yang benar(Suharsimi Arikunto, 2013, h.205).
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN TES EVALUASI
Pokok Materi
Aspek yang di ungkap
Ingatan
(50%)
Pemahaman
(30%)
Aplikasi
(20%)
Jumlah
(100%)
Pengertian Evaluasi (14%)
(A)
(B)
(C)
7
Fungsi Evaluasi (21%)
(D)
(E)
(F)
10
Macam-macam evaluasi (29%)
(G)
(H)
(I)
15
Persyaratan evaluasi (36%)
(J)
(K)
(L)
18
Jumlah



50

Untuk mengisi/menentukan banyak butir soal untuk tiap sel dilakukan demikian:
Sel A     = 
Sel B      = 
Sel C      = 
Untuk mengisi sel-sel yang lain, di lakukan dengan cara yang sama, dengan cara yang digunakan untuk menentukan sel A, sel B, sel C.
Catatan:
Di samping cara yang di ajukan ini, yakni menentukan jumlah butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, ada lagi cara lain yang di ambil orang, yakni mulai dari pengisian sel-sel kemudian baru diperoleh jumlah soal tiap pokok materi.
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN
Pokok Materi
Aspek yang di ungkap
Ingatan
(50%)
Pemahaman
(30%)
Aplikasi
(20%)
Jumlah
(100%)
BAB 1       (40%)
(A)
(B)
(C)

BAB 2       (30%)
(D)
(E)
(F)

BAB 3       (30%)
(G)
(H)
(I)

Jumlah      (100%)



40

Misalnya berdasarkan waktu yang telah di tentukan, di perkirakan akan di susun 40 buah butir soal. Maka tiap sel diperoleh imbangan jumlah sebagai berikut:
Sel A     = 
Sel B      = 
Sel C      = 
Sel D     = 
Demikian seterusnya setelah di hitung dengan cara yang sama, terdapatlah angka-angka yang menggambarkan banyaknya soal seperti tercantum pada tiap aspek. Sesudah itu baru di jumlahkan ke kanan maupun ke bawah sehingga terdapat jumlah soal untuk setiap bagian/pokok materi maupun untuk setiap aspek tingkah laku.
b.         Untuk materi yang tidak seragam
Materi yang tidak seragam ialah materi yang didalam imbangan aspek tingkah lakunya dilihat / ditentukan tiap bab atau materinya serta tiap materi imbangan aspek tingkah lakunya tidak memiliki kesamaan (berbeda-beda). (Suharsimi Arikunto, 1997, h.).
Karena ada kalanya pokok-pokok materi dalam satu bulan hanya mencakup satu aspek tingkah laku saja, yakni ingatan saja. Misalnya, suku-suku bangsa yang ada di indonesia. Adanya suku-suku bangsa tersebut hanya dapat di hafalkan, tanpa perlu di pahami, apalagi di aplikasikan, dalam keadaan demikian maka yang di isi hanya kolom ingatan (Suharsimi Arikunto, 2013, h.208).
E.        Tindak Lanjut Sesudah Penyusunan Tabel Spesifikasi
Setelah kita membuat table spesifikasi, hal selanjutnya yang dilakukan oleh penilai yaitu:
1.      Menentukan  bentuk soal
Ada dua hal yang harus di pertimbangkan dalam menentukan bentuk soal yakni (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212):
·           Waktu yang disediakan
·           Sifat materi yang dites.
Sebagai pertimbangan menentukan bentuk soal sehubungan dengan waktu yang tersedia adalah bahwa soal bentuk pilihan ganda membutuhkan waktu lebih singkat daripada isian atau betul-salah. Bentuk menjodohkan adalah bentuk yang memerlukan waktu banyak untuk menyelesaikan. Yang perlu mendapat perhatian adalah soal bentuk uraian. Soal bentuk ini paling banyak memakan waktu walaupun masih perlu diperinci lagi bahwa soal yang menghendaki siswa untuk menguraikan (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212).
Sifat materi sangat menentukan bentuk soal tes pula. Adakalanya sebuah pokok materi tidak dapat di ukur dengan soal bentuk pilihan ganda karena sukar di carikan alternatif yang hampir sama (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212).
Sebelum kita menentukan bentuk soal tes, terlebih dahulu kita harus sudah mengetahui berapa lama alokasi waktu yang di sediakan untuk mengerjakan tes. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan alokasi waktu tes adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)        Untuk tes formatif dari bahan diselesaikan dalam waktu 4-5 kali pertemuan
2)        Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan soal bentuk objektif pilihan ganda kira-kira ½-1 menit untuk setiap butir tes (untuk pilhan ganda sederhana).
3)        Waktu yang di perlukan untuk menyelesaikan soal bentuk uraian tergantung dari berapa lama siswa harus berfikir dan menuliskan jawaban.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi aspek berfikir adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)        Mendaftarkan fakta-fakta, istilah, definisi, yang terdapat dalam seluruh materi yang di ajarkan. Kita ketahui bahwa faktafakta dan sebagainya berhubungan erat dengan aspek ingatan.
2)        Mendaftar setiap konsep (pengertian) yang tercakup dalam seluruh materi. Konsep ini di ukur penguasaannya berdasarkan aspek pemahaman siswa.
3)        Mencari hubungan antara dua atau beberapa konsep yang ada. Hubungan konsep ini berhubungan dengan aspek pemahaman tetapi dapat juga aplikasi.
4)        Mempertentangkan konsep-konsep, menggeneralisasikan, dan menghubungkan konsep dengan masalah kehidupan sehari-hari. Hal ini berhubungan dengan aspek aplikasi.
5)        Memilih hubungan antara beberapa konsep penerapan ke dalam permasalahan yang lebih luas. Kasus permasalahan yang luas dapat di angkat sebagai pokok untuk menyusun soal bentuk analisis, sintesis, atau evaluasi.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi kontruksi soal, yaitu bentuk objektif dan uraian, maka dapat dilakukan sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1)        Memilih fakta-fakta tunggal seperti tahun, nama, atau istilah. Hal-hal seperti ini tepat untuk di jadikan butir soal benar-salah maupun isian singkat.
2)        Hubungan antar konsep-konsep yang berupa klasifikasi dan diferensiasi ditentukan untuk membuat soal bentuk pilihan ganda (multiple choice). Definisi atau hubungan sebab-akibat, merupakan  bahan yang dapat di uji dengan bentuk benar-salah, pilihan ganda ataupun hubungan antarhal (dua pernyataan yang dihubungkan dengan kata “sebab”).
3)        Memilih konsep-konsep yang agak kompleks sifatnya, untuk di jadikan soal bentuk uraian.
2. Menuliskan soal-soal tes
Langkah terakhir dalam penyusunan tes adalah menuliskan soal-soal tes (item writing).   Walaupun tinggal satu langkah, tapi ini menjadi bagian paling penting, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Hal yang perlu  diperhatikan dalam menuliskan soal tes adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1)  Bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami.
2)  Suatu soal tidak boleh mengandung penafsiran ganda atau membingungkan.
3)  Cara memenggal kalimat atau meletakkan kata-kata perlu diperhatikan agar tidak ditafsirkan salah.
4)  Petunjuk mengerjakan. Penulisan petunjuk mengerjakan harus secara jelas, agar peserta didik tidak menyimpang dari yang diinginkan oleh guru dalam mengerjakan soal tes.
Untuk memperoleh sebuah tes yang terstandar, harus dilakukan uji coba (try out)  berkali kali sehingga diperoleh soal-soal  yang baik. Dengan mengadakan uji coba terhadap soal-soal tes yang sudah disusun, paling tidak dapat ditarik manfaat-manfaat sebagai berikut ini :
1. Mengalaman menggunakan tes
2. Mengetahui kesukaran bahasa
3. Mengetahui variasi jawaban peserta didik
4. Mengetahui waktu yang dibutuhkan
5. Dan kesulitan lain yang dialami pesertadidik
D. Pengolahan data hasil Penilaian
Data hasil pengukuran melalui alat penilaian tertentu, misalnya tes, baik tes objektif maupun tes esay, berupa data kuantitatif, yakni angka-angka atau bilangan atau bilangan numerik. Angka atau bilangan tersebut adalah skor hasil pengukuran yang biasa disebut skor mentah. Agar skor mentah ini memiliki makna nilai sehungga dapat ditafsirkan untuk menentukan prestasi atau kemampuan siswa, perlu diolah menjadi skor masak melalui tehnik statistika. Proses mengubah skor mentah menjadi skor masak dengan menggunakan teknik statistika disebut pengolahan data. Pengolahan data dimaksudkan untuk (a) Menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dan dibandingkan dengan kelompoknya dan untuk (b) menentukan batas kelulusan berdasarkan kriteria yang ditentukan. Berikut ini akan dibahas cara-cara mengolah data hasil pengukuran melalui alat-alat penilaian yang lazim digunakan, yakni tes prestasi belajar.
1.                  Batas Kelulusan
Batas kelulusan hasil penilaian mempunyai kaitan erat dengan penilaian acuan norma (PAN)  dan penilaian acuan patokan (PAP), (Nana Sudjana, 2009, h.106), yang telah dibahas pada pertemuan makalah sebelumnya.
Skor minimal untuk suatu individu yang dinyatakan lulus Batas Lulus ada 3 macam, yaitu:
a.                   Batas lulus actual
Batas lulus aktual didasarkan atas nilai rata-rata aktual atau nilai rata-rata yang dapat dicapai oleh kelompok siswa. Unsur yang diperlukan untuk menetapkan batas lulus aktual adalah nilai rata-rata dan simpangan baku aktual. Biasanya skor yang dinyatakan lulus adalah skor diatas (¯X + 0,25 SD) dimana ¯X = nilai rata-rata kelas dan SD adalah simpangan baku atau deviasi standar.
b.                  Batas lulus ideal
Batas lulus ideal hampir  sama dengan batas lulus aktual, yakni menentukan batas lulus dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku
 ideal. Simpangan baku ideal adalah sepertiga dari nilai rata-rata ideal.
c.                   Batas lulus purposife.
Batas lulus purposife mengacu kepada penilaian acuan patokan sehingga tidak perlu menghitung nilai rata-rata dan simpangan baku. Dalam hal ini ditentukan kriterianya, misalnya 75%. Arinya skor yang dinyatakan lulus adalah skor diatas 75%  dari skor maksimum. Dalam contoh diatas maka batas lulusnya adalah 75% dari 60, yakni 45. Skor yang besarnya diatas 45 dinyatkan lulus dan berada dibawahnya dinyatakan gagal.
2.                      Kecenderungan memusat dan keragaman
Dalam uraian mengenai batas lulus telah disinggung tentang pentingnya nilai rata-rata dan simpangan baku atau deviasi standar. Istilah-istilah tersebut menjadi  salah  satu  pembahasan dalam statistika. Nilai rata-rata merupakan salah satu ukuran kecenderungan memusat disamping ukuran-ukuran kainnya, yakni median dan modus. Sedangkan simpangan baku menjadi salah satu pembahasan atau bagian dari keragaman atau disversi disamping ukuran lainnya, yakni rentangan dan variansi.
Pada bagian ini akan dijelaskan ukuran-ukuran tersebut,  baik pengertiannya maupun cara perhitungannya serta kegunaannya untuk kepentingan pengolahan data hasil penilaian.
a.                   Ukuran kecenderungan memusat
Ada tiga ukuran kecenderungan memusat yang paling banyak digunakan, yakni modus, median atau mean (nilai rata-rata).
Modus  adalah skor yang paling banyak frekuensinya sehingga tidak perlu dihitung, cukup dilihat dari penyebaran skor, kemudian dicari skor mana yang pemunculannya lebih sering. Oleh sebab itu, modus merupaka ukuran kecenderungan memusat yang paling sederhana.
Median adalah titik tengah dari data yang telah diurutkan sehingga membatasi, setengahnya berada di bawahnya dan setengah lagi berada di atasnya.
Mean atau rata-rata diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor sibagi dengan banyaknya subjek.
b.                  Ukuran keragaman
Ukuran keragaman yang paling sederhana adalah “rank”, yakni selisih skor tertinggi dengan skor terendah. Sedangka ukuran keragaman lain yang paling banyak digunakan adalah simpangan baku dan variansi. Variansi adalah pangkat dua simpangan baku. Notasi simpangan baku adalah s, sedangkan notasi variansi adalah s^2. Simpangan adalah penyimpangan nilai dari rata-ratanya. Makin besar simpangan, makin beragam nilai atau skor yang diperoleh siswa. Sebaliknya makin kecil simpangan berarti skor-skor tersebut atau skor yang dicapai cenderung homogen atau merata. Tes yang baik tentunya mempunyai simpangan baku yang kecil.
3.                      Skor baku (skor z dan skor T)
Apabila ingin membandingkan dua sebaran skor yang berbeda standar yang digunakannya, misalnya yang satu menggunakan nilai standar sepuluh dan yang satu lagi menggunakan standar 100, sebaiknya dilakukan transformasi atau mengubah skor mentah kedalam skor baku. Ada dua macam skor baku, yakni skor baku z dan skor baku T. skor z dapat dihitung dengan membagi selisih skor dan nilai rata-ratanya dengan simpangan bakunya.
4.                  Konfersi nilai
Telah di jelaskan di muka bahwa standar yang sering digunakan dalam menilai hasil belajar dapat dibedakan kedalam beberapa  kategori, yakni:
Standar seratus (0-100)
Standar sepulu (0-10), dan
Standar empat (1-4) atau dengan huruf (A-B-C-D)
Sedangkan skor baku baik skor z maupun skor T, jaringan-jaringan digunakan standar tersebut (z dan T) hanya digunakan keperluan khusus, misalnya untuk menganalisis kecakapan seseorang di bandingkan dengan orang lain dan di bandingkan dua skor yang berbeda standarnya.
Konfersi nilai bisa dilakukan dari standar seratus ke standar sepuluh dan standar empat, atau bisa juga dari standar sepuluh ke standar seratus atau ke standar empat.
Dalam konfersi nilai dapat digunakan dua cara, yaitu:
a.                   Konfersi tanpa menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku
b.                  Konfersi nilai dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku.
5.                  Pengolahan data hasil nontes
Telah dijelaskan bahwa hasil dan proses belajar tidak hanya bisa di ukur dengan tes, tetapi juga dengan alat-alat ukur bukab tes seperti kuesioner, wawancara, obserfasi dan skala. Dari mengelolah data dari hasil non-tes, di samping digunakan cara-cara seperti pada pengolahan data yang menggunakan tes (terutama jika ditanya bersifat interval dalam bentuk skor nilai), juga dapat digunakan cara-cara lain seperti persen, modus, peringkat, terutama bila hasil pengukuran menghasilkan data nominal atau ordinal. Berikut ini akan dijelaskan secara umum cara pengolahan tersebut. Pada umumnya data hasil non-tes bertujuan untuk mendekskripsikan hasil pengukuran sehingga dapat dilihat kecenderungan jawaban respon-den melalui alat ukur tersebut. Misalnya bagaimana kecenderungan jawaban yang diperoleh dari wawancara, kuesioner, obserfasi, skala atau sosiometri.
a.                   Pengolahan Data Hasil Wawancara Dan Kuesioner
Dari data hasil wawancara dan atau kuesioner pada umumnya dicari frekuensi jawaban responder untuk setiap anteratif yang ada pada setiap soal. Frekuensi yang paling tinggi di tafsirkan sebagai kecenderungan jawaban alat ukur tersebut. Sebaliknya, frekuensi yang paling rendah dapat di tafsirkan sebagai kecenderungan jawaban yang tidak menggambarkan pendapat kebanyakan responder.
Sebagai contoh :
1.                  Kemampuan mengajar
2.                  Hubungan dengan siswa.
b.                  Pengolahan Data Hasil Observasi
Pengolahan data hasil obsevasi sangat bergantung pada pedoman observasinya, terutama dalam mencatat hasil observasi. Hasil observasi yang dinyatakn dalam bentuk pernyataan-pernyataan sebgaimana adanya yang tampak dari perilaku yang observasi, diolah dengan melakukan analisis dan interpretasi seluruh hasil amatan tersebut. Dengan kata lain, dengan mengggunakan analisis kualitatif. Sudah barang tentu sifatnya subjektif, yakni di pengaruhi oleh pengamatnya.
Namun,ada pula obsevasi yang hasil pengamatannya di beri nilai atau di sediakan skala nilai, misalnya dengan huruf A, B, C, dan D atau dengan angka 4, 3, 2, dan 1 yang tersebut bermakna sebagai skala nilai.
c.                   Pengolahan Data Skala Penilaian Atau Skala Sikap
Data hasil skala, baik skala penilaian maupun skala sikap yang berbentuk skor atau data interval, pengolahannya hampir sama dengan cara pengolahan data hasil intervasi yang menggunakan skor atau nilai dalam pengamatannya. Dengan demikian, untuk setiap siswa yang di ukur melalui skala penilaian atau skala sikap bias di tentukan ;
1.                  Perolehan skor dari seluruh butir pertanyaan,
2.                  Skor rata-rata dari setiap pertanyaan dengan membagi jumlah skor oleh banyaknya pertanyaan,
3.                  Interpretasi terhadap pertanyaan mana yang positif atau baik dan pertanyaan atau aspek mana yang negative atau kurang baik.


1.      Cara memberi skor mentah untuk tes uraian
Dalam bentuk uraian biasanya skor mentah dicari dengan menggunakan sistem bobot. Sistem bobot ada dua cara, yaitu:
Pertama, bobot dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukarannya. Misalnya, untuk soal yang mudah skor maksimumnya adalah 6, untuk skor sedang skor maksimumnya adalah 7, dan untuk soal sukar skor maksimumnya adalah 10. Cara ini tidak memungkinkan peserta didik mendapat skor maksimum sepuluh. Kedua, bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Misalnya, soal yang mudah diberi bobot 3, soal sedang diberi bobot 4, dan soal sukar diberi soal bobot 5. Cara ini memungkinkan peserta didik mendapat skor sepuluh (Zainal Arifin, 2011, h.223).
Contoh 1:
Seorang peserta didik diberi 3 soal dalam bentuk uraian. Setiap soal dberi skor (x) maksimum dalam rentang 1-10 sesuai dengan kualitas jawaban peserta didik.
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Pertama
No. soal
Tingkat Kesukaran
Jawaban
Skor(X)
1
Mudah
Betul
6
2
Sedang
Betul
7
3
Sukar
Betul
10

Jumlah

23

Rumus:  Skor  = 
Keterangan:
SX =  Jumlah skor
S    =  Jumlah soal
Jadi, skor peserta didik A =   = 7,67
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Kedua
No. soal
Tingkat Kesukaran
Jawaban
Skor (X)
Bobot(B)
XB
1
Mudah
Betul
10
3
30
2
Sedang
Betul
10
4
40
3
Sukar
Betul
10
5
50
Jumlah

12
120

Rumus : Skor =
Keterangan :
TK    = Tingkat Kesukaran
X      = Skor setiap soal
B      = Bobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal
SXB = Jumlah hasil perkalian X dengan B
Jadi skor peserta didik:  = 10

2.      Cara memberi skor mentah untuk tes objektif
Ada dua cara untuk memberikan skor pada soal tes bentuk objektif yaitu  (Zainal Arifin, 2011, h.228):
a.       Tanpa Rumus Tebakan
Biasanya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kebaikannya. Caranya adalah menghitung jumlah jawaban yang betul saja. Setiap jawaban yang betul diberi skor 1, yang salah diberi skor 0.
Jadi, skor = jumlah jawaban yang betul
b.      Menggunakan Rumus Tebakan
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah d ujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat dikeetahui tingkat kebenarannya. Penggunaan rumus tebakan ini bukan karena guru sudah mengetahui bahwa peserta didik itu menebak, tetapi tes bentuk objektif ini memang sangat memungkinkan peserta didik untuk menebak. Adapun rumus-rumus tebakan tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Untuk item benar salah (true-false)
Rumus : S = SB - SS
Keterangan:
S = Skor yang di cari
SB = Jumlah jawaban yang benar
SS = Jumlah jawaban yang salah
Contoh:
Seorang peserta didik di tes dengan soal bentuk B – S sebanyak 30 soal. Ternyata, peserta didik menjawab soal dengan betul 25 butir soal, berarti jawaban yang salah ada 5 soal. Maka skor nya adalah:
Skor = 25 - 5 = 20
2)      Untuk item bentuk pilihan ganda (multiple choice)
Rumus : S = SB -
Keterangan :
S    = Skor yang dicari
SB = Jumlah jawaban yang benar
SS = Jumlah jawaban yang salah
n   = Jumlah alternatif yang disediakan
1      = Bilangan tetap
Contoh:
Seorang peserta didik A dites sebanyak 10 soal. Ternyata peserta didik A dapat menjawab dengan betul sebanyak 7 butir soal, berarti  jumlah jawaban yang salah adalah 3 soal. Jmlah alternatif jawaban = 4. Dengan demikian, skor peserta didik A adalah:
Skor = 7 -  = 6
3)      Untuk soal betuk menjodohkan (Matching)
Rumus: S = SB
Keterangan:
S = Skor yang dicari
SB = Jumlah jawaban yang benar

3.      Cara memberi skor untuk skala sikap
Untuk mengukur sikap dan minat belajar, guru dapat menggunakan alat penilaian model skala, seperti skala sikap dan skala minat. Skala sikap dapat menggunakan lima skala, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Tahu (TT), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Begitu juga untuk skala minat, guru dapat menggunakan 5 skala, seperti Sangat Berminat (SB), Berminat (B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat (KB), dan Tidak Berminat (TB), (Zainal Arifin, 2011, h.233).

4.      Cara memberi skor untuk domain psikomotor
Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang di ukur adalah penampilan atau kinerja. Untuk mengukurnya, guru dapat menggunakan tes tindakan melalui simulasi atau unjuk kerja. Salah satu instrument yang dapat digunakan adalah skala penilaian yang terentang dari sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), sampai dengan tidak baik (1), (Zainal Arifin, 2011, h.234).

5.      Pengolahan dan pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar
Dua hal yang perlu di pahami dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai yaitu (Anas Sudijono, 2015, h.312):
a.       Bahwa dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara:
1)      Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu pada kriterium. Cara pertama ini dikenal dengan istilah Penilaian Acuan Patokan (PAP).
2)      Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah  menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada Penilaian Acuan Norma (PAN).
b.      Bahwa pengolahan dan pengubahan nilai itu dapat menggunakan berbagai macam skala, seperti: skala lima, yaitu nilai standar berskala lima atau sering dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan E. Skala Sembilan yaitu nilai standar berskala Sembilan dimana rentangan nilainya mulai angka 1 sampai angka 9 (tidak ada angka 0 dan tidak ada angka 10), dll.
BAB III
KESIMPULAN

Langkah – Langkah dalam Penyusunan Tes yaitu menentukan, mengadakan, merumuskan, menderetkan, menyusun, menuliskan soal yang didasarkan atas tujuan instruksional khusus (TIK) yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan aspek tingkah laku yang dicakup yang meliputi soal ingatan, soal pemahaman, soal aplikasi, soal analisis, soal sintesis, dan soal evaluasi.
Komponen atau kelengkapan sebuah tes terdiri atas: Buku tes, Lembar jawaban tes, Kunci jawaban tes, pedoman penilaian.
Tabel Spesifikasi (Kisi-kisi Soal) Dalam pembicaraan mengenai validitas tes disebutkan bahwa sebuah tes harus memiliki validitas isi dan tingkah laku. Dan memang validitas inilah yang terpenting dalam menyusun tes prestasi. Fungsi table spesifikasi ialah untuk menjaga agar tes yang kita susun tidak menyimpang dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan dicakup dalam tes.
Tindak Lanjut Sesudah Penyusunan Tabel Spesifikasi Setelah kita membuat table spesifikasi, hal selanjutnya yang dilakukan oleh penilai yaitu menentukan  bentuk  soal dan menuliskan soal-soal tes.
Pengolahan data dimaksudkan untuk (a) Menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dan dibandingkan dengan kelompoknya dan untuk (b) menentukan batas kelulusan berdasarkan kriteria yang ditentukan.
DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet ke-14, 2015.
Davis, R. H., L.T. Alexander, and S.L. Yelon, Learning System Design: An Approach to The Improvement Of Intruction, Michigan State University: McGraw-Hill Book Company.
M Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-15, 2009.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-14, 2009.
Popham, W.J, Evaluation in Education : Current Application, Los Angeles:  University of California, 1974.
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2, Jakarta: PT Bumi Aksara, cet ke-3, 2013.
Zainal Arifin,  Evaluasi Pembelajaran (Prinsip Teknik Prosedur),  Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-3, 2011.