UJIAN AKHIR SEMESTER: MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
PRORAM STUDI: PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
SANDI: PAI 8329
DOSEN: DR. H.
RIDHAHANI FIDZI, M. PD
Petunjuk:
Jawaban disajikan dalam bentuk print out dengan ketentuan: kertas
A4 (21 x 29,7 cm), jenis huruf Time New Roman, font 12, spasi 1,5. Pada koper
depan bagian atas ditulis JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER dilengkapi dengan
identitas institusi dan jangan lupa mencantumkan nama.Teknik pengetikan
mengikuti aturan penulisan karya ilmiah. Kutipan cukup ditulis nama belakangnya
saja. contoh Mahyudin Barni. Cukup dicantumkan Barni.
Uraian
Petanyaan:
1.
IHSAN
MUZAKKIdan M. MISRAN DARMY dalam makalahnya yang berjudul “Model Pembelajaran
Tematik” memaparkan Skema Garis Panduan Permasalahan dan Pengembangan Tema
seperti yang terdapat pada halaman 8 s.d. 10. Namun, kedua pemakalah tersebut
tidak tuntas membahas hubungan skema-tema-matrik kompetensi dasar. Sementara
dalam seminar kelas yang dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Mei 2016 tidak seorangpun
peserta seminar yang mempermasalahkannya. Coba Sdr. jelaskan bagaimana hubungan
skema-tema-dan matrik tersebut dengan kurikulum 2013 yang mengembangkan
pembelajaran tematik?
1.
Model Pembelajaran Tematik
Menurut ( Rusman, 2011 : 254), Pembelajaan tematik merupakan salah
satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang
merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara
individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta
prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan autentik. Yang mana
model pembelajaran tematik ini menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata
pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok
yang menjadi pokok pembicaraan. Tujuan dari adanya tema ini bukan hanya untuk
menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran, akan tetapi juga
keterkaitannya dengan konsep-konsep dari mata pelajaran lainnya.
Menurut Rusman, (2011:254:255),
dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:[1]
- Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
- Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
- Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
- Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
- Siswa dapat lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
- Siswa dapat lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
- Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu atau tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Selain itu, sebagai suatu model pembelajaran di sekolah, model pembelajaran
tematik memiliki karakteristik tersendiri, yakni:[2]
- Berpusat pada anak.
- Memberikan pengalaman langsung pada anak.
- Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
- Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses.
- Bersifat fleksibel.
- Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan anak.
- Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
Adanya pembuatan skema dalam pembelajaran
tematik, maka tema yang dianggap masih umum, seorang guru bisa menjadikan lebih
khusus, artinya dengan memecah-mecah tema besar tersebut, dengan tema atau
uraian yang khusus atau dalalam bentuk penjabaran, sering juga disebut sub atau
anak tema. Sehingga seorang guru dapat merancanakan penjalasan atau pembahasan
tema tersebut lebih lanjut atau luas, karena dalam kurikulum 2013 mata
pelajarannya dikurangi, sedangkan jam pelajarannya ditambah/minggu (Hidayat,
2013, h: 217). Sehingga sangat memungkinkan bagi seorang guru memperluas
penjabaran tema besar tersebut. Karena adanya penambahan waktu tersebut.
Hubungan skema-tema-dan matrik dalam mata pelajaran dengan kurikulum 2013
yang mengembangkan pembelajaran tematik adalah bahwa beberapa mata pelajaran,
kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator akan diikat dengan tema. Tema merupakan
media pemersatu agar penyajian pembelajaran bisa terintegrasi. Pemetaan
keterhubungan kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang bisa disatukan
dalam sebuah tema dalam bentuk matriks. Dengan jaringan tema tersebut akan
terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata
pelajaran.
Contohnya pemetaan keterhubungan kompetensi
dasar dengan tema pemersatu “BINATANG” dalam bagan dan matriks dibawah ini (
Rusman, 2011, h:264-265).
|
MATA PELAJARAN
|
KOMPETENSI DASAR
|
INDIKATOR
|
|
Bahasa Indonesia
|
Mendiskripsikan binatang disekitar
|
Menirukan gerak dan suara binatang tertentu
Menjelaskan ciri-ciri binatang secara rinci (nama,ciri khasnya, suaranya,
habitatnya) dengan pilihan kata dan kalimat yang runtut
Membaca dan melengkapi teks pendek yang dilengkapi gambar
|
|
Pengetahuan Alam
|
Mendiskripsikan bagian-bagian yang tampak pada hewan disekitar rumah dan
sekolah
|
Membuat daftar bagian-bagian utama tubuh hewan (kucing, burung, ikan) dan
kegunananya dari hasil pengamatan
Meniru berbagai suara hewan yang ada di lingkungan sekitar
Menggambar sederhana hewan dan menamai bagian-bagian utama tubuh hewan
Menceritakan cara hewan bergerak berdasarkan pengamatan misalnya :
menggunkan kaki, perut, sayap dan sirip
|
|
Matematika
|
Memahami konsep urutan bilangan cacah
|
Menyebutkan banyaknya benda
Membaca dan menulis lambang bilangan dalam kata-kata dan angka
Menentukan bahwa kumpulan benda lebih banyak, lebih sedikit, atau sama
dengan kumpulan lain
|
|
Kerajianan tangan dan kesenian
|
Menanggapi berbagai unsur rupa, bintik, garis, bidang, warna, bentuk
|
Menggunakan perasaan ketertarikan pada objek yang diamati dari berbagai
unsur rupa dan perpaduaannya.
|
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa tema “binatang”
menyatukan mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam,
Matematika, dan Kerajinan tangan dan kesenian yang kemudian setiap mata
pelajaran memiliki kompetensi dasar dan indikator yang keduanya berhubungan
dengan tema tadi yaitu tentang binatang.
Adanya pembuatan skema dalam pembelajaran tematik, maka
tema yang dianggap masih umum, seorang guru bisa menjadikan lebih khusus,
artinya dengan memecah-mecah tema besar tersebut, dengan tema atau uraian yang
khusus atau dalalam bentuk penjabaran, sering juga disebut sub atau anak tema.
Sehingga seorang guru dapat merancanakan penjalasan atau pembahasan tema
tersebut lebih lanjut atau luas, karena dalam kurikulum 2013 mata pelajarannya
dikurangi, sedangkan jam pelajarannya ditambah/minggu ( Hidayat, 2013 : 217 ).
Sehingga sangat memungkinkan bagi seorang guru memperluas penjabaran tema besar
tersebut. Karena adanya penambahan waktu tersebut.
Kemudian dilakukan pemetaan yang menghubungkan
kompentensi dasar beberapa mata pelajaran yang dapat disatukan dalam satu tema
dalam bentuk matrik, sehingga dalam pembelajaran tematik bisa dikembangkan,
selaras dengan tema besarnya, dari sanalh dapat terlihat adanya keterkaitan
atau hubunagn antara kompetensi dasar dan indikator dalam setaip mata pelajaran
( Rusman, 2014, h:273-274).
Jadi dalam menerapkan model pembelajaran tematik terpadu ini, kita
haruslah melakukannya dengan cara yang bersahabat, menyenangkan, dan bermakna
bagi anak. Sedangkan dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan,
anak tidak harus di-drill, tetapi ia belajar melalui
pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah
dipahami. Bentuk pembelajaran ini dikenal dengan pembelajaran terpadu, dan
pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.
2.
Model
pembelajaran PAIKEM akhir-akhir ini sering digunakan dalam proses pembelajaran
terutama untuk kelas-kelas rendah. Sdr. AMELIA FITRIANI dan JUMAIDIYAH belum
tuntas mengaitkan teori-teori belajar yang melandasi penerapan dalam PAIKEM.
Coba Sdr. uraikan teori belajar yang mendasari lahirnya model pembelajaran
PAIKEM terutama teori belajar: a. teori belajar Thorndike, b. teori
belajar Peaget, c. teori belajar Robert Gagne, dan d. teori
belajar Gestalt?
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran
Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Menurut (Rusman, 2011 :
324) Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan
suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan
mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model
pembelajaran yang menyenangkan(Uno, 2012: 11).
Menurut (Rusman, 2011 : 324) Kreatif dimaksudkan agar guru dituntut lebih untuk merangsang
kreatifitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun
melakukukan tindakan. Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu
yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir
kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru. (Mulyasa,
2006: 192)
Pembelajaran
dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa
membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin
dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik
mereka dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa
harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga
suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan
pembentukan kompetensi siswa. (Rusman, 2011 : 325)
Pembelajaran
menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran
yang di dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa
ada perasaan terpaksa atau tertekan ( not under pressure) (Mulyasa,
2006:194).
Adapun teori-teori belajar yang mendasari
lahirnya model pembelajaran PAIKEM antara lain:
a.
EDWARD LEE
THORNDIKE
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya
asosiasiasosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori
belajar ini disebut teori connectionism. Eksperimen yang dilakukan
adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup. Pintunya akan dapat
dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut
menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial
dan Error yaitu: adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai
situasi, ada eliminasi terhadap berbagai respon yang salah, dan ada kemajuan
reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Sumbangan pemikiran Thorndike
mengenai perubahan perilaku sebagai hasil belajar adalah hukum-hukum sebagai
berikut
1. Hukum kesiapan atau Law of Readiness
Jika suatu organisme didukung oleh
kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan
menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
2. Hukum latihan atau Law of Exercise
Semakin sering suatu tingkah laku
dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.
3. Hukum hasil atau Law of Effect
Hubungan antara rangsangan dan perilaku akan makin kukuh apabila
terdapat kepuasan dan akan makin diperlemah apabila tidak terdapat kepuasan.
(Suprijono, 2011 : 20-21)
b.
Teori Jean Peaget
Menurut Piaget menyatakan
bahwa, setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan
beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya,
setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam
pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya.
Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi
(menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi
(proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua
proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama
dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan
cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui
interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar
anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua
hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi
dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya( Dahar, 1989 : 152)
Sedangkan Paul Suparno menggambarkan
perkembangan kognitif anak menurut Jean Peaget menjadi empat tahap, yaitu :
tahap sensorimotor, tahap praoperasi, tahap operasional konkret, dan tahap operasional
formal .
Skema Empat
Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
|
Tahap
|
Umur
|
Ciri Pokok
Perkembangan
|
|
Sensorimotor
|
0-2 tahun
|
Berdasarkan tindakan
Langkah demi langkah
|
|
Praoperasional
|
2-7 tahun
|
Penggunaan symbol/bahasa tanda
Konsep intuitif
|
|
Operasional
Konkret
|
8-11 tahun
|
Pakai aturan jelas/logis
Reversibel dan kekekalan
|
|
Operasi
Formal
|
11 tahun ke
atas
|
Hipotesis
Abstrak
Deduktif dan induktif
Logis dan probabilitas
|
Tahap-tahap di atas saling
berkaitan. Urutan tahap-tahap tidak dapat ditukar atau dibalik, karena tahap
sesudahnya mengandalkan terbentuknya tahap sebelumnya. Tetapi, tahun
terbentuknya tahap tersebut dapat berubah sesuai dengan situasi seseorang.
Misalnya seseorang dapat mulai tahap operasional formal pada usia 11 tahun,
sedangkan ada juga orang yang baru memasukinya pada usia 15 tahun. (Suparno,
2001: 19)[3]
Piaget juga menyatakan, usia sekolah dasar berada pada tahapan
operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku
belajar sebagai berikut:
a.
Mulai
memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain
secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak,
b.
Mulai
berpikir secara operasional,
c.
Mempergunakan
cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda,
d.
Membentuk
dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan
mempergunakan hubungan sebab akibat, dan
e.
Memahami
konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat (Dahar, 1989
: 153)
c.
Teori Robert
Gagne
Gagne
mendefinisikan belajar adalah perubahan
disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan
disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang
secara alamiah (Suprijono, 2011 : 2).
Selanjutnya Gagne menyebutkan
hasil belajar dengan istilah kapabilitas belajar. Gagne menyebutkan 5 kategori
kapabilias belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yaitu: (1) informasi
verbal, (2) strategi kognitif, (3) keterampilan intelektual, (4) sikap dan (5)
keterampilan motorik (Suprijono,
2011 : 5-6).
d.
Teori Gestalt
Teori gestalt dalam buku theories of learning disebutkan
bahwa Gestaltis mengikuti tradisi yang dibawa dan dikembangkan oleh Kantian,
yang mempunyai kepercayaan bahwa organisme menambahkan sesuatu pada pengalaman,
di mana sesuatu itu tidak ada dalam data yang diindera, dan sesuatu itu adalah
tindakan menata (organisasi) data. Gestalt adalah bahasa Jerman yang mempunyai
makna pola atau konfigurasi. Aliran ini menganggap bahwa dunia adalah eksistensi
yang ada secara menyeluruh bukan bagian yang parsial.
Dengan bahasa lain, Gestaltis menganggap bahwa “keseluruhan itu
berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya” atau “membagi-bagi berarti
mendestorsi”. Jadi, konstruksi pikiran dari kelompok ini adalah keseluruhan
form dari benda yang kita lihat. Misalnya, manusia, kursi dan pohon, gambaran
yang kita sebut menggunakan bahasa itu tidaklah bagian-bagian dari hal itu
melainkan keseluruhan yang ada dalam wujudnya.
Suatu konsep yang penting dalam psikologis Gestalt adalah
tentang insight yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak
terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan (Baharuddin dan Nur Wahyuni, 2008 : 88).
3.
Dalam
pembelajaran berbasis Web(E-Iearning), M. ARBANIE ZHUHRIN NOOR belum
begitu jelas memahamkan bagaimana implementasi Model Pembelajaran Berbasis WEB
karena pembahasannya sangat singkat seperti yang terdapat pada halaman 5. Coba
Sdr. kembangkan bagaimana proses belajar melalui Web sehingga jelas perbedaannya
antara Web sebagai media belajar dan Web sebagai model pembelajaran?
4.
Dalam pembahasan Model Pembelajaran Berbasis Masalah, MIFTAHUL
JANNAH dan MUHAMMAD SUBHAN mengemukakan alur proses dan pelaksanaan
pembelajaran berbasis masalah seperti yang terdapat pada halaman 6-9.Dalam
uraian tersebut masih belum jelas terlihat keterkaitan antara satu dan yang
lainnya. Coba Sdr. uraikan lagi secara lebih rinci mengenai hubungan kedua hal
tersebut sehingga PBM dapat dipahami sebagai scientific method?
Problem-Based Intruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya
yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan
dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Beberapa tahapan yang perlu guru lalui dalam pembelajaran berbasis
masalah adalah :
a.
Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan.
Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
b.
Guru
membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut ( menetapkan topik,tugas jadwal, dan
lain-lain).
c.
Guru
mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan
eksperimen untukmendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah,pengumpulan data,
hipotesis, pemcahan masalah.
d.
Guru
membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan dan membantu mereka berbagi tugas denagn temannya.
e.
Guru
membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses-proses yang mereka gunakan ( Jauhar, 2011 : 86).
Secara singkat (Rusman, 2011 : 233 ), menjelaskan alur proses
Pembelajaran Berbasis Masalah :
![]() |
Didalam
buku Rusman,(2011:343) Ibrahim dan Nur
(2010: 13) dan Ismail (2000:1) mengemukaan bahwa langkah-langkah Pembelajaran
Berbasis Masalah adalah sebagai berikut:
|
Indikator
|
Tingkah Laku Guru
|
|
Indikator -1
Orientasi siswa pada masalah
|
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang perlukan,
dan memotivasi siswa terlibat padaaktivitas pemecahan masalah.
|
|
Indikator -2
Mengorganisas siswa untuk belajar
|
Guru membantu siswa untuk mndefinisikan dan mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungan dengan masalah
|
|
Indikator -3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
|
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
|
|
Indikator -4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
|
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang
sesuai seperti laporan, dan membantu mereka membagi tugas dengan
temannya.
|
|
Indikator -5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
|
Guru membantu siswa dalam melakuakan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakaan.
|
5.
Dalam menjelaskan Model Pembelajaran Kooperatif, M. REZA ANSYARI
dan M. ROBI MAULANA ISHAK telah menjelaskan Konsep, Tujuan, Karakteristki,
Macam-macam, dan Teknik-teknik Model Pembelajaran Kooperatif seperti yang
terdapat pada halaman 2-9. Dalam menjelaskan model-model pembelajarannya kedua
penulis hanya memberilima buah contoh seperti yang terdapat pada halaman 6-7.
Dari sekian banyak tipe pembelajaran kooperatif rasanya belum cukup memadai
kalau kita hanya mengetahuilima tipe tersebut. Agar pemahaman kita lebih
komprehensif tentang berbagai tipe pembelajaran kooperatif, coba Sdr. jelaskan
langkah-langkah pelaksanaan tipe-tipe pembelajaran kooperatif berikut ini: (1)
TGT, (2) ENE, (3) PAP, (4) NHT, (5) CS, (6) CONSE, (7) MM, (8) TPS, (9) MAM,
(10) GI, (11) TS, (11) CP, (12) EI, dan (13) CIRC?
1.
TGT,
TIPE TEAM GAMES TOURNAMENS
1)
Penyajian
Kelas (Class Presentations)
Pada
awal pembelajaran guru menyampaikan
materi atau sering juga disebut dengan presentasi kelas (class
presentations).
2)
Belajar
dalam Kelompok (Teams)
Guru
membagi kelas menjadi kelompok-kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 6 orang
peserta didik.
3)
Permainan
(Games)
Game
atau permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi,
dan dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat peserta didik dari
penyajian kelas dan belajar kelompok.
4)
Pertandingan
atau Lomba (Tournament)
Turnamen atau lomba adalah struktur belajar, dimana game atau
permainan terjadi. Biasanya turnamen atau lomba dilakukan pada akhir minggu
atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok
sudah mengerjakan lembar kerja peserta didik (LKPD). Turnamen atau lomba
pertama guru membagi peserta didik ke dalam beberapa meja turnamen atau lomba.
Tiga peserta didik tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga
peserta didik selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5)
Penghargaan
Kelompok (Team Recognition)
Setelah turnamen atau lomba
berakhir, guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim
atau kelompok akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor
memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Tim atau kelompok mendapat julukan “Super
Team” jika rata-rata skor 50 atau lebih, “Great Team” apabila
rata-rata mencapai 50-40 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 40
kebawah. Hal ini dapat menyenangkan para peserta didik atas prestasi yang telah
mereka buat.[4]
2.
ENE,
EXAMPLES NON EXAMPLES
Menurut
(Suprijono, 2011 : 125) Langkah – langkah model pembelajaran Examples
Non Examples, diantaranya:
a.
Guru
mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Gambar-gambar yang
digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang
dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar.
b.
Guru
menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD/OHP/In Focus. Pada
tahap ini Guru dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar dan
membentuk kelompok siswa.
c.
Guru
memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk
memperhatikan/menganalisa gambar.Peserta didik diberi waktu melihat dan
menelaah gambar yang disajikan secara seksama agar detil gambar dapat
dipahami oleh peserta didik, dan guru juga memberideskripsi tentang gambar yang
diamati.
d.
Melalui
diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut
dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan guru.
e.
Tiap
kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya.dilatih peserta
didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok
masing-masing.
f.
Mulai
dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi
sesuaidengan tujuan yang ingin dicapai.
g.
Guru
dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran
3.
PAP,
PICTURE AND PICTURE
Menurut ( Suprijono, 2011 : 125-126),
Langkah-langkah :
a.
Guru
menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b.
Menyajikan
materi sebagai pengantar
c.
Guru
menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
d.
Guru
menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar
menjadi urutan yang logis
e.
Guru
menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
f.
Dari
alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan
kompetensi yang ingin dicapai
g.
Kesimpulan/rangkuman
4.
NHT,
NUMBERED HEADS TOGETHER (KEPALA BERNOMOR)
Menurut ( Suprijono, 2011 : 92) ,
Adapun
Langkah-langkah model pembelajaran NHT (Number Head Together) adalah sebagai
berikut
a.
Langkah
pertama : Penomeran
Dalam langkah pertama
ini,
kegiatan yang dilakukan guru ialah membagi siswa ke dalam beberapa kelompok
yang terdiri antara 5-6 siswa.
masing-masing anggota kelompok memperoleh nomor yang berbeda-beda.
b.
Langkah
ke dua : Mengajukan Pertanyaan
Dalam fase yang kedua ini, kegiatan guru selanjutnya
adalah memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa. Dengan memberikan
pertanyaan yang diharapkan bervariasi dan juga dapat berupa pertanyaan yang
spesifik. Tujuan pemberian pertanyaan ini adalah untuk mentransformasikan pengetahuan
baru ke arah situasi pembelajaran atau mengarahkan siswa untuk menanggapi
materi yang akan dipelajarinya. Dengan demikian, akan membentuk sebuah situasi
penalaran terhadap pengalaman baru yang akan dipelajari dengan lebih siap untuk
dipahami dan diterimanya.
c.
Langkah
ke tiga : Berpikir Bersama
Dari pertanyaan tersebut, siswa bersama kelompoknya
membahas dan menyatukan pendapatnya. Tiap anggota dalam tim kelompoknya
mengetahui jawaban tersebut.
d.
Langkah
ke empat : Menjawab
Pada kegiatan ini, guru memanggil suatu nomor tertentu
dengan cara acak. kemudian siswa yang bersangkutan yang sesuai dengan nomor
panggil guru mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan guru tadi untuk
dijawab kepada seluruh kelas.
e.
Langkah
ke lima : Penilaian dan Pemberian Tanggapan
Pada langkah ini, guru meminta siswa yang lain untuk
memberikan tanggapan, jawaban dan masukannya terhadap hasil jawaban siswa. Kegiatan ini dilakukan
berulang-ulang sampai berakhirnya nomor pada siswa.
f.
Langkah
ke enam : Kesimpulan
Agar tidak menimbulkan kerancuan atau salah persepsi pada
siswa. pada fase ini langkah guru adalah memberikan kesimpulan dan penjelasan
atas pertanyaan dari jawaban yang disampaikan siswa.
g.
Langkah
ke tujuh : Evaluasi
Pemberian evaluasi bertujuan untuk mengetahui dan
memberikan umpan balik dari hasil kegiatan yang sudah dilakukan. Pemberian
evaluasi ini dapat berupa penilaian secara lisan dan tulisan. Pemberian tes
sebagai hasil akhir dari bentuk kegiatan pembelajaran dapat dilakukan oleh guru
sesuai dengan keinginan guru yang bersangkutan. Pemberian tes pada akhir
kegiatan pembelajaran menjadi hal terpenting untuk mengetahui dan menelaah
pengunaan model pembelajaran NHT (Number head Together) itu sendiri dan
perkembangan belajar siswa.
5.
CS,
COOPERATIVE SCRIPT
Menurut ( Suprijono, 2011 : 126-127 ) Skrip kooperatif merupakan
metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan
mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah :
a.
Guru
membagi siswa untuk berpasangan
b.
Guru
membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
c.
Guru
dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa
yang berperan sebagai pendengar
d.
Pembicara
membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok
dalam ringkasannya.
Sementara pendengar :
a)
Menyimak/mengoreksi/menunjukkan
ide-ide pokok yang kurang lengkap
b)
Membantu
mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau
dengan materi lainnya.
c)
Bertukar
peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta
lakukan seperti diatas.
d)
Kesimpulan
Siswa bersama-sama dengan Guru
e)
Penutup
6.
CONSE,
CONSEPT SENTENSE
Langkah-
langkah dalam pembelajaran model
pembelajaran kooperatif tipe concept sentence menurut Suprijono
(2009:132) adalah sebagai berikut:
a.
Guru menyampaikan
kompetensi yang ingin dicapai
b. Guru menyampaikan materi secukupnya
c.
Guru membentuk kelompok
yang anggotanya 2 atau 3 orang secara heterogen
d. Guru membagikan lembar kerja berupa paragraph yang kalimatnya belum lengkap
bisa juga dengan menyajikan beberapa kata ‘KUNCI’ sesuai materi yang disajikan
e.
Siswa berdiskusi untuk
melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang tersedia.
f.
Siswa berdiskusi secara
berkelompok
g.
Setelah jawaban
didiskusikan, jawaban yang salah di perbaiki. Tiap peserta membaca sampai
mengerti atau hafal.
h.
Simpulan/penutup
7.
MM,
MIND MAPPING
Adapun langkah-langkah pembelajaran
menggunakan strategi mind mappin adalah pengembangan dari
langkah-langkah pembuatannya, yaitu :
a.
Guru
menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b.
Guru
mengkondisikan siswa kedalam kelompok berpasangan dua orang.
c.
Guru
menyajikan atau mengingatkan kembali materi yang akan dipelajari,
d.
Selanjutnya
guru menbagikan potongan-potongan kartu yang telah bertuliskan konsep utama
kepada siswa.
e.
Menugaskan
salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari
guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian
berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
f.
Menugaskan
siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman
pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
g.
Guru
mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa.
h.
Kesimpulan/penutup.
(Buzan, 2003 : 123).
8.
TPS,
THINK – PAIR - SHARE
langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap-1: Thinking (berfikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait
dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberikan
kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya.
Tahap-2: Pairing
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa
lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama.
Diskusi pada tahap ini diharapkan dapat
berbagi jawaban atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah
diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu beberapa menit untuk berpasangan.
Tahap-3: Sharing
Dalam kegiatan ini diharapkan terjadi Tanya jawab yang mendorong
pada mengkontruksikan pengetahuan secara integrative. Peserta didik agar dapat
menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya. Suprijono (2009:91)
9.
MAM,
MAKE
A MATCH
Hal-hal yang perlu dipersiapkan jika
pembelajaran dikembangkan dengan make a match adalah kartu-kartu.
Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyaan dan
kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Langkah berikutnya adalah guru
membagi komunitas kelas menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok
pembawa kartu-kartu berisi pertanyaan-pertanyaan. Kelompok kedua adalah
kelompok pembawa kartu-kartu berisi jawaban-jawaban. Kelompok ketiga adalah
kelompok penilai. Aturlah posisi kelompok-kelompok tersebut berbentuk huruf U.
Upayakan kelompok pertama dan kedua berjajar saling berhadapan.
Jika masing-masing kelompok sudah
berada di posisi yang telah ditentukan, maka guru membunyikan peluit sebagai
tanda agar kelompok pertama maupun kelompok kedua saling bergerak mereka
bertemu, mencari pasangan pertanyaan-jawaban yang cocok. Berikan kesempatan
kepada mereka untuk berdiskusi. Ketika mereka diskusi alangkah baiknya jika ada
musik instrumentalia yang lembut mengiringi aktivitas belajar mereka. Hasil
diskusi ditandai oleh pasangan-pasangan antara anggota kelompok pembawa kartu
pertanyaan dan anggota kelompok pembawa kartu jawaban.
Pasangan-pasangan yang sudah
terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan jawaban kepada kelompok penilai.
Kelompok ini kemudian membaca apakah pasangan pertanyaan-jawaban itu cocok.
Setelah penilaian dilakukan, aturlah sedemikian rupa kelompok pertama dan
kelompok kedua bersatu kemudian memposisikan dirinya menjadi kelompok penilai.
Sementara, kelompok penilai pada sesi pertama tersebut di atas dipecah menjadi
dua, sebagian anggota memegang kartu pertanyaan sebagian lainnya memegang kartu
jawaban. Posisikan mereka dalam bentuk huruf U. Guru kembali membunyikan
peluitnya menandai kelompok pemegang kartu pertanyaan dan jawaban bergerak
untuk mencari, mencocokkan, dan mendiskusikan pertanyaan-jawaban. Berikutnya
adalah masing-masing pasangan pertanyaanjawaban menunjukkan hasil kerjanya
kepada penilai.
Perlu diketahui bahwa tidak semua
peserta didik baik yang berperan sebagai pemegang kartu pertanyaan, pemegang
kartu jawaban, maupun penilai mengetahui dan memahami secara pasti apakah betul
kartu pertanyaan-jawaban yang mereka pasangkan sudah cocok. Demikian halnya
bagi peserta didik kelompok penilai.
Mereka juga belum mengetahui pasti
apakah penilaian mereka benar atas pasangan pertanyaan-jawaban. Berdasarkan
kondisi inilah guru memfasilitasi diskusi untuk memberikan kesempatan kepada
seluruh peserta didik mengkonfirmasikan hal-hal yang mereka telah lakukan yaitu
memasangkan pertanyaan-jawaban dan melaksanakan penilaian. Suprijono (2011 :
94-96)
10. GI,
Group investigation
Didalam
buku trianto, (2009 : 80) Sharan, dkk.(1984)
Langkah-langkah penerapan metode Group Investigation dapat dikemukakan
sebagai berikut:
a.
Seleksi
topik
Para
siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya
ditetapkan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan 2 hingga 6 anggota tiap
kelompok menjadi kelompok -kelompok yang berorientasi pada tugas yang
beranggotakan orang. Komposisi kelompok heterogen secara kemampuan akademik
maupun etnik.
b.
Perencanaan
kooperatif
Para
siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan umum yang
konsisten dengan subtopik yang telah dipilih dari langkah (1) diatas.
c.
Implementasi
Para
siswa menerapkan rencana yang telah dirumuskan pada langkah (2). Kegiatan
pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan
variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber
baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus
mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d.
Analisis
dan sintesis
Para
siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada
langkah (3) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang
menarik di depan kelas.
e.
Presentasi
hasil final
Beberapa
atau semua kelompok menyajikan presentasi yang menarik dari berbagai topik yang
telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai
suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok bisa
dikoordinir oleh guru.
f.
Evaluasi
Guru
beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap
pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat
mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
11. TS,
TEAM STUDY
Langkah – langkahnya adalah :
a. Para siswa membentuk pasangan-pasangan atau bertiga dalam suatu kelompok
b. Para siswa membaca tes formatif
c. Masing-masing
siswa mengerjakan soal pertama dengan menggunakan cara sendiri, kemudian
meminta seorang teman sekolompoknya untuk memeriksa jawaban
d. Apabila
jawabannya semua benar, maka boleh meneruskan tes sumatif. Apabila ada yang
salah, siswa harus mencoba kembali soal tersebut sampai benar.
e. Jika
ada siswa yang mengalami kesulitan, maka disarankan meminta bantuan dari teman
kelompoknya sebelum meminta pada guru
f. Tidak
diperbolehkan mengambil tes sumatif sebelum lulus tes formatif
g. Siswa
yang menyelesaikan tes unit merupakan tes akhir untuk menentukan skor kelompok.
12. CP,
CHANGE OF PAIR
a.
Setiap
siswa membentuk pasangan-pasangan.
b.
Guru
memberi tugas untuk dikerjakan oleh setiap pasangan siswa.
c.
Setelah
selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan lain.
d.
Kedua
pasangan tersebut bertukar pasangan, masing-masing pasangan yang baru ini
kemudian saling berdiskusi dan menshare jawaban mereka.
e.
Hasil
diskusi baru yang didapat dari bertukar pasangan ini kemudian didiskusikan
kembali oleh pasangan semula.
13. EI,
EXPLICIT INSTRUCTION
Slavin (dalam
Trianto:2011) mengemukakan tujuh langkah dalam sintaks explicit
instruction, yaitu sebagai berikut :
a. Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran kepada siswa.
Dalam tahap ini guru menginformasikan hal-hal yang harus dipelajari dan kinerja
siswa yang diharapkan.
b. Me-review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam tahap ini guru
mengajukan pertanyaan untuk mengungkap pengetahuan dan keterampilan yang telah
dikuasai siswa.
c. Menyampaikan materi pelajaran. Dalam fase ini, guru menyampaikan materi,
menyajikan informasi, memberikan contoh-contoh, mendemontrasikan konsep dan
sebagainya.
d. Melaksanakan bimbingan. Bimbingan dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi
kesalahan konsep.
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Dalam tahap ini, guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilannya atau
menggunakan informasi baru secara individu atau kelompok.
f. Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. Guru memberikan reviu
terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap
respon siswa yang benar dan mengulang keterampilan jika diperlukan.
g. Memberikan latihan mandiri. Dalam tahap ini, guru dapat memberikan
tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap
materi yang telah mereka pelajari.
14. CIRC,
COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION
(CIRC) (STEVEN & SLAVIN)
Langkah-langkah adalah :
- Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
- Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
- Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
- Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
- Guru membuat kesimpulan bersama
- Penutup. ( Slavin, 2011 : 200 )
6.
Dalam memahamkan materi Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning), DINA FTRIYAH dan SYAPWANSYAH dalam makalahnya
menjelaskan materi tersebut, mulai dari pengertian, asas-asas, dan
karakteristik CTL. Namun kedua pemakalah belum menjelaskan IMPLEMENTASI
pembelajaran CTL sebagai sebuah Model yang harus dilakukan oleh guru di dalam
kelas. Coba Sdr. uraikan kembali secara rinci muatan isi sebuah Model
Pembelajaran yang terkait dengan CTL dengan menguraikan PENGERTIAN tentang: (1)
Pendekatan, (2) Strategi, (3) Metode, (4) Teknik, dan (5) Taktik disertai
dengan contohnya masing-masing?
a.
Pendekatan
Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap
suatu obyek atau permasalahan. Pendekatan pembelajaran juga dapat diartikan
sebagai titik tolak atau sudut pandang pendidik terhadap proses pembelajaran,
yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih umum,
di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu (Mulyono, 2012 : 13) Contoh pendekatan dalam pembelajaran seperti
pendekatan Contextual Teaching and Learning. yaitu guru
mengaitkan antara materi-materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sehari-hari.
b.
Stategi
Strategi
pembelajaran dapat pula diartikan sebagai pola umum kegiatan guru-murid dalam
perwujudan kegaitan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah
digariskan. Atau dengan kata lain strategi belajar mengajar merupakan sejumlah
langkah yang direkayassa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan mengajar
tertentu (Elhefni,
2011 : 9 ) Contoh dari berbagai
Strategi Pembelajaran Adalah : Strategi Pembelajaran Kooperatif
(Cooperative Learning), Strategi Pembelajaran
Inkuiri (Inquiri), Strategi Pembelajaran
Ekspositori, Strategi Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching And Learning), dan Strategi Pembelajaran Discovery
c.
Metode
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan
nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran (Mulyono, 2012 : 16)
diantara metode pembelajaran seperti : Metode Ceramah, Metode Diskusi, Metode
Debat, Metode Demonstrasi, Metode Karyawisata, Metode Simulasi, dan lain – lain
.
d.
Teknik
Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan metode secara spesifik. Misalnya, penggunaan metode ceramah
pada kelas dengan jumlah peserta didik yang relatif banyak dan kelas yang
jumlahnya relative sedikit tidak boleh sama. Demikian juga dengan penggunaan
metode diskusi pada kelas yang tergolong aktif dan pasif pun juga berbeda.
Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor
metode yang sama (Mulyono, 2012 : 17)
e.
Taktik
Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang
dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya
individual.
Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan
metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang
digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan
humor karena memang dia memiliki gaya humor yang tinggi, sementara yang satunya
lagi kurang memiliki gaya humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu
elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya
pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai
dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. (Mulyono, 2012 : 18)
7.
Dalam pembelajaran berbasis komputer sesungguhnya guru tidak
mengajari anak bagaimana mengoperasikan komputer, tetapi menggunakan komputer
sebagai MEDIA untuk memahami suatu tema atau topik. Sdr. NORA SUNARYO PUTRI dan
BADRYANTONI sudah cukup rinci menjelaskan prinsip-prinsip dan model-model PBK
namun tidak diikuti dengan penjelasan bagaimana cara menggunakan komputer
sebagai sebuah model pembelajaran. Coba Sdr. uraikan kembali bagaimana proses
dan prosedur implementasi Pembelajaran Berbasis Komputer, sehingga jelas
perbedaannya antara computer sebagai media belajar dan komputer sebagai model
pembelajaran?
8.
RAHMA FITRI AWAL dan NIDAURRAHMAH dalam makalahnya Model
Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) menjelaskan pengertian Pembelajaran
Langsung dengan mengemukakan tiga istilah, yaitu: Active Teaching, Explicit
Instruction, dan Mastery Teaching.Namun,kedua pemakalah belum begitu
tuntas menjelaskan ketiga istilah tersebut sehingga tidak terlihat secara jelas
sisi-sisi perbedaan dan persamaannya dari ketiga istilah tersebut. Coba Sdr.
uraikan kembali secara rinci ketiga istilah tersebut sehingga memiliki
pemahaman yang holistic tentang Direct Instruction?
9.
Dari
sejumlah model pembelajaran yang sudah kita diskusikan dalam seminar kelas
sejak awal semester yang lalu, model-model pembelajaran mana yang cocok untuk
diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD? Jelaskan.
JAWABAN :
Daftar pustaka
Buzan, Tony. 2003. Use Both Sides
of Your Brain. Surabaya : Ikon.
Maesaroh, Efektivitas
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Group Investigation Terhadap
Hasil Belajar Matematika Siswa, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, 2005), hal 28
Trianto.
2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan
Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:
Kencana
Slavin, Robert E. (2009). Cooperative Learning(
Teori, Riset, Praktik). Bandung: Nusa Media
Sholeh
Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, (Bandung: PT.Raja Rosda karya,
2013).
Uno,
Hamzah. 2012. Belajar Dengan Pendekatan
PAILKEM. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Mulyasa. 2006. Manajemen berbasis Sekolah, Konsep Strategi dan Implementasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Dr. Paul Suparno, Teori perkembangan Kognitif Jean Piaget
(Jogjakarta: Kanisius, 2001).
Ratna Dahar, Teori-teori Belajar, (Jakarta:
Erlangga, 1989), h. 152.
Baharuddin dan Nur
Wahyuni. Teori Belajar dan Pembelajaran. (Jogajakarta : Ar-Ruz
Media Group. 2008), h. 88.
Elhefni, dkk,. 2011. Strategi
Pembelajaran. Palembang: CV. Grafika Telindo.
Mulyono. 2012. Strategi Pembelajaran Menuju Efektivitas Pembelajaran di Abad Global. Malang:
UIN-Maliki Press
[1]Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan
Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 254-255.
[2]Kunandar, Guru Profesional: Implementasi KTSP dan Sukses
dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), h. 335-336.
[3] Dr. Paul Suparno, Teori
perkembangan Kognitif Jean Piaget (Jogjakarta: Kanisius, 2001).
[4] [4]
Robert E. Slavin. (2010) COOPERATIVE LEARNING: Teori, Riset dan Praktik.
Bandung: Nusa Media

Tidak ada komentar:
Posting Komentar