https://soundcloud.com/alfian-chryz/vroom-vroom

Jumat, 21 Oktober 2016

AKHLAK TERHADAP DIRI SENDIRI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Belakangan ini akhlak di lingkungan kita sekarang semakin menurun dan jatuh, hal ini terbukti dengan adanya perilaku-perilaku tidak bermoral yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Sikap tidak bermoral yang sekarang semakin merajalela di kehidupan masyarakat dan malah sudah dianggap sudah biasa dan wajar dalam kehidupan masyarakat. Tidak hanya kaum muda yang akhlaknya telah banyak tercemar, anak-anak pun juga ikut beresiko terpengaruh akibat lemahnya pengawasan orang tua dan kurang tegaknya amar ma’ruf nahi munkar. Dan ada pepatah yang mengatakan bahwa, suatu negara itu jatuh bukan karena banyaknya penjahat, melainkan diamnya orang-orang baik.
            Salah satu kunci utama dalam membenahi akhlak bangsa ini yaitu dengan menitikberatkan pada lingkungan keluarga dan perlu penyadaran terhadap setiap keluarga bahwasanya pendidikan akhlak terutama pendidikan akhlak penting untuk diajarkan dan ditanamkan dalam diri seorang anak. Dalam proses penanaman nilai akhlak ini haruslah pertama kali ditanamkan nilai-nilai akhlak terhadap diri sendiri karena semua hal itu dimulai dari diri kita sendiri, setelah diri kita benar-benar tertanam nilai akhlak maka secara otomatis dapat menjalar dalam aspek-aspek kehidupan yang lain.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian akhlak kepada pribadi?
2.      Apa macam-macam akhlak kepada pribadi?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Memahami Pengertian akhlak kepada Pribadi
2.      Mengetahui macam-macam akhlak kepada pribadi


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Akhlak Kepada Pribadi
Menurut etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari mufradnya khuluq خلق yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat[1]. Sedangkan menurut terminologi : kata “budi pekerti”, budi adalah yang ada pada manusia, berhubungan dengan kesadaran yang didorong oleh pemikiran, ratio. Budi  disebut juga karakter. Pekerti adalah apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan hati yang disebut behaviour. Jadi, budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.[2]
Akhlak Islam bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati bagi penyakit sosial dari jiwa dan mental. Tujuan berakhlak yang baik untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia. Dua simbolis tujuan inilah yang diidamkan manusia bukan semata berakhlak secara islami hanya bertujuan  untuk kebahagiaan dunia saja.
Manusia mempunyai kewajiban kepada dirinya sendiri yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya. Kewajiban ini bukan semata-mata untuk mementingkan dirinya sendiri atau menzalimi dirinya sendiri. Dalam diri manusia mempunyai dua unsur, yakni jasmani (jasad) dan rohani (jiwa). Selain itu manusia juga dikaruniai akal pikiran yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya. Tiap-tiap unsur memiliki hak di mana antara satu dan yang lainnya mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya masing-masing.

B.       Macam-Macam Akhlak Seorang Muslim Pada Diri Sendiri
1.      Berakhlak terhadap jasmani
a.       Senantiasa Menjaga Kebersihan
Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman. Seorang muslim harus bersih/ suci badan, pakaian, dan tempat, terutama saat akan melaksanakan sholat dan beribadah kepada Allah, di samping suci dari kotoran, juga suci dari hadas.
Allah SWT berfirman :
šštRqè=t«ó¡ourÇ`tãÇÙŠÅsyJø9$#(ö@è%uqèd]Œr&(#qä9ÍtIôã$$sùuä!$|¡ÏiY9$#ÎûÇÙŠÅsyJø9$#(Ÿwur£`èdqç/tø)s?4Ó®LymtbößgôÜtƒ(#sŒÎ*sùtbö£gsÜs? Æèdqè?ù'sùô`ÏBß]øymãNä.ttBr&ª!$#4¨bÎ)©!$#=ÏtätûüÎ/º§q­G9$#=Ïtäuršúï̍ÎdgsÜtFßJø9$#ÇËËËÈ
222. mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(QS. Al baqarah: 222

[137] Maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh.
[138] Ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.

ŸwóOà)s?ÏmÏù#Yt/r&4îÉfó¡yJ©9}§Åcé&n?tã3uqø)­G9$#ô`ÏBÉA¨rr&BQöqtƒ,ymr&br&tPqà)s?ÏmÏù4ÏmÏù×A%y`Íšcq7Ïtäbr&(#r㍣gsÜtGtƒ4ª!$#ur=Ïtäšúï̍Îdg©ÜßJø9$#ÇÊÉÑÈ
Artinya :
108. janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At Taubah:108)
b.      Menjaga Makan dan Minumnya
Makan dan minum merupakan kebutuhan vital bagi tubuh manusia, jika tidak makan dan minum dalam keadaan tertentu yang normal maka manusia akan mati. Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar makan dan minum dari yang halal dan tidak berlebihan. Sebaiknya sepertiga dari perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.
Allah SWT berfirman :
(#qè=ä3sù$£JÏBãNà6s%yuª!$#Wx»n=ym$Y7ÍhsÛ(#rãà6ô©$#ur|MyJ÷èÏR«!$#bÎ)óOçFZä.çn$­ƒÎ)tbrßç7÷ès?ÇÊÊÍÈ
Artinya :
Maka makanlah yang halal lagibaikdari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni'mat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.(QS. An Nahl:114)
c.       Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan bagi seorang muslim adalah wajib dan merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT dan sekaligus melaksanakan anmanah dari-Nya. Riyadhahatau latihan jasmani sangat penting dalam penjagaan kesehatan, walau bagaimnapun riyadhah harus tetap dilakukan menurut etika yang ditetapkan oleh Islam.Orang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada mukmin yang lemah.
Dari sahabat Abu Hurairah ra, Bersabda Rasulullah saw., “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. (HR. Muslim)
d.      Berbusana yang Islami
Manusia mempunyai budi, akal dan kehormatan, sehingga bagian-bagian badannya ada yang harus ditutupi (aurat) karena tidak pantas untuk dilihat orang lain. Dari segi kebutuhan alaminya, badan manusia perlu ditutup dan dilindungi dari gangguan bahaya alam sekitarnya, seperti dingin, panas, dll. Karena itu Allah SWT memerintahkan manusia menutup auratnya dan Allah SWT menciptakan bahan-bahan di alam ini untuk dibuat pakaian sebagai penutup badan.
  ûÓÍ_t6»tƒtPyŠ#uäôs%$uZø9tRr&ö/ä3øn=tæ$U$t7Ï9ͺuqãƒöNä3Ï?ºuäöqy$W±Íur(â¨$t7Ï9ur3uqø)­G9$#y7Ï9ºsŒ×Žöyz4šÏ9ºsŒô`ÏBÏM»tƒ#uä«!$#óOßg¯=yès9tbr㍩.¤tƒÇËÏÈ
Artinya :
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al A’raf:26)

2.      Berakhlak terhadap Akal
a.    Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim, sekaligus sebagai bentuk akhlak seorang muslim. Muslim yang baik, akan memberikan porsi terhadap akalnya yakni berupa penambahan pengetahuan dalam sepanjang hayatnya. Sebuah hadits Rasulullah SAW menggambarkan :
(رواه ابن ماجه)مسلم طلب العلم فريضة على كل
Artinya : “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Seorang mu’min, tidak hanya mencari ilmu dikarenakan sebagai satu kewajiban, yang jika telah selesai kewajibannya maka setelah itu sudah dan berhenti. Namun seorang mu’min adalah yang senantiasa menambah dan menambah ilmunya, kendatipun usia telah memakan dirinya. Menuntut ilmu juga tidak terbatas hanya pada pendidikan formal akademis namun dapat dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.
b.    Memiliki Spesialisasi Ilmu yang dikuasai
Setiap muslim perlu mempelajari hal-hal yang memang sangat urgendalam kehidupannya. Menurut Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi (1993 : 48), hal-hal yang harus dikuasai setiap muslim adalah : Al-Qur'an, baik dari segi bacaan, tajwid dan tafsirnya; kemudian ilmu hadits dan sejarah para sahabat; fikih terutama yang terkait dengan permasalahan kehidupan, dan lain sebagainya. Setiap muslim juga harus memiliki bidang spesialisasi yang harus ditekuninya. Spesialisasi ini tidak harus bersifat ilmu syariah, namun bisa juga dalam bidang-bidang lain, seperti ekonomi, tehnik, politik dan lain sebagainya. Dalam sejarahnya, banyak diantara generasi awal kaum muslimin yang memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu.
c.    Mengajarkan Ilmu pada Orang Lain
Termasuk akhlak muslim terhadap akalnya adalah menyampaikan atau mengajarkan apa yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan ilmunya.
Firman Allah SWT :
!$tBur$uZù=yör&ÆÏBy7Î=ö6s%žwÎ)Zw%y`ÍûÓÇrqœRöNÍköŽs9Î)4(#þqè=t«ó¡sùŸ@÷dr&̍ø.Ïe%!$#bÎ)óOçGYä.ŸwtbqçHs>÷ès?ÇÍÌÈ
Artinya :
 “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka;maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Q.S An-Nahl:43)           
d.   Mengamalkan Ilmu dalam Kehidupan
Diantara tuntutan dan sekaligus akhlak terhadap akalnya adalah merealisasikan ilmunya dalam “alam nyata.” Karena akan berdosa seorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya.
Firman Allah SWT :
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäzNÏ9šcqä9qà)s?$tBŸwtbqè=yèøÿs?ÇËÈuŽã9Ÿ2$ºFø)tByYÏã«!$#br&(#qä9qà)s?$tBŸwšcqè=yèøÿs?ÇÌÈ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

3.      Berakhlak terhadap jiwa
a.    Bertaubat dan Menjauhkan Diri dari Dosa Besar
Taubat adalah meninggalkan seluruh dosa dan kemaksiatan, menyesali perbuatan dosa yang telah lalu dan berkeinginan teguh untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut pada waktu yang akan datang.[3] Allah SWT. berfirman :
$pkšr'¯»tƒšúïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#þqç/qè?n<Î)«!$#Zpt/öqs?%·nqÝÁ¯R4Ó|¤tãöNä3š/ubr&tÏeÿs3ãƒöNä3YtãöNä3Ï?$t«ÍhyöNà6n=Åzôãƒur;M»¨Zy_̍øgrB`ÏB$ygÏFøtrB㍻yg÷RF{$#tPöqtƒŸwÌøƒäª!$#¢ÓÉ<¨Z9$#z`ƒÏ%©!$#ur(#qãZtB#uä¼çmyètB(öNèdâqçR4Ótëó¡ošú÷üt/öNÍkÉ÷ƒr&öNÍkÈ]»yJ÷ƒr'Î/urtbqä9qà)tƒ!$uZ­/uöNÏJø?r&$uZs9$tRuqçRöÏÿøî$#ur!$uZs9(y7¨RÎ)4n?tãÈe@à2&äóÓx«ÖƒÏs%ÇÑÈ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu'min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Tahrim : 8)
b.    Bermuraqabah
Muraqabah adalah rasa kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian dia tenggelam dengan pengawasan Allah dan kesempurnaan-Nya sehingga ia merasa akrab, merasa senang, merasa berdampingan, dan menerima-Nya serta menolak selain Dia.[4]
Firman Allah SWT
4¨bÎ)©!$#tb%x.öNä3øn=tæ$Y6ŠÏ%uÇÊÈ
Artinya : “Sesungguhnya Allah itu maha mengawasimu.” (QS. An-Nisa : 1)
c.    Bermuhasabah
Yang dimaksud dengan muhasabah adalah menyempatkan diri pada suatu waktu untuk menghitung-hitung amal hariannya. Apabila terdapat kekurangan pada yang diwajibkan kepadanya maka menghukum diri sendiri dan berusaha memperbaikinya. Kalau termasuk yang harus diqadha maka mengqadhanya. Dan bila ternyata terdapat sesuatu yang terlarang maka memohon ampun, menyesali dan berusaha tidak mengulangi kembali. Muhasabah merupakan salah satu cara untuk memperbaiki diri, membina, menyucikan, dan membersihkannya.[5]
Firman Allah SWT :
$pkšr'¯»tƒšúïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#qà)®?$#©!$#öÝàZtFø9urÓ§øÿtR$¨BôMtB£s%7tóÏ9((#qà)¨?$#ur©!$#4¨bÎ)©!$#7ŽÎ7yz$yJÎ/tbqè=yJ÷ès?ÇÊÑÈ
Artinya :
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

d.   Mujahadah
Mujahadah adalah berjuang, bersungguh-sungguh, berperang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu senantiasa mencintai ajakan untuk terlena, menganggur, tenggelam dalam nafsu yang mengembuskan syahwat, kendatipun padanya terdapat kesengsaraan dan penderitaan. Jika seorang Muslim menyadari bahwa itu akan menyengsarakan dirinya, maka dia akan berjuang dengan menyatakan perang kepadanya untuk menentang ajakannya, menumpas hawa nafsunya.





BAB III
PENUTUP

  Kesimpulan
            Menurut etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arabbentuk jamak dari mufradnya khuluq خلق yang berarti “budi pekerti”. Sedangakan budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia. Manusia mempunyai kewajiban kepada dirinya sendiri yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya.Dalam diri manusia mempunyai dua unsur, yakni jasmani (jasad) dan rohani (jiwa). Selain itu manusia juga dikaruniai akal pikiran yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya. Tiap-tiap unsur memiliki hak di mana antara satu dan yang lainnya mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya masing-masing.
             Macam-macam akhlak seorang muslim pada diri sendiri yaitu;
1.      Berakhlak terhadap jasmani, meliputi menjaga kebersihan, menjaga makan dan minum, menjaga kesehatan, dan berbusana yang Islami.
2.      Berakhlak terhadap akal, meliputi menuntut ilmu, memiliki spesialisasi terhadap ilmu yang dikuasai, mengajarkan ilmu yang dimiliki, dan mengamalkan ilmu yang dikuasai.
3.      Berakhlak terhadap jiwa, meliputi bertauban dan menjauhkan diri dari dosa besar, bermuraqqabah, bermuhasabbah, dan mujahadah.



DAFTAR PUSTAKA

Mustafa, A. 2014. Akhlak Tasawuf. Bandung:
 Pustaka Setia
            Rahmat Djatnika.1996. Sistem Etika Islami : Akhlak Mulia.Jakarta: Pustaka Panjimas.
            Abu Bakar Jabir El Jazairi.1993.Pola Hidup Muslim (MinhajulMuslim): Etika.Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
            Agung Kusuma Sikum bang, akhlak terhadap diri sendiri. Dalam alamat : http://azemmutawakkil.multiply.com/journal/item/6?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Kamis, 26 November 2015 jam 17.00 WIB

http://bcp.crwdcntrl.net/map/c=3825/tp=DTSC/tpid=1DE70445E734F6559E66A877028F0AD4




[1]A. Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2014), hlm. 11
[2]Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami : Akhlak Mulia, (Jakarta:Pustaka Panjimas, 1996), hlm. 26
[3] Abu Bakar Jabir El Jazairi, Pola Hidup Muslim (Minhajul Muslim): Etika (Bandung : PT Remaja Rosdakarya,1993).hlm.33
[4]Ibid.hlm.36
[5]Ibid.hlm.40-41
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar