PENYUSUNAN DAN PENGOLAHAN HASIL TES
DOSEN PENGAMPU
Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd
Dr. Ani Cahyadi, M.Pd
MATA KULIAH
Evaluasi Pendidikan
PENYUSUNAN DAN PENGOLAHAN HASIL TES
OLEH
NORA SUNARYO
PUTRI
1502521458
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2016
Kata pengantar
Assalamualaikum
Wr.Wb.
Segala puji bagi ALLAH SWT sedalam-dalamnya yang telah melimpahkan
rahmatnya,bagi semua mahluk didunia. Sehingga kita masih bisa diberi kesempatan
untuk menuntut ilmu. Tanpa karunia yang diberikan, mungkin kita semua tidak
bisa melaksanakan kewajiban kita yaitu mencari ilmu. Maka sayogjanya kita harus
mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita. Karena nikmat-nikmat
allah itu andaikan kita hitung dengan alat-alat yang serba bertehnologi tidak
mungkin bisa menghitungnya.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada rosul kita,yang telah
membawa ajaran-ajaran wahyu dari sang pencipta alam semesta, yang wajib kita
ta’ati perintahnya dan jauhi semua larangannya sehingga kita nanti mendapatkan
syafa’atnya dihari dimana manusia tidak bisa berbuat apa-apa. kecuali meminta
pertolongan kepada nya.Yaitu hari qiyamah. Semoga kita semua bisa ditolong
rosul kita amin.
Dalam kesempatan ini penulis makalah mengucapkan beribu – ribu terimah kasih,
kepada pengampu mata kuliah Evaluasi Pendidikan beliau adalah Ibu Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd dan bapak Dr. Ani
Cahyadi, M.Pd
karena merekalah kita tahu dan paham bagaimana menjadi guru yang profesional.
Sebelum saya mengakhiri saya menyadari bahwa saya masih awam dan banyak
kekurangan dalam penulisan makalah ini saya mengharap kritik dan sarannya
dari bapak dosen pengampu untuk penyempurnaan penulisan makalah ini.Atas kritik
dan sarannya saya ucapkan banyak terimah kasih.
Wassalamualaikum
Wr.Wb.
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
Evaluasi sangat dibutuhkan dalam berbagai kehidupan manusia sehari-hari,
karena disadari atau pun tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan,
baik untuk diri sendiri maupun kegiatan sosial lainnya. Hal ini dapat dilihat
mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah
penampilannya sudah wajar atau belum.
Evaluasi adalah suatu proses menentukan sesuatu yang dilakukan melalui
tahapan pengukuran dan penilaian. Dalam melakukan evaluasi diperlukan sebuah alat
evaluasi. Alat sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tes dan non tes.
Di dalam
melakukan evaluasi, khususnya dengan cara tes, membutuhkan suatu penyusunan
alat tes guna mendapatkan hasil yang ingin dicapai, yang mana dalam penyusunan
alat tersebut memiliki beberapa aturan tertentu. Faktor keberhasilan dalam suatu kegiatan
evaluasi utamanya sangat dipengaruhi oleh sang evaluator dalam melaksanakan
prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang
harus di tempuh dalam kegiatan evaluasi.
Sebelum guru melaksanakan evaluasi, guru terlebih dahulu harus memahami
bagaimana cara membuat soal evaluasi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan
evaluasi dalam pembelajaran dan secara luas evaluasi dalam pendidikan.
Dari permasalahan tersebut kiranya perlu untuk
dibahas tentang bagaimana langkah-langkah penyusunan tes, komponen-komponen
tes, table spesifikasi tes, fungsi table spesifikasi dan bagaimana mengolah
hasil tes dalam evaluasi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENYUSUNAN TES
Dalam merencanakan
sebuah kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini
dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Seorang evaluator
yang baik tentunya harus dapat membuat perencanaan yang baik pula. Perencanaan
ini penting karena akan mempengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan akan
mempengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh (Zainal Arifin,
2011, h.89). W. James Popham (1974) mengemukakan “to facilitate gathering data, thereby making possible valid statements about the effect or out comes of
program, practice, or policy under study”.
Sehubungan dengan hal tersebut, Robert H. Davis, dkk. (1974)
mengemukakan tiga kegunaan dari penyusunan evaluasi, yaitu:
1.
Evaluation
plan helps you to determine whether or not you have stated your objective in
behavioral terms. If the conditions, behavior or standards or objective have
been stated ambiguously, you will have difficulty designing a test to measure
student achievement.
2.
Evaluation
plan early in the design process is that you will be prepared to collect the
information you need when it is available.
3.
Evaluation
plan is that it provides sufficient time for test design. To design a good test
requires carefull preparation, and the quality of a test usually improves if it
can be designed in a leisurely fashion.
Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan spesifik, terurai dan
komperhensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan
langkah-langkah selanjutnya.
1.
Fungsi Tes
Sehubungan dengan hal-hal yang harus di ingat
pada waktu penyusunan tes, maka fungsi tes dapat di tinjau dari 3 (tiga) hal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.165):
a.
Fungsi untuk kelas
b.
Fungsi untuk bimbingan
c.
Fungsi untuk administrasi
Perbandingan Fungsi Tes
|
DOSEN PENGAMPU
Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd
Dr. Ani Cahyadi, M.Pd
|
MATA KULIAH
Evaluasi Pendidikan
|
|
No
|
Fungsi Untuk Kelas
|
Fungsi Untuk Bimbingan
|
Fungsi Untuk Administrasi
|
|
1.
|
Mengadakan
diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa
|
Menentukan
arah pembicaraan dengan orang tua dengan anak-anak mereka
|
Memberi
petunjuk dalam pengelompokkan siswa
|
|
2.
|
Mengevaluasi celah
antara bakat dan pencapaian
|
Membantu
siswa dalam menentukan pilihan.
|
Penempatan
siswa baru
|
|
3.
|
Menaikkan
tingkat prestasi
|
Membantu
siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan
|
Membantu siswa memilih kelompok
|
|
4.
|
Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode
kelompok
|
Memberi kesempatan kepada pembimbing, guru, dan orang
tua dalam memahami kesulitan anak
|
Menilai kurikulum
|
|
5.
|
Merencanakan kegiatan proses belajar mengajar untuk
siswa secara perseorangan
|
|
Memperluas hubungan masyarakat
|
|
6.
|
Menentukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khusus
|
|
Menyediakan informasi untuk badan-badan lain di luar
sekolah.
|
|
7.
|
Menentukan tingkat pencapaian untuk setiap anak
|
|
|
Selain fungsi-fungsi tes ini, hal lain yang
harus di ingat adalah (Suharsimi
Arikunto, 1997, h.151):
a.
Hubungan dengan penggunaan
Waktu menyusun tes,
dalam hati harus di ingat, fungsi mana yang saat itu di
pentingkan, karena fungsi yang berbeda aka menentukan bentuk/isi tes yang
berbeda pula.
b.
Komprehensif
Sebuah tes sebaiknya mencakup suatu kebulatan, artinya
meliputi berbagai aspek yang dapat menggambarkan keadaan siswa secara
keseluruhan (kecerdasan, sikap, pribadi, perasaan sosial, dan sebagainya). Hal ini dapat dicapai apabila tes itu merupakan rangkain tes, misalnya
dari kelas I sampai dengan kelas VI
c.
Kontinuitas
Berhubungan dengan prinsip komperhensif, maka prinsip
kontinuitas mempunyai persamaan tujuan. Sebaiknya tes di susun sedemikian rupa
sehingga menggambarkan kelanjutan dari awal anak memasuki suatu sekolah sampai
dengan kelas terakhir. Dengan demikian akan diketahui perkembangan anak itu
tidak dengan terputus.
B.
Langkah
– Langkah dalam Penyusunan Tes
Tes hasil belajar akan berarti bila terdiri dari butir-butir soal yang menguji tujuan penting dan
mewakili
ranah, kognitif,
efektif,
dan psikomotor secara
representatif.
Untuk itu maka
peranan
perencanaan tes menjadi
sangat penting.
Berikut ini
langkah-langkah yang dilakukan adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.167)
1.
Menentukan tujuan mengadakan tes. Menentukan alasan diselenggarakan tes, perlu dipastikan
alasan manakah yang
melatar belakangi. Misalnya: formatif, sumatif, selektif, placement, diagnostik,
motivatif,
komprehensif.
2.
Menentukan tujuan mengadakan tes. Tujuan harus detail dan rinci. Tujuan yang bersifat
khusus
diharapkan dapat diamati, diukur,
dan
dinilai.
3.
Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan
diteskan.
4.
Merumuskan tujuan instruksional khusus ( TIK )
dari tiap bagian bahan.
5.
Menderetkan semua TIK dalam tabel persiapan
yang memuat pula aspek tingkah laku yang terkandung dalam TIK itu.Tabel ini
digunakan untuk mengadakan identifikasi terhadap tingkah laku yang dikehendaki,
agar tidak terlewati.
Contoh :
TABEL TIK DAN ASPEK TINGKAH LAKU YANG DICARI
|
TIK
Aspek Tingkah Laku
|
Ingatan
( I )
|
Pemahaman
( P )
|
Aplikasi
( A )
|
Ket
|
|
1.
Siswa dapat menjumlahkan bilangan
bersusun
|
||||
|
2.
Siswa dapat menerangkan hokum
komulatif dan seterusnya
|
6.
Membuat dan menyusun tabel spesifikasi atau disebut blue-print. Blue-print atau kisi-kisi adalah sebuah tabel yang memuat tentang perincian materi dan tingkah laku beserta proporsi yang dikehendaki oleh
penilai. Tabel
spesifikasi mempunyai kolom dan baris yang nampak hubungan antara materi, indikator, kegiatan
belajar, dan
evaluasi.
Adapun
langkah-langkah dalam membuat blue-print
yaitu a)
mencantumkan pokok materi, b)
menentukan
presentasenya, c)
menentukan jumlah
soal,
d) merinci banyaknya
butir soal
untuk
tiap pokok materi, e) menentukan aspek
yang
diukur
dan presentasenya, f) menentukan
banyaknya butir
soal tiap sel.
7.
Menuliskan butir-butir soal yang didasarkan
atas TIK-TIK yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan aspek tingkah laku yang
dicakup.
a.
Soal Ingatan
Soal ingatan adalah pertanyaan yang
jawabannya dapat dicari dengan mudah pada catatan atau buku. Pertanyaan ini
biasa digunakan untuk mengukur penguasaan materi yang berupa fakta, istilah,
definisi, klasifikasi atau kategori, dan urutan maupun kriteria.
contoh
Uraian
1) Apa sebab Indonesia dapat mencapai
kemerdekaan?
2) Jelaskan bagaimana terlaksananya proklamasi
kemerdekaan!
3) Sebutkan satuan yang
dipakan dalam system MKS untuk besaran : panjang, massa, waktu, kecepatan dan
percepatan!
Pilihan ganda
1) Ketahanan Nasional Indonesia mencakup kebulatan aspek sosial dan
aspek alamiah. Kedua aspek tadi disebut?
a. Dwi gatra.
b. Panca gatra.
c. Catur gatra.
d. Tri gatra.
2) Pernyataan Hukum III Newton ialah :
a. Besar gaya berbanding lurus terhadap massa dan percepatan benda.
b. Setiap aksi terdapat reaksi yang sama besar dan arah berlawanan.
c. Setiap aksi terdapat reaksi yang arah dan besarnya sama.
d. Besar gaya yang menyebabkan sama dengan besar gaya yang
diakibatkan.
b.
Soal Pemahaman
Berbeda dengan soal ingatan, dalam
menjawab soal pemahaman peserta didik arus selalu mengingat juga berpikir.
Contoh:
Adanya taifun di kepulauan Filipina
diikuti oleh curah hujan cukup besar di Pulau Jawa.
SEBAB
Angin pasat Tenggara tertarik ke
Utara katulistiwa melalui Pulau Jawa, yang menambah banyaknya hujan.
c.
Soal Aplikasi
Soal aplikasi adalah soal yang
mebgukur kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan untuk memecahkan
masalah sehari-hari atau persoalan yang dikemukakan oleh pembuat soal.
Contoh:
Sebuah benda terletak di muka sebuah lensa yang mempunyai jarak
folus 10 cm. Bayangan yang terjadi ternyata tegak, dan tingginya duakali tinggi
benda itu. Jarak antara benda dengan lensa adalah :
(a)
3,3
cm
(b)
5 cm
(c)
10
cm
(d)
15
cm
(e)
30
cm
d.
Soal Analisis
Soal analisis adalah soal yang menuntut kemampuan peserta didik
untuk menganalisis atau menguraikan sesuatu persoalan untuk diketahui bagian
bagiannya.
Contoh:
KISAH BENDUNGAN ASWAN
Bendungan Aswan selesai dibangun tahun1970,
setelah memakan waktu 11 tahun dan menelan biaya satu miliar dolar AS. Maksud
dibuat bendunganini adalah untuk menyimpan 163 juta m3 air. Cukup untuk
mengairi tanah-tanha pertanian selama 12 tahundan dapat menghasilkan tenaga
listrik sebesar 10.000 juta kilowatt/tahun……. dan seterusnya.
Soal:
Karena adanya Bendungan Aswan maka
daerah pertanian di hilir menjadi tidak subur.
SEBAB
Air irigasi daerah dibagian hilir
Bendungan Aswan tidak banyak membawa lumpur yang mengandung bahan organik.
e.
Soal Sintesis
Kemampuan untuk mengadakan sinsesis
adalah kebalikan dari kemampuan untuk menganalisis. Contohnya bisa menggunakan
soal analisis, tergantung bagaimana permintaan pembuat soal.
f.
Soal Evaluasi
Soal evaluasi adalah soal yang
berhubungan dengan menilai, mengambil kesimpulan, membandingkan,
mempertentangkan, mengkritik, mendeskripsikan, membedakan, memnerangkan,
memutuskan, menafsirkan.
Contoh
Kasus diambil dari “Kisah Bendungan Aswan”
Soal:
Bagaimana kesuburan tanah disekitar
Bendungan Aswan? Bedakan keadaan daerah dibagian hulu dan hilir dengan
kemungkinan lumpur yang terbawa arus air dan sebagainya.
C.
Komponen-komponen Tes
Apabila guru sudah bekerja keras sebelum melaksanakan tes, maka
pekerjaan sesudahnya akan menjadi lancer, mudah, dan hasilnya pun lebih baik.
Komponen atau kelengkapan sebuah tes terdiri atas: (Suharsimi Arikunto, 2013, h.173)
a.
Buku
tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus
dikerjakan siswa.
b.
Lembar
jawaban tes, yakni
lembaran yang disediakan oleh penilaian bagi testee untuk mengerjakan tes. Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya di
buatkan lembaran nomor dan huruf a, b, c, d, menurut banyaknya alternatif yang
disediakan
c. Kunci jawaban tes, berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki. Kunci jawaban ini dapat berupa
huruf-huruf yang dikehendaki atau kata/kalimat. Untuk tes bentuk uraian yang
dituliskan adalah kata-kata kunci ataupun kalimat singkat untuk memberikan
ancar-ancar jawaban.
Ide daripada adanya kunci jawaban ini adalah agar:
(1) Pemeriksaan tes dapat dilakukan orang lain.
(2) Pemeriksaannya betul.
(3) Dilakukan dengan mudah
(4) Sesedikit mungkin masuknya unsur subjektif.
d. Pedoman Penilaian
Pedoman penilaian atau skoring
berisi keterangan perincian tentang skor atau angka yang diberikan
kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.
Contoh pedoman penilaian
•
Tiap soal diberi skor 1.
Jumlah
skor: 1 x 10 = 10
•
Tiap soal diberi skor 2.
Jumlah
skor: 2 x 5 = 10
•
Jumlah skor 20.
Skor maksimum 40
Contoh lembar jawaban
Nama
: _______________ Bidang Studi : _______________
Kelas
: _______________ Jam/Waktu : _______________
No.
: _______________
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
|
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
|
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
|
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
|
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
|
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
|
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
|
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
|
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
|
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
|
C. Tabel Spesifikasi (Kisi-kisi Soal)
1.
Pengertian Kisi-kisi Soal
Dalam pembicaraan mengenai validitas tes
disebutkan bahwa sebuah tes harus memiliki validitas isi dan tingkah laku. Dan
memang validitas inilah yang terpenting dalam menyusun tes prestasi. Untuk
menjaga agar tes yang disusun tidak menyimpang dari bahan (materi) serta aspek
kejiwaan (tingkah laku) yang akan dicakup dalam tes, dibuatlah sebuah tabel
spesifikasi.(Suharsimi Arikunto:2005, h. 200). Tabel spesifikasi yang juga
dikenal dengan istilah kisi-kisi soal atau blue print adalah sebuah
tabel analisis yang di dalamnya dimuat rincian materi tes dan tingkah laku
beserta proporsi yang dikehendaki oleh tester, di mana pada tiap petak (sel)
dari tabel tersebut diisi dengan angka-angka yang menunjukkan banyaknya butir
soal yang akan dikeluarkan dalam tes hasil belajar bentuk objektif. (Anas
Sudijono:2011, h.139)
Selain itu menurut Ngalim Purwanto, table spesifikasi (blue
print) diperlukan sebagai dasar atau pedoman dalam membuat soal-soal dalam
penyusunan tes. Dengan menggunakan table tersebut, guru atau pengajar dapat
menentukan jumlah dan jenis soal yang diperlukan, sesuai dengan tujuan
intruksional dari tiap pokok bahasan (Ngalim Purwanto, 2009, h.31).
Dalam tabel spesifikasi, salah satu sisinya
memuat uraian isi yang tercakup dalam perencanaan tes dan sisi yang lain memuat
komponen perilaku yang ditunjukkan oleh tingkat kompetensi. Bila tingkat
kompetensi atau komponen perilaku yang telah diungkap telah ditetapkan, kedua
aspek perencanaan tersebut kemudian dimuat ke dalam tabel spesifikas.
Wujud dari tebel
spesifikasi adalah sebuah tabel yang memuat tentang perperincian materi dan tingkah
laku beserta imbangan atau proporsi yang di kehendaki oleh penilai. Tiap kotak
di isi dengan bilangan yang menunjukkan jumlah soal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.200).
2.
Fungsi Tabel Spesifikasi
Fungsi
dari tabel spesifikasi ialah untuk menjaga agar tes yang kita susun tidak
menyimpang dari bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan
dicakup dalam tes.
Hal-hal
yang sering dicantumkan dalam table spesifikasi hanya 3 buah aspek yaitu ingatan, pemahaman, dan aplikasi.
|
Aspek yang
Diungkap
Pokok
materi
|
Ingatan
(1)
|
Pemahaman
(P)
|
Aplikasi
(A)
|
Jumlah
|
|
Bagian
I
|
|
|
|
|
|
Bagian
II
|
|
|
|
|
|
Bagian
(terakhir)
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
|
|
|
Tabel spesifikasi mempunyai kolom
dan baris, sehingga tampak hubungan antara materi dengan aspek yang tergambar
dalam TIK. Sebenarnya penyusunan tes bukan hanya mengingat pada dua hal
tersebut, melainkan empat hal, yakni TIK, kegiatan belajar, materi dan
evaluasi. (Suharsimi Arikunto, 1997, h.189).
Keempat hal, yaitu materi, indikator, kegiatan belajar, dan evaluasi
merupakan kaitan yang erat sekali. Dengan mengenal materi yang akan di ajarkan
(yang dipilih untuk mencapai tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum),
kita segera tahu bagaimana sifat materi tersebut misalnya fakta, konsep atau
hubungan antar konsep. Apabila materinya berupa fakta, tentu indikatornya
menyangkut ingatan. Kegiatan belajarnya informasi dan evaluasi dapat uraian,
isian singkat, benar-salah atau pilihan ganda
(Suharsimi Arikunto, 2013, h.201).
Urutannya adalah indikator, materi, kegiatan belajar-mengajar, dan
evaluasi. Ini merupakan urutan yang benar. Memang dalam mengajar harus
diketahui terlebih dahulu apa yang akan di capai. Kemudian di tentukan materi
penunjangnya. Apa yang disajikan di atas mengikuti kebiasaan yang ada dalam
praktek. Karena yang tersedia di hadapan guru adalah materi yang tercakup dalam
buku, maka barulah dari materi tersebut di rumuskan indikatornya. Tentu ini
kurang benar, tetapi mudah dilakukan, khususnya bagi mereka yang belum terbiasa
menyusun soal (Suharsimi Arikunto, 2013, h.202).
Kebiasaan yang salah dan tidak boleh lagi di teruskan adalah dari materi
disusun soalnya, baru kemudian dirumuskan indikatornya.
Contohnya :
TIK : Peserta didik dapat menghitung kecepatan benda
Materi : Percepatan Benda
KBM : Informasi dan Tanya jawab percepatan
Evaluasi : Sebuah
benda yang mula-mula diam, massanya 5kg dan menerima dua buah gaya yang
berlawanan dan sama besar masing-masing 10 Newton.
Maka percepatannya ialah . . .
a. 0 m/dt2
b. 0,5 m/dt2
c. 2 m/dt2
d. 4m/dt2
1.
Langkah-langkah
pembuatan tabel spesifikasi
Adapun
langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tabel spesifikasi,
antara lain:
Mendaftarkan,
pokok-pokok materi yang akan diteskan kemudian memberikan imbangan bobot untuk
masing-masing pokok materi. Dalam hal ini imbangan bobot ditentukan oleh tester
menurut tingkat kesukaran dan luasnya materi.
Contoh:
Akan membuat
tes untuk evaluasi. Pokok-pokok materinya adalah
1.
Materi
I (2)
2.
Materi
II (3)
3.
Materi
III (5)
4.
Materi
IV (4)
Materi I
contohnya pengertian evaluasi
Materi II
contohnya fungsi evaluasi
Materi III
contohnya macam-macam cara evaluasi
Materi IV
contohnya persyaratan evaluasi
Angka-angka yang tertera di dalam kurung yang dituliskan di
belakang pokok materi, menunjukkan imbangan bobot untuk masing-masing pokok
materi. Penentuan imbangan bobot dilakukan oleh penyusun soal berdasarkan atas
luasnya materi atau kepentingannya untuk dites. Penentuan imbangan dilakukan
atas perkiraan (judgment) saja. Pada waktu menuliskan angka tidak perlu
dihitung-hitung bahwa jumlahnya harus 10 karena semuanya akan diubah menjadi
angka dalam bentuk presentase. (Suharsimi Arikunto, 2013, h.203).
Dari
contoh di atas, langkah kedua pokok-pokok materi dapat dipindahkan ke dalam
tabel kemudian mengubah indeks menjadi presentase.
TABEL
SPESIFIKASI UNTUK MENYUSUN SOAL EVALUASI
|
POKOK MATERI
|
Aspek yang
diungkap
|
|||
|
Ingatan
|
Pemahaman
|
Aplikasi
|
Jumlah
|
|
|
Materi I (14%)
|
7
|
|||
|
Materi II (21%)
|
10
|
|||
|
Materi III (36%)
|
18
|
|||
|
Materi IV (29%)
|
15
|
|||
|
Jumlah
|
50 butir soal
|
|||
Sumber:
Evaluasi pembelajaran, 2012
Langkah
ketiga adalah merinci banyaknya butir soal untuk tiap-tiap pokok materi dan
angka ini dituliskan pada kolom paling kanan. Caranya adalah membagi jumlah
butir soal (di sini 50 buah) menjadi 4 bagian berdasarkan imbangan bobot yang
tertera sebagai presentase. (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
Angka
50 ditentukan oleh guru berdasarkan alokasi waktu yang disediakan dan bentuk
soal yang akan diberikan. Dalam contoh ini, misalnya akan disusun tes berbentuk
objektif dengan jumlah 50 butir soal berbentuk pilihan ganda, karena waktu yang
disediakan adalah 75 menit. Di sini diperlukan kebijaksanaan guru untuk memperkirakan
banyaknya butir soal agar tidak terlalu sedikit ataupun terlalu banyak. (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.204).
Sebagai
patokan waktu adalah bahwa sebuah soal tes objektif membutuhkan waktu 1 menit
untuk membaca dan menjawab sehingga disediakan waktu 75 menit untuk tes, dapat
disusun butir soal sejumlah : (Suharsimi Arikunto, 2013, h.204).
1)
50 buah bentuk objektif (50 menit)
2)
5 buah bentuk uraian (25 menit)
Jadi banyaknya
butir soal sangat ditentukan oleh :
1)
Waktu yang tersedia
2)
Bentuk soal
Sampai dengan langkah ketiga, cara
yang dilalui sama bagi seluruh bidang studi. Dan untuk langkah selanjutnya
terdapat langkah-langkah khusus, tergantung dari homogenitas (materi seragam)
atau heterogenitas (materi tidak seragam) yang akan diteskan.
a. Untuk materi yang seragam
Yang dikatakan "seragam"
ialah antara pokok materi yang satu dengan pokok materi yang lain mempunyai
kesamaan dalam imbangan aspek tingkah laku. Misalnya dicontoh ini ditetapkan
bahwa 50% untuk ingatan, 30% untuk pemahaman dan 20% untuk aplikasi.
Apabila demikian halnya, maka angka presentasi
dapat dituliskan pada kolom, di bawah kata-kata “ingatan”, “pemahaman”,
“aplikasi”. Selanjutnya banyak butir soal untuk setiap sel (kotak kecil)
diperoleh dengan cara menghitung persentasi dari banyaknya soal bagi tiap pokok
materi yang sudah tertulis di kolom paling kanan. Perlu di perhatikan bahwa
angka yang diperoleh untuk setiap sel merupakan pembulatan dari perhitungan
dengan mereka-reka atau menggeser-gesernya sehingga jumlah kesamping dan
kebawah diperoleh angka yang benar(Suharsimi Arikunto, 2013, h.205).
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN TES EVALUASI
|
Pokok Materi
|
Aspek yang di ungkap
|
|||
|
Ingatan
(50%)
|
Pemahaman
(30%)
|
Aplikasi
(20%)
|
Jumlah
(100%)
|
|
|
Pengertian Evaluasi (14%)
|
(A)
|
(B)
|
(C)
|
7
|
|
Fungsi Evaluasi (21%)
|
(D)
|
(E)
|
(F)
|
10
|
|
Macam-macam evaluasi (29%)
|
(G)
|
(H)
|
(I)
|
15
|
|
Persyaratan evaluasi (36%)
|
(J)
|
(K)
|
(L)
|
18
|
|
Jumlah
|
|
|
|
50
|
Untuk mengisi/menentukan banyak butir soal
untuk tiap sel dilakukan demikian:
Sel A =
Sel B =
Sel C =
Untuk mengisi sel-sel yang lain, di lakukan
dengan cara yang sama, dengan cara yang digunakan untuk menentukan sel A, sel
B, sel C.
Catatan:
Di samping cara yang di ajukan ini, yakni
menentukan jumlah butir soal untuk tiap-tiap pokok materi, ada lagi cara lain
yang di ambil orang, yakni mulai dari pengisian sel-sel kemudian baru diperoleh
jumlah soal tiap pokok materi.
Contoh:
TABEL SPESIFIKASI PENYUSUNAN
|
Pokok Materi
|
Aspek yang di ungkap
|
|||
|
Ingatan
(50%)
|
Pemahaman
(30%)
|
Aplikasi
(20%)
|
Jumlah
(100%)
|
|
|
BAB 1 (40%)
|
(A)
|
(B)
|
(C)
|
|
|
BAB 2 (30%)
|
(D)
|
(E)
|
(F)
|
|
|
BAB 3 (30%)
|
(G)
|
(H)
|
(I)
|
|
|
Jumlah
(100%)
|
|
|
|
40
|
Misalnya berdasarkan waktu yang telah di
tentukan, di perkirakan akan di susun 40 buah butir soal. Maka tiap sel
diperoleh imbangan jumlah sebagai berikut:
Sel A =
Sel B =
Sel C =
Sel D =
Demikian seterusnya setelah di hitung dengan
cara yang sama, terdapatlah angka-angka yang menggambarkan banyaknya soal
seperti tercantum pada tiap aspek. Sesudah itu baru di jumlahkan ke kanan
maupun ke bawah sehingga terdapat jumlah soal untuk setiap bagian/pokok materi
maupun untuk setiap aspek tingkah laku.
b. Untuk materi yang
tidak seragam
Materi yang tidak seragam ialah
materi yang didalam imbangan aspek tingkah lakunya dilihat / ditentukan tiap
bab atau materinya serta tiap materi imbangan aspek tingkah lakunya tidak
memiliki kesamaan (berbeda-beda). (Suharsimi Arikunto, 1997, h.).
Karena ada kalanya pokok-pokok materi dalam
satu bulan hanya mencakup satu aspek tingkah laku saja, yakni ingatan saja.
Misalnya, suku-suku bangsa yang ada di indonesia. Adanya suku-suku bangsa
tersebut hanya dapat di hafalkan, tanpa perlu di pahami, apalagi di
aplikasikan, dalam keadaan demikian maka yang di isi hanya kolom ingatan (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.208).
E. Tindak Lanjut
Sesudah Penyusunan Tabel Spesifikasi
Setelah kita membuat table
spesifikasi, hal selanjutnya yang dilakukan oleh penilai yaitu:
1.
Menentukan bentuk soal
Ada dua hal yang harus di pertimbangkan dalam menentukan bentuk
soal yakni (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.212):
·
Waktu yang disediakan
·
Sifat materi
yang dites.
Sebagai pertimbangan menentukan bentuk soal sehubungan
dengan waktu yang tersedia adalah bahwa soal bentuk pilihan ganda membutuhkan
waktu lebih singkat daripada isian atau betul-salah. Bentuk menjodohkan adalah
bentuk yang memerlukan waktu banyak untuk menyelesaikan. Yang perlu mendapat
perhatian adalah soal bentuk uraian. Soal bentuk ini paling banyak memakan
waktu walaupun masih perlu diperinci lagi bahwa soal yang menghendaki siswa
untuk menguraikan (Suharsimi Arikunto, 2013, h.212).
Sifat materi sangat menentukan bentuk soal tes pula.
Adakalanya sebuah pokok materi tidak dapat di ukur dengan soal bentuk pilihan
ganda karena sukar di carikan alternatif yang hampir sama (Suharsimi
Arikunto, 2013, h.212).
Sebelum kita menentukan bentuk soal tes, terlebih dahulu
kita harus sudah mengetahui berapa lama alokasi waktu yang di sediakan untuk
mengerjakan tes. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan alokasi
waktu tes adalah (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)
Untuk tes formatif dari bahan diselesaikan
dalam waktu 4-5 kali pertemuan
2)
Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan
soal bentuk objektif pilihan ganda kira-kira ½-1 menit untuk setiap butir tes
(untuk pilhan ganda sederhana).
3)
Waktu yang di perlukan untuk menyelesaikan
soal bentuk uraian tergantung dari berapa lama siswa harus berfikir dan
menuliskan jawaban.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi aspek
berfikir adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.213):
1)
Mendaftarkan fakta-fakta, istilah,
definisi, yang terdapat dalam seluruh materi yang di ajarkan. Kita ketahui
bahwa faktafakta dan sebagainya berhubungan erat dengan aspek ingatan.
2)
Mendaftar setiap konsep (pengertian)
yang tercakup dalam seluruh materi. Konsep ini di ukur penguasaannya
berdasarkan aspek pemahaman siswa.
3)
Mencari hubungan antara dua atau beberapa
konsep yang ada. Hubungan konsep ini berhubungan dengan aspek pemahaman
tetapi dapat juga aplikasi.
4)
Mempertentangkan konsep-konsep,
menggeneralisasikan, dan menghubungkan konsep dengan masalah kehidupan
sehari-hari. Hal ini berhubungan dengan aspek aplikasi.
5)
Memilih hubungan antara beberapa konsep penerapan
ke dalam permasalahan yang lebih luas. Kasus permasalahan yang luas dapat
di angkat sebagai pokok untuk menyusun soal bentuk analisis, sintesis,
atau evaluasi.
Untuk menentukan bentuk soal di tinjau dari segi
kontruksi soal, yaitu bentuk objektif dan uraian, maka dapat dilakukan sebagai
berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1)
Memilih fakta-fakta tunggal seperti tahun,
nama, atau istilah. Hal-hal seperti ini tepat untuk di jadikan butir soal
benar-salah maupun isian singkat.
2)
Hubungan antar konsep-konsep yang berupa
klasifikasi dan diferensiasi ditentukan untuk membuat soal bentuk pilihan ganda
(multiple choice). Definisi atau hubungan sebab-akibat, merupakan bahan yang dapat di uji dengan bentuk
benar-salah, pilihan ganda ataupun hubungan antarhal (dua pernyataan yang
dihubungkan dengan kata “sebab”).
3)
Memilih konsep-konsep yang agak kompleks
sifatnya, untuk di jadikan soal bentuk uraian.
2. Menuliskan
soal-soal tes
Langkah terakhir dalam penyusunan tes adalah menuliskan soal-soal tes (item writing). Walaupun tinggal satu langkah,
tapi ini menjadi bagian paling penting, karena kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Hal yang
perlu diperhatikan dalam menuliskan soal tes adalah sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2013, h.214):
1) Bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami.
2) Suatu soal tidak boleh mengandung penafsiran ganda atau membingungkan.
3) Cara memenggal kalimat atau meletakkan
kata-kata perlu diperhatikan agar tidak ditafsirkan salah.
4) Petunjuk mengerjakan. Penulisan petunjuk mengerjakan harus secara jelas, agar peserta didik tidak menyimpang dari yang diinginkan oleh guru
dalam mengerjakan soal tes.
Untuk memperoleh sebuah tes yang
terstandar, harus dilakukan uji coba (try out) berkali kali sehingga diperoleh
soal-soal yang baik. Dengan
mengadakan uji coba terhadap soal-soal tes yang sudah disusun, paling tidak
dapat ditarik manfaat-manfaat sebagai berikut ini :
1. Mengalaman menggunakan tes
2. Mengetahui kesukaran bahasa
3. Mengetahui variasi jawaban peserta didik
4. Mengetahui
waktu yang dibutuhkan
5. Dan
kesulitan lain yang dialami pesertadidik
D.
Pengolahan data hasil Penilaian
Data hasil pengukuran melalui alat penilaian
tertentu, misalnya tes, baik tes objektif maupun tes esay, berupa data
kuantitatif, yakni angka-angka atau bilangan atau bilangan numerik. Angka atau
bilangan tersebut adalah skor hasil pengukuran yang biasa disebut skor mentah.
Agar skor mentah ini memiliki makna nilai sehungga dapat ditafsirkan untuk
menentukan prestasi atau kemampuan siswa, perlu diolah menjadi skor masak
melalui tehnik statistika. Proses mengubah skor mentah menjadi skor masak
dengan menggunakan teknik statistika disebut pengolahan data. Pengolahan data
dimaksudkan untuk (a) Menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dan dibandingkan
dengan kelompoknya dan untuk (b) menentukan batas kelulusan berdasarkan
kriteria yang ditentukan. Berikut ini akan dibahas cara-cara mengolah data
hasil pengukuran melalui alat-alat penilaian yang lazim digunakan, yakni tes
prestasi belajar.
1.
Batas Kelulusan
Batas
kelulusan hasil penilaian mempunyai kaitan erat dengan penilaian acuan norma
(PAN) dan penilaian acuan patokan (PAP),
(Nana Sudjana, 2009, h.106), yang telah dibahas pada pertemuan makalah
sebelumnya.
Skor minimal untuk suatu individu yang dinyatakan lulus Batas Lulus ada 3 macam, yaitu:
a.
Batas lulus actual
Batas lulus aktual didasarkan atas nilai
rata-rata aktual atau nilai rata-rata yang dapat dicapai oleh kelompok siswa.
Unsur yang diperlukan untuk menetapkan batas lulus aktual adalah nilai
rata-rata dan simpangan baku aktual. Biasanya skor yang dinyatakan lulus adalah
skor diatas (¯X + 0,25 SD) dimana ¯X = nilai rata-rata kelas dan SD adalah
simpangan baku atau deviasi standar.
b.
Batas lulus ideal
Batas lulus ideal hampir sama dengan
batas lulus aktual, yakni menentukan batas lulus dengan menggunakan nilai
rata-rata dan simpangan baku
ideal.
Simpangan baku ideal adalah sepertiga dari nilai rata-rata ideal.
c.
Batas lulus purposife.
Batas lulus purposife mengacu kepada penilaian acuan
patokan sehingga tidak perlu menghitung nilai rata-rata dan simpangan baku.
Dalam hal ini ditentukan kriterianya, misalnya 75%. Arinya skor yang dinyatakan
lulus adalah skor diatas 75% dari skor maksimum. Dalam contoh diatas maka
batas lulusnya adalah 75% dari 60, yakni 45. Skor yang besarnya diatas 45
dinyatkan lulus dan berada dibawahnya dinyatakan gagal.
2.
Kecenderungan memusat dan keragaman
Dalam uraian
mengenai batas lulus telah disinggung tentang pentingnya nilai rata-rata dan
simpangan baku atau deviasi standar. Istilah-istilah tersebut menjadi salah
satu pembahasan dalam statistika.
Nilai rata-rata merupakan salah satu ukuran kecenderungan memusat disamping
ukuran-ukuran kainnya, yakni median dan modus. Sedangkan simpangan baku menjadi
salah satu pembahasan atau bagian dari keragaman atau disversi disamping ukuran
lainnya, yakni rentangan dan variansi.
Pada bagian ini
akan dijelaskan ukuran-ukuran tersebut, baik pengertiannya maupun cara
perhitungannya serta kegunaannya untuk kepentingan pengolahan data hasil
penilaian.
a.
Ukuran kecenderungan memusat
Ada tiga ukuran
kecenderungan memusat yang paling banyak digunakan, yakni modus, median atau
mean (nilai rata-rata).
Modus
adalah skor yang paling banyak frekuensinya sehingga tidak perlu dihitung,
cukup dilihat dari penyebaran skor, kemudian dicari skor mana yang
pemunculannya lebih sering. Oleh sebab itu, modus merupaka ukuran kecenderungan
memusat yang paling sederhana.
Median adalah
titik tengah dari data yang telah diurutkan sehingga membatasi, setengahnya
berada di bawahnya dan setengah lagi berada di atasnya.
Mean atau
rata-rata diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor sibagi dengan banyaknya
subjek.
b.
Ukuran keragaman
Ukuran keragaman yang paling sederhana adalah
“rank”, yakni selisih skor tertinggi dengan skor terendah. Sedangka ukuran
keragaman lain yang paling banyak digunakan adalah simpangan baku dan variansi.
Variansi adalah pangkat dua simpangan baku. Notasi simpangan baku adalah s,
sedangkan notasi variansi adalah s^2. Simpangan adalah penyimpangan nilai dari
rata-ratanya. Makin besar simpangan, makin beragam nilai atau skor yang
diperoleh siswa. Sebaliknya makin kecil simpangan berarti skor-skor tersebut atau
skor yang dicapai cenderung homogen atau merata. Tes yang baik tentunya
mempunyai simpangan baku yang kecil.
3.
Skor baku (skor z dan
skor T)
Apabila ingin
membandingkan dua sebaran skor yang berbeda standar yang digunakannya, misalnya
yang satu menggunakan nilai standar sepuluh dan yang satu lagi menggunakan
standar 100, sebaiknya dilakukan transformasi atau mengubah skor mentah kedalam
skor baku. Ada dua macam skor baku, yakni skor baku z dan skor baku T. skor z
dapat dihitung dengan membagi selisih skor dan nilai rata-ratanya dengan
simpangan bakunya.
4.
Konfersi nilai
Telah di jelaskan di muka bahwa
standar yang sering digunakan dalam menilai hasil belajar dapat dibedakan
kedalam beberapa kategori, yakni:
Standar seratus (0-100)
Standar sepulu (0-10), dan
Standar empat (1-4) atau dengan huruf (A-B-C-D)
Sedangkan skor baku baik skor z
maupun skor T, jaringan-jaringan digunakan standar tersebut (z dan T) hanya
digunakan keperluan khusus, misalnya untuk menganalisis kecakapan seseorang di bandingkan
dengan orang lain dan di bandingkan dua skor yang berbeda standarnya.
Konfersi nilai bisa dilakukan dari
standar seratus ke standar sepuluh dan standar empat, atau bisa juga dari
standar sepuluh ke standar seratus atau ke standar empat.
Dalam konfersi nilai dapat digunakan
dua cara, yaitu:
a.
Konfersi tanpa menggunakan nilai rata-rata dan simpangan
baku
b.
Konfersi nilai dengan menggunakan nilai rata-rata dan
simpangan baku.
5.
Pengolahan data hasil nontes
Telah dijelaskan bahwa hasil dan
proses belajar tidak hanya bisa di ukur dengan tes, tetapi juga dengan
alat-alat ukur bukab tes seperti kuesioner, wawancara, obserfasi dan skala.
Dari mengelolah data dari hasil non-tes, di samping digunakan cara-cara seperti
pada pengolahan data yang menggunakan tes (terutama jika ditanya bersifat
interval dalam bentuk skor nilai), juga dapat digunakan cara-cara lain seperti
persen, modus, peringkat, terutama bila hasil pengukuran menghasilkan data
nominal atau ordinal. Berikut ini akan dijelaskan secara umum cara pengolahan
tersebut. Pada umumnya data hasil non-tes bertujuan untuk mendekskripsikan
hasil pengukuran sehingga dapat dilihat kecenderungan jawaban respon-den
melalui alat ukur tersebut. Misalnya bagaimana kecenderungan jawaban yang
diperoleh dari wawancara, kuesioner, obserfasi, skala atau sosiometri.
a.
Pengolahan Data Hasil Wawancara Dan Kuesioner
Dari data hasil wawancara dan atau
kuesioner pada umumnya dicari frekuensi jawaban responder untuk setiap
anteratif yang ada pada setiap soal. Frekuensi yang paling tinggi di tafsirkan
sebagai kecenderungan jawaban alat ukur tersebut. Sebaliknya, frekuensi yang
paling rendah dapat di tafsirkan sebagai kecenderungan jawaban yang tidak
menggambarkan pendapat kebanyakan responder.
Sebagai contoh :
Sebagai contoh :
1.
Kemampuan mengajar
2.
Hubungan dengan siswa.
b.
Pengolahan Data Hasil Observasi
Pengolahan data hasil obsevasi
sangat bergantung pada pedoman observasinya, terutama dalam mencatat hasil
observasi. Hasil observasi yang dinyatakn dalam bentuk pernyataan-pernyataan
sebgaimana adanya yang tampak dari perilaku yang observasi, diolah dengan
melakukan analisis dan interpretasi seluruh hasil amatan tersebut. Dengan kata
lain, dengan mengggunakan analisis kualitatif. Sudah barang tentu sifatnya
subjektif, yakni di pengaruhi oleh pengamatnya.
Namun,ada pula obsevasi yang hasil pengamatannya di beri nilai atau di sediakan skala nilai, misalnya dengan huruf A, B, C, dan D atau dengan angka 4, 3, 2, dan 1 yang tersebut bermakna sebagai skala nilai.
Namun,ada pula obsevasi yang hasil pengamatannya di beri nilai atau di sediakan skala nilai, misalnya dengan huruf A, B, C, dan D atau dengan angka 4, 3, 2, dan 1 yang tersebut bermakna sebagai skala nilai.
c.
Pengolahan Data Skala Penilaian Atau Skala Sikap
Data hasil skala, baik skala
penilaian maupun skala sikap yang berbentuk skor atau data interval,
pengolahannya hampir sama dengan cara pengolahan data hasil intervasi yang
menggunakan skor atau nilai dalam pengamatannya. Dengan demikian, untuk setiap
siswa yang di ukur melalui skala penilaian atau skala sikap bias di tentukan ;
1.
Perolehan skor dari seluruh butir pertanyaan,
2.
Skor rata-rata dari setiap pertanyaan dengan membagi jumlah
skor oleh banyaknya pertanyaan,
3.
Interpretasi terhadap pertanyaan mana yang positif atau baik
dan pertanyaan atau aspek mana yang negative atau kurang baik.
1.
Cara
memberi skor mentah untuk tes uraian
Dalam bentuk uraian biasanya skor mentah dicari dengan menggunakan
sistem bobot. Sistem bobot ada dua cara, yaitu:
Pertama, bobot
dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukarannya. Misalnya,
untuk soal yang mudah skor maksimumnya adalah 6, untuk skor sedang skor
maksimumnya adalah 7, dan untuk soal sukar skor maksimumnya adalah 10. Cara ini
tidak memungkinkan peserta didik mendapat skor maksimum sepuluh. Kedua,
bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat
kesukaran soal. Misalnya, soal yang mudah diberi bobot 3, soal sedang diberi
bobot 4, dan soal sukar diberi soal bobot 5. Cara ini memungkinkan peserta
didik mendapat skor sepuluh (Zainal Arifin, 2011, h.223).
Contoh 1:
Seorang peserta didik diberi 3 soal dalam bentuk uraian. Setiap
soal dberi skor (x) maksimum dalam rentang 1-10 sesuai dengan kualitas jawaban
peserta didik.
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Pertama
|
No.
soal
|
Tingkat
Kesukaran
|
Jawaban
|
Skor(X)
|
|
1
|
Mudah
|
Betul
|
6
|
|
2
|
Sedang
|
Betul
|
7
|
|
3
|
Sukar
|
Betul
|
10
|
|
|
Jumlah
|
|
23
|
Rumus: Skor
=
Keterangan:
SX = Jumlah skor
SX = Jumlah skor
S =
Jumlah soal
Jadi,
skor peserta didik A =
= 7,67
Perhitungan Skor dengan Sistem Bobot Kedua
|
No.
soal
|
Tingkat
Kesukaran
|
Jawaban
|
Skor
(X)
|
Bobot(B)
|
XB
|
|
1
|
Mudah
|
Betul
|
10
|
3
|
30
|
|
2
|
Sedang
|
Betul
|
10
|
4
|
40
|
|
3
|
Sukar
|
Betul
|
10
|
5
|
50
|
|
Jumlah
|
|
12
|
120
|
||
Rumus
: Skor =
Keterangan
:
TK = Tingkat Kesukaran
X = Skor setiap soal
B = Bobot sesuai dengan tingkat kesukaran
soal
SXB = Jumlah hasil perkalian X dengan B
Jadi
skor peserta didik:
= 10
2.
Cara
memberi skor mentah untuk tes objektif
Ada dua cara untuk memberikan skor pada soal tes bentuk objektif
yaitu (Zainal Arifin, 2011, h.228):
a.
Tanpa
Rumus Tebakan
Biasanya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat
kebaikannya. Caranya adalah menghitung jumlah jawaban yang betul saja. Setiap
jawaban yang betul diberi skor 1, yang salah diberi skor 0.
Jadi, skor = jumlah jawaban yang betul
b.
Menggunakan
Rumus Tebakan
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu sudah pernah
d ujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat dikeetahui tingkat kebenarannya.
Penggunaan rumus tebakan ini bukan karena guru sudah mengetahui bahwa peserta
didik itu menebak, tetapi tes bentuk objektif ini memang sangat memungkinkan
peserta didik untuk menebak. Adapun rumus-rumus tebakan tersebut adalah sebagai
berikut:
1)
Untuk
item benar salah (true-false)
Rumus : S = SB - SS
Keterangan:
S = Skor yang di cari
SB = Jumlah jawaban yang benar
SS = Jumlah jawaban yang salah
Contoh:
Seorang peserta
didik di tes dengan soal bentuk B – S sebanyak 30 soal. Ternyata, peserta didik
menjawab soal dengan betul 25 butir soal, berarti jawaban yang salah ada 5
soal. Maka skor nya adalah:
Skor = 25 - 5 = 20
2)
Untuk
item bentuk pilihan ganda (multiple choice)
Rumus : S = SB -
Keterangan :
S = Skor yang dicari
SB
= Jumlah jawaban yang benar
SS
= Jumlah jawaban yang salah
n = Jumlah alternatif yang disediakan
1
= Bilangan tetap
Contoh:
Seorang peserta didik A dites sebanyak 10 soal. Ternyata peserta
didik A dapat menjawab dengan betul sebanyak 7 butir soal, berarti jumlah jawaban yang salah adalah 3 soal.
Jmlah alternatif jawaban = 4. Dengan demikian, skor peserta didik A adalah:
Skor = 7 -
= 6
3)
Untuk
soal betuk menjodohkan (Matching)
Rumus: S = SB
Keterangan:
S = Skor yang
dicari
SB =
Jumlah jawaban yang benar
3.
Cara
memberi skor untuk skala sikap
Untuk mengukur sikap dan minat belajar, guru dapat menggunakan alat
penilaian model skala, seperti skala sikap dan skala minat. Skala sikap dapat
menggunakan lima skala, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Tahu (TT),
Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Begitu juga untuk skala
minat, guru dapat menggunakan 5 skala, seperti Sangat Berminat (SB), Berminat
(B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat (KB), dan Tidak Berminat (TB), (Zainal
Arifin, 2011, h.233).
4.
Cara
memberi skor untuk domain psikomotor
Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang di ukur adalah
penampilan atau kinerja. Untuk mengukurnya, guru dapat menggunakan tes tindakan
melalui simulasi atau unjuk kerja. Salah satu instrument yang dapat digunakan
adalah skala penilaian yang terentang dari sangat baik (5), baik (4), cukup
baik (3), kurang baik (2), sampai dengan tidak baik (1), (Zainal Arifin, 2011,
h.234).
5.
Pengolahan
dan pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar
Dua hal yang perlu di pahami dalam pengolahan dan pengubahan skor
mentah menjadi skor standar atau nilai yaitu (Anas Sudijono, 2015, h.312):
a.
Bahwa
dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara:
1)
Bahwa
pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu
pada kriterium. Cara pertama ini dikenal dengan istilah Penilaian Acuan Patokan
(PAP).
2)
Bahwa
pengolahan dan pengubahan skor mentah
menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada Penilaian Acuan Norma (PAN).
b.
Bahwa
pengolahan dan pengubahan nilai itu dapat menggunakan berbagai macam skala,
seperti: skala lima, yaitu nilai standar berskala lima atau sering dikenal
dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan E. Skala Sembilan yaitu nilai standar
berskala Sembilan dimana rentangan nilainya mulai angka 1 sampai angka 9 (tidak
ada angka 0 dan tidak ada angka 10), dll.
BAB III
KESIMPULAN
Langkah – Langkah dalam Penyusunan Tes yaitu menentukan,
mengadakan, merumuskan, menderetkan, menyusun, menuliskan soal yang didasarkan
atas tujuan instruksional khusus (TIK) yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan
aspek tingkah laku yang dicakup yang meliputi soal ingatan, soal pemahaman,
soal aplikasi, soal analisis, soal sintesis, dan soal evaluasi.
Komponen atau kelengkapan sebuah tes
terdiri atas: Buku tes, Lembar jawaban tes, Kunci jawaban tes, pedoman
penilaian.
Tabel Spesifikasi (Kisi-kisi Soal) Dalam
pembicaraan mengenai validitas tes disebutkan bahwa sebuah tes harus memiliki
validitas isi dan tingkah laku. Dan memang validitas inilah yang terpenting
dalam menyusun tes prestasi. Fungsi table spesifikasi ialah untuk menjaga agar tes yang kita susun tidak menyimpang dari
bahan (materi) serta aspek kejiwaan (tingkah laku) yang akan dicakup dalam tes.
Tindak Lanjut Sesudah Penyusunan
Tabel Spesifikasi Setelah kita membuat table spesifikasi, hal selanjutnya yang
dilakukan oleh penilai yaitu menentukan
bentuk soal dan menuliskan
soal-soal tes.
Pengolahan
data dimaksudkan untuk (a) Menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dan
dibandingkan dengan kelompoknya dan untuk (b) menentukan batas kelulusan
berdasarkan kriteria yang ditentukan.
DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, cet ke-14, 2015.
Davis, R. H., L.T. Alexander, and S.L. Yelon, Learning System
Design: An Approach to The Improvement Of Intruction, Michigan State
University: McGraw-Hill Book Company.
M Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi
Pengajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-15, 2009.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet ke-14, 2009.
Popham, W.J, Evaluation in Education : Current Application,
Los Angeles: University of California,
1974.
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2,
Jakarta: PT Bumi Aksara, cet ke-3, 2013.
Zainal Arifin, Evaluasi
Pembelajaran (Prinsip Teknik Prosedur), Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, cet ke-3, 2011.