MODEL MODEL KURIKULUM
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengembangan
kurikulum tidak dapat lepas
dari berbagai aspek
yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral,
keagamaan, politik, budaya, dan sosial),
proses pengembangan, kebutuhan
peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun
arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut akan menjadi bahan yang perlu
dipertimbangkan dalam suatu pengembangan kurikulum. Model pengembangan
kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur
dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation),
dan mengevaluasi (evaluation) suatu
kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan
suatu proses sistem perencanaan
pembelajaran yang dapat memenuhi
berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. (Ruhimat, T. dkk 2009:
74).
Berbagai macam
model kurikulum telah dikembangkan oleh para ahli kurikulum, pendidikan dan
psikologi. Sudut pandang ahli yang satu terkadang berbeda dengan sudut pandang
ahli yang lain. Ada yang memandang dari sudut isinya dan ada juga yang
memandang dari sisi pengelolaanya (sentralisitik/desentralistik). Tidak sedikit
pula ahli yang mengembangkan model kurikulum dari sisi proses penggunaan
kurikulum tersebut. Namun demikian, jika anda teliti lebih lanjut, para ahli
tersebut mempunyai satu tujuan/arah yaitu mengoptimalkan kurikulum.
B.
Rumusan Masalah
1. Ada berapakah model-model kurikulum?
2. Apa pengertian model-model kurikulum?
C.
Tujuan
1. Mengetahui beberapa model-model
kurikulum.
2. Mengetahui pengertian model-model
kurikulum.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum subjek
akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang
berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah
ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan
mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih
mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu
sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang
menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau
disiapkan oleh guru.
Isi pendidikan
diambil dari setiap disiplin ilmu. Sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli,
masing-masing telah mengembangkan ilmu secara sistematis, logis, dan solid.
Para pengembang kurikulum tidak perlu susah-susah menyusun dan mengembangkan
bahan sendiri. Mereka tinggal memilih bahan materi ilmu yang telah dikembangkan
para ahli disiplin ilmu, kemudian mereorganisasinya secara sistematis, sesuai
dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan siswa yang akan mempelajarinya.
Guru sebagai penyampai bahan ajar memegang peranan penting. Mereka harus
menguasai semua pengetahuan yang ada dala kurikulum. Ia harus mejadi ahli dalam
bidang-bidang studi yang diajarkannya. Lebih jauh guru dituntut bukan hanya
menguasai materi pendidikan, tetapi ia juga menjadi model bagi para siswanya.
Apa yang disampaikan dan cara penyampaiannya harus menjadi bagian dari pribadi
guru. Guru adalah yang “digugu” dan “ditiru” (diikuti dan dicontoh).
Kurikulum subjek
akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam
perkembangannya secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan
siswa. Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada segi apa yang
dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.
Sekurang-kurangnya
ada tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis. Pendekatan
pertama, melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan. Murid-murid belajar
bagaimana memperoleh dan menguji fakta-fakta dan bukan sekedar
mengingat-ingatnya.
Pendekatan
kedua, adalah studi yang bersifat integratif. Pendekatan ini merupakan respons
terhadap perkembangan masyarakat yang menuntut model-model pengetahuan yang
lebih komprehensif-terpadu. Pelajaran tersusun atas satuan-satuan pelajaran,
dalam satuan-satuan pelajaran tersebut batas-batas ilmu menjadi hilang.
Pendekatan
ketiga, adalah pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis.
Mereka tetap mengajar berdasarkan matapelajarandenganmenekankanmembaca,
menulis, danmemecahkanmasalahmatematis. Pelajaran-pelajaranlainseperti ilmu
kealaman, ilmu sosial, dan lain-lain dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis pemecahan masalah dalam kehidupan.
1.
Ciri-ciri
kurikulum subjek akademis
Kurikulum subjek
akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi
isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian
pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses
“penelitian”. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, para siswa
diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan
dalam masyarakat yang lebih luas. Para siswa harus belajar menggunakan pemikiran
dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya. Sekolah harus memberikan kesempatan
kepada para siswa untuk merealisasikan kemampuan mereka menguasai warisan
budaya dan jika mungkin memperkayanya.
Metode yang
paling banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalah metode
ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi
(dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai. Konsep utama disusun secara
sistematis, dengan ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji. Dalam materi
disiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai masalah penting, kemudian
dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.
Ada beberapa
pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola
organisasi yang terpenting di antaranya:
a.
Correlated curriculumadalah
pola organisasi materi atau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran
dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.
b.
Unified atau Concentrated curriculumadalah
pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu,
yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.
c.
Integrated curriculum.
Kalau dalam unified masih tampak
warna disiplin ilmunya, maka dalam pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebut sudah tidak kelihatan lagi.
Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan
tertentu.
d.
Problem solving curriculum
adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang
dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.
Tentang kegiatan
evaluasi, kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi
disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran. Dalam bidang studi
humaniora lebih banyak digunakan bentuk uraian (essay test) daripada tes objektif. Bidang studi tersebut
membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara
menyeluruh. Bidang studi seni yang sifatnya ekspresi membutuhkan penilaian
subjektif yang jujur, di samping standar keindahan dan cita rasa. Lain halnya
dengan matematika, nilai tertinggi diberikan bila siswa menguasai landasan
aksioma serta cara penghitungannya benar. Dalam ilmu kealaman penghargaan
tertinggi bukan hanya diberikan kepada jawaban yang benar tetapi juga pada proses
berpikir yang digunakan siswa.
2.
Pemilihan
disiplin ilmu
Masalah besar
yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana
memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Apabila
ingin memiliki penguasaan yang cukup mendalam maka jumlah disiplim ilmunya
harus sedikit. Apabila hanya mempelajari sedikit disiplin ilmu maka penguasaan
para siswa akan sangat terbatas, sukar menerapkannya dalam kehidupan masyarakat
secara luas. Apabila disiplin ilmunya cukup banyak, maka tahap penguasaannya
akan mendangkal. Anak-anak akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya
sedikit-sedikit (tidak mendalam).
Ada beberapa
saran untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu:
a.
Mengusahakan
adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness)
dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan
pengetahuan.
b.
Mengutamakan
kebutuhan masyarakat (social utility),
memilih dan menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat diperlukan
dalam kehidupan masyarakat.
c.
Menekankan
pengatahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar (prerequisite) bagi penguasaan
disiplin-disiplin ilmu yang lainnya.
3.
Penyesuaian
mata pelajaran dengan perkembangan anak
Para pengembang
kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyusunan bahan secara logis dan
sistematis daripada menyelaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak.
Mereka umumnya kurang memperhatikan bagaimana siswa belajar dan lebih
mengutamakan susunan isi, yaitu apa yang akan diajarkan. Proses belajar yang ditempuh
oleh siswa sama pentingnya dengan penguasaan konsep, prinsip-prinsip, dan
generalisasi. Para ahli kurikulum subjek akademis juga memandang materi yang
akan diajarkan bersifat universal, mereka mengabaikan karakteristik siswa dan
kebutuhan masyarakat setempat.
B.
Kurikulum Humanistik
1.
Konsep
dasar
Kurikulum humanistik
berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (personalized education) yaitu John Dewey (progressive education) dan J.J. Rousseau (romantic education). Aliran ini lebih memberikan tempat utama
kepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak atau siswa adalah yang
pertama dan utama dalam pendidikan. Ia adalah subjek yang menjadi pusat
kegiatan pendidikan. Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, punya kemampuan,
dan kekuatan untuk berkembang. Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep
Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan
diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan
intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai,
dan lain-lain).
Pandangan mereka
berkembang sebagai reaksi terhadap pendidikan yang lebih menekankan segi
intelektual dengan peran utama dipegang oleh guru. Pendidikan humanistik
menekankan peranan siswa. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk menciptakan
situasi yang permisif, rileks, dan akrab. Berkat situasi tersebut anak
mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Menurut mc neil “the new humanists are self actualizers who
see curriculum as a liberating process that can meet the need for growth and
personal integrity”. Tugas guru adalah menciptakan situasi yang permisif
dan mendorong siswa untuk mencari dan mengembangkan pemecahan sendiri.
pendidikan
mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan
bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. tujuan pengajaran adalah
memperluas kesadaran diri sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan
dari lingkungan. ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistik
yaitu pendidikan: Konfluen, Kritikisme Radikal, dan Mistikisme modern.
Pendidikan
konfluen menekankan keutuhan pribadi, individu harus merespons secara utuh
(baik segi pikiran, perasaan, maupun tindakan), terhadap kesatuan yang
menyeluruh dari lingkungan.
Kritikisme
radikal bersumber dari aliran naturalisme atau romantisme Rousseau. Mereka memandang
pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan
sendiri segala potensi yang dimilikinya. Pendidikan merupakan upaya untuk
menciptakan situasi yang memungkinkan anak berkembang optimal. Pendidik adalah
ibarat petani yang berusaha menciptakan tanah yang gembur, air dan udara yang
cukup, terhindar dari berbagai hama, untuk tumbuhnya tanaman yang penuh dengan
berbagai potensi. Dalam pendidikan tidak ada pemaksaan, yang ada adalah
dorongan dan rangsangan untuk berkembang.
Mistikisme
modern adalah aliran yang menekankan latihan dan pengembangan kepekaan
perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity
training, yoga, meditasi, dan sebagainya.
2.
Kurikulum
konfluen
Kurikulum
konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen, yang ingin menyatukan
segi-segi afektif (sikap, perasaan, nilai) dengan segi-segi kognitif (kemampuan
intelektual). Pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang mengandung
segi afektif. Menurut mereka kurikulum tidak menyiapkan pendidikan tentang
sikap, perasaan, dan nilai yang harus dimiliki murid-murid. Kurikulum hendaknya
mempersiapkan berbagai alternatif yang dapat dipilih murid-murid dalam proses
bersikap, berperasaan dan memberi pertimbangan nilai. Murid-murid hendaknya
diajak untuk menyatakan pilihan dan mempertanggungjawabkan sikap-sikap,
perasaan-perasaan, dan pertimbangan-pertimbangan nilai yang telah dipilihnya.
3.
Beberapa
ciri kurikulum konfluen
Kurikulum
konfluen mempunyai beberapa ciri utama yaitu:
a.
Partisipasi.
Kurikulum ini menekankan partisipasi murid dalam belajar. Kegiatan belajar
adalah belajar bersama, melalui berbagai bentuk aktivitas kelompok. Melalui
partisipasi dalam kegiatan bersama, murid-murid dapat mengadakan perundingan,
persetujuan, pertukaran kemampuan, bertanggung jawab bersama, dan lain-lain.
Ini menunjukkan ciri yang non-otoriter dari pendidikan konfluen.
b.
Integrasi.Melalui
partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok terjadi interaksi, interpenetrasi,
dan integrasi dari pemikiran, perasaan dan juga tindakan.
c.
Relevansi.Isi pendidikan
relevan dengan kebutuhan, minat dan kehidupan murid karena diambil dari dunia
murid oleh murid sendiri. Hal demikian sudah tentu akan lebih berarti bagi
murid baik secara intelektual maupun emosional.
d.
Pribadi anak.
Pendidikan ini memberi tempat utama pada pribadi anak. Pendidikan adalah
pengembangan pribadi, pengaktualisasikan segala potensi pribadi anak secara
utuh.
e.
Tujuan. Pendidikan ini
bertujuan mengembangkan pribadi yang utuh, yang serasi baik di dalam dirinya
maupun dengan lingkungan secara menyeluruh.
Dasar dari
kurikulum konfluen adalah Psikologi Gestalt yang menekankan keutuhan, kesatuan,
keseluruhan. Teori yang mendukung pandangan ini adalah Eksistensialisme yang
memusatkan perhatiannya pada apa yang terjadi sekarang di tempat ini. Apa yang
menjadi isi kurikulum diukur oleh apakah hal itu bermanfaat bagi kita sekarang?
Apakah hal itu akan memperbaiki kehidupan kita sekarang.
Prinsip pengajarannya
menerapkan prinsip terapi Gestalt, yang menekankan keterbukaan, kesadaran,
keunikan, dan tanggung jawab pribadi. Hal-hal di atas sangat esensial dalam
perkembangan individu yang sehat, yang matang. Pengajaran lebih menekankan
kepada tanggung jawab pribadi daripada kompetisi. Tidak ada jawaban yang salah
atau benar dalam pengajaran konfluen. Melalui latihan kesadaran/kepekaan
perkembangan yang sehat akan tercapai, karena dengan cara itu ia lebih sadar
akan eksistensinya dan kemungkinannya untuk berkembang.
Kurikulum konfluen
menyatukan pengetahuan objektif dan subjektif, berhubungan dengan kehidupan
siswa dan bermanfaat baik bagi individu maupun masyarakat. Hal itu sesuai
dengan konsep Gestalt bahwa sesuatu itu dikatakan berarti (penting – red) apabila bermanfaat bagi
keseluruhan. Pendidikan konfluen sangat mengutamakan kesatuan dari keseluruhan.
4.
Metode-metode
belajar konfluen
Berbeda dengan
pengembang kurikulum yang lain, para penyusun kurikulum konfluen tidak menuntut
para guru melaksanakan pengajaran seperti yang mereka kerjakan. Mereka
mengharapkan setiap guru mengembangkan kreasi sendiri. Dalam menciptakan kreasi
ini, yang terpenting mereka memahami tujuan dan kegunaan kegiatan yang mereka
ciptakan.
Dalam memilih
kegiatan belajar beberapa cara dapat ditempuh. Pertama, mengidentifikasi tema-tema atau topik-topik yang
mengandung self judgment. Untuk
setiap tema atau topik hendaknya dipilih prosedur atau bentuk-bentuk kegiatan
atau teknik yang sesuai. Kedua,
materi disajikan dalam bentuk yang belum selesai (open ended), tema atau issue-issue
diharapkan muncul secara spontan dari prosedur serta perlengkapan pengajaran
yang ada. Cara yang kedua ini menuntut keterbukaan dari siswa tetapi juga perlu
mengusahakan kerahasiaan.
Pengajaran
humanistik memfokuskan proses aktualisasi diri (self actualization). Setiap orang mempunyai self (aku = diri) yang tidak selalu disadari, tersembunyi atau
tertutup. Aku atau diri ini perlu dibuka, atau dibangunkan melalui pendidikan.
Kurikulum perlu
merencanakan program untuk membantu para siswa menemukan dan menampakan
dirinya. Kurikulum humanistik dapat membantu mereka memperlancar proses
aktualisasi diri ini. Melalui berbagai kegiatan pengajaran model humanistik
para siswa dapat menyatakan diri, berekspresi, bereksperimen, berbuat,
memperoleh umpan balik dan menemukan dirinya.
5.
Karakteristik
kurikulum humanistik
Kurikulum
humanistik mempunyai beberapa karakteristik, berkenaan dengan tujuan, metode,
organisasi isi, dan evaluasi. Menurut para humanis, kurikulum berfungsi
menyediakan pengalaman (pengetahuan – red)
berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi murid. Bagi mereka
tujuan pendidikan adalah proses perkembangan pribadi yang dinamis yang
diarahkan pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi kepribadian, sikap yang
sehat terhadap diri sendiri, orang lain, dan belajar. Semua itu merupakan
bagian dari cita-cita perkembangan manusia yang teraktualisasi (self actualizing person). Seseorang yang
telah mampu mengaktualisasikan diri adalah orang yang telah mencapai
keseimbangan (harmoni) perkembangan seluruh aspek pribadinya baik aspek
kognitif, estetika, maupun moral. Seorang dapat bekerja dengan baik bila
memiliki karakter yang baik pula.
Kurikulum
humanistik menuntut hubungan emosional yang baik antara guru dan murid. Guru
selain harus mampu menciptakan hubungan yang hangat dengan murid, juga mampu
menjadi sumber. Ia harus mampu memberikan materi yang menarik dan mampu
menciptakan situasi yang memperlancar proses belajar. Guru harus memberikan
dorongan kepada murid atas dasar saling percaya. Peran mengajar bukan saja
dilakukan oleh guru tetapi juga oleh murid. Guru tidak memaksakan sesuatu yang
tidak disenangi murid.
Sesuai dengan
prinsip yang dianut, kurikulum humanistik menekankan integrasi, yaitu kesatuan
perilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan
tindakan. Kurikulum humanistik juga menekankan keseluruhan. Kurikulum harus
mampu memberikan pengalaman yang menyeluruh, bukan pengalaman yang terpenggal-penggal.
Kurikulum ini kurang menekankan sekuens, karena dengan sekuens murid-murid
kurang mempunyai kesempatan untuk memperluas dan memperdalam aspek-aspek
perkembangannya.
Dalam evaluasi,
kurikulum humanistik berbeda dengan yang biasa. Model lebih mengutamakan proses
daripada hasil. Kalau kurikulum yang biasa terutama subjek akademis mempunyai
kriteria pencapaian, maka dalam kurikulum humanistik tidak ada kriteria.
Sasaran mereka adalah perkembangan anak supaya menjadi manusia yang lebih
terbuka, lebih berdiri sendiri. Kegiatan yang mereka lakukan hendaknya
bermanfaat bagi siswa. Kegiatan belajar yang baik adalah yang memberikan
pengalaman yang akan membantu para siswa memperluas kesadaran akan dirinya dan
orang lain dan dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya.
Penilaiannya bersifat subjektif baik dari guru maupun para siswa.
C. Kurikulum
Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekonstruksi sosial lebih
memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat.
Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka
pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerja
sama. Kerja sama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru,
tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di
lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya. Melalui interaksi dan kerja
sama ini siswa berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam
masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Theodore Brameld, pada awal tahun
1950-an menyampaikan gagasannya tentang rekonstruksi sosial. Dalam masyarakat
demokratis, seluruh warga masyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana
pembaharuan masyarakat. Untuk melaksanakan hal itu sekolah mempunyai posisi
yang cukup penting. Sekolah bukan saja dapat membantu individu memperkembangkan
kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat
membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.
Para rekonstruksionis sosial tidak mau
terlalu menekankan kebebasan individu. Mereka ingin meyakinkan murid-murid
bagaimana masyarakat membuat warganya seperti yang ada sekarang dan bagaimana
masyarakat memenuhi kebutuhan pribadi warganya melalui konsensus sosial.
Brameld juga ingin memberikan keyakinan
tentang pentingnya perubahan sosial. Perubahan sosial tersebut harus dicapai
melalui prosedur demokrasi. Para rekonstruksionis sosial menentang intimidasi,
menakut-nakuti dan kompromi semu. Mereka mendorong agar para siswa mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan kerja sama atau bergotong
royong untuk memecahkannya.
1.
Desain
kurikulum rekonstruksi sosial
Ada beberapa ciri dari desain kurikulum ini.
a.
Asumsi. Tujuan utama
kurikulum rekonstruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tantangan,
ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia.
Masalah-masalah masyarakat bersifat universal dan hal ini dapat dikaji dalam
kurikulum.
b.
Masalah-masalah sosial yang mendesak.
Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak.
c.
Pola-pola organisasi.
Pada tingkat sekolah menengah, pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda. Ditengah-tengahnya sebagai poros masalah yang menjadi tema utama dan dibahas secara pleno.
Dari tema utama dijabarkan sejumlah topik yang dibahas.
Pola Desain
Kurikulum Rekonstruksi Sosial
2.
Komponen-komponen
kurikulum
Kurikulum rekonstruksi sosial memiliki
komponen-komponen yang sama dengan model kurikulum lain tetapi isi dan
bentuk-bentuknya berbeda.
a.
Tujuan dan isi kurikulum.
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah. Dalam program pendidikan
ekonomi-politik, umpamanya untuk tahun pertama tujuannya membangun kembali
dunia ekonomi-politik. Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut
adalah (1) mengadakan survai secara kritis terhadap masyarakat, (2) mengadakan
studi tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal dan ekonomi nasional serta
dunia, (3) mengadakan studi tentang latar belakang historis dan
kecenderungan-kecenderungan perkembangan ekonomi, hubungannya dengan ekonomi
lokal, (4) mengkaji praktik politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi,
(5) memantapkan rencana perubahan praktik politik, (6) mengevaluasi semua
rencana dengan kriteria, apakah telah memenuhi kepentingan sebagian besar
orang.
b.
Metode. Dalam
pengajaran rekonstruksi sosial para pengembang kurikulum berusaha mencari
keselarasan antara tujuan-tujuan nasional dengan tujuan siswa. Guru-guru
berusaha membantu para siswa menemukan minat dan kebutuhannya. Sesuai dengan
minat masing-masing siswa, baik dalam kegiatan pleno maupun kelompok-kelompok
berusaha memecahkan masalah sosial yang dihadapinya. Kerja sama baik antara
individu dalam kegiatan kelompok, maupun antarkelompok dalam kegiatan pleno
sangat mewarnai metode rekonstruksi sosial. Kerja sama ini juga terjadi antara
para siswa dengan manusia sumber dari masyarakat. Bagi rekonstruksi sosial,
belajar merupakan kegiatan bersama, ada kebergantungan antara seorang dengan
yang lainnya. Dalam kegiatan belajar tidak ada kompetisi yang ada adalah kooperasi
atau kerja sama, saling pengertian dan konsensus. Anak-anak sejak sekolah dasar
pun diharuskan turut serta dalam survai kemasyarakatan serta kegiatan-kegiatan
sosial lainnya. Untuk kelas-kelas tinggi selain mereka dihadapkan kepada
situasi nyata juga mereka diperkenalkan dengan situasi-situasi ideal. Dengan
hal itu diharapkan para siswa dapat menciptakan model-model kasar dari situasi
yang akan datang.
c.
Evaluasi. Dalam kegiatan
evaluasi para siswa juga dilibatkan. Keterlibatan mereka terutama dalam memilih,
menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan. Soal-soal yang akan diujikan
dinilai lebih dulu baik ketepatan maupun keluasan isinya, juga keampuhan
menilai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya
kualitatif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang telah dikuasai siswa, tetapi
juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat. Pengaruh tersebut
terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan
masyarakat.
3.
Pelaksanaan
pengajaran rekonstruksi sosial
Pengajaran rekonstruksi sosial banyak
dilaksanakan di daerah-daerah yang tergolong belum maju dan tingkat ekonominya
juga belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini diarahkan untuk meningkatkan
kondisi kehidupan mereka. Sesuai dengan potensi yang ada dalam masyarakat,
sekolah mempelajari potensi-potensi tersebut, dengan bantuan biaya dari
pemerintah sekolah berusaha mengembangkan potensi tersebut. Di daerah pertanian
umpamanya sekolah mengembangkan bidang pertanian dan peternakan, di daerah
industri mengembangkan bidang-bidang industri.
Sekolah berusaha memberikan penerangan
dan melatih kemampuan untuk melihat dan mengatasi hambatan-hambatan yang
dihadapi, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Dengan
gerakan conscientization[1]mereka
membantu masyarakat memahami fakta-fakta dan masalah-masalah yang dihadapinya
dalam konteks kondisi masyarakat mereka. Keterbatasan dan potensi yang mereka
miliki. Bertolak dari kenyataan-kenyataan tersebut mereka membina diri dan
membangun masyarakat.
D. Teknologi
Dan Kurikulum
Penerapan teknologi dalam bidang
pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat
lunak (software) dan perangkat keras
(hardware). Penerapan teknologi
perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan
teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology).
Teknologi pendidikan dalam arti
teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis untuk
menunjang efisiensi dan efektivitas pendidikan. Kurikulumnya berisi
rencana-rencana penggunaan berbagai alat dan media, juga model-model pengajaran
yang banyak melibatkan penggunaan alat. Contoh-contoh model pengajaran tersebut
adalah: pengajaran dengan bantuan film dan video, pengajaran berprogram, mesin
pengajaran, pengajaran modul. Pengajaran dengan bantuan komputer, dan
lain-lain.
Dalam arti teknologi sistem, teknologi
pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana
pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa
semata-mata program sistem, bisa program sistem yang ditunjang dengan alat dan
media, dan bisa juga program sistem yang dipadukan dengan alat dan media
pengajaran.
Pada bentuk pertama, pengajaran tidak
membutuhkan alat dan media yang canggih, tetapi bahan ajar dan proses
pembelajaran disusun secara sistem. Alat dan media digunakan sesuai dengan
kondisi tetapi tidak terlalu dipentingkan. Pada bentuk kedua, pengajaran
disusun secara sistem dan ditunjang dengan penggunaan alat dan media
pembelajaran. Penggunaan alat dan media belum terintegrasi dengan program
pembelajaran, bersifat “on-off”,
yaitu bila digunakan alat dan media akan lebih baik, tetapi bila tidak
menggunakan alat pun pengajaran masih tetap berjalan. Pada bentuk ketiga
program pengajaran telah disusun secara terpadu antara bahan dan kegiatan
pembelajaran dengan alat dan media. Bahan ajar telah disusun dalam kaset audio,
video atau film, atau diprogramkan dalam komputer. Pembelajaran tidak bisa
berjalan tanpa melibatkan penggunaan alat-alat dan program tersebut.
1.
Beberapa
ciri kurikulum teknologis
Kurikulum yang dikembangkan dari konsep
teknologi pendidikan, memiliki beberapa ciri khusus, yaitu:
a.
Tujuan. Tujuan
diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku.
b.
Metode. Metode yang
merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang sebagai proses mereaksi
terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respons yang
diharapkan maka respons tersebut diperkuat. Pelaksanaan pengajaran mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut.
1) Penegasan
tujuan. Para siswa diberi penjelasan tentang
pentingnya bahan yang harus dipelajari. Sebagai tanda menguasai bahan mereka
harus menguasai secara tuntas tujuan-tujuan dari suatu program.
2) Pelaksanaan
pengajaran. Para siswa belajar secara individual
melalui media buku-buku ataupun media elektronik. Dalam kegiatan belajarnya
mereka dapat menguasai keterampilan-keterampilan dasar ataupun
perilaku-perilaku yang dinyatakan dalam tujuan program. Mereka belajar dengan
cara memberikan respons secara cepat terhadap persoalan-persoalan yang
diberikan.
3) Pengetahuan
tentang hasil. Kemajuan siswa dapat segera
diketahui oleh siswa sendiri, sebab dalam model kurikulum ini umpan balik selalu
diberikan. Para siswa dapat segera mengetahui apa yang telah mereka kuasai dan
apa yang masih harus dipelajari lebih serius.
c.
Organisasi bahan ajar.
Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah
diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan sesuatu kompetensi. Bahan
ajar atau kompetensi yang luas/besar dirinci menjadi bagian-bagian atau
subkompetensi yang lebih kecil, yang menggambarkan objektif. Urutan dari
objektif-objektif ini pada dasarnya menjadi inti organisasi bahan.
d.
Evaluasi. Kegiatan
evaluasi dilakukan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, suatu unit
ataupun semester. Fungsi evaluasi ini bermacam-macam, sebagai umpan balik bagi
siswa dalam penyempurnaan penguasaan suatu satuan pelajaran (evaluasi
formatif), umpan balik bagi siswa pada akhir suatu program atau semester
(evaluasi sumatif). Juga dapat menjadi umpan balik bagi guru dan pengembang
kurikulum untuk penyempurnaan kurikulum. Evaluasi yang mereka gunakan umumnya
berbentuk tes objektif. Sesuai dengan landasan pemikiran mereka, bahwa model
pengajarannya menekankan sifat ilmiah, bentuk tes ini dipandang yang paling
cocok.
2.
Pengembangan
kurikulum
Pengembangan kurikulum teknologis
berpegang pada beberapa kriteria, yaitu:
a.
Prosedur
pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang
lain.
b.
Hasil
pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang,
dan hendaknya memberikan hasil yang sama.
Inti
dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan
dan penggunaan alat dan media pengajaran bukan hanya sebagai alat bantu tetapi
bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu.[2]
BAB III
SIMPULAN
Model-model
kurikulum terbagi atas empat, yaitu kurikulum subjek akademis, kurikulum
humanistik, kurikulum rekonstruksi sosial, teknologi dan kurikulum.
Kurikulum
subjek akademis adalah model
konsep kurikulum dari teori pendidikan klasik. Kurikulum
humanistik adalah model
konsep kurikulum pendidikan pribadi. Kurikulum rekonstruksi
sosial adalah model
konsep kurikulum interaksionis. Teknologi dan
kurikulum adalah model
konsep kurikulum teknologi pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA