https://soundcloud.com/alfian-chryz/vroom-vroom

Sabtu, 15 Oktober 2016

FINAL MODEL - MODEL PEMBELAJARAN


PROGRAM PASCASARJANA IAIN ANTASARI
UJIAN AKHIR SEMESTER: MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
PRORAM  STUDI: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SANDI:  PAI 8329
DOSEN: DR. H. RIDHAHANI FIDZI, M. PD

Petunjuk:
Jawaban disajikan dalam bentuk print out dengan ketentuan: kertas A4 (21 x 29,7 cm), jenis huruf Time New Roman, font 12, spasi 1,5. Pada koper depan bagian atas ditulis JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER dilengkapi dengan identitas institusi dan jangan lupa mencantumkan nama.Teknik pengetikan mengikuti aturan penulisan karya ilmiah. Kutipan cukup ditulis nama belakangnya saja. contoh Mahyudin Barni. Cukup dicantumkan Barni.

Uraian Petanyaan:
1.                  IHSAN MUZAKKIdan M. MISRAN DARMY dalam makalahnya yang berjudul “Model Pembelajaran Tematik” memaparkan Skema Garis Panduan Permasalahan dan Pengembangan Tema seperti yang terdapat pada halaman 8 s.d. 10. Namun, kedua pemakalah tersebut tidak tuntas membahas hubungan skema-tema-matrik kompetensi dasar. Sementara dalam seminar kelas yang dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Mei 2016 tidak seorangpun peserta seminar yang mempermasalahkannya. Coba Sdr. jelaskan bagaimana hubungan skema-tema-dan matrik tersebut dengan kurikulum 2013 yang mengembangkan pembelajaran tematik?
1.      Model Pembelajaran Tematik
Menurut ( Rusman, 2011 : 254), Pembelajaan tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan autentik. Yang mana model pembelajaran tematik ini menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Tujuan dari adanya tema ini bukan hanya untuk menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran, akan tetapi juga keterkaitannya dengan konsep-konsep dari mata pelajaran lainnya.
Menurut Rusman, (2011:254:255),  dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:[1]
  1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
  2. Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
  3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
  4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
  5. Siswa dapat lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
  6. Siswa dapat lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
  7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu atau tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Selain itu, sebagai suatu model pembelajaran di sekolah, model pembelajaran tematik memiliki karakteristik tersendiri, yakni:[2]
  1. Berpusat pada anak.
  2. Memberikan pengalaman langsung pada anak.
  3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
  4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses.
  5. Bersifat fleksibel.
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan anak.
  7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
Adanya pembuatan skema dalam pembelajaran tematik, maka tema yang dianggap masih umum, seorang guru bisa menjadikan lebih khusus, artinya dengan memecah-mecah tema besar tersebut, dengan tema atau uraian yang khusus atau dalalam bentuk penjabaran, sering juga disebut sub atau anak tema. Sehingga seorang guru dapat merancanakan penjalasan atau pembahasan tema tersebut lebih lanjut atau luas, karena dalam kurikulum 2013 mata pelajarannya dikurangi, sedangkan jam pelajarannya ditambah/minggu (Hidayat, 2013, h: 217). Sehingga sangat memungkinkan bagi seorang guru memperluas penjabaran tema besar tersebut. Karena adanya penambahan waktu tersebut.
Hubungan skema-tema-dan matrik dalam mata pelajaran dengan kurikulum 2013 yang mengembangkan pembelajaran tematik adalah bahwa beberapa mata pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator akan diikat dengan tema. Tema merupakan media pemersatu agar penyajian pembelajaran bisa terintegrasi. Pemetaan keterhubungan kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang bisa disatukan dalam sebuah tema dalam bentuk matriks. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran.
Contohnya pemetaan keterhubungan kompetensi dasar dengan tema pemersatu “BINATANG” dalam bagan dan matriks dibawah ini ( Rusman, 2011, h:264-265).  
MATA PELAJARAN
KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR
Bahasa Indonesia
Mendiskripsikan binatang disekitar
Menirukan gerak dan suara binatang tertentu
Menjelaskan ciri-ciri binatang secara rinci (nama,ciri khasnya, suaranya, habitatnya) dengan pilihan kata dan kalimat yang runtut
Membaca dan melengkapi teks pendek yang dilengkapi gambar
Pengetahuan Alam
Mendiskripsikan bagian-bagian yang tampak pada hewan disekitar rumah dan sekolah
Membuat daftar bagian-bagian utama tubuh hewan (kucing, burung, ikan) dan kegunananya dari hasil pengamatan
Meniru berbagai suara hewan yang ada di lingkungan sekitar
Menggambar sederhana hewan dan menamai bagian-bagian utama tubuh hewan
Menceritakan cara hewan bergerak berdasarkan pengamatan misalnya : menggunkan kaki, perut, sayap dan sirip
Matematika
Memahami konsep urutan bilangan cacah
Menyebutkan banyaknya benda
Membaca dan menulis lambang bilangan dalam kata-kata dan angka
Menentukan bahwa kumpulan benda lebih banyak, lebih sedikit, atau sama dengan kumpulan lain
Kerajianan tangan dan kesenian
Menanggapi berbagai unsur rupa, bintik, garis, bidang, warna, bentuk
Menggunakan perasaan ketertarikan pada objek yang diamati dari berbagai unsur rupa dan perpaduaannya.

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa tema “binatang” menyatukan mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, dan Kerajinan tangan dan kesenian yang kemudian setiap mata pelajaran memiliki kompetensi dasar dan indikator yang keduanya berhubungan dengan tema tadi yaitu tentang binatang.
Adanya pembuatan skema dalam pembelajaran tematik, maka tema yang dianggap masih umum, seorang guru bisa menjadikan lebih khusus, artinya dengan memecah-mecah tema besar tersebut, dengan tema atau uraian yang khusus atau dalalam bentuk penjabaran, sering juga disebut sub atau anak tema. Sehingga seorang guru dapat merancanakan penjalasan atau pembahasan tema tersebut lebih lanjut atau luas, karena dalam kurikulum 2013 mata pelajarannya dikurangi, sedangkan jam pelajarannya ditambah/minggu ( Hidayat, 2013 : 217 ). Sehingga sangat memungkinkan bagi seorang guru memperluas penjabaran tema besar tersebut. Karena adanya penambahan waktu tersebut.
Kemudian dilakukan pemetaan yang menghubungkan kompentensi dasar beberapa mata pelajaran yang dapat disatukan dalam satu tema dalam bentuk matrik, sehingga dalam pembelajaran tematik bisa dikembangkan, selaras dengan tema besarnya, dari sanalh dapat terlihat adanya keterkaitan atau hubunagn antara kompetensi dasar dan indikator dalam setaip mata pelajaran ( Rusman, 2014, h:273-274).  
Jadi dalam menerapkan model pembelajaran tematik terpadu ini, kita haruslah melakukannya dengan cara yang bersahabat, menyenangkan, dan bermakna bagi anak. Sedangkan dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan, anak tidak harus di-drill, tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami. Bentuk pembelajaran ini dikenal dengan pembelajaran terpadu, dan pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.

2.                  Model pembelajaran PAIKEM akhir-akhir ini sering digunakan dalam proses pembelajaran terutama untuk kelas-kelas rendah. Sdr. AMELIA FITRIANI dan JUMAIDIYAH belum tuntas mengaitkan teori-teori belajar yang melandasi penerapan dalam PAIKEM. Coba Sdr. uraikan teori belajar yang mendasari lahirnya model pembelajaran PAIKEM terutama teori belajar: a. teori belajar Thorndike, b. teori belajar Peaget, c. teori belajar Robert Gagne, dan d. teori belajar Gestalt?
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Menurut (Rusman, 2011 : 324) Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan(Uno, 2012: 11).
Menurut (Rusman, 2011 : 324) Kreatif dimaksudkan agar guru dituntut lebih untuk merangsang kreatifitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun melakukukan tindakan. Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru. (Mulyasa, 2006: 192)
Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi siswa. (Rusman, 2011 : 325)
Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan ( not under pressure) (Mulyasa, 2006:194).
Adapun teori-teori belajar yang mendasari lahirnya model pembelajaran PAIKEM antara lain:
a.      EDWARD LEE THORNDIKE
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasiasosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori connectionism. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup. Pintunya akan dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error yaitu: adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasi terhadap berbagai respon yang salah, dan ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Sumbangan pemikiran Thorndike mengenai perubahan perilaku sebagai hasil belajar adalah hukum-hukum sebagai berikut
1. Hukum kesiapan atau Law of Readiness
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.

2. Hukum latihan atau Law of Exercise
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.


3. Hukum hasil atau Law of Effect
Hubungan antara rangsangan dan perilaku akan makin kukuh apabila terdapat kepuasan dan akan makin diperlemah apabila tidak terdapat kepuasan. (Suprijono, 2011 : 20-21)
b.      Teori Jean Peaget
Menurut  Piaget menyatakan bahwa, setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang.  Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya( Dahar, 1989 : 152) 
Sedangkan Paul Suparno menggambarkan perkembangan kognitif anak menurut Jean Peaget menjadi empat tahap, yaitu : tahap sensorimotor, tahap praoperasi, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal .






Skema Empat Tahap Perkembangan Kognitif Piaget

Tahap
Umur
Ciri Pokok Perkembangan
Sensorimotor
0-2 tahun
Berdasarkan tindakan
Langkah demi langkah
Praoperasional
2-7 tahun
Penggunaan symbol/bahasa tanda
Konsep intuitif
Operasional Konkret
8-11 tahun
Pakai aturan jelas/logis
Reversibel dan kekekalan
Operasi Formal
11 tahun ke atas
Hipotesis
Abstrak
Deduktif dan induktif
Logis dan probabilitas

Tahap-tahap di atas saling berkaitan. Urutan tahap-tahap tidak dapat ditukar atau dibalik, karena tahap sesudahnya mengandalkan terbentuknya tahap sebelumnya. Tetapi, tahun terbentuknya tahap tersebut dapat berubah sesuai dengan situasi seseorang. Misalnya seseorang dapat mulai tahap operasional formal pada usia 11 tahun, sedangkan ada juga orang yang baru memasukinya pada usia 15 tahun. (Suparno, 2001: 19)[3]
Piaget juga menyatakan, usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut:
a.      Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak,
b.      Mulai berpikir secara operasional,
c.      Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda,
d.     Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan
e.      Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat (Dahar, 1989 : 153)
c.       Teori Robert Gagne
Gagne mendefinisikan belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah (Suprijono, 2011 : 2).
Selanjutnya Gagne menyebutkan hasil belajar dengan istilah kapabilitas belajar. Gagne menyebutkan 5 kategori kapabilias belajar  yang dapat dipelajari oleh siswa yaitu: (1) informasi verbal, (2) strategi kognitif, (3) keterampilan intelektual, (4) sikap dan (5) keterampilan motorik (Suprijono, 2011 : 5-6).
d.      Teori Gestalt
Teori gestalt dalam buku theories of learning disebutkan bahwa Gestaltis mengikuti tradisi yang dibawa dan dikembangkan oleh Kantian, yang mempunyai kepercayaan bahwa organisme menambahkan sesuatu pada pengalaman, di mana sesuatu itu tidak ada dalam data yang diindera, dan sesuatu itu adalah tindakan menata (organisasi) data. Gestalt adalah bahasa Jerman yang mempunyai makna pola atau konfigurasi. Aliran ini menganggap bahwa dunia adalah eksistensi yang ada secara menyeluruh bukan bagian yang parsial.
Dengan bahasa lain, Gestaltis menganggap bahwa “keseluruhan itu berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya” atau “membagi-bagi berarti mendestorsi”. Jadi, konstruksi pikiran dari kelompok ini adalah keseluruhan form dari benda yang kita lihat. Misalnya, manusia, kursi dan pohon, gambaran yang kita sebut menggunakan bahasa itu tidaklah bagian-bagian dari hal itu melainkan keseluruhan yang ada dalam wujudnya.
Suatu konsep yang penting dalam psikologis Gestalt adalah tentang insight yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan (Baharuddin dan Nur Wahyuni, 2008 : 88).

3.                  Dalam pembelajaran berbasis Web(E-Iearning), M. ARBANIE ZHUHRIN NOOR belum begitu jelas memahamkan bagaimana implementasi Model Pembelajaran Berbasis WEB karena pembahasannya sangat singkat seperti yang terdapat pada halaman 5. Coba Sdr. kembangkan bagaimana proses belajar melalui Web sehingga jelas perbedaannya antara Web sebagai media belajar dan Web sebagai model pembelajaran?

4.                  Dalam pembahasan Model Pembelajaran Berbasis Masalah, MIFTAHUL JANNAH dan MUHAMMAD SUBHAN mengemukakan alur proses dan pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah seperti yang terdapat pada halaman 6-9.Dalam uraian tersebut masih belum jelas terlihat keterkaitan antara satu dan yang lainnya. Coba Sdr. uraikan lagi secara lebih rinci mengenai hubungan kedua hal tersebut sehingga PBM dapat dipahami sebagai scientific method?

Problem-Based Intruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Beberapa tahapan yang perlu guru lalui dalam pembelajaran berbasis masalah adalah :
a.         Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
b.        Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut ( menetapkan topik,tugas jadwal, dan lain-lain).
c.         Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untukmendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah,pengumpulan data, hipotesis, pemcahan masalah.
d.        Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas denagn temannya.
e.         Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan ( Jauhar, 2011 : 86).
Secara singkat (Rusman, 2011 : 233 ), menjelaskan alur proses Pembelajaran Berbasis Masalah :


 
















Didalam buku Rusman,(2011:343)  Ibrahim dan Nur (2010: 13) dan Ismail (2000:1) mengemukaan bahwa langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah adalah sebagai berikut:

Indikator
Tingkah Laku Guru
Indikator -1
Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang perlukan, dan memotivasi siswa terlibat padaaktivitas pemecahan masalah.
Indikator -2
Mengorganisas siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mndefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah
Indikator -3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
Indikator -4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan   menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka membagi tugas dengan temannya.
Indikator -5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa dalam melakuakan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakaan.



5.                  Dalam menjelaskan Model Pembelajaran Kooperatif, M. REZA ANSYARI dan M. ROBI MAULANA ISHAK telah menjelaskan Konsep, Tujuan, Karakteristki, Macam-macam, dan Teknik-teknik Model Pembelajaran Kooperatif seperti yang terdapat pada halaman 2-9. Dalam menjelaskan model-model pembelajarannya kedua penulis hanya memberilima buah contoh seperti yang terdapat pada halaman 6-7. Dari sekian banyak tipe pembelajaran kooperatif rasanya belum cukup memadai kalau kita hanya mengetahuilima tipe tersebut. Agar pemahaman kita lebih komprehensif tentang berbagai tipe pembelajaran kooperatif, coba Sdr. jelaskan langkah-langkah pelaksanaan tipe-tipe pembelajaran kooperatif berikut ini: (1) TGT, (2) ENE, (3) PAP, (4) NHT, (5) CS, (6) CONSE, (7) MM, (8) TPS, (9) MAM, (10) GI, (11) TS, (11) CP, (12) EI, dan (13) CIRC?

1.      TGT,
TIPE TEAM GAMES TOURNAMENS
Menurut ( Slavin, 2010 : 167-168).  Langkah-langkah model pembelajaran TGT ada lima tahap yaitu
1)     Penyajian Kelas (Class Presentations)
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan  materi atau sering juga disebut dengan presentasi kelas (class presentations).
2)     Belajar dalam Kelompok (Teams)
Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 6 orang peserta didik.
3)     Permainan (Games)
Game atau permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi, dan dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat peserta didik dari penyajian kelas dan belajar kelompok.
4)   Pertandingan atau Lomba (Tournament)
Turnamen atau lomba adalah struktur belajar, dimana game atau permainan terjadi. Biasanya turnamen atau lomba dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja peserta didik (LKPD). Turnamen atau lomba pertama guru membagi peserta didik ke dalam beberapa meja turnamen atau lomba. Tiga peserta didik tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga peserta didik selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5)     Penghargaan Kelompok (Team Recognition)
Setelah turnamen atau lomba berakhir, guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim atau kelompok akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Tim atau kelompok mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 50 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 50-40 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 40 kebawah. Hal ini dapat menyenangkan para peserta didik atas prestasi yang telah mereka buat.[4]

2.      ENE,
EXAMPLES NON EXAMPLES
Menurut (Suprijono, 2011 : 125) Langkah – langkah model pembelajaran  Examples Non Examples, diantaranya:
a.      Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.        Gambar-gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar.
b.      Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD/OHP/In Focus. Pada tahap ini Guru dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar dan membentuk kelompok siswa.
c.      Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa  gambar.Peserta didik diberi waktu melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama agar detil gambar dapat dipahami oleh peserta didik, dan guru juga memberideskripsi tentang gambar yang diamati.
d.     Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan guru.
e.      Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya.dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing.
f.       Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuaidengan tujuan yang ingin dicapai.
g.      Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran

3.      PAP,
PICTURE AND PICTURE
Menurut ( Suprijono, 2011 : 125-126),
Langkah-langkah :
a.       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b.      Menyajikan materi sebagai pengantar
c.       Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
d.      Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
e.       Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
f.       Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
g.      Kesimpulan/rangkuman
4.      NHT,
NUMBERED HEADS TOGETHER (KEPALA BERNOMOR)

Menurut ( Suprijono, 2011 : 92) ,
Adapun Langkah-langkah model pembelajaran NHT (Number Head Together) adalah sebagai berikut
a.       Langkah pertama : Penomeran
Dalam langkah pertama  ini, kegiatan yang dilakukan guru ialah membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang terdiri antara 5-6  siswa. masing-masing anggota kelompok memperoleh nomor yang berbeda-beda.
b.      Langkah ke dua  : Mengajukan Pertanyaan
Dalam fase yang kedua ini, kegiatan guru selanjutnya adalah memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa. Dengan memberikan pertanyaan yang diharapkan bervariasi dan juga dapat berupa pertanyaan yang spesifik. Tujuan pemberian pertanyaan ini adalah untuk mentransformasikan pengetahuan baru ke arah situasi pembelajaran atau mengarahkan siswa untuk menanggapi materi yang akan dipelajarinya. Dengan demikian, akan membentuk sebuah situasi penalaran terhadap pengalaman baru yang akan dipelajari dengan lebih siap untuk dipahami dan diterimanya.
c.       Langkah ke tiga : Berpikir Bersama
Dari pertanyaan tersebut, siswa bersama kelompoknya membahas dan menyatukan pendapatnya. Tiap anggota dalam tim kelompoknya mengetahui jawaban tersebut.
d.      Langkah ke empat : Menjawab
Pada kegiatan ini, guru memanggil suatu nomor tertentu dengan cara acak. kemudian siswa yang bersangkutan yang sesuai dengan nomor panggil guru mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan guru tadi untuk dijawab kepada seluruh kelas.
e.       Langkah ke lima : Penilaian dan Pemberian Tanggapan
Pada langkah ini, guru meminta siswa yang lain untuk memberikan tanggapan, jawaban dan masukannya terhadap hasil jawaban siswa.  Kegiatan ini dilakukan berulang-ulang sampai berakhirnya nomor pada siswa.
f.       Langkah ke enam : Kesimpulan
Agar tidak menimbulkan kerancuan atau salah persepsi pada siswa. pada fase ini langkah guru adalah memberikan kesimpulan dan penjelasan atas pertanyaan dari jawaban yang disampaikan siswa.
g.      Langkah ke tujuh : Evaluasi
Pemberian evaluasi bertujuan untuk mengetahui dan memberikan umpan balik dari hasil kegiatan yang sudah dilakukan. Pemberian evaluasi ini dapat berupa penilaian secara lisan dan tulisan. Pemberian tes sebagai hasil akhir dari bentuk kegiatan pembelajaran dapat dilakukan oleh guru sesuai dengan keinginan guru yang bersangkutan. Pemberian tes pada akhir kegiatan pembelajaran menjadi hal terpenting untuk mengetahui dan menelaah pengunaan model pembelajaran NHT (Number head Together) itu sendiri dan perkembangan belajar siswa.

5.      CS,
COOPERATIVE SCRIPT
Menurut ( Suprijono, 2011 : 126-127 ) Skrip kooperatif  merupakan metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah :
a.       Guru membagi siswa untuk berpasangan
b.      Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
c.       Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
d.      Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara pendengar :
a)      Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
b)      Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
c)      Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
d)     Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru
e)      Penutup

6.      CONSE,
CONSEPT SENTENSE
Langkah- langkah dalam  pembelajaran  model  pembelajaran  kooperatif  tipe concept sentence menurut Suprijono (2009:132) adalah sebagai berikut:
a.       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b.       Guru menyampaikan  materi secukupnya
c.        Guru membentuk kelompok yang anggotanya 2 atau 3 orang secara heterogen
d.       Guru membagikan lembar kerja berupa paragraph yang kalimatnya belum lengkap bisa juga dengan menyajikan beberapa kata ‘KUNCI’ sesuai materi yang disajikan
e.        Siswa berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang tersedia.
f.        Siswa berdiskusi secara berkelompok
g.        Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah di perbaiki. Tiap peserta membaca sampai mengerti atau hafal.
h.       Simpulan/penutup

7.      MM,
MIND MAPPING
Adapun langkah-langkah pembelajaran menggunakan strategi mind mappin adalah pengembangan dari langkah-langkah pembuatannya, yaitu :
a.       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b.      Guru mengkondisikan siswa kedalam kelompok berpasangan dua orang.
c.       Guru menyajikan atau mengingatkan kembali materi yang akan dipelajari,
d.      Selanjutnya guru menbagikan potongan-potongan kartu yang telah bertuliskan konsep utama kepada siswa.
e.       Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
f.       Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
g.      Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang kiranya belum dipahami siswa.
h.      Kesimpulan/penutup. (Buzan, 2003 : 123).

8.      TPS,
THINK – PAIR -  SHARE
langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap-1: Thinking (berfikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberikan kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya.
Tahap-2: Pairing
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Diskusi  pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu beberapa  menit untuk berpasangan.
Tahap-3: Sharing
Dalam kegiatan ini diharapkan terjadi Tanya jawab yang mendorong pada mengkontruksikan pengetahuan secara integrative. Peserta didik agar dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya.  Suprijono (2009:91)
9.      MAM,
MAKE A MATCH
Hal-hal yang perlu dipersiapkan jika pembelajaran dikembangkan dengan make a match adalah kartu-kartu. Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Langkah berikutnya adalah guru membagi komunitas kelas menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu-kartu berisi pertanyaan-pertanyaan. Kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu-kartu berisi jawaban-jawaban. Kelompok ketiga adalah kelompok penilai. Aturlah posisi kelompok-kelompok tersebut berbentuk huruf U. Upayakan kelompok pertama dan kedua berjajar saling berhadapan.
Jika masing-masing kelompok sudah berada di posisi yang telah ditentukan, maka guru membunyikan peluit sebagai tanda agar kelompok pertama maupun kelompok kedua saling bergerak mereka bertemu, mencari pasangan pertanyaan-jawaban yang cocok. Berikan kesempatan kepada mereka untuk berdiskusi. Ketika mereka diskusi alangkah baiknya jika ada musik instrumentalia yang lembut mengiringi aktivitas belajar mereka. Hasil diskusi ditandai oleh pasangan-pasangan antara anggota kelompok pembawa kartu pertanyaan dan anggota kelompok pembawa kartu jawaban.
Pasangan-pasangan yang sudah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan jawaban kepada kelompok penilai. Kelompok ini kemudian membaca apakah pasangan pertanyaan-jawaban itu cocok. Setelah penilaian dilakukan, aturlah sedemikian rupa kelompok pertama dan kelompok kedua bersatu kemudian memposisikan dirinya menjadi kelompok penilai. Sementara, kelompok penilai pada sesi pertama tersebut di atas dipecah menjadi dua, sebagian anggota memegang kartu pertanyaan sebagian lainnya memegang kartu jawaban. Posisikan mereka dalam bentuk huruf U. Guru kembali membunyikan peluitnya menandai kelompok pemegang kartu pertanyaan dan jawaban bergerak untuk mencari, mencocokkan, dan mendiskusikan pertanyaan-jawaban. Berikutnya adalah masing-masing pasangan pertanyaanjawaban menunjukkan hasil kerjanya kepada penilai.
Perlu diketahui bahwa tidak semua peserta didik baik yang berperan sebagai pemegang kartu pertanyaan, pemegang kartu jawaban, maupun penilai mengetahui dan memahami secara pasti apakah betul kartu pertanyaan-jawaban yang mereka pasangkan sudah cocok. Demikian halnya bagi peserta didik kelompok penilai.
Mereka juga belum mengetahui pasti apakah penilaian mereka benar atas pasangan pertanyaan-jawaban. Berdasarkan kondisi inilah guru memfasilitasi diskusi untuk memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik mengkonfirmasikan hal-hal yang mereka telah lakukan yaitu memasangkan pertanyaan-jawaban dan melaksanakan penilaian. Suprijono (2011 : 94-96)

10.  GI,
Group investigation
Didalam buku trianto, (2009 : 80) Sharan, dkk.(1984)  Langkah-langkah penerapan metode Group Investigation dapat dikemukakan sebagai berikut:

a.       Seleksi topik
Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan 2 hingga 6 anggota tiap kelompok menjadi kelompok -kelompok yang berorientasi pada tugas yang beranggotakan orang. Komposisi kelompok heterogen secara kemampuan akademik maupun etnik.
b.      Perencanaan kooperatif
Para siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih dari langkah (1) diatas.
c.       Implementasi
Para siswa menerapkan rencana yang telah dirumuskan pada langkah (2). Kegiatan pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d.      Analisis dan sintesis
Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah (3) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e.       Presentasi hasil final
Beberapa atau semua kelompok menyajikan presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok bisa dikoordinir oleh guru.
f.       Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

11.  TS,
TEAM STUDY
Langkah – langkahnya adalah :
a.       Para siswa membentuk pasangan-pasangan atau bertiga dalam suatu kelompok
b.      Para siswa membaca tes formatif
c.       Masing-masing siswa mengerjakan soal pertama dengan menggunakan cara sendiri, kemudian meminta seorang teman sekolompoknya untuk memeriksa jawaban
d.      Apabila jawabannya semua benar, maka boleh meneruskan tes sumatif. Apabila ada yang salah, siswa harus mencoba kembali soal tersebut sampai benar.
e.       Jika ada siswa yang mengalami kesulitan, maka disarankan meminta bantuan dari teman kelompoknya sebelum meminta pada guru
f.       Tidak diperbolehkan mengambil tes sumatif sebelum lulus tes formatif
g.      Siswa yang menyelesaikan tes unit merupakan tes akhir untuk menentukan skor kelompok.

12.  CP,
CHANGE OF PAIR
a.       Setiap siswa membentuk pasangan-pasangan.
b.      Guru memberi tugas untuk dikerjakan oleh setiap pasangan siswa.
c.       Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan lain.
d.      Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, masing-masing pasangan yang baru ini kemudian saling berdiskusi dan menshare jawaban mereka.
e.       Hasil diskusi baru yang didapat dari bertukar pasangan ini kemudian didiskusikan kembali oleh pasangan semula. 

13.  EI,
EXPLICIT INSTRUCTION
Slavin (dalam Trianto:2011) mengemukakan tujuh langkah dalam sintaks explicit instruction, yaitu sebagai berikut :
a.    Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran kepada siswa. Dalam tahap ini guru menginformasikan hal-hal yang harus dipelajari dan kinerja siswa yang diharapkan.
b.    Me-review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam tahap ini guru mengajukan pertanyaan untuk mengungkap pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai siswa.
c.    Menyampaikan materi pelajaran. Dalam fase ini, guru menyampaikan materi, menyajikan informasi, memberikan contoh-contoh, mendemontrasikan konsep dan sebagainya.
d.   Melaksanakan bimbingan. Bimbingan dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep.
e.    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Dalam tahap ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara individu atau kelompok.
f.     Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. Guru memberikan reviu terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap respon siswa yang benar dan mengulang keterampilan jika diperlukan.
g.    Memberikan latihan mandiri. Dalam tahap ini, guru dapat memberikan tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah mereka pelajari.

14.  CIRC,
COOPERATIVE INTEGRATED READING  AND COMPOSITION (CIRC) (STEVEN & SLAVIN)
Langkah-langkah adalah :
  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
  3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
  4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
  5. Guru membuat kesimpulan bersama
  6. Penutup. ( Slavin, 2011 : 200 )


6.                  Dalam memahamkan materi Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), DINA FTRIYAH dan SYAPWANSYAH dalam makalahnya menjelaskan materi tersebut, mulai dari pengertian, asas-asas, dan karakteristik CTL. Namun kedua pemakalah belum menjelaskan IMPLEMENTASI pembelajaran CTL sebagai sebuah Model yang harus dilakukan oleh guru di dalam kelas. Coba Sdr. uraikan kembali secara rinci muatan isi sebuah Model Pembelajaran yang terkait dengan CTL dengan menguraikan PENGERTIAN tentang: (1) Pendekatan, (2) Strategi, (3) Metode, (4) Teknik, dan (5) Taktik disertai dengan contohnya masing-masing?

a.    Pendekatan
Pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu obyek atau permasalahan. Pendekatan pembelajaran juga dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang pendidik terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu (Mulyono, 2012 : 13) Contoh pendekatan dalam pembelajaran seperti pendekatan Contextual Teaching and Learning. yaitu guru mengaitkan antara materi-materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

b.   Stategi
Strategi pembelajaran dapat pula diartikan sebagai pola umum kegiatan guru-murid dalam perwujudan kegaitan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Atau dengan kata lain strategi belajar mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayassa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan mengajar tertentu (Elhefni, 2011 : 9 ) Contoh dari berbagai Strategi Pembelajaran Adalah : Strategi Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning), Strategi Pembelajaran Inkuiri (Inquiri), Strategi Pembelajaran Ekspositori, Strategi Pembelajaran Kontekstual  (Contextual Teaching And Learning), dan Strategi Pembelajaran Discovery

c.    Metode
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran (Mulyono, 2012 : 16) diantara metode pembelajaran seperti : Metode Ceramah, Metode Diskusi, Metode Debat, Metode Demonstrasi, Metode Karyawisata, Metode Simulasi, dan lain – lain .
d.   Teknik
Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan metode secara spesifik. Misalnya, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah peserta didik yang relatif banyak dan kelas yang jumlahnya relative sedikit tidak boleh sama. Demikian juga dengan penggunaan metode diskusi pada kelas yang tergolong aktif dan pasif pun juga berbeda. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama (Mulyono, 2012 : 17)
e.    Taktik
Taktik pembelajaran  merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki gaya humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki gaya humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. (Mulyono, 2012 : 18)

7.                  Dalam pembelajaran berbasis komputer sesungguhnya guru tidak mengajari anak bagaimana mengoperasikan komputer, tetapi menggunakan komputer sebagai MEDIA untuk memahami suatu tema atau topik. Sdr. NORA SUNARYO PUTRI dan BADRYANTONI sudah cukup rinci menjelaskan prinsip-prinsip dan model-model PBK namun tidak diikuti dengan penjelasan bagaimana cara menggunakan komputer sebagai sebuah model pembelajaran. Coba Sdr. uraikan kembali bagaimana proses dan prosedur implementasi Pembelajaran Berbasis Komputer, sehingga jelas perbedaannya antara computer sebagai media belajar dan komputer sebagai model pembelajaran?

8.                  RAHMA FITRI AWAL dan NIDAURRAHMAH dalam makalahnya Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) menjelaskan pengertian Pembelajaran Langsung dengan mengemukakan tiga istilah, yaitu: Active Teaching, Explicit Instruction, dan Mastery Teaching.Namun,kedua pemakalah belum begitu tuntas menjelaskan ketiga istilah tersebut sehingga tidak terlihat secara jelas sisi-sisi perbedaan dan persamaannya dari ketiga istilah tersebut. Coba Sdr. uraikan kembali secara rinci ketiga istilah tersebut sehingga memiliki pemahaman yang holistic tentang Direct Instruction?

9.                  Dari sejumlah model pembelajaran yang sudah kita diskusikan dalam seminar kelas sejak awal semester yang lalu, model-model pembelajaran mana yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI di MI/SD? Jelaskan.


JAWABAN    :




Daftar pustaka
Buzan, Tony. 2003. Use Both Sides of Your Brain. Surabaya : Ikon.
Maesaroh,   Efektivitas Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Group Investigation Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2005), hal 28
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana
Slavin, Robert E. (2009). Cooperative Learning( Teori, Riset, Praktik). Bandung: Nusa Media
Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru, (Bandung: PT.Raja Rosda karya, 2013).
Uno, Hamzah. 2012. Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Mulyasa. 2006. Manajemen berbasis Sekolah, Konsep Strategi dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
 Dr. Paul Suparno, Teori perkembangan Kognitif Jean Piaget (Jogjakarta: Kanisius, 2001).

Ratna Dahar, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 152.

Baharuddin dan Nur Wahyuni. Teori Belajar dan Pembelajaran. (Jogajakarta : Ar-Ruz Media Group. 2008), h. 88.
Elhefni, dkk,. 2011. Strategi Pembelajaran. Palembang: CV. Grafika Telindo.
Mulyono. 2012. Strategi Pembelajaran Menuju Efektivitas Pembelajaran di Abad Global. Malang: UIN-Maliki Press


[1]Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 254-255.

[2]Kunandar, Guru Profesional: Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), h. 335-336.
[3] Dr. Paul Suparno, Teori perkembangan Kognitif Jean Piaget (Jogjakarta: Kanisius, 2001).
[4] [4] Robert E. Slavin. (2010) COOPERATIVE LEARNING: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar