https://soundcloud.com/alfian-chryz/vroom-vroom

Jumat, 07 Oktober 2016

Soal Ujian               : Final Test
Mata  Kuliah           : Filsafat Ilmu


Prodi/Konsentrasi    : Semua prodi/konsentrasi
Dosen Pengasuh      : Kamrani Buseri bersama Rusydi.
Sifat                         : take home       
Hari dan Tanggal     : Tgl. 8 sd 23 Januari 2016.


Kita telah mempelajari epistemologi rasionalistik, bayani, positivistik, burhani, fenomonologik, irfani, heurmeneutik, realisme metafisik dan paragmatisme. Utarakan dengan memakai matrik ke sembilan epistemologi dimaksud menyangkut:
1. Sarana utama untuk mencapai kebenaran/sarana untuk memperoleh ilmu;
2. Pangkal tolak/sumber utama;
3. Pendekatan/tata pikir;
4. Hasil/kebenaran yang dicapai;
5. Penerapan pada bidang ilmu;
6. Kelebihan;
7. Kekurangan.
Catatan: Sembilan macam epistemologi masukkan kedalam kolom dan bentuk-bentuk yang dicari jawabannya (7 bentuk) masukkan ke dalam lajur. 
Selamat mengerjakan.


MATRIK JAWABAN:

No.
Nama Epistemologi:
Sarana utama utk mencapai kebenaran/sarana utk memperoleh ilmu
Pangkal tolak/sumber utama

Pendekatan/tata pikir

Hasil/kebenaran yang dicapai

Penerapan pada bidang ilmu
Kelebihan
Kekurangan
1
Rasionalistik
Pada zamannya orang menghadapi kesimpang siuran metode dan bicara sendiri-sendiri untuk menyebut apa kebenaran itu, karena itu harus kita ragukan kecuali satu hal yang tidak boleh diragukan yaitu ragu-ragu itu sendiri
paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan
Empirisme dalam arti modern lahir dari kata emperia = pengalaman yaitu pada abad 16 yang peletak dasarnya Francis Bacon (1561-1626), seorang Inggris. Pengetahuan harus diperbaharui dalam cara penemuannya karena berguna bagi manusia. Agama harus dipisahkan dengan ilmu pengetahuan. Agama bisa dipertahankan bila dogma-dogmanya tidak masuk akal sehingga persepsi manusia tidak lagi atas dasar rasio tetapi pasrah.
Dengan kata lain manusia kembali kepada dirinya sendiri, menjadi dasar sumber untuk berpengetahuan yang untuk itu manusia sejak semula telah memiliki innate ideas (ide-ide bawaan).      
Innate ideas itu sudah tertanam pada manusia dan apa yang disebut innate ideas adalah pengetahuan manusia berupa substansi, dan yang disebut substansi menurut Descartes adalah tuhan, jiwa dan raga.

Selama ini pengetahuan manusia disesatkan oleh idola yakni sesuatu yang digambarkan sebagai yang terbaik, idola ada 4 macam.
1.      Idola tribus : manusia menerima dan menganggap apa yang menjadi pengetahuannya sudah semestinya, sudah dengan sendirinya.
2.      Idola spicus :  yang menganggap bahwa pengetahuan atau kebenaran itu ialah sepanjang yang ia ketahui saja.
3.      Idola fari : pasar, yaitu pengetahuan yang merupakan sesuatu yang tersebar dari mulut ke mulut.
4.      Idola theatri : yaitu kebenaran yang dikomandangkan oleh mereka yang mempunyai otorita

Dalam menalar dan menjelaskan pemahaman-pemahaman yang rumit, kemudian Rasionalisme memberikan kontribusi pada mereka yang tertarik untuk menggeluti masalah – masalah filosofi. Rasionalisme berpikir menjelaskan dan menekankan kala budi sebagai karunia lebih yang dimiliki oleh semua manusia, mampu menyusun sistem-sistem kefilsafatan yang berasal dari manusia
Memahami objek di luar cakupan rasionalitas sehingga titik kelemahan tersebut mengundang kritikan tajam, sekaligus memulai permusuhan baru dengan sesama pemikir filsafat yang kurang setuju dengan sistem-sistem filosofis yang subjektif tersebut, doktrin-doktrin filsafat rasio cenderung mementingkan subjek daripada objek, sehingga rasionalisme hanya berpikir yang keluar dari akal budinya saja yang benar, tanpa memerhatikan objek – objek rasional secara peka
2
Positivistik
Dari pemikiran inilah kemudian tahun 1925-an di AS muncul filsafat pragmatisme.
Mengenai positivistis ini yang tidak baik adalah karena sesuatu yang dianggap baik dan berguna itu hanya yang konkrit¸ nyata. Sesuatu yang abstrak menjadi hilang. Hal-hal yang tidak kuantitatif dipandang tidak berguna.

sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita
Istilah positif untuk pertama diangkat oleh Comte ke filsafat, diberi arti:
1.      Konkrit dalam arti nyata sebagai pengertian yang dilawankan dengan pengertian khayal.
2.      Eksak atau pasti sebagai lawan dari pengertian meragukan.
3.      Tepat, akurat sebagai lawan dari pengertian kabur.
4.      Bermanfaat sebagai lawan dari pengertian mubazir.
5.      Sebagai lawan dari pengertian sehari-hari yang dikenal dengan ”negatif”.

Setiap burhani – silogisme >< setiap silogisme tdk burhani.
Setiap junub pasti mandi, setiap mandi belum pasti junub lihat realitasnya (positifnya) apa.
Presmis mayor dan minor : manusia berjiwa, berjiwa mati, maka manusia pasti mati.

Positivisme tidak mengakui metafisika, sedangkan materialisme mengakui.
Epistemologi yang diajarkan/mean of investigation:
1.       Observasi. Untuk mengamati fenomena atau fakta secara indrawi sedemikian rupa sehingga melalui pengamatan orang dapat membuat anggapan /asumsi dsb.
2.       Percobaan/eksprimentasi dalam arti atas dasar asumsi orang mengadakan eksprimen sedemikian rupa yang dapat memperkuat atau menggugurkan asumsi.
Apabila asumsi dapat diperkuat, maka
3.       Mengadakan perbandingan atau komparasi antara fakta yag satu dan yang lain. Dan apabila asumsi tadi sekali lagi diperkuat, itulah yang disebut hukum atau teori yang dapat dipergunakan untuk meramalkan masa depan.
4.       Namun Comte juga menyadari bahwa dalam menghadapi masyarakat sebagai objek dimana di dalamnya terdapat unsur-unsur kehidupan yang sangat kompleks, maka sarananya
5.       Historikal dalam arti memperbandingkan peristiwa sejarah yang pernah terjadi dan pernah melahirkan gejala-gejala dalam masyarakat kita.
optimisme tentang masa depan umat manusia adalah terbaik, sebab masa depan dapat ditata sebelumnya. Adanya optimisme menjadikan manusia selalu berkreasi.
Bahayanya sangat besar yaitu hilangnya nilai-nilai kualitatif, tidak tersentuhnya nilai-nilai universal/abstrak. Oleh sebab itu nilai-nilai ini menjadi terlupakan
3
Phenomenologik
Fenomenologi menerima kebenaran di luar empirik indrawi. Oleh sebab itu mereka menerima kebenaran sensual, kebenaran logik, ethik dan transedental
sesuatu yang nampak atau disebut “gejala”
berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Analisis menunjukkan bahwa kesadaran itu sungguh-sungguh selalu terarah kepada obyek.
Fenomenologi keberan dibuktikan berdasarkan ditemukannya yang essensial.
fenomenologi lebih merupakan sikap bukan suatu prosedur khusus yang diikuti pemikirannya (diskusi, induksi, observsi dll). Dalam hubungan ini hubungan langsung dengan realitas berdasarkan intuisi.
Fenomenologi menyadarkan adanya hal-hal yang tidak pernah dijangkau oleh epistemologi lain.
Fenomenologis menyadarkan keinginan menempatkan kembali manusia pada hakikatnya. Juga bisa mencari makna dari peningggalan sejarah dan peninggalan-peninggalan zaman dahulu

Hasilnya terlalu amat subjektif karena sulit ditentukan sampai sejauh mana atau kapankah Aku murni atau Aku transendental telah mampu mencapai Erlebnis, dan apa ukuran bagi Erlebnis sebagai jaminan bahwa sesuatu yang maknawi itu bagi seseorang juga bermakna bagi orang lain.
4
Bayani
Sumber teks dalam studi Islam dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni : teks nash (al-Qur`an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW) dan teks non-nash berupa karya para ulama.
sumber epistemologi bayani adalah teks
pendekatan dengan cara menganilis teks
Adapun corak berpikir yang diterapkan dalam ilmu ini cenderung deduktif, yakni mencari (apa) isi dari teks (analisis content).
Dalam aplikasinya, pendekatan bayani akan memperkaya lilmu fikih dan ushul fikih, lebih-lebih qawaidul lughahnya.
memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran
Karena otoritas ada pada teks, dan rasio hanya berfungsi sebagai pengawal teks, sementara sebuah teks belum tentu diterima oleh golongan lain, maka ketika berhadapan, Nalar Bayani menghasilkan sikap mental yang dogmatis, defensif dan apologetik, sehingga dari sikap ini muncul suatu konsep atau sikap, pemahaman dengan semboyan kurang lebi
5
Burhani
Ilmu al-lisan, yang pertama membicarakan lafz-lafz, kaifiyyah, susunan, dan rangkaiannya dalam ibarat-ibarat yang dapat digunakan untuk menyampaikan makna, serta cara merangkainya dalam diri manusia. Tujuannyaadalahuntukmenjagalafz al-dalalah yang dipahamidanmenetapkanaturan-aturanmengenailafztersebut. dan
Ilmu al-mantiq, yang membahasmasalahmufradatdansusunan yang dengannyakitadapatmenyampaikansegalasesuatu yang bersifatinderawidanhubungan yang tetapdiantarasegalasesuatutersebut, atauapa yang mungkinuntukmengeluarkangambaran-gambarandanhukum-hukumdarinya.Tujuannyaadalahuntukmenetapkanaturan-aturan yang digunakanuntukmenentukancarakerjaakal, ataucaramencapaikebenaran yang mungkindiperolehdarinya.

sumber pengetahuan dengan nalar burhani adalah realitas dan empiris yang berkaitan dengan alam, social, dan humanities
Corak model berpikir yang digunakan adalah induktif, yakni generalisasi dari hasil-hasil penelitian empiris.
Corak model berpikir yang digunakan adalah induktif, yakni generalisasi dari hasil-hasil penelitian empiris.
sosiologi (sosiulujiyyah), antropologi (antrufulujiyyah), kebudayaan (thaqafiyyah) dan sejarah (tarikhiyyah),
Ada kesinambungan historis antara bangunan pemikiran lama yang baik dengan lahirnya pemikiran keislaman baru yang lebih memadai dan up to date
sering tidak sinkronnya teks dan realitas.
6
Irfani
ta'wil 'irfani terhadap Al-Qur'an bukan merupakan istinbat, bukan ilham, bukan pula kashf. tetapi ia merupakan upaya mendekati lafz-lafz Al-qur'an lewat pemikiran yang berasal dari dan berkaitan dengan warisan 'irfani yang sudah ada sebelum Islam, dengan tujuan untuk menangkap makna batinnya
Ilham/ Intuisi
pendekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalam batin, dhawq, qalb, wijdan, basirah dan intuisi. Sedangkan metode yang dipergunakan meliputi manhaj kashfi dan manhaj iktishafi.
pengetahuan 'irfani bersifat subyekyif, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya
Implikasi dari pengetahuan 'irfani dalam konteks pemikiran keislaman, adalah mengahmpiri agama-agama pada tataran substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.
Di antara keunggulan irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musya>hadah, dan muka>syafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal.
bahwa ia hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia
7
Hermeneutik
Hermeneutik sangat erat kaitannya dengan bahasa, berpikir, berbicara, menulis, mengerti, membuat interpretasi dengan bahasa, bahkan seni yang jelas tidak menggunakan bahasa pun berkomunikasi dengan seni-seni yang lain juga dengan menggunakan bahasa. Semuanya diapresiasi melalui bahasa
Secara etimologis kata Hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan, maka kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi (E Sumaryono, 1999:23).
Memang semua ilmu yang termasuk kedalam ilmu-ilmu kemanusiaan (geisteswissenschaften) atau ilmu-ilmu kehidupan (life sciences) memerlukan hermeneutik, tidak untuk natural  science.

       Hermeneutika berarti penafisran terhadap teks, tetapi berbeda dengan ilmu tafsir. Ilmu tafsir memiliki kaedah nahu-sharf; muhkamat-mutasyabihat; nasakh-mansukh; manthuq-mafhum; mafatih al-anwar; maqashid al-syari’, asbabal-nuzul,  dll.
Secara konkrit hermeneutik dapat diterapkan  pada bidang-bidang ilmu agama, sejarah, hukum, filsafat, seni lebih-lebih lagi linguistik. Ilmu yang terkait dengan  agama khususnya yang berkenaan dengan kitab suci, hermeneutik menjadi sangat penting, meskipun hermeneutik yang dipergunakan dalam menafsirkan Alquran masih ada sebagian ulama yang menolak.

dapat menjawab persoalan sekarang dengan penafsiran kontekstual,
subyektif.

8
Realisme Metafisik
fakta konstruktif human pada dataran metaphisik. Untuk menangkap atau mengobservasi fakta konstruktif tersebut perlu memiliki pandangan human. yaitu: pandangan yang memahami benar tentang sifat human
Realisme suatu aliran filsafat yang berupaya melihat semua hal sebagaimana aselinya tanpa idealitas, spekulasi atau idolisasi dan berpijak pada fakta murni. Sementara istilah metaphisik secara etimologis berasal dari bahasa Latin yang artinya ”sesudah”, ”setelah” atau ”melebihi” menyangkut alam. Jadi, maksudnya dapat berarti sesuatu yang berbeda di balik alam atau berbagai macam alam. Belakangan metaphisika mempunyai arti tersendiri, yaitu sebuah ilmu yang kajiannya bergelut dengan permasalahan metaphisika atau apa yang melampaui pisik.
sesuatu yang umum, universal dan objektif serta bersipat intransendental.
Disebut objektif karena kebenarannya bebas (independen) dari subjektivitas individual. Disebut universal karena bebas dari kasus, tempat dan waktu
Eksistensi untuk modal pemahamannya memerlukan antara lain telaah psikologik, telaah sosiologik dan keyakinan agama
Tidakbergantungpadasegalapengetahuan



Menganggapbahwarealitasitutidaksekedarapa yang dapatdilihatsecara real, tetapirealitasituadalahpemikiranatau ide-ide.


9
Pragmatisme
menolak segala intelektualisme dan absolutisme serta merendahkan logika formal
Paragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma yang berarti tindakan atau perbuatan. Pragmatisme secara harfiah berarti filsafat atau aliran pemikiran tentang tindakan, maksudnya yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang bermanfaat seara praktis, misalnya berbagai pengalaman pribadi tentang kebenaran mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Segala sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan.
Pragmatisme disebut juga sebagai aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Ia bersedia menerima segala sesuatu asal saja membawa akibat praktis, pengalaman-pengalaman pribadi diterimanya asal bermanfaat
Aliran yang tersebar luas dalam filsafat modern ini merupakan inti filsafat pragmatis dan menentukan nilai pengetahuan berdasarkan kegunaan praktisnya bukan pengakuan kebenaran objektif dengan kriterium praktik, tetapi apa yang memenuhi kepentingan-kepentingan subjektif individu
Workability (keberhasilan), satisfaction (kepuasan), konsekuensi dan result (hasil) adalah kata-kata kunci dalam konsepsi pragmatisme tentang kebenaran
kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan kontemporer, khususnya di Amerika Serikat, telah membawa kemajuan-kemnjuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan maupun teknologi.
Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada..
Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah percaya pada “kepercayaan yang mapan”.
Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat metafisika dan kebenaran absolute (kebenaran tunggal), hanya mengakui kebenaran apabila terbukti secara alamiah, dan percaya bahwa duna ini mampu diciptakan oleh manusia sendiri, secara tidak langsung pragmatisme sudah mengingkari sesuatu yang transcendental (bahwa Tuhan jauh di luar alam semesta).
Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptkan pola pikir masyarakat yang matrealis.
Untuk mencapai matrealismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa memperdulikan lagi dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar