EPISTEMOLOGI HERMENEUTIKA
TUGAS
MAKALAH DOSEN
PENGASUH
Filsafat Ilmu Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, MA
Dr. Rusydi, M.Ag
EPISTEMOLOGI HERMENEUTIKA
Oleh:
Nora Sunaryo
Putri NIM.1502521458
Syarifah Sofia Ulfah
NIM.1502521464
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
ANTASARI BANJARMASIN
PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Kata hermeneutika berasala dari kata Yunani: hermeneuein yang diartikan sebagai:
menafsirkan dri kata bendanya hermeneia artinya tafsiran. Hermeneuein sendiri
mengandung tiga makna yaitu: to say (mengatakan); to explain (menjelaskan); to
translate (menerjemahkan). Yang kemudian ketiga makna ini diserap ke bahasa
Inggris menjadi to interpet. Otomatis kegiatan interpretasi menunjukan pada
tiga hal pokok yakni: an oral recitation (pengucapan lisan); a reasonable
explanation (penjelasan yang masuk akal); a translation from another language
(terjemahan dari bahasa lain/mengekspresikan).
Kata hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah
sebuah ilmu dan seni menginterpretasikan sebuah teks.
Peroalan
hermeneutika terletak pda pencarian makna teks, apakah makna obyektif atau makna subyektif . perbedanna penekanan
pencarian makna pada ketiga unsur hermeneutika: penggagas, teks, dan pembaca,
menjadi titik beda masing-masing hermeneutika. Titik beda itu dapat
dikelompokkan menjadi tiga kategori hermeneutika: hermeneutika teoritis,
hermeneutika filosofi, dan hermeneutika kritis. Hermeneutika teoritis, bentuk
hermeneutika seperti ini meneitik beratkan kajiannya pada problem
“pemahaman”,yakni bagaimana memahami dengan benar. Sedang makna yang menjadia
tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki
penggagas. Hermeneutika filosofis, problem utama hermeneutika ini bukanlah
bagaimana memahami teks dengan benar dan obyektif sebagaimana hermeneutika
teoritis. Problem utamanya adalah bagaimana “tindakan memahami” itu sendiri.
Hermeneutika kritis, hermeneutika ini bertujuan untuk mengungkap kepentingan di
balik teks. Hermeneutika kritis menempatkan sesuatu yang berada di luar teks
sebaga problem hermeneutiknya.
BAB II
EPISTEMOLOGI HERMENEUTIKA
A.
PENGERTIAN HERMENEUTIKA
Istilah epistemology berasal dari kata episteme yang berarti
pengetahuan, dan logos yang berarti teori. Secara etimologis, berarti teori
Pengetahuan.[1]
Epistimologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan, teori tentang
metode atau dasar dari ilmu pengetahuan atau studi tentang hakikat tertinggi
kebenaran dan batas ilmu manusia. [2]Kata
hermeneutika secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu kata
kerja hermeneuein yang berarti “menafsirkan” atau “menginterpretasi”.Dari
kata kerja hermeneuein dapat ditarik tiga bentuk makna dasar masih dalam
koridor makna aslinya, yaitu mengungkapkan, menjelaskan, dan menerjemahkan.[3]
Dalam bahasa Inggrisnya adalah Hermeneutics. Istilah
tersebut dalam berbagai bentuknya dapat dibaca dalam sejumlah literature dalam
peninggalan Yunani Kuno, seperti yang digunakan Aritoteles dalam sebuah
risalahnya yang berjudul Peri Hermeneias (Tentang Penafsiran).Selain
itu, sebagai sebuah terminology, hermeneutika juga bermuatan pandangan
hidup (world view) dari para penggagasnya.[4]
Istilah Yunani ini mengingatkan kita pada tokoh mitologis yang
bernama Hermes, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan
pesan Jupiter kepada manusia. Hermes digambarkan sebagai seseorang yang
mempunyai kaki bersayap, dan lebih banyak dikenal dengan sebutan Mercurius
dalam bahasa Latin. Tugas Hermes adalah menerjemahkan pesan – pesan dari dewa
di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. Oleh
karena itu, fungsi Hermes adalah penting sebab bila terjadi kesalahpahaman
tentang pesan dewa – dewa, akibatnya akan fatal bagi seluruh umat manusia. Hermes
harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang
dipergunakan oleh pendengarnya. Sejak saat itu Hermes menjadi symbol seorang
duta yang dibebani dengan sebuah misi tertentu. Berhasil tidaknya misi itu
sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu disampaikan.[5]
Oleh Karena itu, hemeneutik pada akhirnya diartikan sebagai ‘proses
mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Batasan umum ini
selalu dianggap benar, baik hermeneutika dalam pandangan klasik mapun
dalam pandangan modern.
Dalam definisi lain Habermas (dalam Voller, 1990 :224) menyatakan hermeneutika
sebagai suatu seni memahami makna komunikasi linguistic dan menafsirkan simbol
yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti
dan maknanya, di mana metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk
menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang.[6]
Hermeneutik dalam pandangan klasik akan mengingatkan kita pada apa
yang ditulis Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau De
Interpretatione. Yaitu : bahwa kata – kata yang kita ucapkan adalah simbol
dari pengalaman mental kita, dan kata – kata yang kita tulis adalah simbol dari
kata – kata yang kita ucapkan itu.
Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosiasikan
dengan Hermes ini terkandung di dalam semua tiga bentuk makna dasar dari hermeneuein
dan hermeneia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan
bentuk verb dari hermeneuein, yaitu :[7]
1.
Mengungkapkan
kata – kata, misalnya, “to say”,
2.
Menjelaskan,
seperti menjelaskan sebuah situasi ;
3.
Menerjemahkan,
seperti di dalam transliterasi bahasa asing.
Ebeling membuat interpretasi yang banyak dikutip mengenai proses
penerjemahan yang dilakukan Hermes. Proses tersebut mengandung tiga makna
hermeneutis yang mendasar yaitu : 1) mengungkapkan sesuatu yang tadinya masih
dalam pikiran melalui kata – kata sebagai medium penyampaian ; 2) menjelaskan secara
rasional sesuatu yang sebelumnya masih samar – samar sehingga maknanya dapat
dimengerti; dan 3) menerjemahkan suatu
bahasa yang asing ke dalam bahasa lain yang lebih dikuasai pembaca. Tiga
pengertian tersebut yang terangkum dalam pengertian “menafsirkan” (interpreting,
understanding)[8]
Komponen pokok dalam kegiatan penafsiran dengan metode hermeneutika
yakni teks, konteks, dan kontekstualisasi.Keberadaan konteks dan seputar teks
tidak bisa dinafikan jika kita ingin memperoleh pemahaman yang tepat terhadap
teks.Sebab, kontekslah yang menentukan makna teks, bagaimana teks tersebut
harus dibaca, dan seberapa jauh teks tersebut harus dipahami. Dengan demikian,
teks yang sama dalam kurun waktu yang sama dapat memiliki makna yang berbeda di
mata “penafsir” yang berbeda; bahkan seorang penafsir yang sama dapat
memberikan pemahaman teks yang sama secara berbeda – beda ketika ia berada
dalam ruang dan waktu yang berbeda. [9]
Ada tiga pemahaman yang dapat diperoleh dari perbincangan
hermeneutika yaitu pertama, hermeneutika dipahami sebagai teknis praksis
pemahaman atau penafsiran.Kedua, hermeneutika dipahami sebagai sebuah metode
penafsiran. Ketiga, hermeneutika dipahami sebagai filsafat penafsiran[10]
B.
HERMENEUTIKA DAN BAHASA
Pada
dasarnya hermeneutika berhubungan dengan bahasa. Kita berpikir melalui bahasa.;
kita berbicara dan menulis dengan bahasa. Kita mengerti dan membuat
interpretasi dengan bahasa bahkan seni yang dengan jelas tidak menggunakan
sesuatu bahasa pun berkomunikasi dengan seni – seni yang lainnya juga dengan
menggunakan bahasa.Semua bentuk seni yang ditampilkan secara visual (misalnya
patung, dll) juga diapresiasi dengan menggunakan bahasa. Bagaimana kita
mengungkapkan kenikmatan dan kebosanan kita saat mendengarkan musik klasik
ciptaan W.A Mozart atau J.S. Bach? Atau mengungkapkan kekaguman kita saat
melihat lukisan karya Michael Angelo dan memperbandingkannya dengan karya
Affandi atau Picasso? Hanya melalui bahasa[11].
Dengan
kata lain, memahami bahasa memungkinkan kita untuk berpartisipasi pada
pemakaian bahasa di masa – masa yang akan datang. Bahasa adalah perantara yang
nyata bagi hubungan umat manusia.Tradisi dan kebudayaan kita, segala warisan
nenek moyang kita sebagai suatu bangsa, semuanya itu terungkap di dalam bahasa,
baik yang terukir pada batu prasasti maupun yang tertulis pada daun lontar.
C.
HERMENEUTIKA SEBAGAI SUATU PENDEKATAN
a.
Wilayah
Pendekatan Hermeneutika
Sebagaimana penjelasan sebelumnya, sasaran operasional hermeneutika
sebenarnya selalu berhubungan dengan proses pemahaman (understanding),
penafsiran (interpretation) dan penerjemahan (translation).
Karena itu, pada dasarnya wilayah yang dapat didekati dengan Hermeneutika
adalah teks yang tertulis. Karena itu, pada dasarnya wilayah yang dapat
didekati dengan hermeneutika adalah teks
yang tertulis. Tapi kemudian muncul persoalan ketika pemahaman dilakukan
pada teks tanpa tuan, apakah pemahaman hanya terbatas pada teks yang Nampak
atau mesti melibatkan aspek psioko – histiris penulisnya. Disinilah muncul dua
aliran mazhab, yaitu mazhab hermeneutika transendental dan historis psikologis.
Yang pertama berpandangan bahwa untuk menemukan sebuah kebenaran dalam teks
tidak harus mengaitkan dengan pengarangnya karena sebuah kebenaran bisa berdiri otonom ketika tampil
dalam teks. Yang kedua berpandangan bahwa teks adalah eksposisi eksternal dan
temporal semata dari pikiran pengarangnya, sementara kebenaran yang hendak
disampaikan tidak mungkin terwadahi secara representative dalam teks.Mazhab
inilah yang diperjuangkan oleh Schleiermacher dengan teorinya grammatical
understanding (pemahaman gramatikal) dan psychological understanding
(pemahaman psikologis)[12].
Tapi dalam perkembangan selanjutnya, wilayah hermeneutika tidak lagi
terbatas pada dua mazhab di atas, akan tetapi telah diintegrasikan dalam
berbagai disiplin ilmu. Para ilmuan seperti sosiolog, antropolog, ekonom,
sejarahwan, teolog, filosof dan para sarjana agama menggunakan hermeneutika
dalam disiplin ilmunya[13].
Semakin meluasnya wilayah pendekatan hermeneutika, maka klasifikasi
studi hermeneutika juga menjadi terbagi, yaitu :
1.
Exegesis (tafsir atas bible).
2.
Philology (interpretasi atas berbagai teks sastra kuno),
3.
Technical
hermeneutics (interpretasi
atas penggunaan dan pengembangan kaedah – kaedah bahasa).
4.
Philosophical
Hermeneutics (interpretasi
atas sebuah pemahaman esensial).
b.
Langkah
– langkah Pendekatan Hermeneutika
Dibandingkan dengan metode fenomologi yang mencoba mengungkapkan
dan mendeskripsikan hakekat agama, maka metode hermeneutika mencoba memahami
kebudayaan melalui interpretasi.Karena pada mulanya metode ini diterapkan untuk
menginterpretasikan teks – teks keagamaan, maka tidak heran jika tradisi
tekstualitas masih tetap melekat, dalam arti masih mendudukan teks sebagai
perhatian sentral. Sehingga langkah – langkah yang perlu diikuti dalam
melakukan penelitian dengan pendekatan hermeneutic adalah sebagai berikut:[15]
1.
Telaah Atas Hakekat Teks
Di dalam Hermeneutika, teks diperlakukan sebagai sesuatu yang
mandiri, dilepaskan dari pengarangnya, waktu penciptanya, dan konteks
kebudayaan pengarang maupun kebudayaan yang berkembang dalam ruang dan waktu
ketika teks itu diciptakan.Karena wujud teks adalah tulisan dan yang ditulis
adalah bahasa, maka yang menjadi pusat perhatiannya adalah hakekat bahasa.Sebagaimana
diketahui, bahasa merupakan alat komunikasi, alat penyampaian sesuatu.Sebagai
akibatnya, terdapat hubungan antara ‘alat penyampaian’ dan ‘apa yang
disampaikan’. Tujuan dari metode ini adalah mengerti tentang apa yang
disampaikan dengan cara menginterpretasikan alat penyampaiannya, yaitu teks
atau bahasa tulis.
2.
Proses Apresiasi
Proses ini sesungguhnya adalah bentuk ketidakpuasan atas kebenaran
tekstual. Karena itu, proses ini mencoba mengapresiasikan secara historis
penulis atau pengarang teks. Menurut Dilthey, sebuah teks mesti diproyeksikan
kebelakang dengan melihat tiga hal:a). Memahami sudut padang atau gagasan para
pelaku sejarah yang berkaitan dengan teks.b). Memahami makna aktivitas mereka
pada hal yang berkaitan langsung dengan teks.c). Menilai peristiwa tersebut
berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat teks tercipta[16]
Dengan demikian, seorang pembaca atau peneliti tidak dibiarkan
tenggelam dalam lautan teks, tetapi juga harus menyelam ke dunia di mana teks
diciptakan.
c.
Proses Interpretasi
Inilah bnetuk terakhir dari proses pengkajian dengan pendekatan
hermeneutika. Ketika berhadapan dengan teks maka pembaca dinyatakan dalam
situasi hermeneutika, yaitu berada pada posisi antara masa lalu dan masa kini,
atau antara yang asing dan yang tak asing.Masa lalu dan asing karena tidak
mengetahui masa lalu teks dan masa kini dan tak asing karena mengetahui teks
yang sedang dihadapi.
Sebagai seorang yang menempati posisi antara, maka ia harus
menjembatani masa lalu dan masa kini melalui interpretasi. Pembaca atau
peneliti harus mampu menghadirkan kembali makna – makna yang dimaksudkan ketika
teks diciptakan di tengah – tengah situasi yang berbeda.
Agar benar – benar memperoleh interpretasi yang benar (sesuai
dengan pencipta teks), maka pembaca atau peneliti juga dituntut memiliki
kesadaran sejarah, karena salah dalam memahami sejarah maka proses hermeneutika
akan menjadi keliru.
D.
HERMENEUTIKA SEBAGAI SEBUAH METODE PENAFSIRAN
Sebagai
sebuah metode penafsiran, hermeneutika terdiri atas tiga bentuk atau model.
1.
Hermeneutika
Objektif yang dikembangkan tokoh – tokoh
klasik, khususnya Friedrick Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Emilio Batti.
Menurut model ini penafsiran berarti memahami teks sebagaimana yang dipahami
pengarangnya, sebab apa yang disebut teks adalah ungkapan jiwa pengarangnya,
sehingga apa yang disebut makna atau tafsiran atasnya tidak didasarkan atas
kesimpulan pembaca melainkan diturunkan dan bersifat instruktif[17].
2.
Hermeneutika
Subjektif yang dikembangkan oleh tokoh –
tokoh modern khususnya Hans – Georg Gadamer dan Jacques Derida. Menurut model
ini, hermeneutika bukan usaha menemukan makna objektif yang dimaksud si penulis
seperti yang diasumsikan model hermeneutika objektif melainkan memahami apa
yang tertera dalam teks itu sendiri[18].
3.
Hermeneutika
Pembebasan yang dikembangkan oleh tokoh –
tokoh Muslim Kontemporer khususnya Hasan Hanafi dan Farid Esack. Menurut model
ini, hermeneutika tidak hanya berarti ilmu interpretasi atau metode pemahaman
tetapi lebih dari itu adalah aksi[19].
E.
TIPE – TIPE DAN VARIAN HEREMENEUTIKA
Tipe
– tipe hermeneutika menurut Palmer (1999), selain Gadamer, terdapat dua belas
filsuf yang pemikiran dan karyanya berkorelasi dengan hermeneutika yakni[20]:
1.
Plato
(metode dialogis yang dikembangkannya dari Sokrates, mitos tidak bertentangan dengan
rasio / logos)
2.
Aristoteles
(Organon, terutama de Interpretatione)
3.
Hegel
(dialektika; tesis, antithesis, sintesis)
4.
Husserl
(fenomenologi)
5.
Heidegger
(fenomenologi, terutama Being dan Time)
6.
Wittgenstein
(filsafat bahasa)
7.
Adorno
(teori kritis Frankfurt School)
8.
Habermas
(hermeneutika salah satu dimensi teori kritik social)
9.
Derrida
(mendekati hermeneutika dari latar post – structuralist theory)
10.
Foucault
(strukturalis / “interpretative an-alytics)
11.
Rorty
(menggunakan hermeneutika untuk membangun posisi menentang epistemology yang
berbasis – filsafat, masa lampau, dan masa kini)
12.
Davidson
(menafsirkan Alkitab sebagai dialog hermeneutikal).
Selama ini telah muncul dan berkembang beberapa varian hermeneutika
sebagai berikut:
1.
Hermeneutika
romantis
Dengan
tokohnya Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768 – 1834) seorang filosof,
teolog, filolog, dan tokoh sekaligus pendiri Protestantisme
Liberal.Schleiermecher merupakan filosof Jerman pertama yang terus menerus
memikirkan persoalan hermeneutika. Itulah sebabnya ia dianggap sebagai bapak
hermeneutika modern, karena dalam melihat pemikirannya, makna hermeneutika
berubah dari sekedar kajian teologis (teks Bibel) menjadi metode memahami dalam
pengertian filsafat[21].Menurut
perspektif tokoh ini, dalam upaya memahami wacana ada unsur penafsir, teks,
maksud pengarang, konteks historis, dan konteks kultural.
Friedrich
Ernst Daniel Schleiermacher adalah seorang raksasa intelektual pada
zamannya.Tulisan – tulisannya tentang teologi, filsafat, dan juga khotbah –
khotbahnya mengungkapkan minat intelektualnya yang amat luas.[22]
2.
Hermeneutika
Metodis
Oleh
Wilhem Dilthey (1833 – 1911). Pemikiran hermeneutika Schleiermacher dikritik
oleh Wilhem Dilthey seorang filosof, kritikus sastra dan ahli sejarah dari
Jerman.Menurutnya manusia bukan sekedar makhluk berbahasa, tetapi makhluk
eksistensial. Menurut Dilthey, sejak awal manusia tidak pernah hidup hanya
sebagai makhluk linguistic yang hanya mendengar, menulis, dan membaca untuk
kemudian memahami dan menafsirkan. Lebih dari itu, manusia adalah makhluk yang
memahami dan menafsirkan dalam setiap aspek kehidupannya. Namun demikian, dalam
proses memahami teks, Dilthey berpandangan bahwa makna teks harus ditelusuri
dari maksud subjektif pengarangnya.
Menurut
Dilthey, pikiran seseorang selalu berkembang karena situasi eksternal dan
pengalaman – pengalaman barunya. Karena mengedepankan masa lalu (sejarah)
pengarang dalam menafsirkan teks, maka gagasan hermeneutika Dilthey juga sering
disebut hermeneutika historis.
3.
Hermeneutika
fenomenologis
Edmund
Husserl (1889 – 1938), tokoh hermeneutika fenomenologis, menyebutkan bahwa
proses pemahaman yang benar harus mampu membebaskan diri dari prasangka, dengan
membiarkan teks berbicara sendiri. Oleh sebab itu, menafsirakn sebuah teks
berarti secara metodologis mengisolasikan teks dari semua hal yang tidak ada
hubungannya, termasuk bias – bias subjek penafsir dan membiarkannya
mengomunikasikan maknanya sendiri pada subjek.
4.
Hermeneutika
Dialektis
Martin
Heidegger (1889 – 1976), tokoh hermeneutika dialektis, menjelaskan tentang
prasangka – prasangka historis atas objek merupakan sumber – sumber pemahaman,
karena prasangka adalah bagian dari eksistensi yang harus dipahami. Pembacaan
atau penafsiran selalu merupakan pembacaan ulang atau penafsiran ulang, yang
dengan demikian akan memahami lagi teks yang sama secara baru dengan makna yang
baru pula.[23]
5.
Hermeneutika
Dialogis
Hans
Georg Gadamer lahir di Marburg pada tahun 1900. Pada tahun 1922 ia mendapat
gelar doctor filsafat. Menjelang masa pensiunnya pada tahun 1960, karier
filsafatnya justru mencapai puncaknya, yaitu melalui publikasi bukunya yang
berjudul “Kebenaran dan Metode” (Wahrheit und Methode atau truth and method)[24]
Hans
Georg Gadamer tokoh hermenenutika dialektis, menjelaskan tentang pemahaman yang
benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan
metodologis.Artinya kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi
melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan.Dengan demikian, bahasa
menjadi medium yang sangat penting bagi terjadinya dialog.
6.
Hermeneutika
Kritis
Tokohnya
adalah Jurgen hambernas, menyebutkan bahwa pemahaman didahului oleh kepentingan.Yang
menentukan horizon pemahaman adalah kepentingan social yang melibatkan
kepentingan kekuasaan interpenter. Setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias
dan unsur kepentingan politik, ekonomi, social, suku, dan gender.
7.
Teori
Hermeneutika lain yang muncul dari seorang Katolik kelahiran Prancis bernama
Paul Ricoeur (1913) konsep utamanya adalah bahwa begitu makna obyektif
diekspresikan dari niat subyektif sang pengarang, maka berbagai interpretasi
yang dapat diterima menjadi mungkin. Makna tidak diambil hanya menurut
pandangan hidup pengarang, tetapi juga menurut pengertian pandangan hidup
pembaca.
8.
Hermeneutika
Dekonstruksionis
Hermeneutika
ini oleh Jacques Derrida (1930) menunjukkan bahwa bahasa dan juga system symbol
lainnya, merupakan sesuatu yang tidak stabil. Karena itu maka tulisan teks,
menurut Derrida, selalu mengalami perubahan, tergantung konteks dan pembacanya.
BAB III
PENUTUP
o Mediasi
dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosikan dengan Dewa Hermes
terkandung di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia
dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein,
yaitu: to say, to explain, dan to translate atau to
interpret.
o
Dari pemikiran tokoh-tokoh memiliki dasar dan tujuan yang
sama, yaitu tentang penafsiran teks. Dimana hermeneutika mengalami
evaluasi-evaluasi serta pengembangan yang lebih spesifik serta terus berusaha
mencari kebenaran yang pada hakekatnya berupa pendekatan-pendekatan atas
kebenaran
o
Pada akhirnya interpeter tidak sanggup mengerti sepenuhnya
maksut dari penulis karena memiliki daya tangkap, pengalaman, ilmu pengetahuan,
serta karakter yang berbeda.
o Kebenaran itu relatif, namun dengan
adanya tokoh-tokoh filsafat kebenaran itu pun memiliki standart kebenaran
DAFTAR
PUSTAKA
Attamimi, Faisal,
Jurnal :Hermeneutika Gadamer
dalam Studi Teologi Politik, (Palu: Hunafa Jurnal Studia Islamika, 2012),
Vol.9 No. 2, diakses tanggal 2 oktober pukul 21.00
Bertens, K., Filsafat Barat Abad XX, (Jakarta: Gramedia,
1981)
Bleicher,Josef ,Contemporary
Hermenentics, (London: Routlege & Kegan Paul, 1980)
Djamaluddin, Dedy, Zaman Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Wacana
Mulia, 1998), Cet. I.
Eliade (Ed), Mircea, The Encyoclopedia of Relegion, Volume
7, New York: Macmillan Publishing Company, 1993.
Hanafi, Hasan, Liberalisasi, revolusi, Hermeneutik, Terj.
Jajat firdaus, Yogya: Prisma, 2003.
Mahfudz, Muhsin, Jurnal :Hermeneutika : Pendekatan Alternatif
Dalam Pembacaan Teks, ( Makassar: Al – Fikr, 2013), Vol. 17 Nomor 2, di
akses tanggal 2 Oktober 21.00.
Palmer, Richard E., penerjemah Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed, Hermeneutika
Teori Baru Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2005), Cet.
2.
Poespoprodjo,W., “Hermeneutika”, Bandung : CV. Pustaka
Setia, 2004, Cet.1
Putra,R. Masri Sareb, Jurnal :Tradisi Hermeneutika dan
penerapannya dalam studi Komunikasi, (Gading Serpong: Universitas Multimedia
Nusantara, 2012), Volume IV, Nomor 1.
Rahardjo, Mudjia, Dasar – Dasar Hermeneutika : Antara
Intensionalisme dan Gadamerian, Yogyakarta:Ar – Ruzz, 2008.
Rahardjo, Mudjia, Hermeneutika Gadamerian kuasa bahasa dalam
Wacana Politik Gus Dur, Malang: UIN Maliki Press, 2010.
Sumaryono, E., Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat,
(Yogyakarta:Kanisius, 1999), Edisi Revisi.
Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an,
Yogyakarta: Nawesea Press, 2009.
[1]
Burhanuddin
Salam, Logika Materi (Filsafat Ilmu Pengetahuan), (Jakarta : PT. Renika Cipta,
1997) h. 97
[2]
Tim Penulis
Rosda, Kamus Filsafat, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1995) h. 96
[3] Sahiron
Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an,
(Yogyakarta:Nawesea Press, 2009), h. 5 - 10
[4] Mudjia
Rahardjo, Dasar – Dasar Hermeneutika : Antara Intensionalisme dan Gadamerian,
(Yogyakarta:Ar – Ruzz, 2008), h. 27
[5] E. Sumaryono, Hermeneutik
Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta:Kanisius, 1999), Edisi Revisi, h.24
[6] Mudjia
Rahardjo, Hermeneutika Gadamerian kuasa bahasa dalam Wacana Politik Gus Dur,
(Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. 88
[7] Richard E.
Palmer, penerjemah Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed, Hermeneutika Teori
Baru Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2005), Cet. 2,
h.15
[8] Faisal
Attamimi, Jurnal :Hermeneutika Gadamer dalam Studi Teologi
Politik, (Palu: Hunafa Jurnal Studia Islamika, 2012), Vol.9 No. 2, diakses
tanggal 2 oktober pukul 21.00, h. 278-279
[9] Mudjia
Rahardjo, Dasar – dasar Hermeneutika …, ibid h. 32
[10] Faisal
Attamimi, Op.cit. h. 279
[11] E. Sumaryono, Op.cit.
h. 26
[12] Mircea Eliade
(Ed), The Encyoclopedia of Relegion, Volume 7 (New York: Macmillan
Publishing Company, 1993), h. 281
[13] Muhsin
Mahfudz, Jurnal : Hermeneutika : Pendekatan Alternatif Dalam Pembacaan Teks,
( Makassar: Al – Fikr, 2013), Vol. 17 Nomor 2, di akses tanggal 2 Oktober 21.00
[14] Dedy
Djamaluddin, Zaman Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Wacana Mulia, 1998),
Cet. I, h. 64
[15] Muhsin
Mahfudz, op.cit
[16] E. Sumaryono, op.cit.
h. 57
[17] Josef
Bleicher, Contemporary Hermenentics, (London: Routlege & Kegan Paul,
1980), h. 29
[18] K. Bertens,
Filsafat Barat Abad XX, (Jakarta: Gramedia, 1981), H. 225
[19]Hasan Hanafi, Liberalisasi,
revolusi, Hermeneutik, Terj. Jajat firdaus, (Yogya: Prisma, 2003), h.109
[20] R. Masri Sareb
Putra, Jurnal :Tradisi Hermeneutika dan penerapannya dalam studi Komunikasi,
(Gading Serpong: Universitas Multimedia Nusantara, 2012), Volume IV, Nomor 1,
h. 76
[21] Faisal
Attamimi, Op.cit., h. 281
[22]W.
Poespoprodjo, “Hermeneutika”, (Bandung : CV. Pustaka Setia, 2004), Cet.
1, h. 18
[23] Mudjia
Rahardjo, Dasar – Dasar Hermeneutika …..h. 65
[24] E. Sumaryono,
Op.cit. h. 67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar